
"Aish ... segitu aja marah, gimana nanti di suruh suami? dikit-dikit marah. Dikit-dikit ngambek.''
"Suami sih suami, harus ngerti juga kali ... eh, Tuan Zayn kan bukan suami Susi? ngapain ingin di layani sama Susi? ambil aja sendiri." Susi kembali menggerutu. Dengan mata mendelik.
"Oke-oke. Abang ambil sendiri." Zayn mengambil shampo di wadah yang Susi tunjukkan. "Handuk nya dong Sus." pinta Zayn lagi.
"Aduh ... Tuan Zayn ini ya?" Susi mematikan kompor, lalu pergi entah ke mana.
Zayn menunggu sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
"Ini, handuknya." Susi memberikan handuk baru miliknya.
"Masih baru, kan handuknya?" tanya Zayn sambil mencium baunya.
"Masih baru itu, baru nyuci. Baru nyetrika, baru lipat juga." Ketus Susi sambil melanjutkan masaknya.
"Ish-ish, ish ... aku kira baru beli." Gumam Zayn.
"Tuan, Zayn gak lihat. Dari tadi aku memasak? bukan dari toko dan membeli handuk. Gak pake logika ya kalau nanya!" ucap Susi kembali.
Zayn menggeleng. "Bikin pusing ngomong sama kamu Sus."
"Ngapain juga bicara sama Susi? orang sedang sibuk masak juga." Sekilas melihat punggung Zayn yang berlalu pergi.
"Ada apa sih kok kedengarannya ribut mulu? kaya kucing rebutan tikus saja." Suara bu Rahma yang sedari tadi melihat mereka dari jauh.
"Itu, Nyonya besar. Tuan Zayn bikin esmosi Susi aja," sahut Susi.
"Jangan bertengkar mulu, nanti berubah cinta loh ..." tambah bu Rahma sambil mengulas senyumnya.
Susi bergidik. "Ih ... amit-amit."
"Siapa yang amit-amit Susi?" tanya Laras yang baru datang bersama Ibra ke tempat makan.
"Ini, sayang ... Susi sama Zayn ribut ... aja, kata Mama nanti lama-lama bisa jatuh cinta," sahut bu Rahma.
"Oh, sekalian aja nanti kita nikahkan. Mereka Ma ..." timpal Ibra.
"Tuan ... gak mau, Susi gak mau." Susi menggeleng.
Laras menata masakan di meja. Lalu mengambil piring buat sang suami. "Sama apa makannya?"
Netra mata Ibra bergerak melihat menu-menu yang ada. "Sayur asam dan ayam goreng. Sudah dulu sayang jangan banyak-banyak." Pinta Ibra.
Laras mengangguk, lalu memberikan pada Ibra. Ia menuangkan air minum ke dalam gelas, buat sang suami dan dirinya.
Zayn datang dengan wajah yang tampak segar, kemudian duduk di kursi yang kosong.
"Oh, Taun Zayn. Itu tempat Susi duduk, jangan di pakai." Celetuk Susi ketika melihat Zayn duduk di tempat biasa Susi duduk.
Zayn menatap datar ke arah Susi. "Itu masih ada beberapa kursi yang kosong buat duduk." Menunjuk beberapa kursi yang kosong.
Susi melihat yang Zayn tunjukkan. "Ya, Taun Zayn aja yang pindah. Aku biasa di situ." Susi tak mau kalah.
"Malas ah, saya sudah nyaman duduk di sini." Zayn tak menggubris Susi. Ia mengambil piring dan nasi.
"Tuan Zayn, pindah ke sebelah sana. Susi mau di situ," pinta Susi menatap Zayn.
Zayn fokus aja mengambil menu masakan. Gak perduli dengan pinta Susi yang berdiri di tempatnya.
Beberapa mata melihat Susi. Sampai Laras membuka suara. Menepuk kursi di sebelahnya. "Sus ... duduk di sini dekat aku."
