Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jalan-jalan


__ADS_3

Kini Ibra dan rekan-rekan dan para staf sedang mengadakan rapat. Sebelumnya di jamu makan siang, dan Dian pun hadir di meja makan. Setelahnya Dian bersantai rua, ia tidak balik ke kantor lagi kebetulan hari sabtu jadi masuk kerja hanya setengah hari.


Setelah beberapa jam rapat berlangsung. Akhirnya rapat berkahir juga, satu/satu orang-orang mengundur diri untuk pulang. Tinggallah Ibra dan Zayn sedang meminum kopi.


"Saya rasa, beberapa bulan ini perusahaan makin berkembang dan butuh pengurusan yang ekstra juga. Tidak sedikit juga orang-orang iri dengan keberhasilan mu Bos, termasuk yang teror rumah Laras waktu itu. Jelas bermotif ketidak sukanya atas keberhasilan mu Bos," ujar Zayn memuji Bos nya.


Ibra menghela napas dalam-dalam. "Mungkin ini pepatah yang di namakan. Dibalik pria yang sukses ada wanita hebat dibelakangnya." Ibra merasa senang dan bersyukur kalau kalau di balik ini ada salah satu wanita yang mendoakan nya.


"Uwih ... hebat, tentu wanita yang jadi penyemangat dan selalu mendoakan bukan?" ucap Zayn sambil nyeruput kopinya.


"Iya, tentu. Saya jadi ingat sama Laras, yang kelihatan jelas di mata. Kalau dia mendoakan ku dengan tulus, memang saya juga tidak tahu kalau Dian juga mungkin mendoakan saya." Ibra lagi-lagi menghela napas panjang.


"Iya, lah ... sudah kelihatan jelas kalau Laras jadi nomor satu di mata mu. Bahkan dia membawa aura yang lebih baik untuk mu," tambah Zayn lagi.


"Benar, banyak perubahan pada diriku. Walaupun lambat laun." Ibra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Ehem," suara Dian yang baru muncul di tempat tersebut.


Ibra menoleh ke arah Dian. "Sayang."


"Sedang ngomongin apa sih? serius amat," tanya Dian sambil duduk di dekat Ibra.


"Nggak, cuman kerjaan saja sayang," sahut Ibra sambil mengusap bahu Dian lembut.


"Oh, kirain ngomongin apa? sayang, gimana kalau kita jalan-jalan. Sudah lama deh kita gak jalan-jalan." Menatap Ibra berharap kata iya.


"Jalan, oke ... jalan, tapi di sekitar yang dekat saja. Gak jauh-jauh." Ibra mengiyakan. Kemauan Dian.


"Asik ... makasih sayang ..." cuph! kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri Ibra, Dian sangat antusias dan bahagia.


"Sama-sama," Ibra menatap Zayn yang menaikan kedua bahunya dan bibir maju ke depan.


"Oke, saya pulang dulu, sampai jumpa lagi besok." Zayn berdiri dan meraih berkas. Sekalian meminum kopinya sampai habis.


"Baiklah. Sampai jumpa lagi besok," sahut Ibra sambil mengangkat tangannya.


Begitupun Dian melambaikan tangan pada Zayn. Kemudian menoleh Ibra yang terdiam. "Sayang, ke taman yu?" menarik tangan Ibra.


Namun Ibra segan beranjak. "Aku capek sayang, pengen istirahat dulu sebentar. Jalannya nanti malam kan?"


"Jalan nya, iya nanti malam. Okay ... kalau mau istirahat dulu, mau istirahat di mana? di kamar mu atau di kamar ku," tanya Dian sambil menggandeng tangan Ibra yang berdiri dan berjalan lunglai.


"Aku, ke kamar ku saja." Ibra mengayunkan langkahnya menuju kamar pribadinya.


"Ya, sudah. Aku antar ke sana." mereka berjalan berdampingan. kepala Dian bersandar di bahu Ibra yang berjalan sambil melamun. Entah memikirkan apa?


"Oya, sayang ... jadi besok perginya?" selidik Dian.


"Jadi. i-iya jadi."


"Aku mau ikut, tapi ... untuk minggu ini. Aku gak bisa ninggalin kerjaan." Gumam Dian kembali.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, aku bisa sendiri kok. Lagian bukan untuk liburan, tapi urusan kerjaan." Lanjut Ibra, tangannya membuka pintu kamarnya.


Setelah berada di kamar, Ibra melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16.20 wib. "Oya, aku mau ke kamar mandi dulu. Sudah waktunya salat." Ibra melepas rangkulan tangan Dian dari tangannya. Yang tadinya mau langsung berbaring, namun ia ingat belum salat ashar.


