
"Eh, sudah selesai makannya ya?" tanya Laras menoleh ke belakang.
"Sudah, om dan tante akan menyusul ke sini," sambung Jodi setelah jalan sejajar dengan Laras.
Laras menjauh dari Jodi sehingga jarak mereka terhalang Susi dan dialah yang paling dekat dengan Jodi.
"Oh," kepala Laras celingukan melihat tempat sekitar.
Langkah mereka terhenti melihat ada pergelaran musik. Laras nongkrong melihatnya dari lantai atas, kebetulan penyanyinya artis kesukaan Laras.
Jodi berdiri dekat Laras. "Kamu suka dengan lagunya?" tanya Jodi menoleh Laras yang anteng.
"I-iya, suka." Dengan senyuman yang mengembang itu.
"Suka musik?" sambung Jodi kembali.
"Suka, suka banget," sahut Laras sekilas melirik, lalu kembali menonton lagi.
"Wah ... kalau gitu kita sama ya, sama-sama suka musik gitu." Jodi mengulas senyumnya.
Langkah Laras bergerak menghindari Jodi. Ia ayunkan langkahnya menjauh dan terhalang Susi.
"Penyanyinya cakep, suaranya bagus. lagunya juga enak." Susi menoleh ke arah Laras.
"Iya, Susi. Aku suka dan ngefans banget," tutur Laras.
Tiba-tiba pinggang Laras ada yang merangkul. Membuat Laras terperangah dan hampir menjerit dan memukul tangan itu, namun ternyata Ibra yang merangkul dirinya itu.
Keduanya saling tatap. "Ke-kenapa ada disini? mana istri mu," netra mata Laras beralih mencari keberadaan Dian.
"Dia sama mama dan papa di belakang, sedang apa juga disini?" tanya Ibra, matanya tak lepas dari wajah Laras.
"Ih ... Tuan, gak lihat itu. Di sana ada konser? pastinya kami lagi nonton. Bukan lagi tidur." Celetuk Susi pada Ibra, membuat Jodi menoleh pada Ibra lalu sorot mata Jodi mengarah ke tangannya yang merangkul wanita cantik itu.
Ibra menatap ke arah Susi, dengan alis saling bertaut. Sementara Laras mengulum senyumnya, tangan Laras melepas rangkulan lengan Ibra. Namun tangan itu bukannya lepas malah di tambah dengan tangan satunya lagi, kini posisi Ibra di belakang Laras dan memeluk erat. Sesekali mencium pucuk kepalanya, seolah ingin menunjukkan pada seseorang. Kalau Laras adalah miliknya.
"Hai, kamu sedang apa disini?" sapa Dian dan menepuk pundak Jodi yang matanya melihat konser namun pikirannya melayang entah ke mana?
"Eh, kau di sini juga?" tanya Jodi membalikkan badan dan menoleh Dian, di belakangnya ada pak Marwan dan istri.
"Iya, sama suami aku." Jawab Dian dengan ekor matanya melirik ke arah Ibra.
"Oh, ceritanya lagi kumpul nih?" selidik Jodi sambil mengulum senyumnya.
"Nggak juga, kebetulan aja ketemu disini," sahut Dian, matanya melihat gelaran musik.
"Oya?"
Semuanya menikmati lagu yang dibawakan oleh penyanyi nya itu.
"Pah, lihat tuh putra kita. Dia seakan lupa sama istri nya, Dian. Mungkin merasa dunia milik berdua kali ya? hi hi hi ..." bu Rahma menunjuk putranya.
Pak Marwan pun menoleh yang sang istri tunjuk. "Iya, Mah ... lambat laun putra kita berpindah hati. Sebenarnya kasian juga Dian, Mah. Kalau Papa yang begitu ... jadi dilema loh!"
"Iya, sih Pa ... tapi gimana lagi? semua sudah terlanjur dan nasi menjadi bubur. Tinggal dinikmati saja."
Pak Marwan menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar. Marwan menoleh jarum jam yang melingkar di tangannya. "Sudah malam, pulang yu? ajak Laras dan Susi pulang."
"Baiklah, Mamah panggil mereka sebentar ya Pa?" bu Rahma melangkahkan kakinya mendekati Laras dan Ibra.
Bu Rahma berdiri di belakang Ibra yang menghalangi tubuh Laras yang di peluknya. Ia tepuk punggung Ibra seraya berkata. "Sayang, Mama mau bawa mantu Mama pulang. Sudah malam."
