
"Kata maaf itu mudah, sangat mudah. Tapi apa bisa kau kembalikan kesucian yang pernah kau renggut? bibir memang mudah memberikan kata maaf tapi hati saya, keadaan saya tidak segampang itu." Bu Rosa menggeleng. air matanya tumpah ruah di wajah.
"Sa-saya ... saya bersedia mempertanggung jawabkan perbuatan saya di masa silam," ucapnya pelan.
Mata Bu panti terbalalak. Melotot dengan sangat sempurna, tidak menyangka dengan ucapan pak Mulyadi barusan. Sebuah kalimat yang membuat dia meremang. Ia menggeleng dan membuat bibirnya terkunci, pandangannya begitu intens melihat pak Mulyadi yang menunduk dalam.
Pria itu sangat menyesali atas kejadian yang sudah menghancurkan kehidupan orang lain. Helaan napas yang panjang menghiasi keheningan saat ini.
"Pergi. Pergi ... saya tak ingin melihat kau lagi dan jangan pernah menampakkan diri di hadapanku. Aku sudah cukup susah payah melupakan masa lalu dan membuang bayang-bayang kejadian itu. Sekarang pergi, pergi!" teriak Bu panti sambil menunjuk ke arah pintu.
Pak Mulyadi terkejut dan menatap bu Rosa yang melotot dan menunjuk jalan keluar. Menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Dan dadanya merasa sesak.
Jodi yang mengamati dari jauh tak kalah terkejutnya dan langsung berlari menghampiri mereka berdua. "Maaf ada apa nih? Bu, Ayah. Melihat keduanya bergantian.
Bu Rosa memalingkan wajahnya ke lain arah. Dengan hati yang terasa sakit sebelumnya dia tak menyangka kalau Jodi ini anak orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Bawa ayah mu dari sini, Ibu tidak ingin melihatnya lagi." Suara Bu Rosa berusaha pelan tanpa menoleh lagi.
"Se-sebantar Bu, oke saya tidak akan bertanya sebabnya apa saya cukup mendengarkan tadi. Cuma ... saya sebagai anak dari ayah saya. Jelas saya mohon maaf yeng sebesar-besarnya, mohon kerendahan hati Ibu yang 0aling salam untuk membuka hati atau memaafkan kesalahan ayah saya," tutur Jodi dengan segenap kerendahan hati.
Bu Rosa. Tak bergeming mendengar perkataan dari Jodi, sampai detik ini ia belum bisa menerima begitu saja.
Pak Mulyadi dan Jodi mengarahkan tatapannya pada bu Rosa yang terdiam seribu bahasa.
"Sudahlah, Nak Jodi. Ibu sibuk dan gak ada waktu lagi tuk duduk-duduk di sini, tolong hargai keputusan Ibu." Pada akhirnya Bu Rosa bersuara dengan lirih namun tetap membuang wajahnya dari pak Mulyadi. Sesekali mengusap pipinya yang basah itu.
Jodi menghela napas panjang. "Baiklah Bu, kami hargai keputusan Ibu. Semoga Ibu gak membenci kami berdua. Kami pulang dulu. Assalamu'alaikum."
Jodi berdiri dan mengajak sang ayah tuk pulang segera. Dia menggandeng pak Mulyadi berjalan menuju mobilnya.
"Wa'alaikum salam." Gumamnya Bu Rosa. Memandangi kepergian pak Mulyadi dan Jodi, hik hik hik. Dia menangis lagi sampai terisak -isak kembali.
Pak Mulyadi terus melangkah dengan membawa hati yang kecewa. Tersakiti luka yang ia buat sendiri, Sesal yang kini menghantui jiwa yang hampa.
__ADS_1
Tatapannya kosong dan langkah menjadi berasa mengambang tak menapak. Semua kata-kata Bu Rosa terus terngiang di telinga sampai-sampai kepalanya terasa pusing mata pun berkurang-kunang. Tubuhnya mendadak melemas seakan tak ingatkan diri, untungnya bokong pak Mulyadi sudah menempel di jok mobil.
Brug!
Jodi menutup pintu mobil lalu ia mengitarai mobilnya langsung duduk di belakang kemudi dan tidak membuang waktu melajukan nya dengan kecepatan sedang. Namun alangkah terkejutnya Jodi ketika melirik ke arah sang ayah yang tak memakai sabuk pengaman dan menyandar tak beraturan.
Jodi menepikan mobil berhenti di pinggir jalan. "Yah, Ayah." Jodi menepuk pipi sang ayah yang keringat dingin pun membasahi pelipisnya dan tak merespon panggilan Jodi. Ia terus menepuk dan memanggil, setelah yakin kalau sang ayah tak sadarkan diri tentunya Jodi merasa panik namun dia terus berusaha tenang. Kemudian melajukan kembali mobilnya namun kali ini dengan tujuan rumah sakit. Memeriksa kesehatan pak Mulyadi saat ini.