"Salat?" gumam Dian dan memandangi langkah ibra yang bergegas masuk kamar mandi.


Ibra mengambil air wudu, yang sebelumnya buang air kecil dulu. Sesaat kemudian. Ibra keluar dari balik pintu, nampak Dian sedang mendengarkan musik, berbaring di atas tempat tidur Ibra.


Setelah siap, Ibra menunaikan kewajibannya di atas hamparan sejadah. Ia bersujud, berserah. Bersyukur atas semua yang ia dapat termasuk istri yang baik dan calon anak laki-laki yang kini ia rindukan kehadirannya.


Sesekali Dian melirik ke arah suaminya, Ibra. Memandangi dengan sangat lekat, selama ini tidak pernah ia melihat Ibra salat. Ibra bukan pria pemabuk atau apalah, seperti layaknya orang yang banyak duit. Tapi ... dia memang gak pernah salat kecuali hari lebaran, itupun kalau lagi sreg aja ke masjid dan salat id.


Setelah selesai salam usai, Ibra menengadahkan kedua tangan ke langit-langit berdoa dengan khusuk.


"Sayang, kenapa gak mengecilkan volume musiknya? kan tahu kalau lagi ada orang salat, gak sopan namanya." Ibra menoleh pada Dian yang sama sekali tidak merubah volume musik dari ponsel nya.


"Ha, emang kenapa?" tanya Dian tanpa ada rasa bersalah.


"Kalua ada yang salat di sekitar kita, dan kita sedang mendengarkan atau menonton musik atau suara apalah. Bagusnya di kecilkan dulu atau lebih baik lagi kalau dimatikan. Sebab itu dapat menggangu." Ibra menggeleng pelan.


"Tapi. suaranya kecil kok, lagian gak ganggu juga." Dian mematikan ponselnya itu.


"Kalau memang pelan, gak akan aku ngomong sayang." Tegas Ibra sambil melipat sejadah nya.


"Heran, habis salat kok ngedumel?" sambung Dian kembali sambil memutar bola matanya.


"Aku, bukan ngedumel sayang, cuma mengingatkan. Bahwa itu tidak sopan. Apalagi orang itu musim juga, orang non muslim juga yang mengerti dan menghormati orang muslim. kenapa sesama muslim tidak?"


"Astagfirullah ... sayang, kau juga muslim, kenapa gak kerjakan salat?" Ibra duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu lucu deh sayang. Pake peci, sarung ... seperti pemeran ustadz-ustadz dalam sinetron, beneran loh sayang," ungkap Dian tanpa menyadari yang Ibra katakan.


"Aku, tanya ... kamu itu muslim, tapi kenapa tidak ngerjain salat? bukankah itu kewajiban," ulang Ibra. Menatap ke arah Dian tajam.


"Kenapa sih harus tanya itu mulu ah? aku juga ngantuk, bobo yu!" menarik tangan Ibra agar berbaring bersamanya.


Helaan napas Ibra terdengar berat. Berharap secepatnya Dian dapat berubah dengan pelan-pelan, tanpa ada yang memaksanya untuk berubah. Semoga hidayah datang pada Dian seperti yang Allah berikan padanya, seperti dirinya yang perlahan ingin mengerjakan salat yang lima waktu.


Selepas magrib, Ibra sudah bersiap dengan penampilan smart casual outfit santai pria, nampak keren dan ganteng. Tak lupa menyemprotkan minyak wangi ke semua tubuhnya.


Teringat akan Laras. Ibra melihat penampilannya di cermin dan mesem-mesem sendiri. "Coba kita berdua yang pergi sayang," gumam Ibra sambil memakai jam tangan di tangan kirinya.


Di pelupuk matanya terbayang dan menari-nari wajah Laras seorang. Ibra tertegun sejenak. "Sayang, kenapa wajah mu selalu menghantui ku? besok kita akan bertemu seharian sayang. Jadi jangan mengganggu ku dulu oke?" gumamnya Ibra bicara seorang diri.


Menoleh ke belakang. Pakaian kotor berserakan, ada juga pakaian bersih di tempat tidur acak-acakan. Kalau saja ada Laras di sana pasti tidak akan berantak kan begini. Kalau tidak ada Laras tentunya menunggu di bereskan oleh asisten, bu Rika. Yang akan membereskannya.


Ibra, mengambil pakaian yang bersih, ia mau masukan ke wardrobe kembali. "Haduh ... begini kalau kamar bujang,? ha ha ha ..." Ibra terkekeh. "Bujang, bujang apanya? atasnya bujang. bawahnya nggak."


