
Dari balik pintu, muncul seorang laki-laki yang memakai seragam putih, membawa alat kerjanya. Di belakang dia. Susi menyeruak masuk mendahului orang tersebut.
Susi tampak cemas. "Nyonya muda! gimana keadaan Nyonya?" mendekati Laras yang mukanya pucat dan mengelap mulutnya.
"Aku, ya ... seperti ini Sus!" sahut Laras.
"Silakan, dok masuk?" bu Rika menghampiri pria yang dia panggil dokter itu.
"Oh, iya."
"Dia ... Nyonya kami yang kakinya tersiram air manas itu dok," ungkap bu Rika menunjuk Laras yang duduk bersandar ke bahu tempat tidur.
Orang itu mengangguk dan mendekati Laras. Duduk di tepi dekat kaki Laras yang selonjoran. Laras menarik selimut agar kaki mulus yang terkena siraman air panas menyebabkan luka melepuh itu, diperiksa dokter.
Dokter tersebut memeriksa kaki Laras dengan seksama, kemudian membuatkan resep obat yang harus ditebus. Nanti bila obat yang dia berikan habis.
"Ini resep yang harus ditebus, bila obat yang saya berikan habis," ucap dokter spesialis kulit tersebut.
"Oh, makasih dok?" bu Rika mengambil resep itu dan memasukkannya ke saku celananya.
Dokter pun pamit. Di antar bu Rika ke luar, sementara Susi menemani Laras, mengoleskan salep ke kulit kaki Laras yang luka. "Ini yang harus diminum nya."
Laras mengangguk dan mengambil obat dan air nya. "Makasih Sus."
"Iya Nyonya!" sahut Susi sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Dengar-dengar ada yang kena musibah nih!" suara Yulia yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Berjalan dengan santainya serta melipat tangan di dada.
"Ngapain. Nyonya Yulia ke sini?" tegur Susi menatap tajam.
"Emangnya ke napa? tidak boleh ya! apa hak dirimu melarang saya." Yulia mendelik pada Susi.
Susi sudah menganga mulutnya bersiap untuk bicara! namun mata Laras memberi isyarat dan menggeleng. Agar Susi tidak bicara lagi. Susi pun menuruti Laras.
Mata Yulia bergerak melihat kaki Laras yang luka itu. "Ooh ... yang ini toh. Kasihan sekali ya kamu? gak bisa jalan sana-sini dong. Tapi ... ini musibah apa karma ya?" ujarnya sambil mengetuk-ngetuk, kan jarinya di dagu.
"Apa maksud Kak Yulia?" lirih Laras sambil menatap Yulia yang berdiri di depannya.
"Maksud saya? saya bertanya. Itu musibah atau karma? secara kamu memilih menikahi pria beristri, mengambil perhatian dan bahkan kasih sayangnya," ucap Yulia dengan nada sinis dan tatapan tidak senang.
__ADS_1
Laras menunduk dalam, tidak tahu harus berkata apa? untuk menyanggah perkataan Yulia itu.
"Nyonya ular berbisa! sebelum ngomong ngaca dulu doong. Lihat siapa dirimu, emang Nyonya gimana, kan sama! anda juga menikahi suami orang? ngaca dong ... jangan asal ngucap saja," bela Susi yang tidak suka dengan ucapan Yulia yang ngomong seenak jidatnya saja terhadap Laras.
Plak ....
Tamparan tangan Yulia bersarang bebas di pipi Susi! membuat Susi Sontak memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas. Dia pun meringis kesakitan. "Nyonya?" melotot pada Yulia.
Sontak Laras terkejut, melihat Susi di tampar Yulia. Ia tidak menyangka kalau Yulia akan dengan refleks menampar Susi. "Jangan main tangan dong Kak! kasihan," ucap Laras melihat ke arah Yulia dan Susi bergantian.
Yulia menatap Laras sebentar, lalu melihat Susi. "Kamu pikir kamu siapa ha ... kamu itu cuma pembantu! pembantu," ucap Yulia penuh penekanan dengan menyebutnya pembantu. Mendorong bahu Susi dengan telunjuknya.
"Kamu itu, bisa kapan saja dikeluarkan dari mension ini. Kalau bos kamu sudah tidak membutuhkan lagi! jadi jangan macam-macam dengan mulut mu itu, jangan belagu! sok-sok'an ngebelain nyonya kamu yang sebentar lagi di buang dari mension ini. Sebab dia tidak hamil juga, dan saya lah yang akan mengandung anaknya seorang Malik Ibrahim," sambung Yulia sangat percaya diri. Bibirnya melengkung. Melukiskan senyuman sinis pada Susi dan juga Laras.
Susi masih mengusap pipinya yang semakin lama semakin panas. Laras menatap kasihan pada Susi. "Ambil es batu, di kompres Sus," lirih Laras. "Atau ini saja salep yang ini Sus." Laras memberikan sebuah salep pada Susi dan langsung Susi ambil, mengoleskannya di pipi yang terasa panas itu.
"Maaf Kak Yulia! bukanya aku berpihak ke salah satu pihak ya? sekalipun Kak Yulia istri tuan besar di sini! bukan berarti bisa berlaku seenaknya sama orang! dia juga punya hati loh ..." suara Laras dengan lirih.
