
Blak! es krim Dian hempaskan. Brak ... wadahnya kebalik dan isinya tumpah semua.
Semua terkesiap, tidak menyangka kalau Dian akan menghempas membuang es krim itu ke lantai.
Laras terkejut , menutupi mulutnya yang menganga. "Kak Dian. Kenapa membuangnya? kan sa--"
"Ini, kan yang kamu mau! tapi kamu tidak mau memakannya. Dasar tidak bersyukur, tidak menghargai usaha orang." Dian menatap tajam ke arah Laras, kata-katanya lirih namun lumayan pedas.
Laras yang tadi terkejut sontak berdiri rasanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, dan rasa bersalah yang memenuhi hatinya. "Ma-maafkan saya Kak, bukan saya bermaksud apa," mata Laras berkaca-kaca.
Bu Rahma berdiri, lantas merangkul bahu Laras dan mengusapnya. "Seharusnya tidak gitu juga sayang. Dian harus ngerti juga, Laras ini, kan sedang ngidam. Bagus juga dia jujur, dari pada diam-diam. Biarpun Laras maunya di belikan oleh Ibra dan tidak mau makan itu, kan bisa di makan orang-orang. Asisten juga banyak yang suka, kalau di buang, kan mubazir. Sayang dibuat mubazir gitu," tutur bu Rahma menatap Dian.
"Aku kesal. Mah, aku bela-belain membeli itu untuk dia, eeh ... gak mau makan, jadinya kesal!"
"Tapi itu, bawaan orang ngidam sayang, kalau gak ngidam! gak mungkin Laras gak mau makan." Bu Rahma menghampiri Dian mengusap punggungnya. "Sabar ... dulu juga, Mama gitu, waktu ngidam Ibra."
Hening ....
Susi membersihkan es krim yang berserakan di lantai. Sampai kembali bersih.
Dian cemberut, masih kesal, sementara Laras menyeka air matanya yang menetes di pipi entah kenapa hatinya terasa sakit. Namun tetap merasa tidak enak pada Dian, merasa bersalah dengan sikapnya. "Aku minta maaf Kak?" bukan maksud aku tidak menghargai pemberian Kak Dian."
"Sudah, sayang ... kamu gak salah juga kok," ucap bu Rahma dengan sangat lirih pada Laras.
Dian menghela napas sangat panjang, lalu ia hembuskan dengan sangat kasar. Kemudian menoleh ke arah Laras. "Sudahlah, saya juga yang salah. Seharusnya Saya bertanya dulu, kamu mau dibelikan sama siapa."
"Ya ... sudah, magrib nih. Sebaiknya kita salat dulu, nanti bertemu lagi makam malam, oya sudah bilang belum sama Ibra? biar dia beli es krim, sembari pulang." Rahma menatap Laras.
Laras menggeleng. "Belum."
Bu Rahma menghirup dan membuang napasnya kasar. Beliau faham, kalau Laras belum begitu berani pada Ibra, sehingga mau sesuatu pun tak berani ngomong. "Biar. Mama yang bicara sama Ibra ya?"
Bu Rahma kemudian mendekati telepon rumah, menelpon Ibra agar membeli sesuatu yang Laras mau. "Halo ... sayang? nanti kalau pulang, mampir dulu ke alfa atau apalah. Belikan es krim rasa pisang buat yang ngidam, ingat harus kamu sendiri yang beli. Jangan orang lain."
Setelah selesai bicara, bu Rahma menutup teleponnya. "Sudah. Mama bilangin, nanti dia pulang. Bawa yang kamu mau," ujar bu Rahma pada Laras yang menunduk.
Laras mengangkat kepalanya. "Makasih Mah?"
"Huuh ... kolokan! manja sekali," gumam Dian dalam hati.
"Iya ... sama-sama."
Dian duluan beranjak daru duduknya. "Dian, ke kamar duluan. Mah."
"Iya, sayang." Bu Rahma mengangguk.
Begitupun Laras beranjak menggeser kursinya. "Laras juga. Mah, mau salat magrib dulu."
"Hem ... iya. Mama juga."
__ADS_1
Laras berjalan gontai, menuju kamarnya. Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib begitu indah. Mengajak umat muslim melaksanakan salat.
Selepas salat. Laras tiduran, mau turun mager, makan apa lagi gak napsu. Akhirnya baringan selimutan.
****
Setelah terima telepon dari sang bunda. Ibra melanjutkan obrolan dengan pengacaranya. "Saya hanya ingin tahu beres aja, tidak ingin tahu apa-apa lagi tentang masalah ini."
"Baik. Tuan, saya senang dapat kerja sama dengan anda." orang berjas hitam itu mengulurkan tangannya.
Keduanya berjabat tangan, dan pengacara itu pun pamit. Zayn menyodorkan, beberapa berkas baru ke Ibra. "Ini harus selesai malam ini juga, tidak bisa di ke esok hari, kan!"
"Kau, enak amat bicara, main perintah aja. Kau pikir siapa ha?" ucap Ibra sembari mendelik pada Zayn yang nyengir.
"Iya, sih ... kau bos nya, justru itu! harus jadi contoh yang teladan. Buat karyawan, apa lagi seperti sekarang ini detik-detik mau turun gajian. Jadi ... biar tambah semangat, apalagi dibarengi bonusnya. Wah mantap boos!"
"Ck, bilang saja mau tambah gaji ... gak usah belok-belok gitu, pusing saya dengarnya," suara berat Ibra.
"He ... he ... he ... tau aja bos?" kata Zayn berlaga malu.
