Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Banyak berubah


__ADS_3

"Dian pengen di jemput, katanya tidak tahu alamat di sini," ucap Ibra sambil merangkul pinggang Laras.


"Tidak tahu? bukan tidak tahu ... tapi lupa kali." Laras menatap kedua mata Ibra.


"Iya, ya? entah lah. Pinjem mobil ya," menempelkan hidungnya di pipi Laras.


"Mobil, ya pakai saja. Oya mobil Abang belum datang ya? pakai aja," lirih Laras kembali.


Ibra yang sedikit mendudukkan dirinya di tepi meja. Tangannya masih merangkul pinggang Laras, mendengus mencium wangi tubuh wanitanya itu. "Sebenarnya bentar lagi aku mau ngantor. Walau sebentar."


"Terus?" selidik Laras sambil mengernyitkan keningnya.


"Zayn nya belum datang." Memandangi wajah sang istri sangat lekat.


"Ya, sudah pergilah. Di depan ada mobil pakai lah," sambung Laras.


"Kau mengusir ku, tidak mau melihat suami mu yang ganteng ini apa?" celetuk Ibra sambil memberi gelitik kan di pinggang Laras.


"Geli ih ... geli." pekik Laras ketika jari Ibra menari-nari di pinggangnya. "Siapa yang mengusir?"


"Terus apa? kalau bukan ngusir, nyuruh gitu hem." Tubuh Laras di rengkuh nya.


Laras melepaskan diri sambil berbisik. "Malu ih ... di lihat orang juga," ekor matanya melihat kanan dan kiri.


Ibra nyengir. "Ya ... sudah, aku pergi dulu sayang," mendekati Laras dan hendak mencium pipinya. Namun Laras segera menghindar sambil mengulum senyumnya.


"Awas ya, nanti gak ada ampun ya?" ancam Ibra sambil tertawa. "Sus, tolong ambilkan kunci mobil Nyonya muda dong di kamar.


"Baik, Tuan." Susi pun pergi ke kamar Laras.


Kebetulan, bu Rahma membawakan kopi untuk suaminya Marwan, yang berada di depan bersama yang bekerja.


Ibra menarik punggung Laras hingga dada Ibra tertabrak dadanya Laras. "Sekarang, di sini tidak ada siapa-siapa. Masih mau bilang malu?" menetap kedua netra mata Laras dalam-dalam.


Laras tidak menjawab, ia hanya membalas tatapan mata Ibra yang di hinggapi sesuatu keinginan. Jari telunjuk Ibra mengangkat dagu Laras dengan cepat ia mendaratkan bibir nya bibir Laras yang tak bisa Laras elak lagi.


Laras memukul dada Ibra. Agar segera melepaskannya, takut ada yang lihat. "Jangan lama-lama, nanti ada yang datang," ucap Laras, setelah Ibra lepaskan. Mengusap bibirnya yang lembab


Ibra menyeringai puas. "Mana, lama? bentar juga." kemudian mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


"Ini, Tuan. Kuncinya." Susi memberikan sebuah kunci pada Ibra.


"Oke," sambil melihat Laras yang mengedarkan pandangan entah ke mana.


"Sayang, aku pergi dulu."


Ibra langkahkan kakinya. menjauhi Laras yang berdiri dekat meja makan.


"Assalamua'laikum!"


"Wa'alaikumus salam," sahut Laras menoleh dan menatap punggung sang suami. Belum juga mata Laras berkedip, Ibra sudah kembali.


"Sayang, tolong siapkan setelan kerja dong," ucap Ibra dan dia sendiri pergi duluan ke kamar.


Laras mengikutinya dari belakang. Langkah Laras berhenti ketika sudah masuk ke dalam kamar dan mendapati Ibra yang sedang bicara di telepon.


Laras menghampiri lemari dan mengambil setelan Ibra. "Katanya mau jemput Kak Dian?" melihat Ibra yang sudah duduk. Menunggunya.


"Biar Zayn saja yang jemput ah, Malas," jawab Ibra. Menerima pakaiannya.


"Baiknya, Abang aja yang jemput. Nanti dia merasa kamu tidak sayang lah sama dia, tidak perhatian lah atau apa lah. Aku juga nanti yang kena sasaran Dian." Lirih Laras sembari membantu mengenakan dan mengancingkan kemeja Ibra.


Ibra terdiam sambil berpikir, mungkin omongan Laras ada benarnya juga. "Tapi, kan dia tahu alamat sini--"

__ADS_1


"Apa salahnya di jemput? mungkin dia malas nyetir, pak Barko belum masuk kerja mungkin." Laras memotong ucapan dari Ibra.


