
Dalam beberapa saat Pria itu berada dalam pelukan Dian, dan sedikit rakus. Namun akhirnya pria itu sadar kalau ini tidak seharusnya tejadi, tangan nya melepas dan menjauhkan tubuh Dian. Ia dorong kembali ke tempat tidur, tak ayal tubuh Dian tersungkur.
"Jodi? kau menolak ku!" pekik Dian lalu berusaha berdiri.
"Kamu sudah gila ya? kamu itu istri orang dan kita tidak pantas melakukan hal-hal yang seperti barusan," ucap Jodi dan memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Brugh!
Pintu kamar, Jodi tutup sedikit keras. Masih untung pikirannya masih juga berpungsi dengan baik, jadi gak terlanjur atau kebablasan. Entah apa yang sekarang Jodi rasakan saat ini, yang jelas hatinya di selimuti rasa kesal dan bersalah. Dan penyesalan.
Tangannya mengusap kasar bibir yang telah meraup dan menikmati bibir Dia, seorang wanita yang jelas-jelas istri orang. Ia membanting pintu kamarnya dan bergegas memasuki kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah percikan air shower.
Dian yang di tinggalkan oleh Jodi. Merasa kecewa dan kesal tidak terkira, dadanya naik turun dan napasnya memburu. Memukul-mukul kan tangan ke kasur, lantas membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang super empuk itu.
Kepalanya terasa pusing. Dan erat sekali, akhirnya Dian tertidur tanpa selimut dan hanya menggunakan pakaian dalam saja.
****
Suatu hari Laras sedang di swalayan sedang berbelanja bersama Susi. Kebetulan Susi sudah mulai kembali bekerja, setelah beberapa minggu pulang kampung.
"Nyonya muda, apa kau belum ingin membeli keperluan baby?" tanya Susi menatap ke arah Laras.
"Em, nggak ah masih 6 bulan. Sus?" sahut Laras.
"Oh." Susi kembali, memilih apa yang akan mereka beli untuk keperluan dapur.
"Sedang belanja ya?" suara seseorang dari arah belakang.
Laras menoleh ke sumber suara. "Jodi. Kau di sini juga."
"Iya, apa kabar?" tanya Jodi sambil mendorong troli belanjaan.
"Oh, baik." Jawab Laras.
"Sama siapa? di sini," selidik Laras pada Jodi.
"Sendiri, kamu sama siapa?" tanya balik Jodi sambil celingukan.
"Itu, sama Susi." Laras menunjuk ke arah Susi yang agak jauh dari tempat Laras berdiri.
"Oh, tidak main ke panti?" tanya lagi Jodi.
"Tidak, aku juga sudah lama tidak bertemu ibu panti dan anak-anak," sahut Laras sambil memilih botol kecap yang ada di sampingnya.
"Kapan ke sana? kita ajak anak-anak ke dunia fantasi." saran Jodi.
"Maunya, sih ... tapi aku harus meninta ijin dulu sama suami ku. Kebetulan dia lagi berada di luar kota." Tambah Laras.
"Oh gitu? nanti kalau sudah dapat waktu, cal aku ya!" Jodi tersenyum.
"Oke." Laras mengangguk pelan.
Keduanya mendorong.
troli belanjaan sudah waktunya
untuk di bayar lagian sudah cukup, tak ada lagi yang harus mereka beli.
"Eh, opa-opa? sudah lama sedang belanja juga." Tegur Susi menatap ke arah Jodi.
"Iya, belanja Sus." Dengan ramahnya.
Ketiganya keluar dari super market. Namun masuk ke mobil masing-masing. "Oke, sampai jumpa lagi," ucap Jodi pada Laras dan Susi.
"Iya," sahut Laras sambil duduk di kursi belakang kemudi.
Susi melambaikan tangan pada Jodi yang memasuki mobil miliknya. "Tuan Jodi makin ganteng aja."
"Hem, kamu bisa aja Sus," sahut Laras sembari menunjukkan senyumnya.
Laras menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya menuju pulang. Sebelumnya memasang sabuk pengaman terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan, Susi ngoceh ... aja, bercerita selama di kampung bersama keluarganya.
Laras mendengarkan sambil tetap fokus nyetir. Di jalan yang agak sepi, mobil tiba-tiba mogok. Sepertinya kempes Ban, Laras ke tepi terlebih dahulu. "Ya ... kayanya Ban kempes nih!"