Kepala Ibra menoleh, lalu badannya berputar seiring lepasnya rangkulan tangan di perut Laras. "Oh, iya Mah, baiklah. Bawa saja dia pulang, Sudah malam."
pandangan Ibra beralih pada Laras. "Sudah malam sayang, sudah waktunya pulang. Nanti anak kita kedinginan," setengah berbisik.
"Yu, Mah. Aku juga dah capek," gumamnya Laras pada bu Rahma.
Ibra memegang kepala Laras. Dan mencium keningnya. "Sampai jumpa besok, ada yang ingin aku bicarakan juga."
Laras mengangguk, meraih tangan Ibra dan diciumnya. Melirik ke arah Susi. "Sus ... pulang yu?"
"Ayo, Nyonya." Susi berbalik.
Laras menarik tangannya yang dipegang Ibra sangat erat. Netra mata Laras tertuju pada tangan yang mengunci tangannya, lalu bergerak melihat ke mata Ibra yang juga menatap dirinya dengan tatapan lekat.
Kemudian perlahan Ibra melepaskan genggamannya itu. Laras mengayunkan langkahnya mengikuti langkah bu Rahma.
Dian yang sedari tadi bersama Jodi, dibarengi obrolan santai. Dian menoleh ketika terlihat Laras berlalu bersama mama mertua, yang sempat melambaikan tangan pada dirinya. Sementara pak Marwan berpamitan pada putranya.
"Yu, Jodi." tangan Dian menepuk bahu Jodi sambil melangkah. Dian menghampiri Ibra.
__ADS_1
"Hati-hati Pa ..." ucap Dian sambil melambaikan tangan.
"Yu, sayang? kita pulang juga." Ajak Dian sembari merangkul tangan Ibra.
"Hem." Kemudian keduanya meninggalkan tempat tersebut.
Jodi yang melihat orang-orang yang ia kenal sudah pulang, ia pun bergegas mengayunkan langkah kakinya turun. Tujuan pulang.
Mata Jodi menangkap sosok Laras di parkiran, baru mau masuk mobil. Jodi mempercepat langkahnya. mendekati mobil Laras, dengan cepat ia membukakan pintu untuk Laras, Laras mengulas senyumnya.
"Terima kasih?" ucap Laras dengan senyuman manisnya
"Sama-sama," balas Jodi mengangguk hormat dan menyeringai.
Mata Ibra mendelik ketika melihat Jodi membukakan pintu buat Laras. Brugh! menutup pintu mobil disaat Dian sudah duduk ke dalam. "Tidak tahu malu, sudah tahu istri orang. Sedang hamil juga," gumamnya Ibra dalam hati, rahangnya mengeras.
Ibra mengitari mobilnya, lalu duduk di belakang kemudi. Setelah memasang sabuk pengaman, Ibra bersiap nyalakan mesin.
"So sweet ya? Laras dan Jodi. Serasi banget." Dian sengaja panas-panasi Ibra. Berharap murka dan benci sama Laras dan menceraikannya seperti istri-istri yang lain.
Ibra cemberut, dan tidak membalas perkataan dari Dian. Ia mengemudikan mobilnya, setelah mobil Laras keluar lebih dulu dari parkiran.
"Sayang, aku lihat mereka cocok loh. Pasti nanti mereka hidup bahagia, anak juga gak akan kesulitan mereka miliki," ungkap Dian kembali.
Bikin hati Ibra kian memanas. Tak bisa membayangkan kalau itu terjadi. "Tidak akan ku biarkan itu terjadi," batinnya Ibra.
Mobil Ibra melaju dengan cepat. Dengan tujuan pulang ke mension.
Sementara Laras pulang ke kediamannya, bersama mertua dan Susi.
Kini mobil Laras sudah melaju dengan kecepatan sedang.
****
Semalaman Ibra terjaga, tidak bisa tidur barang sekejap pun. Sedari pulang dari Mall hatinya tidak bisa tenang, dan terbakar api cemburu yang membuat dirinya gelisah. Berkali-kali telepon, VC Laras. Namun tak diangkat sekalipun, bikin hati Ibra tambah gusar. Boro-boro bermesraan sama Dian, yang ada juga hatinya kesal dan marah.
Sesekali matanya memandangi Dian, yang tidur nyenyak di sampingnya. Ia sendiri duduk bersandar, melirik putaran jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.20 wib. Sebentar lagi juga adzan subuh, bergegas mengibaskan selimutnya dan turun menginjakkan kaki ke lantai.
Langkah Ibra di percepat agar segera sampai di kamarnya, di lift pun rasanya tidak sabar. Setelah sampai menyambar jaket dan segera keluar, ia membawa langkahnya menuju lobby. Lantas mengambil mobilnya, dari garasi.
Scurity mengangguk hormat. "Mau ke mana, Tuan pagi buta gini?"
