Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Mantan tunangan


__ADS_3

Beberapa pasang mata tertuju ke arah pintu. Menunggu langkah yang sepertinya kian mendekat. Laras berdiri dan duduk di tempat semula, bersama sang suami.


"Assalamu'alaikum ... Mama pulang." Suara bu Rahma yang menjinjing tas tangan yang bermerek LV keluaran terbaru.


"Wa'alaikum salam." jawab semua dengan serempak.


Namun alangkah terkejutnya, bagi sebagian orang di sana. Khususnya bu Rahma, pak Marwan dan pak Mulyadi. Mereka saling tatap dengan perasaan yang tak menentu, benar-benar situasi yang tak di sangka-sangka sebelumnya.


"Kamu, sedang apa di sini?" selidik pak Marwan dengan tatapan yang kurang bersahabat.


"Kamu sendiri sedang apa di tempat ini?" pak Mulyadi malah balik nanya, ia pun penasaran kenapa pasangan ini ada di sini? Ia tahu kalau sosok Ibra sebagai salah satu bisnisman muda. Namun tak ada yang tahu orang-orang yang ada di belakangnya.


"Saya di sini jelas, sebab ini rumah putra dan mantu saya." Jawab Marwan dengan masih berdiri.


"Apa? Laras mantu mu," pak Mulyadi terkesiap.


Jodi menghampiri. Pak Marwan dan bu Rahma, lantas mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Apa kabar Om, Tante." Menatap bergantian.


"Om Baik." Singkat Marwan salam hati bertanya apa Jodi ada hubungannya dengan Mulyadi?


Bu Rahma cuma mengangguk. Tak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.


"Iya, dia mantu ku. Kenapa?" tanya pak Marwan dengan nada datar.


Pak Mulyadi bengong menatap sang keponakan dan suaminya, kemudian tatapannya mengarah kembali pada pak Marwan. "Em. Saya adalah Pamannya Laras."


"Ha, Pamannya Laras. Dari mana?" selidik paka Marwan penasaran.


"Saya, adik bapak Laras yang telah tiada." Pak Mulyadi menunduk. Suka sedih bila mengingat sang Kakak.


Semua terdiam dengan pemikirannya masing-masing.


Sementara bu Rahma terduduk lesu. Situasi ini mau tidak mau membawanya pada sebuah kenangan masa silam. Di mana ia dulu pernah berhubungan dekat dengan Mulyadi. Sampai pertunangan pun terjadi, namun di kala menuju pernikahan. Masing-masing keduanya tergoda oleh yang lain.


Mulanya bu Rahma tergoda sama Marwan. Sehingga membuat hubungannya dengan Mulyadi renggang. Membuat Mulyadi murka dan terjadi perkelahian yang hebat diantara Marwan dan Mulyadi waktu itu. Namun walau begitu, Rahma tak jera ia masih saja menjalani hubungan diam-diam dengan Marwan. Tapi masih dalam batas wajar dan sehat.


Kemudian, Mulyadi bertemu dengan wanita yang bernama Zakiah, ya itu perempuan yang jadi istri siri Marwan hasil perjodohan kala itu. Bahkan hubungan Mulyadi dan Zakiah telah melebihi batas, meskipun Zakiah adalah istri siri Marwan.


Rahma pernah ke memergoki dengan mata kepalanya sendiri, kalau Mulyadi dan Zakiah sedang melakukan hubungan layaknya suami istri. Rahma menutup mulutnya yang menganga. Rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, tanpa tertutup sehelai kain pun yang menutupi tubuh keduanya. Hancur lebur perasaan Rahma, sehancur-hacurnya tak berkeping. Tak berbentuk lagi.


Padahal, kedatangan Rahma ke rumah Mulyadi untuk membicarakan bahwa ia akan membenahi hubungan. Ia akan meninggalkan Marwan segera demi pernikahannya dengan Mulyadi. Lagian Marwan sudah beristri juga , walau atas perjodohan. Namun apa yang ia lihat, sungguh membuatnya shock, tubuhnya bagai kapas yang tersiram air. Menciut, menjatuhkan dirinya ke lantai tak bertenaga. Tangisnya pecah sampai sesegukan, di lantai menangis pilu.


