Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Cantik sekali


__ADS_3

"Maaf, Yah. Aku mau angkat telepon dulu." Jodi berdiri dan menjauh dari sang ayah.


Pak Mulyadi mengangguk. Tangannya terulur ke meja, di mana ponsel miliknya di situ. Melihat gambar Laras ketika masa kecil dan saat ini, bibirnya mengulas senyuman.


"Sekarang kamu sudah dewasa dan cantik. Maafkan paman mu ini La, sudah menelantarkan mu." Menghela napas kasar. Lalu menunduk dalam.


"Yah, kita siap-siap ke Jakarta sekarang, Yah." Jodi mendorong kursi roda sang ayah. Dari teras diajaknya ke dalam.


"Mbok, siapkan semua keperluan ayah. Kita akan berangkat ke Jakarta sore ini," ucap Jodi pada asisten sang ayah. Wanita paruh baya yang tampak masih segar itu.


"Baik, Tuan." Mbok Rasmi, kemudian menyiapkan segala keperluan pak Mulyadi. Seperti yang Jodi suruh kan.


Jodi sendiri pun membereskan kamarnya dan sesuatu yang wajib dibawa kemanapun ia berada. Seperti laptop.


Jodi duduk di tepi tempat tidur dengan menumpukan kedua siku lengan di atas lutut. Pikirannya melayang entah kemana.


"Jodi?" panggil sang ayah yang muncul dari balik pintu.


"Iya, Yah. Ada apa?" kedua mata Jodi menatap ayahnya.


"Tadi siapa yang telepon. Apa cewe kamu? kamu tak pernah mengenalkan calon mantu Ayah."


Sebelum menjawab Jodi terdiam dan menggeleng. "Belum ada, Ayah. Belum ada calon."


"Masa? Kamu sudah dewasa, Nak. Kamu juga tampan, karier pun bagus." Sambung sang ayah.


Dua sudut bibir Jodi di tarik. "Tidak segampang itu Yah ... tidak mudah mendapatkan wanita yang baik dan tepat itu."


"Iya sih, semoga kamu dapat wanita yang seperti ibumu. Baik hati dan penyabar." Kenang sang ayah.


"Oya, Yah ... menurut Ayah. Laras cantik dan baik hati gak?" tanya Jodi mengalihkan obrolan.


"Oh, cantik. Cantik sekali, sepertinya juga baik hati. Kalau saja bukan ponakan Ayah, tentunya ayah setuju kalau kamu berjodoh dengannya."


"Ah, Ayah. Ada-ada saja." Timpal Jodi sambil menggeleng dan mengulum senyumnya.


"Sayang nya, dia gak bisa jadi mantu ayah." Menarik napas berat.


Jodi melihat putaran jam di tangannya. "Kita makan siang dulu." Kemudian berdiri dan mendorong kursi sang ayah menuju meja makan.


Mbok Rasmi langsung menyediakan makan, terutama buat sang ayah. Istri pak Mulyadi alias ibu dari Jodi sudah meninggal 5 tahun lalu. Dan yang merawat pak Mulyadi selama ini ya itu Mbok Rasmi setiap harinya.


Keduanya mulai makan dengan lahapnya, diselang dengan obrolan ringan yang membuat makannya tak terasa. Tau-tau nasi di piring sudah tandas.


keduanya menyudahi makannya dengan meminum segelas air putih. "Mbak bereskan, tolong." perintah Jodi pada asisten lainnya.


"Ayah mau tidur siang dulu? nanti sore kita berangkat." Ucap Jodi menatap sang ayah.


"Kalau masih ada waktu sih boleh."


Kemudian Jodi membantu sang ayah untuk berbaring di kamarnya. Untuk tidur siang, menunggu sore bersiap pergi.


Berita di media sosial menyebarnya begitu cepat bisa di bilang secepat kilat. Jodi menggeleng membaca berita tentang Laras yang di cap wanita pelakor, istri muda yang mampu mengalahkan pesona istri pertama.


****


Di mension, Laras termangu setelah membaca berita itu. Banyak yang memberitakan kalau dirinya pelakor dan sebagainya, walau suaminya membela namun tak sedikit orang mencibir dan menyudutkan dirinya sebagai istri muda. "Gimana gak mau? lakinya kaya raya, dasar pelakor tak tahu diri," dan hujatan-hujatan lainnya yang menyakiti hati.


Tak ayal pemberitaan itu, apalagi cibiran atau komentar bikin ia shock, ia duduk bersimpuh di lantai dan menenggelamkan wajahnya di sofa dekatnya terduduk.