Susi melirik dengan bibir cemberut, wajah di tekuk. Mengayunkan langkahnya duduk di dekat Laras.
"Sudah, jangan cemberut gitu. Amali di depan makanan cemberut gitu. Seperti gak bersyukur. Ayo makan." Ajak Laras pada Susi.
"Iya, Nya." Susi mengambil piringnya. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Zayn yang fokus dengan makan malamnya.
Selesai makan, Zayn meneguk minumnya sampai tandas. "Tolong Sus. Tuangkan air minum lagi."
"Ambil aja sendiri. Itu kan ebih dekat, buat apa nyuruh orang." Ketus Susi.
"Iya, orang di depan mata." Ibra membela Susi.
"Huuh," dengus Zayn.
"Kalau Susi duduk di sana, iya Susi ambilkan, orang dia sendiri di sana kok." Jelas Susi.
"Ya , sudah kamu duduk di sini, geser," pinta Zayn. Berdiri.
"Ogah, gak mau. Sudah nyaman di sini aja." Susi menggeleng.
"Sudah ya? oya Sus. Mau kan? tolong belikan buah kesemek ya, di lemari pendingin dah habis. Tuan Zayn bisa juga kan? antar dulu Susi tuk mencarinya!" Laras menatap keduanya.
"Sama dia?" Susi dan Zayn saling tunjuk dan terkesiap.
"Susi sendiri aja, atau sama Mas Irfan," sahut Susi sambil membereskan piring.
"Tapi ini dah malam Sus. Mas Irfan gak ada, ibunya masih sakit," ungkap Laras kembali.
"Sekalian ya, Mama pengen duku atau manggis." Timpal bu Rahma.
"Siapa juga yang ingin pergi sama kamu? gumam Zayn. "Tapi buruan nanti keburu malam."
"Iih ... Susi mau nyuci dulu." Susi mencuci bekas makan barusan.
Sementara bua Rahma dan Laras membersihkan mejanya.
"Buruan ... nanti keburu malam toko atau swalayan nya keburu tutup," sambung Zayn sambil menambahkan cucian dengan gelas bekas ia minum.
"Iih ... bawel amat sih? bantuin kek nyucinya bukan ngeburu-buru doang." Gerutu Susi.
Zayn menaikan alisnya sebelah. "Saya ini asisten pribadi Bos di kantor, masa harus bantu nyuci iring jatuh amat martabat saya sebagai pejabat penting? di kantor.
"Nggak mau kan?" ekor mata Susi mendelik. "Laki-laki itu cuma bisa ngomong doang."
__ADS_1
"Eh, siapa bilang? nih saya bantuin nih." Zayn membantu membereskan satu gelas. "Kurang baik apa coba, saya ini punya jabatan penting di kantor. Apa jadinya kalau bawahan saya melihat saya mencuci? aduh ... jatuhlah martabat saya." Zayn menggeleng.
Orang-orang yang masih di meja makan, senyum ... aja melihat Susi dan Zayn. Ibra yang menyilang kan tangan menarik sudut bibirnya tersenyum.
Selesai mencuci, Susi menghadap ke Laras mengambil uangnya. Akhirnya Susi dan Zayn pergi mencari yang Laras pinta.
"Persis kaya kucing dan tikus." Gumamnya bu Rahma.
"Jodohkan aja sudah." Timpal pak Marwan sambil mesem.
"Ide bagus tuh, dari pada jajan mulu di luar, suruh nikah saja." Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tergantung mereka juga lah. Kita gak boleh, memaksakan kehendak." Kata pak Marwan.
"Iya sih ... kita kan cuma usaha, menyatukan mereka. Hasilnya ya tergantung jodohnya ya?" sambung bu Rahma
Kemudian Ibra pergi ke kamarnya. Di ikuti oleh Laras, Begitupun bu Rahma hengkang dari meja makan.
Ibra berbaring di atas tempat tidur. Pandangannya ke langi-langit. Kemudian netra matanya bergerak melihat sang istri yang masu ke kamar mandi.