"Ke rumah istri." Sahutnya singkat.
"Ya," sambil melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Rasa hati ingin segera sampai di rumah sang istri.
Selang beberapa waktu. Mobil Ibra sudah sampai di depan rumah Laras. Ia turun hendak membuka pagar, namun dari balik pintu Susi berlari untuk membukanya.
"Pagi, Tuan ..." sapa Susi. Berdiri di pinggir dan mengangguk hormat.
"Ya ..." balas Ibra sambil memasukan mobilnya. Kemudian turun dan bergegas masuk ke dalam rumah yang situasinya masih sepi, langkah Ibra terus menuju kamara Laras yang juga masih hening.
Ceklek!
Pintu kamar Laras terbuka, nampak Laras masih terlelap tidurnya, menoleh jam yang di tangan menunjukkan pukul 03.50 wib.
Setelah menutup pintu, Ibra duduk di sofa dengan posisi duduk menghadap ke arah Laras yang masih terlelap. Ia tatap wajah pulas itu, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Akhirnya Laras terbangun, menggeliatkan badannya perlahan membuka matanya. Menggosok berkali-kali matanya sebab melihat bayangan Ibra di sofa, benar gak sih itu Ibra?
"A-Abang?" gumamnya Laras. Ia memejamkan mata kembali, seakan mengumpulkan jiwanya yang belum terkumpul.
Ibra mendekat dan mencium kening Laras lanjut pipinya. "Bangun sayang, sudah subuh?"
Laras kembali membuka mata. Seraya berkata. "Kenapa jam segini sudah datang?" tanya Laras dengan suara serak nya, suara khas bangun tidur.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Gumam Ibra sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
"Apa?" Laras penasaran dan menatap wajah Ibra yang tanpa ekspresi.
"Salat subuh dulu yu?" ajak Ibra.
Laras mengibaskan selimutnya. Turun menapaki lantai serta bergegas ke kamar mandi dengan niat bersih-bersih lebih dulu.
Ibra pun mengikuti Laras ke kamar mandi dan mengambil air wudu. Ia segera kembali meninggalkan Laras yang hendak bersih-bersih.
"Pagi-pagi buta sudah datang. Ada apa sih?" gumamnya Laras. Kemudian ia mandi di bawah kucuran air shower.
Selepas mandi, Laras keluar dari kamar mandi dan bergegas mengambil pakaian ganti, lalu ia bawa ke kamar mandi tuk berganti pakaian.
Lanjut menunaikan salat subuh bareng Ibra yang sudah menunggu dari tadi. Keduanya bersujud di atas hamparan sajadah.
__ADS_1
Selepas salat, keduanya melipat bekasnya masing-masing. Kemudian Laras membuka gorden dan membuka jendela agar udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar.
Ibra mendekat. "Kenapa semalam gak balas chat aku?" dengan tatapan dingin.
"Chat yang mana? semalam juga bertemu, kan?" tanya Laras mengerutkan keningnya.
"Kamu janjian bukan bertemu dengan Jodi?" langsung ke intinya.
Laras yang sedang menghirup udara segar, sontak mendongak. "Maksudnya? buat apa aku janjian sama dia, aku gak ada urusan apapun. Bisnis pun nggak."
"Terus, kenapa bisa barengan kaya gitu?" sambung Ibra dengan tatapan masih curiga.
"Mana aku tahu, tiba-tiba dia datang dan gabung sama kami." akunya Laras sambil menghirup udara segar di pagi ini.
"Asik ya, orangnya ... enak diajak ngobrol gitu? kelihatannya seneng banget gitu, ketemu dan bicara sama dia." Ibra makin ngelantur.
"Abang mabuk, apa?" mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang mabuk? kamu ada hubungan apa sama dia, sehingga dia bersikap manis gitu. Jangan bilang, kamu atau kalian berencana menikah--"
"Abang ini kenapa? ngelantur gitu, kamu pikir aku selingkuh ha! kalau aku janjian ketemu dia dengan tujuan lain, buat apa bertemu di depan mama dan papa. Pikir dong?" Laras sewot, kesal. Kemudian mengayunkan kakinya mendekati sofa dan duduk di sana.
Mata Ibra memandangi gerak Laras. Memang omongan Laras ada benarnya juga sih. "Tapi, kok dia bersikap manis sama kamu." Ibra mendekat dan berlutut di depan Laras.
Tangan Ibra menggenggam kedua tangan Laras. Laras menariknya perlahan, ia kesal selalu di cemburui oleh Ibra. Pandangannya entah ke mana? segan melihat Ibra.
