Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Undangan


__ADS_3

Merasa ada yang memperhatikan, Irfan segera menghadang pandangan orang itu terhadap Laras. Tubuhnya yang tinggi besar, mampu menghalangi tubuhnya Laras yang sedang berjalan menuju ruangan pasien. Laras bersama rekan yang lain.


"Sial, jadi duri terus si Irfan." Gumamnya Ruswan, akhirnya ia menghampiri Laras dan yang lainnya.


Sekitar 30 menit mereka berbincang dengan pasien dan keluarga. Hadirnya mereka di tempat itu untuk untuk memberikan dukungan dan semangat pada pasien dan keluarga. Laras pun memberikan sebuah amplop yang berisi uang untuk uang saku ataupun bekal.


Keluarga pasien sangat berterima kasih pada Laras dan rekannya, yang telah membantu mereka. Setelah itu Laras segera pamit dan bergegas mengajak Irfan pulang, ia tak enak hati meninggalkan baby boy bersama oma dan opa nya. Kasian mereka ingin beristirahat.


"Ayo, Mas. Kita pulang sekarang, kasian baby Satria sama Oma nya," ucap Laras sambil memasuki mobilnya.


"Iya, Nyonya muda." Irfan mengangguk pelan. Tangannya memegang kemudi dan segera memutar kemudi, melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Selang beberapa waktu, mobil pun berhenti di halaman. Laras segera turun, membawa langkahnya ke rumah yang terdengar riuh. Ternyata di rumah ada bu Lodia sedang menengok baby boy.


"Oma kangen sama kamu baby boy ... kamu semakin gemuk saja baby boy," ungkap bu Lodia sambil menggendong baby boy.


Laras masuk dan menghampiri, setelah mengucap salam. "Sayang sama siapa tuh?"


"Sudah pulang?" tanya bu Rahma pada Laras.


"Iya, Mah ... ku memilih cepat pulang. Maaf ya Mah ... sudah bikin repot Mama," ucap Laras. Menatap mama mertua.


"Ah, kamu ini sayang ... kaya sama siapa aja." Bu Rahma menggeleng.


Laras tersenyum, lalu masuk sebentar ke kamarnya. Detik kemudian Laras kembali menghampiri baby boy yang masih di gendongan bu Lodia. Yang begitu tampak menyayangi baby boy.


"Sayang, yu bobo sudah siang?" Laras mengambil baby boy dari tangan bu Lodia yang merasa berat memberikan baby boy pada bundanya.


Bu Lodia terus mengobrol dengan bu Rahma dan pak Marwan. Sementara Laras membawa baby boy nya ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian Laras kembali, setelah menidurkan si kecil, baby boy.


"Sus. pada belum makan ya?" melirik Susi. Netra mata Laras mengamati menu-menu yang tertata di meja dengan rapi.


"Belum. Apa mau Susi panggilkan!" tanya Susi memandangi majikannya.


"Iya, panggil saja. Sekalian Mas Irfan juga." Namun belum juga Susi pergi. Irfan sudah muncul di hadapan Laras.


"Maaf Nona, ada laporan. Ada sebuah keluarga di perkampungan terpencil, dia minta bantuan untuk di bangunkan rumah. Sebab tempat tinggalnya kena gusur," ucap Irfan sambil memberikan data orang itu pada Laras.


Laras menerima ponsel Irfan. Melihat data orang yang Irfan bilang meminta bantuan. "Mas Irfan cek aja ke sana, kumpulkan datanya yang lebih lengkap. Setelah itu baru kita rapatkan, kalau seandainya memang dia membutuhkan bantuan, sekalipun yang lain gak mau bantu, misalnya. Biar saya pribadi yang turun tangan, asalkan orang itu benar-benar membutuhkan bantuan," ujar Laras dengan jelas. Dan memberikan ponsel kembali.


Irfan mendengarkan sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Matanya menunduk tak berani menatap sang majikan.


"Ya sudah, baiknya kita makan dulu. Kebetulan Abang makan siang di luar, katanya ada pertemuan mendadak." Ajak Laras setelah melihat orang tuanya dan bu Lodia merapat ke meja makan.


Tidak ingin membuang waktu, semuanya makan bersama dengan lahapnya. Menikmati setiap menu masakan di meja.


Bu Lodia pun begitu menikmati makan siangnya. "Ya Allah nikmat sekali, makan bersama ini. Jarang-jarang saya makan senikmat ini, terlebih kebersamannya."


"Itu, pasti. Sebab kita gak ada anak yang banyak, apalagi cucu. Jadinya ya makan bersama siapa? gitu kali ya bu!" bu Rahma menatap bu Lodia yang langsung membalas dengan anggukan.


"Iya, benar sekali bu besan. Sepi rasanya, masa saya harus terus-terusan bikin pertemuan sama kawan. Bagaimanapun kita bukan anak muda lagi yang lebih suka jalan-jalan dan nongkrong, kan malu," ungkap bu Lodia sambil mengunyah makannya.


"Atau, undang aja mereka ke rumah Bu Lodia. Biar kumpul di sana, Bu." Bu Rahma menambahkan ucapannya.