"Sayang, kamu kenapa?" Ibra setengah berlari dari balik pintu. Menghampiri sang istri yang duduk bersimpuh di lantai.


Laras mendongak dengan wajah yang basah, matanya yang merah. Menatap sendu. Dengan suara yang serak ia berkata. "Abang sudah pulang?"


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ibra berjongkok di dekat sang istri dan mengajaknya berdiri.


Laras menggeleng, dan berhambur ke pelukan Ibra dan tangis nya pun pecah. Dalam pelukan. Ibra membalas pelukannya, dan mengusap punggung dengan lembut. Sesekali ia mengecup puncak kepala Laras penuh kasih.


Ibra mengerti, kalau Laras pasti mendengar dan membaca berita-berita yang tidak mengenakan dari media sosial.

__ADS_1


"Tenang sayang. Semua itu tidak benar, yang komentar macam-macam pun mereka sama sekali tidak tahu kebenarannya." Cuph memberi kecupan di pucuk kepala sang Istri yang sedang terisak-isak. Hatinya begitu pilu.


"Tapi tetap aja aku seorang wanita pelakor, yang mengambil mu dari Dian. Sehingga Dian berbuat begitu, mungkin kalau akau tidak ada diantara kalian. Semua ini tak akan terjadi. Hik hik hik." Tubuhnya bergetar.


"Sayang ... dengar aku. Ini semua bukan salah mu, ini sudah takdir. Jodoh ku dengan Dian harus berakhir seperti ini, jangan salahkan dirimu. Yang jelas ini salah ku," timpal Ibra sambil mengusap punggung sang istri dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu itu seharusnya melepaskan aku, bukan Dian--"


"Tapi ... semua ini sudah terjadi sayang, tak bisa di ulang lagi." Menyela ucapan Laras. "Lagian aku gak akan pernah melepaskan mu, setelah adanya cinta di hati ini. Aku gak sanggup jauh darimu sayang." Ibra kembali menempelkan bibir di pucuk kepalanya Laras.


"Jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Kamu harus tetap di sisiku hem," ucap Ibra lembut.


Tak ada balasan apapun dari sang istri. Selain suara isakan. Ibra melepas pelukannya dan mengangkat tubuh sang istri, ia bawa ke tempat tidur. "Istirahat ya?" tubuh Laras Ibra baringkan di atas tempat tidur. Saat ini Laras tampak lemah sekali.


"Minum dulu sayang." Ibra memberikan minum pada sang istri. Setelah itu ia simpan kembali gelas di atas meja.


Ibra membuka jas nya. Ia lempar ke sofa, lalu menyelimuti tubuh sang istri dan ikut berbaring. Membelai kening Laras penuh kelembutan.


"Aku, bukan pelakor. Aku tak pernah ada niat untuk merebut dirimu dari Dian, sekalipun aku akan menuntut hak ku, tapi sama sekali gak ada niatan membuat Abang berpisah dengan Dian. Gak pernah berharap seperti itu." Suara Laras lirih dan menggeleng. Tatapannya sendu pada Ibra.


"Iya, sayang iya. Sudah ku bilang, kamu gak salah. Ini salah ku, sudah. Istirahat saja. Aku akan menjaga mu di sini." Menempelkan punggung jari-jarinya di pipi sang istri dan membelainya. "Bobo sayang."


Mungkin Laras merasa lelah, lelah menangis lelah hati dan pikiran. Sehingga ia dengan cepat terpejam dalam pelukan sang suami. Ia terlelap dihiasi dengan suara napas yang teratur.


Ibra mendaratkan kecupan di kening sang istri. Perlahan melepas pelukannya, memindahkan kepala Laras ke bantal. Lalu ia turun dan bergegas ke kamar mandi, tidak tahan dengan tubuhnya yang lengket. Ingin berendam dan merilekskan badan dan juga pikiran.


Kini Ibra tengah berendam di bahthub, dengan kepala mendongak ke langit-langit namun kedua matanya terpejam. Beberapa Menit kemudian Ibra sudah keluar dari kamar mandi, mengambil sendiri pakaian dari wardrobe, yang biasanya Laras yang siapkan ini semua.


Selepas salat dzuhur. Ibra turun ke ruang makan, kebetulan ia sudah bilang pada Zayn kalau ia tak bisa kembali ke kantor, sebab kondisi sang istri yang membutuhkan perhatiannya.


Ibra muncul di temat itu sendiri tanpa sang istri yang menemaninya. Kemudian makan siang sendiri pula.


