Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Mirip opa-opa


__ADS_3

Laras menoleh orang yang Susi maksudkan, ternyata dia seorang pria bertopi, tengah mengawasi ke arah dirinya. "Jodi?" gumam Laras sambil mengalihkan pandangannya ke sate yang sedang ia makan.


"Siapa Nyonya? apa kenal atau tau siapa dia?" tanya Susi menatap majikannya.


"Em ... aku!"


"Hi ... senang jumpa kamu di sini?" Jodi senyum ramah dan duduk di samping Laras.


Laras hanya menanggapi dengan senyum samar. Dan seolah tidak perduli, ia lanjutkan makan sate yang memang ia inginkan sedari rumah. Susi bukannya menemani Laras makan. Malah memandangi Jodi yang sangat ganteng.


"Suka ya, sama sate kambing?" tanya Jodi lagi menoleh Laras.


"Hem ..." jawab Laras.


Selesai makan, Laras langsung mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar.


"Jangan, biar aku saja yang bayar!" Jodi berdiri mengambil dompetnya.


"Nggak, biar aku saja, gak usah repot-repot." Laras bergegas memberikan uang ke si abang Sate. Kemudian Laras memegang tangan Susi mengajaknya pergi.


Jodi bengong. "Laras?" panggilnya.


Langkah Laras terhenti begitupun Susi. "Si ganteng memanggil nama Nyonya, kenal ya?" ucap Susi sambil menoleh ke arah Laras.


Laras menunduk tak ingin melihat pria itu. Khawatir menimbulkan fitnah nantinya.


"Gimana kalau pulang nya saya antar? gak baik malam gini jalan berdua." ujar Jodi menawarkan tumpangan.


"Maaf, ini masih sore, lagian kami berdua diantar sama supir. Jadi makasih ya?" sahut Laras.


"Iya, Tuan ganteng, kebetulan kami diantar sama supir, jadi lain kali saja ya, saya pasti mau kok ikut mobil Tuan ganteng." jawab Susi. Menatap wajah Jodi yang tidak kalah dengan kegantengan Lee min ho, sampai mata Susi tak berkedip.


"Sus ... ayo pulang?" tangan Laras menarik tangan Susi yang yang tidak bergerak di tempat memandangi Jodi.


"Aduh, Nyonya ... ganteng banget." Gumam Susi.


Jodi senyum-senyum sendiri sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian memasuki mobilnya dan lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.


Laras dan Susi sudah mengenakan sabuk pengaman. Pak Barko pun bersiap melajukan mobilnya. "Sebentar Pak?" Suara Laras menghentikan niat pak Barko tuk maju.


Laras mengambil sejumlah uang dari dompetnya. "Ini ... buat beli sate, buat Bapak oleh-oleh ke rumah. Maksud aku buat anak istri Bapak."


"Beneran Nyonya?" pak Barko meyakinkan diri.


"Iya, Pak. sana beli, barusan aku lupa beli buat bapak," tambah Laras.


"Kamu mau beli gak Sus? buat di mension, tadi aku habiskan semua. Habis kamu melongo mulu bukannya makan." Melirik Susi.


"Nyonya ... gimana aku bisa makan? kalau di hadapan ku, ada itu cowok super ganteng, mobilnya juga waw ... gak kalah sama tuan Ibra."

__ADS_1


Laras menggeleng. "Gini nih, kalau baru lihat cowok ganteng."


"Sering sih, Nyonya lihat yang ganteng, tampan. Itu majikan Susi sendiri, masa Susi harus mengagumi tuan, kan gak etis?" Hi ... hi ... hi ...


Sambil mata menerawang jauh ke depan, Susi berkata. "Nya, mungkin gak ya? cewek macam Susi dapat cowok seganteng tuan atau pria barusan."


"Kalau jodoh, bisa Sus. Apa sih yang tidak bisa?" jawab Laras membesarkan hati Susi.


Tidak berselang lama pak Barko sudah kembali membawa kantong berisi sate. Dengan tidak membuang waktu beliau melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan dari gelapnya malam dan berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya.


"Aku gak mau ya, perkenalan kita membawa petaka buat rumah tangga ku! apa bedanya aku? kalau dekat dengan laki-laki lain. Apa kata Ibra nanti?" batin Laras sambil memandangi lampu-lampu yang berada di pinggir jalan.


Tidak terasa mobil sudah menepi, Laras dan Susi bergegas turun, disambut oleh Bu Rika di teras.


"Gimana dapat satenya Nyonya?" tanya bu Rika.


"Sudah, Bu. Tapi aku lupa belikan buat Bu Rika, maaf ya?" jelas Laras pada bu Rika.


"Oh, tidak apa Nyonya, saya tidak sedang ngidam, lagian kalau kami mau gampang saja. Tinggal pesan." Sahut bu Rika sambil berjalan mengikuti langkah Laras.


"Kamu kenapa, diam saja Sus?" tanya bu Rika menoleh Susi yang diam saja.


Laras pun menoleh ke arah Susi, ingin tahu jawabannya, jangan sampai bilang ada yang mendekatinya.