Sesaat kemudian, Laras kembali dengan air wudu di wajah dan kulitnya. "Abang, salat dulu."
"Hem." Gumamnya Ibra dengan mata hampir terpejam.
Laras sudah memakai mukena dan masih menunggu Ibra, Eh malah masih dengan posisi semula. Langkah Laras mendekati tepi tempat tidur. "Abang ... bangun? salat dulu."
"Hem, ngantuk sayang," gumam Ibra lagi, masih memejamkan mata.
"Tapi, belum salat. Abang ... bangun. Aku tunggu nih." Laras menatap sang suami.
Ibra membuka kelopak matanya, melirik sang istri yang masih berdiri di tepi tempat tidur.
Perlahan anggota tubuh Ibra bergerak bangun. Kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai. "Bentar ya sayang ambil wudu dulu."
"Iya," kepala Laras mengangguk. Melihat punggung Ibra sampai hilang di baik pintu kamar mandi.
Menit kemudian, Ibra kembali mengambil sarung yang Laras sodorkan. Kemudian keduanya melaksanakan salat bersama. Selepas membaca doa Laras mencium punggung tangan Ibra. Begitupun Ibra mengecup kening Istri. Dan memeluk bahunya.
"Maafkan Abang, yang belum bisa membuat mu bahagia?" cuph mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala sang istri.
"Aku juga. Belum bisa jadi istri yang baik kok," balas Laras sambil membenamkan wajah di dada sang suami.
****
Sudah banyak toko buah yang Susi dan Zayn, kebetulan buah yang di cari kosong. Beberapa swalayan juga sama kosong, yang dapat baru duku dan manggis saja. Sementara pesanan bumil belum dapat.
"Pulang aja ya? barang nya gak ada juga. Sudah banyak yang kita datangin, kosong semua." Keluh Zayn.
"Tuan Zayn gimana sih, permintaan bumil itu lebih penting. Gimana sih? gak ngerti orang hamil apa!"
"Ya iya lah, mana ada saya hamil, gak lihat saya laki-laki perjaka tulen." Ketus Zayn sambil memperlihatkan dirinya di depan Susi.
Susi melotot. "Yang Bilang Tuan bisa hamil siapa? maksud Susi, kalau sebagai laki-laki juga harus faham juga. Gimana kalau istrinya .... hamil pengen sesuatu, yang gak ada pun harus di adakan Tau?"
"Oh ... gitu? kirain saya yang hamil," ucap Zayn sambil berjalan menuju mobil. "Terus gimana dong orang gak ada."
"Kemana lagi?" tanya Zayn sembari memasuki mobilnya.
"Ya, di cari lah." Susi pun memasang sabuk pengaman.
"Sudah belum? lama amat sih pasang gitu juga," tanya Zayn.
"Bentar, susah." Susi masih mengutak-atik kunci sabuk pengaman.
"Ck." Zayn berdecak kesal, lalu menyingkirkan tangan Susi dari sambungan sabuk itu. Ia mencondongkan kepalanya dan menguncikan nya.
Susi memundurkan kepalanya ke belakang. Tidak menyangka kalau Zayn mau memasangkan untuknya.
"Gitu aja repot." Suara Zayn, bersiap memutar kemudi.
"Itunya aja sudah jelek, tadi aku bisa buktinya." Susi tidak mau kalah.
Mobil kembali melaju dengan mata terus intens melihat setiap toko buah. Sampai tak terasa perjalanan pun sudah terlalu jauh.
"Ada-ada aja maunya Nyonya muda. Coba maunya itu, jeruk. Mangga, Kan mudah tuh," gumamnya Zayn sembari kepalanya nengok kanan dan kiri.
"Kalau yang mudah mah bukan maunya bumil lah, rata-rata nih ya maunya bumil itu yang susah-susah. Apalagi ketika ngidam. Repot deh."
