Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Baby kita bawel


__ADS_3

Sampai-sampai Laras kesiangan, pukul lima. Baru terbangun. Setengah melompat ia turun hendak ke kamar mandi, namun kakinya terlilit selimut, sehingga menghalangi langkah kakinya. Dan hampir terjatuh, badannya oleng, seketika itu hatinya meremang. Entah dari mana asalnya ada tangan yang menangkap pinggang Laras.


Laras terkesiap. "Astagfirullah, astagfirullah." Dengan badan yang masih melayang, ia menatap wajah yang ada di hadapannya. Setengah tidak percaya ia menggosok matanya berkali-kali tetap sama, wajah yang ia lihat itu-itu juga.


Akhirnya pandangan Laras tak berkedip melihat wajah itu. Begitupun sepasang mata itu terus menatap dengan tangan melingkar kuat di pinggangnya.


Lama-lama tangan itu, menarik tubuh Laras dan membawa ke pelukannya. Kedua tangan itu merangkul tubuh Laras sangat erat, Laras semakin terkejut dibuatnya. Dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, akibat baru bangun dan kaget melihat jam yang sudah siang. Ia membalas pelukan pria tersebut dan membenamkan wajahnya di dada bidang itu.


Hening!


Tangan kekar itu sesekali membelai rambut Laras yang masih acak-acakan. Dan dagunya menempel ke pucuk kepala Laras. Perasaan Laras masih tak karuan mengingat kejadian barusan, yang hampir saja, mungkin akan membuatnya tersungkur ke lantai.


"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Laras lirih dibarengi suara yang parau.


"Dari ... sebelum kau bangun."


"Tapi ... aku tidak melihatnya!" suara Laras sangat pelan dan hampir tidak terdengar.


"Belekkan."


"Ha."


"Eh ... maksud aku, kau melihat ke arah kiri, jelas saja bila tidak melihatku," ralat Ibra yang terus mengusap rambut Laras yang sedikit bergelombang natural.


Laras diam sebentar dan masih betah dengan pelukan itu. Namun ia segera menyadari, kalau belum salat subuh. "Ya Allah ... aku belum salat subuh," segera melepaskan pelukan dan menjauh. Memutar badan, langkahnya menuju kamar mandi.


Ibra yang masih ingin menikmati kondisi barusan. Sedikit kecewa, namun apa daya, ia hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Tidak lama, Laras kembali dari kamar mandi dan terburu-buru mengambil alat salatnya. Mata Ibra terus memperhatikan apa yang Laras lakukan. Seolah ada yang berbisik tepat di telinganya. "Papi ... kenapa cuma melihat mommy? dan tidak melakukan yang mommy lakukan," seketika Ibra terkejut, melihat kanan dan kiri yang kosong tidak ada siapapun. Ibra mengusap wajahnya berkali-kali, suara anak kecil itu terngiang jelas di telinga.


Huuh ... Ibra menarik napas dalam-dalam dan berkali-kali ia hembuskan dengan kasar. Wajahnya berubah pucat, menoleh Laras yang sedang menengadahkan tangan. Berdoa.


Laras menyimpan alat salatnya di tempat, netra matanya bergerak melihat Ibra yang sedikit pucat dan terus mengusapnya. Laras mendekat. "Kamu kenapa? sakit?" lirih dan duduk di sofa yang terpisah.


Ibra malah menatap wajah Laras begitu lekat. "Jelas banget itu suara anah kecil." Batin Ibra yang merasa sangat heran.


Laras membalas tatapan Ibra sehingga manik mata mereka bertemu sesaat. Karena pertanyaannya tidak Ibra balas, ia berpindah duduk ke dekat ibra dan tangannya ia tempelkan ke pelipis Ibra yang dingin.


Mata Ibra terus memandangi Laras. "Apa ... kamu mendengar sesuatu? ketika tadi kamu salat."


Laras menggeleng. "Tidak, aku tidak mendengar apapun."


"Yang benar saja?" lanjut Ibra setengah tidak percaya.