Ibra mencubit hidung Laras gemas. "Baiklah sayang ... aku akan jemput dia, tapi akan langsung ngantor ya hem?"


"Iya, gak pa-pa." Laras mengangguk pelan.


Setelah jas melekat di tubuhnya, Ibra membingkai wajah Laras. Dengan kedua tangan. Ia menghujani dengan kecupan kecil dari kening, pipi dan juga dagu. "Aku pergi dulu ya? oya baby ku ... jaga Mommy ya. Dan jangan bikin Mommy susah oke?" mengusap perut Laras.


Kemudian, Ibra mengusap pucuk kepala sang istri, melangkah pergi. Meninggalkan Laras di kamarnya.


"Pah, Mah. Aku pergi dulu," pamit Ibra sambil bersalaman dengan kedua orang tua nya.


"Loh ... kok pakai setelan? mau jemput Dian atau--"


"Mau jemput dulu, terus ngantor." Ibra langung memotong pertanyaan dari sang bunda.


"Oh, mobil mu mana?" selidik pak Marwan celingukan, sedari pagi gak lihat mobil Ibra.


"Zayn yang bawa, dari semalam. Assalamua'laikum." Jawab Ibra kembali.


"Wa'alaikumus salam ...."


Kemudian Ibra pun berlalu. Menghampiri mobil Laras dan membawanya pergi.


Mobil meluncur meninggalkan kediaman Laras. Di ujung jalan, berpapasan dengan motor pak Rt. Dia menyalakan klakson dan mangangguk hormat. Begitupun Ibra membalas dengan ramah.


"Tapi, ee ... siapa dia ya? berasa kenal tapi siapa." Gumamnya Ibra sambil melihat punggung pak Rt dari kaca spion.


"Eeh, kenapa berhenti di depan rumah? siapa dia." Ibra memutar badan mengamati Miftah yang memarkir motor tepat di depan rumah dan masuk melintasi pagar.


Ibra kembali ke posisi semula. Memegang setir dan melanjutkan perjalanannya, yang sempat tertunda.


Tidak selang lama, Mobil Laras yang dikendarai Ibra sudah sampai di depan teras mension. Disambut oleh bu Rika.


"Ibu mana?" tanya Ibra sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke setir.


"Sepertinya masih di kamar, Tuan," jawab bu Rika sambil menoleh ke arah dalam mension.


"Suruh, secepatnya turun. Saya tunggu di sini." Perintah Ibra pada bu Rika yang mengangguk. "Oya, Bu Rika. Besok tasyakuran di rumah Laras, datang ya?"


"Oh, baik Tuan. Terima kasih undangannya? saya panggilkan nyonya Dian dulu, Tuan." Bu Rika mendur, lalu meninggalkan Ibra. Untuk memanggil Dian.


"Malas aku naik dulu, nanti terjadi drama. Lama lagi, bikin malas." ucap Ibra sambil celingukan melihat suasana sekitar.


Bu Rika sudah sampai depan pintu kamar majikannya, Dian. "Nyonya ... sudah di tunggu Tuan di bawah." pekik bu Rika.


Tidak lama, pintu di buka dari dalam, nampak Dian berdiri dengan tangan menyilang di dada. "Kenapa nunggu di bawah? kenapa gak naik saja. Ini rumahnya! bukan tamu."


"Saya kurang tahu, Nyonya. sebab itu yang Tuan. Perintahkan pada saya." Jawab bu Rika.


"Ada-ada saja, bukannya masuk dulu napa?" gerutu Dian sambil jalan mengambil tas kesayangannya.


Kemudian bergegas menuju lobby untuk menemui Ibra yang katanya menunggu di sana.


"Perasaan bukan tamu deh, bukannya masuk dulu." Gerutu Dian setelah berada di dekat mobil dan Ibra membukakan pintunya.


"Aku buru-buru mau ke kantor sayang," ucap Ibra sambil memberi kecupan di kening sang istri.


Mobilnya langsung melesat, melaju dengan sangat cepat. Kembali menuju kediaman Laras.


Dian menyandarkan kepala di bahu Ibra. "Mobil kamu kemana?" tanya Dian setelah menyadari kalau mobil yang Ibra kendarai bukanlah mobil pribadinya.


"Zayn yang bawa dari semalam." Jawab Ibra dengan tatapan fokus ke depan. Biarpun ada beberapa mobil kesayangannya terparkir rapi di mension, tapi Ibra tak serta merta gonta-ganti mobil.

__ADS_1


Kalau sudah nyaman dengan satu kendaraan ya itu saja, motor pun ada tapi memang malas bawa, akhirnya hanya menjadi penunggu garasi saja.