Membuat bu Rika merasa heran, sebab Laras belum makan siang. "Nyonya kemana, Tuan? beliau belum makan siang."


"Ha, dia istirahat. Oh belum makan siang ya?" Ibra melirik ke arah bu Rika.


"Kurang baik. Siapkan aja buat makan siangnya. Nanti saya bawa ke kamar, cuma butuh istirahat saja." Gumam Ibra, lalu melanjutkan makannya sampai tandas.


"Nyonya pasti shock dengan berita di media?" gumamnya bu Rika sambil sedikit melamun.


Ibra menoleh dan menatap bu Rika. "Besok juga berita itu akan hilang. Tolong jangan di bahas kalau di depan Nyonya, kasian nanti kepikiran dan bikin kesehatannya drop," ucap Ibra penuh harap. "Bilang juga pada yang lain."


"Baik, Tuan. Nanti saya sampaikan pada anak-anak." Timpal bu Rika sambil mengangguk.


"Abang, gimana keadaan Laras sekarang?" suara bu Rahma yang datang tiba-tiba bersama sang suami.


"Mah ..." Ibra kaget dengan kedatangan sang bunda yang tiba-tiba, tadi bilangnya nanti sore akan ke mension. Tapi saudah datang jam segini.


"Mama khawatir sama keadaannya. Apalagi dia sedang hamil, Jangan sampai dia stres. bisa fatal loh."


"Mama jangan bikin hati Ibra cemas Mah ... kita berdoa aja semoga Laras kuat dan baik-baik saja," sambung pak Marwan yang duduk di kursi meja makan.


Sementara bu Rahma berdiri tampak tegang. Menatap sang putra semata wayangnya itu.


"Laras sedang istirahat Mah ... dia sudah tenang. Barusan Abang tinggal makan itu sedang tidur. Biarkan jangan di ganggu dulu." Ibra menenangkan sang bunda yang sangat khawatir akan kondisi sang mantu.


Kemudian mereka bergegas menuju kamar Ibra. Pintu pun terbuka dan tampak Laras masih tertidur nyenyak.


"Mama sangat khawatir. Berita di mana-mana, yang sedikit banyaknya menyudutkan Laras. Mama jadi penasaran gimana keadaan Dian sekarang? kan dia yang jadi topik berita utamanya juga," tutur bu Rahma sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Nggak tau, Mah. Bukan urusan Abang lagi, mungkin aja dia malah tersenyum bahagia. Dengan tersebar video dan berita tentang dia. Justru akan semakin menyudutkan Abang dan Laras," ujar Ibra menguraikan pendapatnya.


"Bisa jadi omongan Abang itu benar," ungkap pak Marwan seakan mengangguk.


"Abang yakin, Dian bukannya shock. Tapi tersenyum bahagia, mungkin merasa berada di atas angin dengan semua berita ini. Tapi ... biarlah, aku malas berkomentar apapun tentangnya." Ibra berdiri dan mendekati sang istri yang masih begitu nyenyak.


"Ya sudah, Laras sudah tenang mungkin, dan masih tidur juga. Semoga ia kuat dan berlapang dada. Yu kita istirahat dulu? Papa capek, padahal tidak nyetir atau apa." Ajak pak Marwan pada sang istri dengan nada yang pelan. "Lagian sudah lama kita tidak menikmati tempat ini." Menyeringai.


"Maksudnya apa sih Papa ini?" bu Rahma menggeleng.

__ADS_1


"Nanti juga ngerti, yu ... biarkan mereka berdua di sini jangan di ganggu juga." Pak Marwan meraih tangan sang istri dan menariknya keluar kamar Ibra. menuju kamar yang biasa ia pakai.


Netra mata Ibra menangkap sekilas pintu terbuka. Menyapukan pandangannya ke arah tadi orang tua nya berada, namun kosong. Berarti yang keluar barusan adalah ayah dan bunda nya.


Ibra duduk di tepi tempat tidur. Menatap wajah sang istri, di pipinya masih membekas. Bekas air mata yang mengalir dan kering, tangan Ibra mengelus pipi sang istri dengan halus. "I love you."


Tubuh Laras bergerak dan membuka matanya. melihat suasana sekitar, lalu pandangannya tertuju pada Ibra yang mengulas senyumnya.


"Sudah bangun sayang?" menggenggam tangan Laras, mencium punggungnya.