Selepas menyimpan pakaian ke wardrobe, Ibra segera keluar kamar. Tak lupa menyambar ponselnya, benda yang kecil namun terapat penting.


Langkahnya mengarah ke kamar Dian, yang belum muncul juga. Padahal dia yang mengajaknya jalan. Sesampainya di kamar Dian, Ibra langsung membuka pintu yang tidak di kunci.

__ADS_1


"Sayang, ayo dong? jadi gak nih," ucap Ibra pada Dian yang masih mengenakan dress yang pas di tubuhnya.


"Em ... tolong dong resleting kan dress ku ini?" pinta Dian setelah Ibra masuk ke dalam kamarnya.


Ibra mendekat dan memasangkan resleting dress Dian. "Sudah."


Netra mata Dian mengamati je arah suaminya yang tampak smart banget. Dian tersenyum dan merangkul tubuh tegap itu. Membuat Ibra terkesiap.


"Ayu, mau pergi Nggak?" tanya lagi Ibra meminta kejelasan.


"Iya, sayang iya ... gak sabar banget sih? aku suka dengan penampilan mu ini, berasa beberapa tahun lalu." Dian mendongak menatap wajah suaminya.


"Iya kah?" tanya Ibra mengernyitkan keningnya. Seolah lupa.


"Benar sayang, oke. Kita pergi sekarang, ke Mall terdekat aja kok," ungkap Dian. sambil mengambil tas nya dan menarik tangan Ibra keluar kamar tersebut.


"Bu Rika, kita makan di luar ya? malam ini. Kami mau jalan-jalan sebentar." Ibra seolah pamit pada bu Rika yang memandangi keduanya.


"Oh, iya Tuan. jadi gak ada yang makan ya di mension ini?" bu Rika sedikit mengerutkan keningnya itu.


"Makan saja sama kalian. Jangan sampai ada yang mubazir, kata Laras juga. Gak boleh buang-buang makanan, pamali!


"I-iya Tuan." Bu Rika mengangguk.


Dian dan Ibra terus berjalan mesra menuju mobil Ibra yang sudah siap di depan teras.


Tangan Ibra menarik hendle pintu mobil untuk Dian. Setelah Dian masuk dan duduk, barulah Ibra mengitari mobilnya. Duduk di belakang kemudi, Ibra membantu Dian memasang sabuk pengaman. Selepas itu barulah Ibra menyalakan mobil, memutar kemudi melaju pelan meninggalkan halaman mension.


Sekilas ekor matanya melirik kebun buah di samping. Langsung terbayang ketika Laras ngidam buah muda dan ingin ia sendiri yang metik.


Dian heran melihat Ibra senyum-senyum sendiri. "Ada apa senyum-senyum? apa ada yang lucu."


"Ha. Nggak, gak ada apa-apa. Cuman ingat sesuatu aja," sahut Ibra dengan mata fokus ke depan.


"Hem ... ingat masa lalu kah? tentang kita misalnya." Dian menyandarkan kepala di bahu Ibra.


Ibra hanya tersenyum. Tanpa menjawab apapun, di memorinya yang ada adalah tentang Laras saja, jarang ada tentang Dian lagi. Memorinya penuh dengan kisah Laras dan Laras.


Sesa.painya di Mall, Dian dan Ibra jalan-jalan bergandengan tangan sangat mesra. Terutama Dian yang gelendotan terus pada Ibra, dan ternyata bukan cuma jalan-jalan lihat-lihat saja. Tapi juga juga belanja barang brended seperti tas, sepatu. Syal yang Dian pikir unik.


"Aduh ... lapar, gimana kalau makan dulu yu? lapar sayang." Dian merajuk dan menarik tangan Ibra agar mengikuti kemauannya.


Kini keduanya sudah duduk manis menunggu pelayan membawakan menu andalannya. "Tempatnya ... lumayan nyaman ya sayang?" ucap Dian, matanya mengamati tempat sekitar.


"Iya," sahut Ibra melirik sang istri yang kemudian memainkan ponselnya.


Tiba-tiba, netra mata Ibra. Mendapati pemandangan yang sangat luar biasa, yang tidak ia duga sebelumnya. Apalagi janjian? tidak sama sekali ....


****


Hi ... reader ku, sudah baca kan? jangan lupa bentuk segala dukungannya, maunya sih nulis yang banyak, tapi selalu ada aja halangan nya 🙏 semoga kalian tetap puas.

__ADS_1


__ADS_2