Putaran jarum jam sudah menunjukan pukul 19.30 wib namun Ibra masih berkutat dengan kerjaannya. "Ya. Tuhan ... aku ini di tunggu pulang bawa es krim. Aah ada-ada saja, coba bisa siapa saja yang beli. Gak harus nunggu aku dulu, kan lebih gampang. Tinggal pesen gojeg, beres," gumam Ibra. sambil segera membereskan kerjaannya.
"Kalau boleh cuma sekedar es krim nya sih gampang, saya juga bisa, tinggal beli dan mengantarnya ke mension. Bertemu sama bidadari." Menaik turunkan alisnya.
"Enak saja, itu orang ada suaminya. Bukan single, dasar otak mu kotor," sekilas menunjuk Zayn yang menyeringai.
"Kawin, bukan jajan mulu." Ibra menggeprak sedikit meja.
"Jangan salah? saya kawin hampir tiap malam." Zayn sekena nya.
"Maksud saya ... nikah dulu," ralat Ibra sambil membereskan berkas-berkas penting.
"Belum pengen, kalau nikah. Takut seperti anda bos, tidak cukup satu, kan berabe! kalau buat saya." Zayn nyengir. Mangambil sebagian berkas.
"Ceritanya ... nyindir nih? kamu tau cerita sebenarnya gimana? sebenarnya saya cukup satu aja, tapi karena keadaan. Terpaksa dinikmati aja," ujar Ibra.
"Ha! terpaksa? jadinya keenakan," timpal Zayn lagi.
"Ah, sudah, kita pulang!" ajak Ibra berdiri dan merapikan kursinya.
Ibra dan Zayn berjalan menyusuri lorong kantor, melintasi setiap ruangan yang tinggal satu, dua yang masih lembur.
Saat ini Ibra sudah berada dalam mobil. "Hujan bos, hujan gerimis." Zayn menatap langit.
"Cepat jalan!" titah Ibra dia pun melihat cuaca yang mendung bahkan sudah mulai turun hujan.
Mobil menepi tepat di depan Alfamart. Langsung memesan es krim dengan ukuran besar 3 cup sekaligus, buat stok katanya.
Selepas membayar, mobil melaju dengan kencang. "Jangan cepat-cepat napa? saya cuma punya nyawa nih, gak punya stok." Ibra menepuk pundak Zayn yang malah ketawa.
__ADS_1
Selang beberapa waktu. Ibra sampai depan mension, ia turun membawa cup es krim. Sementara mobil Zayn bawa pulang. Kedatangan Ibra di sambut hangat oleh Dian.
"Met malam sayang? tumben pulang telat." Dian merangkul tubuh Ibra sangat erat.
"Aku sedikit sibuk sayang, jadi pulang telat." Ibra membalas pelukan Dian dan mencium keningnya.
"Aku kangen." Dian melepas pelukannya sejenak, menatap wajah suaminya. Kemudian kembali mengeratkan pekukannya itu.
Asisten mengambil kantong yang sempat Ibra simpan di kursi. Dibawanya ke dapur. Ibra melihat asisten itu membawa belanjaannya ke dalam.
"Sudah dong pelukannya, aku capek pengen bersih-bersih, badan ku lengket banget," sambil mencium bau tubuhnya sendiri.
"Ooh ... tapi aku suka kok, tetap wangi." Dian mengukir senyumnya yang manis.
"Ha! bau, ya sudah, aku mandi dulu." Ibra menuntun tangan Dian ke kamarnya.
Mereka berjalan saling rangkul pinggang masing-masing. Di lift juga saling peluk, mencurahkan rasa rindu, yang mungkin jarang mereka tumpahkan.
"Rasanya sudah tidak sabar, ingin segera pergi ke luar Negeri. Sambil berbulan madu, yang ada hanya kita berdua, tidak ada yang berani ganggu kita," ujar Dian mengalungkan tangan di pundak Ibra dan saling menyentuh hidung masing-masing.
Sesampainya di kamar pun keduanya masih saling berpelukan Dian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ibra. Sejenak merasakan nyamannya dalam pelukan sang suami.
Ibra membelai rambut Dian yang pendek, penuh kasih sayang. sesekali mengecup puncak kepalanya.
Hening ....
Hanya suara napas yang berhembus, dan detaknya jantung yang menghiasi heningnya suasana. Perlahan Dian melepas melukannya dan membuka jas yang Ibra kenakan, membuka kancing kemeja Ibra satu persatu.
Ibra menatap wajah Dian yang tampak mendamba, cup. Ibra lagi-lagi mengecup kening Dian penuh kasih sayang. "I love you. Aku mandi dulu ya." Ibra membuka pakaiannya sambil jalan ke kamar mandi.
Dian menghela napas dalam-dalam. Memasuki wardrobe yang isinya tertata rapi, sudah sangat lama ia tak masuk ke ruang ini. Mengambil pakaian tidur Ibra, lalu segera kembali dan menunggu di sofa.
Dian yang dari tadi sudah merasa kepanasan, semakin gerah ketika melihat suaminya yang hanya mengenakan handuk. Dada bidang Ibra nyata di depan mata, semakin menggugah hasratnya yang kian bergelora, ia menelan saliva nya berkali-kali.
Dian menghampiri Ibra dan langsung memeluk tubuh suaminya, pelukan yang penuh gairah.
Ibra membalas pelukan itu, sebagai suami ataupun laki-laki ia mengerti kalau istrinya sedang mendambakan dirinya. Ia mengusap halus punggung Dian yang mulai agresif terhadap dirinya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Seseorang mengetuk pintu, membuat kegiatan Ibra dan Dian berhenti, dengan kesal. Ibra melepas pelukannya pada Dian ....
,,,,
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.
__ADS_1