Pasangan yang tadinya tengah asik memadu kasih itu terperangah, dengan kedatangan Rahma di rumah Mulyadi. Keduanya benar-benar tidak menyangka kalau yang mereka lakukan itu akan ketahuan oleh Rahma yang statusnya tunangan Mulyadi.


Setelah kejadian itu. Rahma memutuskan pertunangannya. Ia kembalikan cincin dan semau yang sudah Mulyadi berikan. Walau keputusan Rahma di tentang oleh orang tua Rahma dan juga orang tua Mulyadi. Namun setelah Rahma jelaskan, kedua belah pihak keluarga pun mengerti.


Akhirnya Marwan pun menceraikan Zakiah, padahal dia aja sebagai suami belum pernah menyentuh Zakiah, beda dengan Mulyadi yang baru pacaran sudah lancang menikmati tubuhnya Zakiah. Dan Marwan pun tak berpikir panjang lagi untuk menceraikan Zakiah.


Mulyadi sesungguhnya cuma niat balas dendam pada Marwan yang telah memacari tunangannya itu. Ia pikir mereka pun melakukan yang sama, Ternyata mereka tidak pernah melakukan seperti yang ia pikirkan. Marwan dan Rahma cuma pacaran biasa, tak berani melakukan yang lebih, ia pun memohon maaf pada Rahma dan ingin melanjutkan hubungan. Meneruskan niatnya untuk menikah.


Namun Rahma terlanjur sakit hati. Merasa di tuduh sesuatu yang tidak pernah dilakukan, dan pada akhirnya Mulyadi sendiri yang melakukan hal yang tak senonoh itu. Akhirnya Mulyadi menyesali perbuatannya itu.


Setelah beberapa bulan kemudian Marwan menikahi Rahma, sementara Mulyadi harus menunggu beberapa bulan. Sampai masa iddah Zakiah selesai, barulah mereka menikah.


Rahma tersadar dari lamunan. Ketika sang suami menepuk pundaknya. "Oh, ada apa Pa?"


"Kamu kelihatan capek banget. Masuk dan istirahat sana." Titah pak Marwan pada istrinya.


Mata bu Rahma mengedar ke semau orang yang ada di sana, lalu beranjak. "Ya sudah aku masuk dulu."


Pak Marwan menatap kepergian sang istri. Kemudian mengalihkan pandangan pada pak Mulyadi. "Gimana kabar istrimu?"


Helaan napas kasar dari hidung pak Mulyadi dari hidungnya terlihat jelas. "Dia sudah tiada dari lama." Dengan nada sedih.


"Maksudnya? meninggal--"


"Iya, saya minta maaf atas nama dirinya atas kesalahan di masa lalu," ucap pak Mulyadi menyampaikan permohonan maaf.


Pak Marwan hanya menarik napas dalam-dalam. Dan tak ingin mengingat hal itu.

__ADS_1


Laras dan Ibra bahkan Jodi merasa penasaran dengan ungkapan kesalahan di masa lalu. Akhirnya Laras membuka suaranya. Mewakili rasa penasaran yang lainnya. "Maksud Paman apa? yang dimaksud kesalahan di masa lalu?"


Pak Mulyadi dan pak Marwan saling pandang. "Em ... itu--" pak Mulyadi menggantung ucapannya.


Kemudian Pak Marwan bercerita tentang masa lalu mereka. Semua di ceritakan tanpa sedikit pun yang di tutup-tutupi.


"Kalau mama pernah jadi istri Om Marwan, terus aku anak siapa Yah?" celetuk Jodi menatap sang ayah dan pak Marwan bergantian. Ia penasaran, kalau dirinya putra siapa?


"Jadi kamu, anaknya Mulyadi dan Zakiah?" pak Marwan melontarkan pertanyaan balik.