"Hem," kemudian ia bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur. Melirik ke arah putaran jarum jam. Sudah menunjukkan pukul 15.wib. "Abang gak kembali ke kantor?" dengan lirihnya.


"Tidak, Abang ingin menemani mu di sini." Ibra pun duduk di samping sang istri serta merengkuh bahunya di bawa ke dalam pelukan.


"Aku tidak, apa-apa kok," ucap Laras setelah ia sadar kalau tadi ia benar-benar kalut, kacau setelah membaca berita di media.


"Iya, aku tahu istri ku ini kuat dan sabar. Tapi tetap aja ngomongnya ngelantur tadi," ungkap Ibra dengan tangan terus mengusap punggung sang istri.


Wajah Laras sedikit mendongak. "Emang tadi aku bicara apa?" dengan suara seraknya.


"Nggak ah, sudah lupakan saja. Aku gak mau istri cantik ku ini banyak pikiran. Coba lihat dirimu, kacau begitu. Kusut seperti baju yang tak disetrika, pokoknya tak sedap di pandang mata."


Jari Laras mencubit perut Ibra, sehingga sang suami merem melek kesakitan dan memekik.


"Sakit sayang ..." tangannya menangkap tangan Laras. "Tapi benar sayang."


"Iya-iya ... aku kucel, bau lagi. Iya kan?" sambung Laras. Mendongak menatap wajah sang suami.


"Nggak juga, masih wangi kok." Ibra mendengus mencium wanginya tubuh sang istri.


"Hem ..." gumamnya Laras dan makin membenamkan wajahnya di dada bidang Ibra.


Tangan Ibra terus mengelus pucuk kepala sang istri. Penuh kasih sayang. "Oya, sayang belum makan siang. Makan dulu ya? Abang sudah siapkan di meja tuh." Menunjuk dengan dagunya.


Kepala Laras menggeleng. "Nggak lapar." Gumam Laras dengan malasnya.


"Sayang ... kalau gak makan nanti kamu sakit, baby kita juga akan sakit. Makan ya? aku suapi oke?" Ibra turun dari tempat tidur, mengambil makan Laras yang tadi sudah dipersiapkan.


Ibra kembali, menyuapi Laras yang mulanya menggeleng. Enggan makan, namun setelah Ibra bujuk akhirnya mau juga makan.


"Makan yang banyak, biar sehat. Nanti mandi ya? Abang mandikan oke," ucap Ibra sambil memasukan sendok ke mulut sang istri.


"Nggak mau, aku bisa mandi sendiri," sahut Laras, bibirnya mesem-mesem.


"Nggak pa-pa. Istri aku ini tampak lemas dan lemah. Apa salahnya sih ... aku mandikan."


Mata Laras bergerak melihat penampilan Ibra yang sudah ganti kostum. "Maaf ya tadi aku lupa siapkan pakaian ganti Abang." Menundukkan kepalanya.


"Nggak pa-pa sayang, aku ngerti kok." Cuph. Mendaratkan kecupannya di pipi sang istri dengan sangat mesra.


"Sudah, dah kenyang." Laras mengambil minumnya.


"Yakin gak mau lagi?" tanya Ibra.


Laras mengangguk sambil meminum air putih. Ibra pun terpaksa menghabiskan nya, sayang nanti mubazir katanya.


Kemudian Ibra menyingsingkan lengan bajunya, tanpa ijin dulu langsung aja Ibra menggendong tubuh sang istri ala bridal style.


Laras yang memang merasa lemah terkesiap. Langsung tangannya merangkul pundak Ibra, hatinya was-was. Takut terjatuh. "Mau di bawa ke mana?" suara Laras lirih.


"Kamar mandi." Singkat Ibra sambil mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.


Laras mengulum senyumnya. Kedua netra matanya tak berhenti menatap sendu sang suami yang sesekali melirik. Setelah berada di kamar mandi, Ibra tak canggung memandikan tubuh sang istri. Walau Laras menolak dengan alasan bisa sendiri, namun tak serta merta Ibra kabulkan. Hingga selesai.


Kini Ibra mengajak Laras berjalan-jalan di taman. Laras pun merasa senang, keduanya berjalan bergandengan tangan. Ibra memetik setangkai bunga Roos dan ia berikan pada Laras. Membuat bibir Laras terus mengembang menunjukkan senyumnya ....


****


Terima kasih pada reader ku semua yang tetap setia pada SKM ini. Tanpa kalian aku bukan apa-apa, kunjungi juga karya ku yang berjudul "Bukan Suami harapanku" juga ya?🙏

__ADS_1


__ADS_2