"Kenapa Nyonya? masa kempes, gimana dong," tanya Susi cemas.
__ADS_1
"Iya, nih ... kempes. Mana ada tambal Ban di depan Sus!" sahut Laras sambil membuka sabuk pengaman, Keluar dari mobil melihat-lihat Ban mobil yang kempes, di susul oleh Susi.
Ternyata Ban sebelah kanan bagian belakang lah yang kempes. "Gimana nih?" gumam Laras, matanya menyapu ke sekitar jalan itu yang ada aja yang lalu lalang namun bingung untuk meminta tolong..
"Minta tolong siapa dong Nyonya? bukan bensin yang abis kan," tanya Susi meyakinkan dirinya.
"Bukan, tapi itu lihat. Ban nya kempes." Laras menunjuk Ban yang kempes.
"Berarti harus di tambal atau di ganti dengan yang baru dong," Sambung Susi.
Ketika keduanya bengong, ada motor yang di tumpangi dua pria. Menghampiri mobil Laras. "Kenapa Mbak? mobilnya mogok bukan." Tanya kedua pria yang berbadan tegap itu.
Netra mata Laras menatap keduanya. "I-iya, Bang."
Pria itu mengitari mobil Laras, mereka perhatikan dengan seksama. Keduanya saling bertukar pandangan.
"Abang-Abang, bisa bantu? tolong dong bantu kami." Pinta Susi. Memandangi pria tersebut.
"Bisa-bisa, pasti kami bantu. Kebetulan, di depan ada tambal Ban. Apa kalian membawa alat?" tanya pria itu.
"Oh, ada. Sebentar ya?" Laras membuka bagasi. Dan kebetulan ada alat yang mereka pinta.
"Makasih ya Bang, sebelumnya?" ucap Laras dengan senyuman ramahnya, ia bahagia sekali ada orang yang mau membantunya.
"Iya, Mbak. Sama-sama," sahutnya sambil mengambil alat-alat. Kemudian mereka menyingsingkan lengan bajunya. Langsung membuka Ban mobil milik Laras.
Proses, membuka Ban tidak butuh waktu yang lama. Lalu mereka bawa ke tambal Ban terdekat.
Laras dan Susi menunggu di dalam mobil. Ia mengusap perutnya, si baby yang aktif bergerak menendang-nendang.
"Nyonya, kira-kira mereka itu orang baik bukan sih? kok aku curiga ya," ucap Susi sambil melirik sang majikan.
"Huus. Jangan shuudzon, pamali ah. Pasti orang baik lah Sus ... makanya mau bantu kita." Laras berfositif tingking aja.
"Tapi, hati Susi jadi gak enak nih." Gumam Susi yang merasa gak enak hati.
Sebenarnya. Laras juga merasa gusar. Gelisah dan hatinya tak tenang, ada cemas menghinggapi perasaannya. Namun Laras berusaha tenang. tak mau menunjukkan perasaannya pada Sussi
"Ya Allah ... lindungilah hamba mu ini ya Allah." Batin Laras.
Setelah menunggu sekian lama, kedua pria itu kembali dengan membawa Ban. Laras dan Susi keluar dari mobil. "Gimana Bang?"
Keduanya berdiri, dan saling melempar senyum. "Selesai Mbak."
"Oh, makasih ya Bang? aduh aku sangat berhutang budi pada kalian berdua. Ini Bang ada sedikit uang, sebagai tanda terima kasih saya pada Abang berdua." Laras memberikan beberapa lembar uang yang berwarna merah pada salah satunya.
"Oh, tidak usah. Kami ikhlas kok." keduan pria itu menolak pemberian dari Laras.
"Saya juga ikhlas kok Bang. ambilah." Laras kekeh memberikannya.
Bola mata keduanya sesekali melihat ke adaan, kendaraan yang lewat sedikit agak lengah.
Salah satu pria tersebut. Mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ya itu ... ternyata sebuah pisau belati yang tajam dan ujungnya di tempelkan ke perut Laras. "Jangan bergerak."
Alangkah terkejutnya Laras saat ini. "Apa-apaan nih kalian?" Laras membelalakkan matanya, melotot dengan sempurna. Sungguh ia tak menyangka sama sekali, kalau dua orang yang ia anggap malaikat itu, ternyata penjahat.