"Apa, aku seenaknya? dia yang ngelunjak, mulutnya kurang ajar gak di sekolahin. Daras pembantu," sergah Yulia. "Oh iya, ya. Dia, kan tidak sekolah tinggi ya--"
"Buat apa? sekolah tinggi! kalau tidak punya sopan santun," ketus Susi memotong ucapan Yulia. Susi sangat geram dengan mulutnya yang terus menghinanya.
"Ayok Nyonya tampar saya! sampai anda puas. Nanti saya viral, kan kalau ada majikan bertengkar dengan pembantu, bukankah itu gak selevel ya?"
Yulia semakin tersulut emosinya, kesal. Marah, benci menjadi satu! Yulia menjambak rambut Susi yang di kuncir itu, namun Laras memekik.
"Cukup ... baiknya kalian keluar dari kamar ini, jangan buat aku pusing! maaf Kak Yulia sebaiknya keluar dari kamar ku, aku mau istirahat." Laras menurunkan suaranya sambil menunjuk pintu keluar.
Yulia dan Susi terdiam sambil melirik jalan keluar yang Laras tunjuk. Dengan perasaan yang terbakar amarah! Yulia menghentakkan kakinya ke lantai dan mengayunkan kakinya mendekati pintu. "Dasar sama saja! sama-sama orang miskin, gak berpendidikan. Miskin," gerutu Yulia, sambil membanting daun pintu kamar Laras.
"Anda yang seperti itu, jangan ngomongi--"
Susi tidak meneruskan ucapannya, menoleh Laras yang memijat keningnya! pusing. "Maafkan saya Nyonya muda," ungkap Susi sambil cengengesan.
Susi menutup pintu dan kembali duduk dekat Laras. Sambil memegangi kepalanya. "Aduh panas juga sakit," mengusap kepalanya.
Laras membaringkan tubuhnya perlahan. Kepalanya tambah pusing dengan kejadian barusan, kini ia ingin istirahat. Melupakan rasa sakit dan semua kejadian yang dia saksikan. "Susi! aku mau tidur dulu ya?"
"I-iya Nyonya. Nyonya istirahat saja, biar Susi yang hadapi, kalau ada ular masuk lagi," ucap Susi sambil memukul dadanya uhuk, uhuk, uhuk. Sampai terbatuk-batuk.
__ADS_1
Laras tersenyum samar dan menggeleng-geleng kepalanya mendengar ucapan Susi.
****
Di kantor. Ibra sangat gelisah, gusar. Bayangan wajah Laras terus menari-nari diingatan nya. Khawatir akan keadaan gadis itu, apalagi membayangkan dokter spesialis itu datang dan menyentuh kakinya. Bikin hati Ibra kian panas, rasanya ingin sekali pulang saat ini juga, ia memainkan ballpoint dan berputar-putar di kursi kebesarannya.
Dari balik pintu! Zayn muncul, membawa berkas yang harus ia tanda tangani. "Bengong saja! nanti dirasuki setan baru tahu kau."
Ibra hanya menatap kearah Zayn. Tanpa bersuara apapun, sesekali mendongak menatap langit-langit.
"Sudah, jangan bengong! bentar lagi pengacara akan datang kemari. Nanti gak nyambung lagi diajak bicaranya," gumam Zayn sambil menyodorkan berkasnya.
"Permisi ..." sapa sekertaris wanita Ibra! bersama seorang pria yang berjas hitam. Depan pintu
"Ya. Masuk!" sahut Ibra.
Pria tersebut masuk dan sekertaris itu kembali ke tempatnya.
Mereka duduk di sofa. Zayn menyodorkan minum sebelum duduk bersama.
"Apa anda yakin? ingin menggugat pihak tergugat! tanpa ada rasa penyesalan nantinya?" ucap Pria itu menatap Ibra penuh keseriusan.
Zayn menatap Ibra ingin tahu juga jawabannya. "Yakin gak bos?"
Mata Ibra melihat Zayn dan pria itu bergantian. "Yakin! seyakin-yakinnya."
Pria itu membuka berkas yang Zayn berikan dengan sangat teliti. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oke. Saya akan pelajari dulu semuanya! anda tahu beres saja," ucap pengacara tersebut.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan anda, saya harap semuanya berjalan lancar! karena saya tidak suka ribet." Ibra menjabat tangan pengacara itu. Kemudian dia berpamitan! diantar Zayn sampai pintu.
Hati dan pikiran Ibra tetap gusar. Memikirkan keadaan Laras sekarang ini. Mengambil handphone nya menggulir kontak Laras. Ia tekan ikon hijau namun ia gagalkan. Ia ragu, gengsi. Nanti dikira mencemaskan dirinya lagi!
Kalau aku telepon! menanyakan keadaannya. Nanti dia bisa besar kepala, menganggap aku mengkhawatirkan dirinya. Ah ... jadi gusar gini perasaan ku, ingin tau keadaannya saja harus berpikir seribu kali.
Ibra menyimpan kembali handphone nya ke atas meja. Membuka berkas yang tadi Zayn bawa, namum ia simpan kembali, karena hatinya semakin tidak karuan. Pikiran pun kacau tak menentu, bekerja juga gak fokus. Ibra memutuskan ....
,,,,
__ADS_1
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