"Sesekali juga kaya gitu, kalau sering-sering sih, yang lain juga punya kesibukan masing-masing." Timpal bu Lodia.


"Iya sih, ya sudah. Makan ajalah, sekarang yang lahap Bu." Tambah bu Rahma kembali.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Mereka melanjutkan makannya. Kembali dengan lahap dan Laras pun sesekali mengecek si kecil, takut bangun dan suaranya tak terdengar. Namun baby boy begitu nyenyak bobonya.


"Kira-kira kapan, Mas mau berangkat ke tempat itu?" tanya Laras pada Irfan, setelah makan siang mereka selesai.


"Kalau di ijinkan, sekarang juga mau berangkat. Sebab biar lebih cepat akan lebih baik Nona." Timpal Irfan. Sambil berpamitan.


"Baiklah, nanti kabari saya. Kabar selanjutnya Mas," ucap Laras.


"Baik, Nona." Irfan pun hendak berangkat. "Oya. Saya mau pakai motor saja."


"Oke. Tapi Mas, sebaiknya pake mobil saja, biar gak kena hujan. Sekarang cuacanya gak tentu Mas." Timpal Laras kembali.


"Tapi!" Irfan sejenak berpikir.


"Sudah. Bawa saja mobil, masalahnya musim hujan," sambung Laras.


Pada akhirnya Irfan mengangguk dan setuju membawa mobil Laras. Untuk keluar kota.


Laras tersenyum. Dan memandangi punggung Irfan, kemudian memutar tubuhnya. Berjalan menuju kamar, mendekati tempat baby boy yang bergerak lalu tidur kembali. Laras membuka kerudung, kemudian berbaring di atas tempat tidur. Badan terasa capek.


Mata Laras pun terpejam. Merasa sejuknya dengan suhu pendingin ruangan, walau di luar sekarang cuaca tengah panas. Namun tak bisa diperkirakan, bisa aja di tengah teriknya cuaca yang panas tiba-tiba turun hujan.


Sekitar satu jam kemudian Laras terbangun. Menggosok matanya, melihat ke arah baby boy yang sudah bangun duluan dan bermain.


"Ya, Allah ... baby boy dah bangun. Bermain ya? gak nangis sayang, baby boy gak minta mimi ya," suara Laras berat khas bangun tidur.


Anak itu sebenarnya sudah bagun dari setengah jam yang lalu. Namun dia anteng bermain tak mengganggu mammy nya yang kecapean. Tidurnya pun begitu nyenyak, terbukti sampai terdengar suara mendengkur nya.


Laras mengangkat baby boy. Dibawanya ke teras kamar, sambil memberinya asi. Anak itu begitu ribut dan menyambut asi nya, rupanya dia sangat lapar sekali. Nyatanya menghisap dengan begitu kuat membuat Laras nyengir, menahan sedikit sakit.


Sore-sore. Sehabis mandi. Laras berjalan membawa baby boy melintasi setiap rungan di rumah tersebut. "Ate Susi oma sama opa lagi istirahat ya?" tanya Laras pada Susi yang sedang memotong sayuran.


"Oh, bu Lodia masih ada ya?" tanya Laras sambil memeluk baby boy.


"Hem ... baby boy gak bobo ya?" tanya Susi sambil mencolek pipi gembul baby boy. "Eh dah wangi. dah mandi ya? wah ... kalah nih Susi."


"Sudah dong. Makanya dah wangi. Mau nunggu papi ya sayang ya?" ucap Laras sambil melanjutkan langkahnya, duduk di ruang keluarga.


"Hai ... cucu Oma sudah bangun. Eh ... dah wangi, sudah mandi nih." Bu Rahma menghampiri.


"Sudah dong Oma, aku dah wangi, sudah mandi. Biar gak bau bila di cium Oma. Ya sayang ya? cuph! gemes ... Mammy gemes."


"Nak Laras maaf ya, Mommy ikut tidur di kamar. Ngantuk banget, mau pulang juga, katanya Dian mau jemput ke sini. Sekalian mau ngasih undangan." Suara bu Lodia. Dari kamar tamu lantas duduk diantara Laras dan bu Rahma.


"Oh, gak pa-pa Mommy. Gak ada yang larang juga Mom, oya undangan apa ya?" selidik Laras penasaran.


"Oya, Dian mau menikah!" jawab bu Lodia tampak bahagia.


"Apa? mau menikah, masya Allah ... akhirnya. Semoga langgeng ya Mom?" Laras sangat antusias mendengarnya dan turut sangat bahagia.


Begitupun dengan bu Rahma. "Ya ... ampun, senang saya mendengarnya."


"Iya, Dian mau menikah dengan duda anak satu, mantan polisi. sebentar lagi mau ke sini," ungkap bu Lodia. ia pun merasa bahagia dengan niat pernikahan Dian dan Firman.


"Aku sekeluarga turut bahagia yang teramat sangat akan kabar baik ini." Kata Laras dengan wajah sumringah. Hatinya ikut bahagia akan kabar Dian yang sebentar lagi mau menikah.