"Iya, Om. Benar." Jawab Jodi.


Kemudian Marwan menggeleng dan menggoyangkan kedua bahunya. "Saya tidak tahu, yang jelas saya tidak pernah melakukan apapun terhadap Zakiah. Tidak seperti ayah mu yang lancang." Ketus Marwan.


Dengan jawaban pak Marwan, sudah cukup untuk menjelaskan. Kalau Jodi bukanlah anak pak Marwan.


Pak Mulyadi menghela napas panjang. "Kamu anak ayah, Jodi. kamu anak kami."


Wajah Jodi menyiratkan rasa yang bahagia, dan matanya berbinar.


"Saya minta maaf, atas segala kesilapan saya waktu itu. Saya telah salah sangka." Lirihnya pak Mulyadi, pada pria yang duduk di seberangnya.


"Sudahlah, lupakan semuanya. Ngomong kamu, kenapa baru muncul sebagai paman Laras? dulu kemana saja." selidik Marwan.


"Dulu Lala, ya ... katakanlah disembunyikan oleh adik saya, Rustam. Dia titipkan Lala ke panti yang tak pernah bilang panti asuhan mana, dari dulu pun saya mencari keberadaan Lala. Setiap panti asuhan saya datangi untuk mencari Lala, namun tidak juga saya temukan. Sampai sekitar 5 entah 4 tahun terakhir saya jatuh sakit--" pak Mulyadi menjeda ucapannya dengan tarikan napas yang sangat berat.


Semua yang ada di sana mendengarkan dengan seksama. Pak Mulyadi kembali bersiap melanjutkan ceritanya.


"Setelah saya sakit, Jodi lah yang saya tugaskan untuk menggantikan saya dalam mencari Lala. Dan akhirnya baru sekarang ini bisa bertemu, alhamdulillah." kenang pak Mulyadi.


Laras merasa terharu mendengar cerita pamannya ini. Dan bahagia karena bisa bertemu keluarga, ternyata Jodi yang ia kenal adalah sepupunya sendiri.


Tidak terasa terdengar sayup-sayup suara adzan magrib yang begitu mengalun merdu. Obrolan terhenti dan semua lelaki di ke masjid yang tidak jauh dari situ.


Setelah Laras menunaikan salat, ia segera turun tangan menyiapkan makan malam bersama Susi dan bu Rahma juga.


"Jadi, ceritanya. Paman Mulyadi itu mantan tunangan Mama ya?" goda Laras sambil mengaduk sayur.


Bu Rahma menghela napas berat. "Mama datang ke rumah Mulyadi untuk minta maaf, ingin memperbaiki hubungan. Bagaimanapun pernikahan kami tinggal menghitung minggu. Namun apa coba yang Mama lihat?" mata bu Rahma berkaca-kaca.


Laras memeluk bahu sang mama mertua dan memberikan pengaduk sayur pada Susi.


"Hancur hati Mama sayang. Dia melakukan hubungan yang tak seharusnya mereka lakukan, sementara status wanita itu istri papa Marwan. Mama aja yang bandel dekat sama papa Marwan gak berani melakukan itu. Kami berdua masih punya batasan. Tapi ..." bu Rahma menggeleng. sambil berderai air mata.


"Sudah, Mama jangan menangis. Gak enak tuh mereka datang dari masjid." Laras mengusap pipi wanita paruh baya itu. Agar tak terlihat menangis. Bu Rahma mengangguk.


Setelah beberapa saat akhirnya makan malam pun siap, Semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Semuanya melahap semua hidangan yang tersaji di meja.


Walau masih terasa canggung, suasana agak tegang. Terutama sikap bu Rahma dan pak Mulyadi yang terlihat kaku. Namun semua masih bisa diatasi dengan sikap pak Marwan yang sudah berlapang hati, berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan kenyataan, dan sudah sepantasnya kenangan itu di lupakan.


Makan pun berakhir dengan meneguk air putih, ada juga air jus yang sudah disediakan oleh Susi.