"Untung saya laki-laki, jadi gak ngidam. Gak hamil." Zayn tersenyum.
Susi menoleh. "Justru karena Tuan laki-laki, tentu yang akan melayani istrinya yang hamil nanti."
"Tapi saya belum menikah!"
"Iih ... susah ya bicara sama orang seperti Tuan ya?" kepala Susi menggeleng kasar.
"Terserah siapa juga yang ingin bicara sama kamu. Tuh lihat banyak yang di gantung di toko depan tuh." Zayn menunjuk toko buah yang ada di depan.
Susi menoleh. "Itu pisang."
"Pisang cinta!" gumam Zayn, bibirnya mengulas senyuman.
Netra mata Susi bergerak melihat ke arah Zayn. "Apaan pisang cinta? itu pisang cinta." Susi Penasaran.
Zayn tertawa tipis. "Pisang cinta itu ... sudah lah. Turun, kali aja di sana buah yang kita cari."
Mobil berhenti, Susi membuka sabuk pengaman. Namun terkunci tak bisa lepas. "Kok susah?"
"Apalagi sih?"
Susi menoleh dengan tatapan cemas. "Ini susah di buka."
Terpaksa Zayn kembai turun tangan. Namun tak bisa terbuka juga, kemudian Zayn tarik sekuatnya agar Susi menurunkan tubuhnya. Susi menurunkan tubuh dan langsung keluar.
"Tuh, kan ... itunya dah jelek. Kalau bagus mah gak bakalan kaya gitu," ucap Susi sambil menutup pintu mobil. Brugh!
__ADS_1
"Terserahlah. Mau ngomong apa?" Zayn juga turun mengikuti langkah Susi. Sebelumnya mengunci mobilnya dengan remot.
Susi melihat-lihat. Sampai-sampai di tegur oleh si penjual.
"Mau beli apa Mbak?"
"Ini Bang. Mau nyari buah kesemek." Jawab Susi.
"Oh, buah itu. Ada Mbak."
"Beneran ada Bang?" tanya Susi. Ingin memastikan.
"Iya, ada."
Susi girang, akhirnya yang dari tadi di cari-cari, ketemu juga.
"Tapi super Mbak, lebih bagus," kata si Abang lagi.
"Yey ... elah Bang, iya dong yang bagus. Ngapain yang jelek?" timpal Zayn yang kini berdiri di dekat Susi.
"Iya, sebentar ya saya ambil dulu." Tidak lama si Abang kembali membawa peti buah kesemek.
"Satu kilo aja, Bang," ucap Susi.
"Sekalian aja agak banyakan, sudah tahu susah dapatnya." Kata Zayn sambil mengambil buah jeruk, lalu di makan.
"Iya dua kilo Bang, yang masih mengkal sebagian ya?" pinta Susi.
Si Abang mengangguk. "Jangan takut Mbak. Ini buahnya bagus-bagus."
Setelah membayar, Keduanya langsung kembali ke mobil. Kali ini Susi tidak lagi mengenakan sabuk pengaman. Zayn pun segera tancap gas.
"Aduh. Pelan dong?" pinta Susi, setelah kepalanya hampir maju ke depan tersungkur.
"Makanya pakai sabuk pengaman." Titah Zayn.
"Apa yang harus di pakai? sudah tahu rusak gitu. Lupa atau lupa?" ketus Susi kekeh.
"Kenapa sih kalau ngomong harus nyolot? gak bisa lembut apa? gimana bicara sama suami, kasar mulu!"
"Biarin, Tuan itu bukan suami Susi kok."
"Ya sudah, kalau kamu mau jadi istri ku. Kita menikah biar saya jadi suami," ucap Zayn tanpa sadar.
"Apa? bicara apa barusan. Kita menikah." Susi terkesiap.
Zayn yang baru menyadari dengan yang diucapkannya termangu. "Barusan ngomong apa sih?" mengetuk keningnya.
Kemudian keduanya saling menoleh. Dan keduanya seketika bergidik geli.
