Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menyebar di medsos


__ADS_3

Tidak lama di jalan, akhirnya mobil Jodi sampai di depan sebuah restoran. Setelah memarkirkan mobilnya, Jodi dan Dian berjalan memasuki restoran tersebut. Memilih kursi yang sekiranya nyaman dan langsung memesan makanan.


"Sering ya makan di sini?" Dian melirik ke arah Jodi dan tempat sekitar bergantian.


"Sering, kenapa?" balik tanya Jodi.


"Nggak sih, nyaman aja." Kata Dian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, lumayan nyaman sih."


Akhirnya pesanan mereka pun datang. Kemudian mereka makan dengan sangat lahapnya.


Sesekali, di selangi dengan obrolan ringan. Sehingga di hiasi dengan tawa riang.


Namun selesai makan, Dian merasa ada yang aneh. Puluhan mata menatap sinis ke arah Dian. Dian merasa aneh, menoleh ke arah mereka malah saling berbisik dan bergidik seolah jijik melihat dirinya.


"Eh, itu kan mantan CEO yang jual diri itu, kan? padahal suaminya tampan dan tajir, dirinya juga orang kaya. Apa coba yang di cari?"


Begitu, sayup-sayup suara orang di sekitar, menggunjingkan dirinya. Wajah Dian berubah merah seketika. Ia menunduk dalam, malu dan marah. Dalam hati terus bertanya dari mana kabar itu bocor? gak mungkin Ibra yang menyebarkannya itu gak mungkin banget. Tapi dari mana juga.


Sungguh tak habis pikir jadinya. Gak mungkin semua orang tahu, kalau gak ada yang menyebarkan foto atau video dirinya.


Jodi yang mendengar bisik-bisik mereka. Menoleh pada orang-orang tersebut. Lalu Jodi melihat ke arah Dian yang menunduk kaku dan tegang, wajahnya pucat pasih. Ia berdiri. "Yu pulang." Ajak Jodi menatap Dian yang termangu di tempat.


"Oh, ya." Dian pun berdiri. Mengikuti langkah Jodi yang sebelumnya menyimpan uang di bawah piring.


"Mau aku antar pulang?" tanya Jodi sambil memasang sabuk pengaman.


"Nggak, mobil ku di kantor kamu. Jadi ke kantor kamu aja, ambil mobil." Pinta Dian sambil melepas pandangan ke luar jendela.


"Oke," sahutnya Jodi sambil melirik sekilas. Kemudian melajukan mobilnya.


Dian membuka ponsel dan berselancar di media sosial miliknya. Ramai tentang istri seorang CEO menjual diri, sehingga di cerai suaminya. "Gila, kok bisa bocor sih?" gumam Dian sambil mengepalkan tangannya.


Netra mata Jodi melirik sesaat, kemudian kembali memfokuskan pandangan ke depan.


Hati Dian terus bergejolak. "Apa iya, Ibra yang menyebarkannya? ah. Gak adil, gak adil, gak adil ...."


Sesampainya di kantor, Dian langsung berganti mobil. "Makasih ya Jodi, aku balik dulu." Pamit Dian.


"Ya, hati-hati." Jodi mengangguk.


Dian bergegas menyalakan mobil dan melaju cepat. Di tengah jalan dia menelpon seseorang. "Aku mau bertemu sebentar, sekarang."


Kemudian menutup telepon, dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan cepat menuju salah satu tempat yang ingin ia tuju saat ini.


Kini Dian berada di ruang kantor Ibra. Kebetulan Ibra tengah menerima tamu, jadi Dian menunggu di sofa yang agak jauh.


Setelah tamu Ibra pulang, Dian baru menghampiri Ibra di mejanya.


"Ada apa datang?" selidik Ibra. Menatap ke arah Dian, sang mantan istri.


"Kamu, apa-apaan? menyebarkan aib kita sampai tercium medsos." Menatap tajam dan bibir bergetar.


Ibra terkesiap. "Apa maksud mu? buat apa aku menyebarkan aib ku sendiri kau pikir aku sudah gila," ucap Ibra dengan nada kesal.


"Semuanya sudah menyebar, dan semua sudah tahu. Bahkan orang mencemooh ku menjual diri--"


"Emang kamu merasa seperti itu?" tanya Ibra. Memotong ucapan Dian.