"Oh," Dian membulatkan mulutnya.


"Kamu, kan sudah pernah ke rumah Laras baru-baru ini. Kenapa bilang tidak tahu alamat segala?" selidik Ibra yang tetap menatap fokus jalanan yang ada di depannya.


"Ee ... i-iya, ta-tapi aku lupa, jalannya." suara Dian terputus-putus. Gugup dan tegang. Mendapat pertanyaan dari Ibra. "Kamu, keberatan jemput aku? ya udah gak usah di jemput." Dian jadi balik marah.


"hei ... yang seharusnya marah itu aku sayang, kamu gak perlu bilang gak tahu alamat segala. bilang aja malas nyetir atau soal jalan bisa cek GPS, kan?" tambah Ibra.


Dian duduk tegak di tempatnya. "Jadi kamu gak ikhlas jemput aku?"


"Bukan gak ikhlas. Tapi jujur saja, jangan suka ini itu lah." Kata Ibra kembali.


"Benar ya, sekarang kamu banyak berubah. Berubah setelah dekat dengan wanita itu. Termasuk sikap kamu sama aku yang lebih cuek dan dingin."


Ibra menoleh sekilas ke arah Dian yang melepas pandangan keluar jendela. "Sayang ... tidak ada yang berubah. Itu cuma perasaan mu saja, yang berubah itu justru kamu."


"Apa yang berubah dari aku? gak ada kok," elak Dian dan menggeleng.


Hening!


Ibra malas bila harus berdebat dengan Dian.


Selang beberapa puluh menit, mobil sudah berada depan rumah Laras. Ibra melihat motor yang tadi, masih nangkring di tempat semula. "Siapa sih dia?" batin Ibra. Kemudian turun dan membukakan pintu buat Dian.


Dian bergelayut mesra di lengan Ibra. Berjalan berbarengan memasuki rumah tersebut. Du ruang tengah, orang tua Ibra dan Laras dan juga tamunya. Sedang asyik mengobrol tampak akrab sekali mereka.


"Assalamua'laikum?" ucap Ibra di hadapan semua.


"Wa'alaikumus salam." Jawab semuanya, dan menoleh ke arah Ibra dan Dian yang berdiri. serta tangan Dian yang memegang tangan Ibra mesra.


"Nah ... itu putra saya, sekaligus suaminya Laras." pak Marwan mengenalkan Ibra pada pria tersebut. "Dan wanita yang disampingnya itu adalah istri tua nya."


Dian melotot kearah semuanya, ketika mendengar pak Marwan menyebut dirinya istri tua.


"Ibra, kenalkan dia Pak Rt di komplek ini," ucap pak Marwan pada Ibra.


"Oh," gumam Ibra, lalu mereka saling berjabat tangan. Netra mata Ibra melihat ke arah Laras yang sedang menundukkan kepala.


Dian, berpelukan dengan bu Rahma dan berjabat tangan juga dengan Laras yang mengulas senyuman padanya. Serta saling bertanya kabar.


"Sayang, aku mau bicara sebentar," suara Ibra sangat pelan pada Laras yang membalas dengan anggukan.


Ibra dan Laras jalan beriringan masuk ke dalam. Mata Dian mengarah ke Ibra dan Laras yang masuk ke sebuah ruangan.


"Ada apa? katanya mau ngantor," tanya Laras setelah berada di dalam kamar.


Ibra berdiri di depan Laras. "Emangnya kenapa? terganggu ya, dengan kepulangan aku!" tanya Ibra dengan tatapan dan ekspresi penuh curiga.


Laras membalas tatapan Ibra sangat lekat. "Maksud Abang apa?" dengan suara lirihnya Laras menatap sendu.


"Dari sejak aku berangkat, sampai sekarang masih asyik mengobrol. Akrab banget ya?" jelas Ibra.


Laras mendudukkan dirinya di sofa, bingung dengan maksud Ibra. "Dia pak Rt di sini. Beliau yang mengurus undangan orang komplek ini, termasuk bu ustazah nya," jelas Laras sembari menautkan jemarinya di atas pangkuan.


Ibra masih berdiri dan mondar mandir. "Yang jadi pertanyaan ku, kok bisa akrab banget ya? kelihatannya sudah kenal lama gitu."


Laras mendongak pada Ibra yang masih berdiri. Seraya tersenyum, Laras berkata. "Secara kebetulan, dia ... memang kawan lama aku, ketika kuliah dulu," ucap Laras ....


****


Hi ... sudah baca, kan? jangan lupa like, komentar dan vote nya juga. Terus dukung aku ya? dan terima kasih masih setia🙏

__ADS_1


__ADS_2