"Makasih Sus ..." ucap Jodi ketika Susi menyodorkan air jus buah.


"Sama-sama Opa," Susi tersenyum ramah.


"Nah ... sekarang kan sudah jelas. Kalau Jodi ini sepupu kamu La, dan Nak Ibra. Paman titip Laras ya? lain kali kalian main ke Semarang ya," Mulyadi menetap Ibra dan Laras juga Jodi. "Kalau ada apa-apa bicara saja sama Jodi."


"Tentu, Paman. Aku akan menjaga Laras." Jawab Ibra.


"Iya, Paman. Makasih Paman sudah repot-repot datang, oya Paman sekarang tinggal di mana?" tanya Laras menatap sang paman.


"Paman di Semarang. Setelah mendengar kabar kamu sudah ditemukan, Langsung kami ke sini. Sekalian Jodi mau mengajak Paman berobat," jawab pak Mulyadi. Wajahnya tampak sumringah penuh kebahagian.


"Kami tinggal di jalan xx. Kamu main ke sana," timpal Jodi sembari mengulas senyum. Menghiasi wajah tampannya.


"Oh, tantu. Kami akan main ke sana kalau ada waktu," sahut Ibra sambil meraih tangan sang istri. "Iya, Kan sayang?"


Laras mengangguk. "Iya, InsyaAllah." Laras mengalihkan pandangan pada sang paman. "Semoga Paman cepat sembuh seperti sebelumnya. Aamiin ya Allah."

__ADS_1


"Aamiin, La ... doakan saja ya? semoga Paman sehat tidak tergantung di kursi lagi," ucap pak Mulyadi.


"Aamiin ya Allah." jawab yang ada di sana dengan serempak.


Akhirnya Jodi dan Pak Mulyadi berpamitan pulang, Laras dan Ibra mengantar sampai teras.


"La, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Jodi mengulurkan tangan pada Laras.


Laras mengangguk. Ibra menarik tangan Laras yang berjabat dengan tangan Jodi. Laras menoleh sang suami. "Abang ..." setengah berbisik.


Jodi tersenyum, masih tergambar jelas dari wajah Ibra, kalau dia masih menyimpan cemburu. Kemudian Jodi berjabat tangan dengan Ibra.


Dan Laras memeluk sang paman, Sanga paman memeluk erat. Baru kali ini bisa memeluk sang ponakan yang selama ini dia cari, sesaat kemudian Laras melepas pelukan itu. "Paman hati-hati, juga cepat sembuh ya?"


"Iya, La. Makasih." Lalu pak Mulyadi Jodi angkat ke mobil dan Ibra menyimpan kursinya di bagasi.


Laras melambaikan tangan, pada sang paman. Ketika mobil berlalu meninggalkan tempat tersebut. Tangan Ibra merangkul bahu Laras yang matanya berkaca-kaca, sungguh tidak menyangka kalau Jodi itu sepupunya. Tidak mengira di hari ini akan bertemu dengan keluarga yang perannya sebagai ganti sang ayah.


"Masuk sayang, dingin." Ibra menyeret sang istri masuk.


"Mama masih sakit hati, Pa ... sampai detik ini masih terasa. Di depan mata Mama, mereka. Ah." Bu Rahma menggeleng. Rupanya sampai detik ini dirinya masih belum bisa berdamai dengan kenyataan.


"Sudahlah, Ma ... itu semua sudah berlalu. Dan lihat kondisinya sekarang, seperti itu. Mungkin dia sudah menerima balasannya. Lagi pula istrinya juga sudah tiada. Tinggallah kita memaafkan segala kesalahan mereka. Buktinya Papa sudah memaafkan mereka, buat apa menyimpan dendam?"


"Mama gak dendam sama sekali Papa ... cuma, belum bisa memaafkan aja," sambung bu Rahma menatap sang suami yang mengusap punggungnya.


Laras yang baru menginjakkan kaki di ruang tamu, mendengar obrolan sang mertua di ruang tengah, tertegun. Lalu melihat sang suami yang berdiri di sampingnya.