__ADS_1


"Benar! emang kau mendengar suara apa?" tanya Laras penasaran.


Ibra menyapukan pandangannya ke semua ruangan kamara itu. "Tadi ... aku mendengar suara anak kecil di sini."


"Ah masa sih?" Laras tidak percaya. "Aku tidak mendengar sama sekali tuh."


"Beneran, aku mendengarnya! dia memanggil ku Papi dan memanggil mu juga Mommy." Jelas Ibra yakin.


Ha ha ha ... Laras tertawa. "Kau ini, terlalu berimajinasi tentang anak, makanya seperti itu, ada-ada saja," ucap Laras sambil menggeleng dan mengibaskan tangan.


Ibra tertegun, lalu berkata. "Mungkin."


Kemudian Ibra menoleh ke arah Laras yang terdiam, memajukan badan tegapnya pada Laras, sehingga badan Laras mundur kebelakang dan mentok ke bahu sofa.


Sambil menyeringai. "Kau bilang aku terlalu berimajinasi? ya aku terlalu merindukan anak kita, apa kamu tidak merindukan anak itu hem?" suara Ibra tepat depan wajah Laras dan telapak tangan Ibra mengusap kepala sampai pipi Laras dengan sangat lembut.


Netra mata Laras terus bergerak melihat ke arah Ibra. "Aku--"


"Shett ... tidak perlu di jawab, aku tahu kamu sangat menyayanginya, dan tentunya merindukan dia," telunjuk Ibra di tempelkan di bibir Laras sehingga suara Laras menggantung.


Dada Laras naik turun dan napasnya tidak teratur. Jantungnya berdegup sangat kencang dengan posisi seperti ini. Dimana tubuh Ibra seolah menindih tubuhnya yang bersandar di sofa.


Lama ... mereka di posisi seperti itu. Hanya netra mata mereka yang bergerak melihat satu sama lain, dan tangan Ibra yang terus membelai pipi Laras yang halus mulus.


Membuat Laras pejamkan mata, entah apa yang ia rasakan saat ini, sebuah perasaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. desiran-desiran aneh menyelinap ke seluruh tubuhnya Laras. Tangannya bergerak membelai halus rambut Ibra, tepat di atas telinganya.


Lama Ibra menempelkan bibir di kulit perut sang istri. Ada rasa bahagia yang sulit di ucapkan, ditambah lagi dengan sentuhan tangan Laras yang halus membelai rambutnya. Semakin betah saja, saking larut nya dengan keadaan sehingga waktu sudah menunjukan pukul 07.05 wib.


Tiba-tiba Laras terperanjat. "Ya Allah, sudah siang. Kamu kesiangan masuk ker--"


"Shett ..." lagi-lagi Ibra menempelkan jari di bibir Laras dan tangan satu lagi mendorong bahu Laras agar ke posisi semula.


Jelas Laras merasa heran. Sudah siang gini, biasanya juga sudah berangkat kerja. "Ini jam berapa? biasanya juga jam segini kamu sudah berangkat kerja, ini, belum mandi. Belum sarapan, belum apa? jangan mentang-mentang jadi bos. Bisa masuk kapan aja dan sesuka hati, kamu harus jadi contoh yang baik buat karyawan mu. Jangan men--"


"Shett ... aku bilang diam, jangan banyak ngoceh! jangan-jangan nanti baby kita bawel juga seperti kamu," ucap Ibra dengan jari telunjuk betah di bibir Laras.


Laras menyingkirkan tangan Ibra dari hadapannya, kemudian duduk dengan tegak dan merapikan piyama juga rambutnya. "Siapa yang bawel? aku cuma mengingatkan kok."


Ibra menarik bibirnya senyum. "Aku sudah bilang ke pihak kantor, kalau hari ini. Aku libur, dan aku akan mengajak istri ku ke klinik terbagus di kota ini. Untuk memeriksakan kandungannya. Tangannya bergerak mengusap perut Laras.