****
Mobil yang di tumpangi Ibra dan Zayn juga Irfan masih mencari keberadaan Laras dan yang lainnya. Sehingga akhirnya Mobil mendapati sebuah gedung tinggi namun kayanya sudah tak terpakai.
"Yakin di sini? selidik Ibra. Hatinya begitu khawatir atau cemas. Akan keberadaan keluarganya.
"Yakin." Irfan mengangguk.
Zayn menatap keduanya bergantian. Kemudian ketiganya keluar dari mobil sedikit mengendap menyelinap ke arah gedung tersebut. Benar saja mobil yang yang membawa Laras dan yang lain itu ada di sana berjejer dengan mobil yang lain.
Ketiganya terus masuk tentunya terus waspada. Gedung ini sepi dan sebuah gedung yang sepertinya sudah tak terpakai lagi terlihat dari kurangnya perawatan. Intinya sebuah gedung yang kosong.
Ketiganya saling pandang dengan napas yang naik dan turun. Rasa panik yang menyelinap ke dalam hati semakin bertambah dengan belum adanya hasil dalam pencarian.
"Masih beberapa lantai lagi, titik mereka berada," bisik Irfan.
"Ayo, cepat ... kita harus segera menemukan mereka," balas Ibra sudah tidak sabar untuk bertemu mereka. Begitupun Zayn.
Mereka terus berjalan, mengayunkan langkah lebarnya dan bergegas mencari keberadaan Laras dan yang lain.
"Heh. Kalian mau apa?" dua orang menghadang langkah ketiganya.
Irfan langsung menyerang dengan tendangan dan pukulan. Satu melawan dua. Sementara Ibra dan Zayn langsung terus maju. Hingga di lantai yang di sepersekian nya, mereka barengan lagi dengan Irfan yang dengan helaan napas yang kasar.
Dari tempat yang lumayan luas ada seorang yang dengan senang hati bertepuk tangan.
__ADS_1
Prok!
Prok!
Prok!
"Selamat datang di tempat yang akan menjadi sejarah tamat nya kisah kalian. Ha ha ha ..." ucap dari seorang pria yang berbadan tinggi lumayan sudah berumur namun masih terlihat gagah.
Betapa terkejutnya Ibra dan Zayn melihat orang tersebut. Dia adalah saingan Ibra dalam bisnis dan bisa di bilang saingan terberat. "Apa maksud mu membawa keluarga ku, di mana mereka kau sembunyikan?" pekik Ibra dengan mata melotot dan bibi bergetar. Wajahnya tampak marah.
"Ha ha ha ... buat apa ya? saya tidak tahu ha ha ha ...."
"Kurang ajar." Pekik Ibra lagi.
"Sabar Bos. Jangan sampai tersulut amarah dulu. Orang ini tak sendiri." Gumam Irfan.
Kemudian manik mata mereka mendapati seorang pria muda menghampiri pria tua itu. Ruswan menyunggingkan senyum sinis nya.
Ibra, Zayn dan Irfan sangat heran. Bukannya Ruswan itu di penjara? kenapa tiba-tiba ada di sini.
"Ha ha ha ... kalian pasti heran ya! kenapa saya berada di sini? Gampang, tinggal memberi isyarat oke. Dengan mudahnya saya keluar masuk penjara. Tidak ada yang sulit bagi saya," ucap Ruswan dengan bangganya.
"Sayang? kamu di mana!" teriak Ibra. "Papa ... Mama?" panggil Ibra. Suaranya bergema di seluruh gedung tersebut.
"Percuma kau memanggil mereka. Mereka sudah mati dan sebentar lagi kau akan menerima kehancuran mu," cibir pria tua yang suka di panggil Tuan El itu.
Melihat ekspresi wajah Ibra yang sangat serius. "Ha ha ha, harap kau tahu juga, kalau istri mu sudah aku nikmati sampai puas ..." akunya Ruswan memanasi hati Ibra yang benar saja mulai terbakar amarah.
Tanpa aba-aba Ibra memukul dada Ruswan dan menendang bagian intinya Ruswan. Hati Ibra sungguh terbakar dengan perkataan Ruswan barusan yang dihiasi api itu.
Tak ayal Ruswan tersungkur ke lantai memegangi senjatanya yang kena tendang kaki Ibra. Ibra pun tak lantas puas melihat Ruswan tersungkur kesakitan, ia malah membabi buta menendang Ruswan sampai akhirnya Ruswan di selamatkan oleh anak buahnya ....
*****
__ADS_1
Hi ... reader ku semua semoga kabar baik ya. Makasih banyak masih setia🙏 jangan lupa mampir di BSH ya🙏