Ibra merangkul pinggangnya. "Istirahat yu sayang? ngantuk nih. Belum salat juga. Kita berjamaah dulu hem?" dengan suara lembutnya.


Laras membalas dengan anggukkan. Dalam otaknya berputar pikiran tentang konflik di masa lalu. Ia pun bisa merasakan betapa hancurnya bila berada di posisi bu Rahma saat itu.


Keduanya berjalan menuju kamar. Ketika melintasi ayah dan bundanya. "Pa, Ma. kami ke kamar duluan, Laras pengen di pijit." Ibra sambil menyeringai.


Laras menyenggol tangan Ibra. "Kapan aku bilang gitu." Bisik nya pada Ibra.


"Oh, iya. Mama juga bentar lagi istirahat, capek," sahut bu Rahma menoleh anak dan mantunya.


"Mau di pijit apa mau di pijit nih?" goda pak Marwan pada keduanya.


Wajah Laras merah merona. Malu dengan godaan sang papa mertua. Kemudian Laras duluan mengayunkan langkahnya ke kamar.


Ibra mengukir senyum di wajahnya. "Papa bisa aja, Yu Pa?" Ibra pun berlalu.


Tinggallah. Pak Marwan dan bu Rahma sambil menonton televisi, bu Rahma bersandar di dada sang suami.


Saat ini di kamar Laras, sudah berada di atas tempat tidur. Lantas menarik selimut sampai menutupi dada.


Ibra merangkak naik dan berbaring di samping Laras. "Pasti istri aku bahagia sekali, sebab bertemu keluarga. Dan ternyata Jodi itu sepupu kamu." Gumamnya Ibra. Jari-jari membelai rambut sang istri yang bergelombang.


"Tentu aku bahagia, berarti aku tidak sendiri. Selain ada anak ku, ada juga keluarga ku yang harus aku sayangi.


"Sayang, kok aku gak ada dalam daftar yang harus kamu sayangi?" tanya Ibra terheran-heran.


"Nggak ah, cukup anaknya saja. Hi hi hi." Laras menampakkan gigi putihnya, walau lampu sudah berganti temaram. Namun masih terlihat jelas.


"Ah, gak adil dong. Masa anaknya aja yang di sayangi. Yang buatnya gak di sayangi?" gerutu Ibra sedikit cemberut.


"Bikinnya juga terpaksa. Masih mending juga, mau menyayangi anaknya--"


"Sayang ... jangan bercanda, iya aku paksa kamu waktu itu, tapi kan gak langsung jadi. Lagian ... kamu juga menikmatinya sayang." Bisik Ibra di telinga Laras.


"Yang jadi itu, sudah ke berapa kalinya sayang ku ... kamu aja sudah makin menggoda ku."


"Ih, kapan aku menggoda Abang? enak aja. Nggak pernah, waktu itu kan aku masih malu-malu walau sekarang juga masih malu-malu sih." Timpal Laras mesem-mesem.


"Ih ... gak mau ngaku! malu-malu juga mau, Abang tahu itu. Apa lagi sekarang. Tambah berani memulai." Akunya Ibra sambil mengecup kening sang istri, telapak tangan mengelus perut sang istri yang buncit. Mulanya mengelus perut namun lama-lama jadi turun ke bawah, berpindah tempat. Membuat Laras memejamkan matanya, merasakan gelenjaran aneh dalam tubuhnya.


Bibir Ibra tersenyum mengembang. Merasakan sang istri yang tak bereaksi apapun. Namun sesaat kemudian, tangan Laras menangkap tangan Ibra. Ia pindahkan ke tempat semula, di arahkan mengusap lembut di perutnya. Ibra sedikit kecewa ....

__ADS_1


****


Hai ... apa kabar nih reader ku semuanya? semoga dalam lindungan Allah yang maha kuasa ya. Sudah baca kan, semoga puas dan terus dukung aku, sebab tanpa kalian siapakah aku? Terima kasih semua🙏


__ADS_2