Laras bengong. "Siapa yang sakit? aku baik-baik saja kok." Batin Laras.


"Jangan bengong, sana mandi duluan. Aku tunggu di sini." Titah Ibra sambil menyandarkan punggungnya ke bahu sofa.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau mandi dulu, tapi ... mau beres-beres dulu ah," Laras berdiri dan menghampiri gorden yang masih belum di buka. "Wah ... dah siang banget." Gumam Laras ketika melihat matahari sudah bersinar terang dan cahayanya sebentar pun terasa menghangat di badan.


Ibra beranjak dan menghampiri Laras yang berdiri depan jendela. Langsung memeluknya dari belakang. "Ayo dong sayang ... mandi, apa harus aku yang mandiin?" berbisik di telinga Laras.


Mendengar kata di mandiin, Laras bergidik dan melepaskan pelukan Ibra. "Iih ... nyuruh mandi, tapi--"


"Tapi, apa hem? tapi suka, kan?" memainkan mata nakalnya. Membuat Laras semakin bergidik dan pergi meninggalkannya.


Ibra terkekeh melihat Laras menggoyangkan kedua bahunya sambil memasuki kamar mandi.


Setelah Laras selesai mandi, ia keluar dan membuka daun pintu. Alangkah terkejutnya dia melihat Ibra yang sudah berdiri tepat depan pintu. Matanya kini memandangi Laras yang hanya mengenakan handuk yang menutupi dari dada sampai di atas lutut sedikit.


Laras bergegas melewatinya dan mengambil pakaian di dalam lemari. Seketika mau masuk kembali ke kamar mandi, namun di hadang oleh Ibra.


"Aku mau mandi. Kamu di sana saja," ucap Ibra sambil menutup pintu.


"Iih ... ada kamar sendiri juga. Masih saja suka mandi di kamar orang. Mana bajunya nya?" gerutu Laras kembali membuka lemari, mencari pakaian buat Ibra. "Lama-lama bajunya numpuk di sini nih."


Laras yang memilih setelan panjang, berwarna peach. Rambut di urai bergelombang. Dengan warna bibir yang tetap natural dan polesan tipis bedak di wajahnya, tak menghilangkan kesan cantiknya.


Ibra berdiri depan pintu kamar. Matanya tertuju pada Laras yang berada depan cermin. Dari pantulan cermin terlihat Ibra tengah memperhatikan, Laras memutar badannya.


Kemudian Ibra menghampiri Laras yang sudah menyiapkan pakaiannya. Ia mengambil dan langsung mengenakan pakaiannya dan Laras pun membantu merapikan. Setelah itu, Ibra menyemprotkan minyak wangi ke seluruh badan. Hingga wanginya menyeruak sempurna di kamar itu.


"Yu, kita sarapan, lapar nih," Ibra menuntun tangan Laras. Keluar kamar itu.


Laras terus mengikuti langkah Ibra yang membawanya ke ruang makan. Di sana memang sudah sepi, para asisten pun sudah pada selesai makan.


"Pagi, Tuan dan Nyonya? baru mau sarapan." Sapa bu Rika sambil menyiapkan buat sarapan majikannya.


"Pagi juga, bu Rika ..." sahut Laras dengan senyuman manisnya.


"Em ... apa Dian sudah sarapan?" tanya Ibra sambil menggeser kan kursi buat Laras.


"Sudah, Tuan, dan langsung berangkat kerja," sahut bu Rika.


Ibra mengangguk. Kemudian menarik piring yang Laras berikan, Ibra mengambil sendok dan memberikan suapan pertamanya pada Laras. Sebelum membuka mulutnya, Laras menatap Ibra dan sendok yang dipegangnya.


"Aa, buka mulutnya?" Ibra menaikan turunkan alisnya ....


****


Hi ... apa kabar hari ini reader ku semua? semoga kabar baik ya, aku ucapkan terima kasih banyak atas sagala kebaikan kalian dan sudah selalu setia menunggu🙏

__ADS_1


__ADS_2