Susi terkesiap. "Hai ... jangan apa-apakan majikan saya--"
"Diam, kalau kau bergerak. Perut wanita ini akan saya robek dan melahirkan di tempat ini juga.
Wajah Susi seketika pucat ingin sekali berteriak minta tolong, namun ia takut dengan ancaman kedua pria itu. Kakinya bergetar, takut Laras di sakiti, ia tak mampu melakukan sesuatu pun untuk menolong Laras.
"A-apa mau kalian? ap-apa uang yang aku kasih masih kurang, akan aku tambah lagi Bang, tapi gak perlu begini kok. A-aku siap memberikan yang kalian Mau." Suara Laras terputus-putus. Gugup, dengan keadaan ini.
Jantungnya berdegup sangat kencang, napas pun tak beraturan. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Laras.
Yang mereka lakukan ini terbilang santai. Sebab bagi orang lain yang lewat gak akan curiga sama sekali. "Lepaskan saya! saya akan memberikan yang kalian mau. Apa pun itu, tapi saya mohon lepaskan saya." Kedua netra mata Laras tertuju ke ujung pisau yang sedikit menekan kulit perutnya sebelah kiri.
Sementara tubuhnya di dempet kedua orang itu. Sehingga ia jelas sulit bergerak. Tangannya menurunkan tas dari bahunya.
"Serahkan semuanya?" Pinta salah satu pria yang berbaju marun, dan dia yang menodongkan pisau di perutnya. Sementara pria yang berbaju hitam itu merampas tas Laras.
Pria yang berbaju hitam itu, ngecek isi tas milik Laras. Yang du dalamnya ada kunci mobil, uang kes. kartu ATM dan ponsel mahal milik Laras.
Wanita yang berpenampilan sopan itu, kian bergetar kakinya. Ketakutan, sebab bukannya di lepas. Malah ujung benda tajam itu makin terasa. Wajah Laras meringis.
Susi makin cemas melihat wajah Laras yang semakin pucat dan sedikit meringis. "Nyonya muda?"
__ADS_1
"Diam kau! apa ingin benda tajam itu menusuk tubuhmu?" jelas pria berbaju marun itu.
"Ka-kalian mau apa lagi? semua sudah di tangan kalian. Lepaskan, biarkan kami pergi," ucap Laras yang makin ketakutan dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Gimana, mau jalan sekarang?" tanya pria berbaju Hitam itu.
"Tunggu jalanan lebih lengah dulu." Jawab kawan nya.
Dari arah lain terlihat sebuah mobil mewah menepi di belakang mobil Laras. Semua mata bergerak melihat ke arah mobil tersebut.
"Ya Tuhan ... semoga aja datang dewa penolong buat kami, khususnya Nyonya muda yang ada dalam bahaya." Batin Susi sembari mendongak.
Sesungguhnya. Di balik sakunya itu, Susi diam-daim melakukan panggilan dengan kontak Zayn sehingga mungkin mendengar potongan kata-kata pria jahat itu.
Namun yang datang ternyata Jodi. Dia yang tadi bertemu di swalayan, memang mondar mandir mencari mobil Laras yang ia rasa kehilangan jejak. "Ada apa nih?" Suara Jodi dengan nada tinggi.
Susi sudah siap siap menjawab. Namun mata orang yang berbaju marun melotot dan memberi kode akan tangannya yang siap merobek bagian perut samping Laras.
Mulut Laras pun sudah menganga, namun ia merasakan sesuatu makin menusuk. Mungkin kalau pakaian yang ia pakai tipis, pasti sudah mengalami lukan yang dalam di kulitnya itu.
"Ah, ti-tidak ada apa-apa!" sahut Laras sambil berusaha menunjukkan senyumnya. Namun mata menyiratkan bahwa dirinya sedang dalam bahaya.
Jodi mengerti dan memutar otaknya untuk menolong Laras. Jodi menunduk seraya berpikir.
Netra mata Laras melihat Jodi menunduk, memberi angin segar buat Laras. Ia mengangkat kaki sebelah kiri di balik gamisnya itu, dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki pria yang menodongkan benda tajam itu padanya. Sehingga orang tersebut memekik kesakitan.