"Itu, Bu Rika. Tadi aku bertemu pria ganteng mirip opa-opa Korea gitu. Jadi pengen jumpa lagi, aku ngefans banget." Akunya Susi, membuat Laras sedikit lega, Susi tidak menyebut-nyebut namanya.


"Bu, Susi. Aku duluan ke kamar ya?" Laras langsung masuk lift dan memilih lantai yang ia tuju, sebelum pintu lift tertutup. Laras melambaikan tangan pada asistennya.


Manik matanya melihat ke layar ponsel yang gelap dan kosong dari panggilan. Kemudian mengambil air wudhu untuk menunaikan salat isya. Selepas membaca doa.


Kring!


Kring!


Kring!


Ponsel Laras berbunyi. Laras menoleh terpampang jelas nama husband di layar ponselnya.


Perlahan Laras mengambil dan menempelkan ke pipinya. "Halo?"


''Halo, sayang ... sudah tidur belum.?" Suara Ibra dari sebrang.


"Kalau aku sudah tidur, siapa yang angkat telepon dong?"


"Kali saja bangun dulu dan angkat telepon!" sahut Ibra.


"Belum, aku habis dari luar." ucap Laras. "Ups, ngapain aku bilang sih?" batin Laras.


"Luar! dari mana, sama siapa? habis ngapain juga? bertemu cowoknya?" cecar Ibra terdengar agak ketus.

__ADS_1


"Aish ... nanya apa nanya? gitu amat. Aku ke luar sama Susi diantar pak Barko. Aku pengen makan sate tadi." jawab Laras lagi.


"Oh, sudah dapat belum sate nya?" tanya Ibra khawatir belum dapat.


"Sudah," sahut Laras. sebenarnya ingin sekali menanyakan kapan pulang namun gengsi. Nanti dia GR.


"Aku, gak bisa pulang cepat-cepat. Oya, gimana hasil pemeriksaan kandungannya?" ucap Ibra.


"Em ... baik, sehat kok." ungkap Laras.


"Apa gak bisa pulang cepat? mau liburan apa," batin Laras lesu.


"Syukurlah, terus di jaga ya?"


"Nggak usah di suruh juga kali ah." gumam Laras pelan.


"Sudah dulu ya. Aku masih sibuk," pamit Ibra.


"Sibuk apa jam segini? bukankah ini waktunya istirahat." lirih Laras.


"Sudah. Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumus salam." Jawab Laras jadi lesu dengar Ibra gak bisa cepat pulang. Ada rasa sedih dalam hati. "Sayang, papi gak bisa secepatnya pulang. Jadi kita harus sabar ya?" entah kenapa matanya jadi berkaca-kaca.


Laras berjalan mendekati saklar untuk menggantikan lampu. Sebelumnya menggantikan setelan tidurnya terlebih dahulu. Kemudian langkahnya berhenti, karena mata memandangi foto pernikahan, yang tentunya ada wajah Ibra mampang di sana. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tarik selimut menutupi dirinya sampai dada.


Mulanya sulit untuk di pejamkan, namun lama-lama ... akhirnya Laras tidur juga. Dengan hati memendam suatu perasaan yang sulit ia ungkapkan.


Sekitar tengah malam. Laras terbangun kerena haus, ia turun dari tempat tidur. Mendekati dispenser dan mengisi air mineral ke dalam sebuah gelas.


"Bismillah ..." Laras meneguknya sampai tandas. "Lapar?" gumam Laras sambil mendekati tempat buah, ia mengambil buah aple yang berwarna merah. Laras duduk dan memakannya sampai habis.


Di luar kamar, ada suara yang mencurigakan. Laras terkesiap mendengarnya, lantas memasang kuping dengan sangat tajam dan kakinya perlahan turun dari tempat tidur. Mendekati pintu yang kenop nya bergerak-gerak, seperti ada yang memutar dari luar.


Ia heran dan penasaran, siapa dia? kalau bu Rika ataupun Susi pasti mengetuk dulu dan permisi. Tapi ini diam-diam saja seolah ingin menyelinap masuk. "Apa mau mencuri?" gumam Laras. Hatinya meremang, jantungnya kian dag dig dug tak karuan bercampur aduk dengan rasa takut yang menyeruak dalam benaknya.


Laras celingukan mencari benda yang sekiranya bisa ia pakai untuk memukul. Kala nanti orang itu masuk, atau nongol dari balik pintu akan ia pukul.


Mata Laras menemukan gagang sapu yang berdiri di pojokan. "Lumayan ... sakit lah untuk memukul kepala." Gumamnya sambil mengambil gagang sapu, kemudian ia kembali berdiri di sebelah pintu. Menunggu orang itu masuk.


Klikk!


Kenop pintu di putar kembali. Membuat jantung Laras semakin berdegup kencang, seakan ingin melompat dari tempatnya. Sesungguhnya ia sangat ketakutan, lutut Laras pun bergetar.


Blak!


Pintu terbuka. Seiring munculnya kepala seseorang dari balik pintu, gagang sapu melayang bersiap memukul kepala orang itu ....


****

__ADS_1


Terima kasih buat yang selalu menantikan novel ini up 🙏 selamat membaca ... semoga tambah suka ya.


__ADS_2