Tangan Ibra kembali meraih tangan Laras, kemudian diciumnya. "Aku minta maaf sayang, aku gak bermaksud mencurigai mu."
"Tidak bermaksud? kamu itu. Selalu cemburu yang tidak pada tempatnya, tahu gak?" suara Laras dengan nada kesal.
"Aku tau sayang," gumam Ibra sembari mengangguk. "Itu semua karena aku sayang sama kamu dan takut kehilangan kamu." Lagi-lagi mencium kedua punggung tangan Laras yang berusaha dia tarik. Namun Ibra kuat menggenggamnya.
Mata Laras berkaca-kaca, merasa kesal, dicurigai seperti itu. Sementara dalam hatinya yang paling dalam, tak ada niat yang aneh-aneh.
Kedua tangan Ibra membingkai wajah Laras. Ibu jarinya mengusap air mata Laras yang hampir saja jatuh. "Maafkan aku, kalau sudah menyakiti mu? aku tidak ada maksud nyakitin kamu." Cuph! mencium pipi kanan dan kiri Laras. Kemudian memeluknya erat. "Aku sayang sama kamu, sama anak kita."
Laras hanya diam dan tak merespon apapun. Ibra melonggarkan pelukan, di tatapnya dalam wajah sendu sang istri. Kemudian mendaratkan kecupannya di kening Laras lama ... lalu kembali memeluknya.
Laras yang masih kesal. Tetap tak merespon, dirinya seperti boneka hidup yang tak bergeming.
"Jangan marah dong sayang ... aku sudah minta maaf?" Ibra jadi bingung kalau Laras marah kaya gini. Diam seribu basa.
"Sayang, semalaman, aku gak bisa tidur!"
"Iyalah, gak bisa tidur, bermain-main sama Dian." Batinnya Laras curiga.
"Aku, memikirkan mu terus. Aku telepon, vc juga gak kamu angkat. Bikin hatiku tambah gusar." Suara Ibra di dekat telinga Laras. "Aku gak bermain dengan Dian seperti yang kamu pikirkan."
Kalau saja Ibra lihat, Laras membelalakkan matanya. Mendengar ucapan Ibra yang seolah tau isi hati dan pikirannya itu.
"Aku takut, takut kehilangan kamu. Sayang." Jelas Ibra, mengeratkan pelukan.
Perlahan, Laras membalas pelukan itu. Mendekap punggung Ibra kuat, menyembunyikan wajahnya di leher Ibra, Ibra tersenyum, akhirnya Laras merespon juga dan tidak sedingin barusan.
"Jangan marah lagi sayang? ya jangan marah lagi. Aku gak bisa kalau kamu marah, mendingan kamu ngoceh daripada diam." tangan Ibra membelai rambut Laras dan mengecup pucuk kepalanya mesra.
"Aku ... gak tahu, kamu itu cemburu. Kerena sayang sama aku, atau sekedar mencari gara-gara, dan ingin membuang ku?" ujar Laras. Sehingga membuat Ibra terkejut mendengarnya.
"Nggak-nggak, gak gitu sayang. Bukan begitu. Sayang ... sudah aku bilang. Aku takut kehilangan mu, itu saja," ucap Ibra dengan jelas.
Hening!
Mereka masih berpelukan, sesekali Ibra mengecup kening dan pucuk kepalanya Laras. Kini Ibra pun duduk di sofa yang sama dengan Laras. Sesekali juga mengusap perut Laras dengan telapak tangannya.
"Rasanya aku pengen mandi air hangat dulu," gumam Ibra setengah berbisik.
Pelukan keduanya memudar, Laras berdiri. Tangan Ibra menangkap pergelangan Laras. "Mau kemana?"
Netra mata Laras menatap tangan yang Ibra pegang. "Mau siapkan air hangat."
Ibra pun melepaskan tangan Laras, Namun mengekor langkah Laras ke kamar mandi.
Laras menoleh. "Ngapain ikut?"
"Loh, aku yang mau mandi sayang," sahut Ibra dari belakang.
"Tunggu aja di situ, sampai aku balik lagi." Tambah Laras sambil melanjutkan langkahnya.
Ibra jadi gemas. Ia kembali merangkul tubuh Laras dan membalikkan badannya agar berhadapan. "Masih marah bukan hem?" kedua netra mata mereka saling bertukar pandangan. Laras menggeleng.
Telunjuk tangan Ibra mengangkat dagu Laras. Supaya mendongak. Ibra mendaratkan kecupan yang hangat di bibir Laras, Laras pun pasrah dan menerimanya ....
__ADS_1
****
Hi ... reader ku semua, terima kasih ya masih mendukung aku.🙏