Laras langsung melepaskan diri dari mereka, lalu berlari ke dekat Jodi. Jodi maju ke depan beberapa langkah, melayangkan tonjokkan tangan. Di dada orang berbaju marun yang bersiap memainkan benda tajam dan membabi buta, setelah kakinya Laras injak.
Susi yang mula terkesima melihat Laras bisa melepaskan diri, lalu Susi bergegas menghampiri sang majikan. namun dengan sigap tanganya di tangkap pria berbaju hitam dan mendekap leher Susi dengan kuat.
Susi sangat terkejut. Merasa sesak untuk bernapas. Begitupun Laras yang berteriak menyebut nama Susi. Namun Susi tak kehabisan akal, ia mencontoh apa yang Laras lakukan. Susi menginjak kakai pria itu dan bukan cuma itu saja, ia memainkan sikutnya untuk menyiku perut pria tersebut. Tak ayal tubuh orang itu membungkuk ke belakang, dan nyengir kesakitan.
Tiba-tiba, Laras menjerit. "Jodi awas?" sambil menutupi wajahnya dengan sepuluh jarnya. Tak berani melihat kalau benda tajam itu mengkoyak perut Jodi.
Jodi terkesiap dan sontak menghindar, badan orang itu maju ke depan. Dengan refleks kaki Jodi menendang daerah inti orang tersebut.
Jiuus dugh dugh dugh, hek ... orang itu memekik. "Hualah ... burung gua terbang, eh burung gua sakit. Telor gua pecah alias ancur," suaranya pelan dan dalam.
Jodi menendangnya bukan cuma sekali, tapi juga bertubi-tubi. Sehingga orang tersebut bersimpuh di tembok jalan merasakan sakitnya, kedua tangan menangkup daerah inti nya itu sambil meracau.
Jodi tersenyum puas. Matanya bergerak melihat benda tajam yang tergeletak dan ada yang ingin mengambilnya. Kaki Jodi yang mengenakan sepatu menginjak tangan yang hendak mengambil benda tajam itu.
"Aww ..." pekik orang tersebut.
Ngiung ....
Ngiung ....
Ngiung ....
Suara mobil patroli datang bersama dengan datang nya Zayn. "Nona muda tidak ke napa-napa?" selidik Zayn yang langsung menghampiri.
"Tidak," balas Laras sembari menggeleng pelan.
Susi segera memungut tas milik Laras yang tergeletak begitu saja. Ia segera amankan.
Kedua penjahat itu sudah di amankan oleh pihak yang berwajib. Mereka di seret ke mobil bersama motornya. Tk ketinggalan barang bukti yang lainnya.
"Kau tidak, ke napa-napa, kan?" tanya Jodi menatap cemas.
Laras hanya menggeleng. Ia masih mengontrol napasnya. Dan perasaannya. Namun Laras merasakan ada yang lembab di bagian perut bagian sampingnya, ia raba basah. Ketika ia tarik tangannya, sungguh terkejutnya dia melihat darah di jemarinya.
Lutut Laras mendadak lemas tak bertenaga, kakinya bergetar hebat, tubuh Laras bagaikan kapas yang di siram air. Ia terjatuh dan tidak sadarkan diri secara tiba-tiba, pingsan.
Jodi, Zayn dan Susi panik. "Nyonya muda? Nyonya muda bangun." Susi mengangkat kepala Laras ke pangkuannya.
"Nona- Nona muda?" suara cemas Zayn sambil menggoyangkan bahu Laras.
"Pinggang nya berdarah, cepat bawa ke Rumah Sakit!" ucap Jodi segera menggendong Laras di bawa ke mobil miliknya.
"Zayn. Kau bawa saja mobil Laras." Titah Jodi sambil bergegas membawa Laras masuk ke dalam mobil, mendudukkan nya di samping Susi.
Mobil Jodi melesat dengan cepat, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Menuju rumah sakit terdekat.
Zayn mengikuti dari belakang, dengan hati yang gusar. Deg deg gan. Khawatir, takut Laras ke napa-napa. Sedangkan ini sudah tanggung jawabnya untuk menjaga dia. "Sial. Kenapa ini terjadi sih? aku bisa telat datang lagi. Sungguh sial-sial, Sial ..." tangannya memukul setir ....
****
__ADS_1
Apa ada yang masih menunggu SKM up? pasti banyak dong ya ... aku percaya pasti banyak dan lebih banyak lagi ya. Ayo mana dukungannya buat author nih!