"Sama-sama. Mohon doa nya. Dari semuanya." Timpal bu Lodia.

__ADS_1


"Tentu, pasti kami akan mendoakan mereka berdua semoga temukan bahagia yang lebih bari sebelumnya." Tambah bu Rahma.


"Makasih banyak. Kalian datang ya. Jangan nggak loh." Lanjut bu Lodia kembali sambil mengambil baby boy dari pangkuan Laras.


"InsyaAllah kami akan datang." suara Laras dan bu Rahma berbarengan.


Hi ... baby boy. Bunda kangen sama baby boy uh ... tambah gemuk aja nih pipinya seperti bak pau nih? tiba-tiba Dian muncul menuntun tangan anak kecil, dibelakangnya seorang pria tampan dan tegap. Dian langsung menghampiri baby boy yang berada di pangkuan bu Lodia, dengan nada gemas terhadap baby boy.


Langsung mengambil baby boy dari tangan sang bunda. "Bunda kangen, banget." menempelkan pipinya di wajah baby boy yang merem melek.


Laras melihat pria itu terus berdiri, melihat Dian yang Dian yang menyambut baby boy. Sambil memegang tangan anak laki-laki yang tak kalah tampan dan mirip dengan pria tersebut.


"Silakan duduk Bang, hai siapa nih namanya?" setelah menyalakan duduk pada pria tersebut.


"Salim, sama oma dan semuanya sayang." Suruh Firman pada Ferdi yang bengong melihat Dian dengan baby boy.


Ferdi pun menghampiri ada bu Lodia, bu Rahma dan Laras. "Nama ku Ferdi Tante."


"Oh ... Ferdi, ganteng deh kamu Nak." Tangan Laras mengusap kepalanya Ferdi dengan sangat lembut. "Sini duduknya sama Tante." pinta Laras. Anak itu langsung menggeleng. Mungkin merasa belum kenal dengan Laras.


Oya, Laras. Mamah. Kenalkan, ini calon suami ku namanya Permana Firmansyah. Dan dia yang kecil ganteng putranya, termasuk putra ku--"


"Mama, aku tidak kecil lagi, sudah besar Mama." Suara anak itu memotong perkataan Dian. "Aku anaknya Mama," protes Ferdi. Membuat Laras dan yang lainya tertawa.


"Iya-iya. Mama lupa. Ferdi kan sudah besar ya? dan pintar, lupa Mama. Maaf ya?" suara Dian sambil menggendong baby Satria.


"Ferdi mau gak punya adik seperti baby itu hem?" tanya Laras sambil menunjuk baby boy yang di tangan Dian.


Anak itu menatap ke arah baby boy dengan tatapan lekat. "Mau, aku mau." bengong.


"Oh ... nanti Mama yang siapkan ya?" ucap Laras sambil menatap menatap ke arah Dian yang juga menatap ke arah Laras.


"Semoga nanti, Mama segera punya baby ya? biar Ferdi ada temannya. Iya?" tanya Laras sambil melirik Ferdi bergantian dengan Dian.


"Aamiin ya Allah." Balas bu Rahma, bu Lodia dan Firman berbarengan.


"Ferdi, Ferdi pengen teman main bola Tante," sambung anak itu sambil memainkan tangan sang ayah.


"Ibra kemana? apa belum pulang juga." Selidik Dian pada Laras.


"Iya, belum pulang. Tadi ada acara sama rekan kerjanya." jawab Laras.


"Oh, ini aku kasih undangan nih tuk kalian. Mama juga dan Papa datang ya? jangan nggak loh." Pinta Dian sambil menatap mama Rahma.


"Tadi Mommy juga sudah bilang gitu sayang, mengundang mereka untuk datang." Sambung bu Lodia. Menatap ke arah Dian.


"InsyaAllah, kami akan datang, iya kan sayang?" melirik ke arah Laras yang membalas dengan anggukan.


"Kami, pasti akan datang kak Dian. Sebelumnya selamat ya. Semoga kalian berdua bahagia. Sekarang maupun nanti menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Lancar pula acaranya," ungkap dan harap Laras pada Dian.


"Terima kasih." Gumam Dian tersenyum dengan tatapan lekat pada Laras, Firman meminta baby boy dari pangkuan Dian. Katanya ingin menggendong sebentar.


Dian pun memberikan baby boy, yang tatapan matanya tinggal 5 wat kembali. Menandakan sudah ngantuk kembali.


"Baby boy yang sangat ganteng nih. Cakep, orang sunda bilang kasep. Ngantuk kayanya nih." Gumamnya Firman.


"Sepertinya iya tuh, yo sama Mammy. Mau bobo ya? baby boy mau bobo," Laras mengambil baby boy dari tangannya Firman.


Laras segera membawanya ke kamar. Sebelumnya berpamitan terlebih dahulu, untuk menidurkan baby boy sebentar di kamar ....

__ADS_1


****


Hai, reader ku semua, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih pada kalian semua yang masih setia pada SKM, jangan lupa fav juga "Bukan Suami Harapan" semoga suka.


__ADS_2