"Siapa yang mau menikah sama Tuan, biarpun tajir melintir maaf ya gak minat tuh," ucap Susi membuang pandangannya keluar jendela yang tampak gelap jarak penglihatan pun dekat.
"Emangnya kau pikir saya mau menikahi kamu, di luar sana juga masih banyak yang ngantri minta di nikahi." Zayn gak kalah pedas omongannya.
Susi mengerucutkan bibirnya ke depan. Dengan tangan di dada.
"Tapi, kalau di lihat-lihat manis juga nih cewek. Apalagi kalau di poles dikit, gak akan kalah dengan wanita-wanita yang sering berkencan dengan ku." Batin Zayn.
"Ah, aku berpikir apa sih?" gumamnya dalam hati Zayn sambil sedikit menggeleng.
"Tuan, Zayn ini memang ganteng dari dulu sampai sekarang malah semakin ganteng. Tapi gantengan Opa Jodi sih." Batin Susi sesekali melihat ke arah Zayn. Kemudian anteng mengarahkan pandangan ke jalanan.
Tak ada lagi yang terucap kata diantara keduanya. Selain suara mesin mobil yang halus. Dan suara motor orang yang berisik.
Tidak terasa mobil Zayn masuk ke dalam halaman rumah Laras. "Wah, dah sepi. Kayanya sudah pada tidur." Susi membawa pesanan sang majikan.
"Wajarlah Sus ... sudah pukul 10 malam lewat nih," sahut Zayn, menutup pintu mobilnya.
Susi masuk duluan. Kebetulan pintu tidak di kunci, di ruang keluarga. Bu Rahma dan pak Marwan masih terjaga dan menonton televisi.
"Baru pulang Sus?" tegur bu Rahma ketika melihat Susi dan Zayn masuk.
"I-iya Nyonya besar. Pesanan nyonya muda susah, masih untuk ketemu juga.
"Oh ... tapi Sepertinya Nona sudah tidur. Pesanan saya ada?"
"Ada Nya." Susi menyimpan semuanya di meja.
"Ya sudah, Nak Zayn nginep saja. sudah malam juga," kata pak Marwan pada Zayn.
Bu Rahma sibuk memakan buah duku dan manggis. Susi pun ikut memakannya.
"Nggak ah, saya mau pulang aja," sekalian Zayn pamitan.
"Padahal nginep aja di sini Nak Zayn dah malam kan?" ucap bu Rahma, melihat Zayn kembali beranjak.
"Lain kali aja Tante." Zayn memutar tubuhnya mengayunkan langkahnya keluar.
"Antar Sus." titah pak Marwan dan bu Rahma.
Susi terheran-heran. "Antar kemana? masa harus Susi antar. Terus Susi balik lagi ke sini sama siapa?" sambil mengernyitkan keningnya.
Pak Marwan dan istri menggeleng. Dan melempar senyuman.
"Sudah lah Tante. Gak usah bicara sama dia gak nyambung." Celetuk Zayn.
Dugh!
Kaki Susi menendang ringan betis Zayn sehingga Zayn memekik. "Aw. Dasar gila." Zayn segera mengayunkan langkahnya yang lebar meninggalkan Susi.
"Bilang gila, untung kau menjauh. Kalau masih dekat." Gerutu Susi dengan tangannya mengepal.
"Sudah ah, sudah sana bawa semua dan masukan ke dalam lemari pendingin. Sudah malam. Jangan lupa kunci tuh pintu depan," ujar bu Rahma dan pak Marwan mengangguk setuju.
Sebelum beres-beres, Susi mengunci pintu depan terlebih dahulu. Di tengah mengunci pintu, tiba-tiba. Pada suara ketukan pintu, Susi intip dari balik gorden tidak ada seorang pun ....
__ADS_1
****
Apa kabar kalian semua para reader ku ... semoga ada dalam lindungan Allah selalu ya. Makasih atas dukungannya.