"Maksud mu?" mendelik kan mata pada Dian.


"Nggak, coba tanya pada hati nurani mu, apa mungkin aku menyebarkan itu? jadi ... jangan salahkan aku lagi, Sudah. Aku masih banyak pekerjaan." Ibra menyuruh Dian pulang secara halus.


"Oke." Dian berdiri dan cium pipi kanan dan kiri Ibra. Lalu berpamitan.


"Hati-hati." Gumam Ibra ketika Dian mau melintasi pintu.


Dian hentikan langkahnya. Dan menoleh ke arah Ibra. "Iya." Kemudian ia melanjutkan lagi langkahnya. Terus berjalan sambil melamun.


Ibra memainkan ballpoint di jari. Kira-kira siapa yang berani menyebarkan kabar itu, bahkan setelah di cek foto dan video nya pun ada tersebar. Lantas Ibra menelpon Irfan menanyakan perihal itu, dia bersumpah tidak tahu menahu soal itu. Sebab setelah mengirim ke sang majikan dan memperlihatkan ke Dian waktu itu, ia tidak menyimpan lagi. Ponselnya sudah bersih.


Ibra terus berpikir siapa. Lantas ia memanggil Zayn, Tidak menunggu lama Zayn pun datang. "Duduk."


"Ada apa? bikin deg degan aja nih." Selidik Zayn menatap penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Ini, soal foto-foto dan video Dian tersebar di internet. Tolong cari penyebarnya, kita sudah berusaha itu jadi rahasia pribadi saja, tidak perlu jadi rahasia publik." Ibra mengetuk-ngetuk jari ke meja.


"Ya, sulit dong Bos kalau sudah menyebar. Biar di tarik sekalipun," ungkap Zayn. Menggeleng pelan sambil melihat berita di media sosial.


"Terus gimana?" tanya Ibra menatap penasaran.


"Yang bisa kita lakukan, jangan sampai terpancing dengan berita ini. Anggap aja memang begitu adanya, terus saja kita fokus dengan bisnis kita dan sebagainya. Jangan sampai terkecoh lah."


"Iya sih. Cuma yang tersudutkan adalah Dian, dia yang akan lebih merasakan dampaknya." Tambah Ibra.


"Dia yang memulai Bos, jadi tentunya siap dengan konsekuensinya dong." Sambung Zayn dengan santainya.


Ibra tak menjawab selain menatap wajah Zayn yang nampak santai itu. Sesaat mereka terdiam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Jangan lupa, besok kita berangkat ke Surabaya. Jadi harus siap-siap." Akhirnya Zayn kembali berbicara.


Netra mata Ibra melirik dan mengangguk. "Ya. Aku ingat, aku pulang dulu lah. Sampai bertemu besok pagi jemput saya ke rumah." Ibra membereskan yang ada di meja.


"Oke, sampai jumpa besok." Zayn pun beranjak dari duduknya. Kemudian berlalu dari ruangan Ibra.


Setelah Zayn pergi, Ibra pun keluar dan mempercepat langkahnya menuju parkiran.


****


"Sayang, masak apa nih?" tanya bu Rahma setelah berada di dekat Laras yang sedang masak bersama Susi.


"Sup iga, Mah. Sama rendang daging," sahut Laras melirik sang mertua.


"Kamu jangan capek, harus banyak istirahat. Biar Mama yang bantuin Susi, kamu duduk aja yang manis." Menuntun Laras mendekati kursi.


"Ah, Mama ... aku bosan duduk terus," sahut Laras sambil memegangi perutnya.


"Kalau kamu bosan, bisa jalan-jalan ke depan. Duduk di taman, tunggu suami pulang. Gak usah berkutat di dapur." Tambah bu Rahma.


"Iya, Mah ..." Laras akhirnya mengangguk.


Ada suara mobil masuk dan suaranya jelas mobil Ibra. Pandangan Laras tertuju ke arah dimana Ibra akan muncul. Benar saja, Ibra berjalan gontai.


"Assalamu'alaikum ... sayang, Mama juga."


Ibra angsung memeluk sang istri, lalu menghampiri sang ibunda.


Ibra duduk dekat Laras yang menyiapkan teh hangat. "Ini minumnya."


"Makasih sayang," sahut Ibra menarik cangkir itu. "Besok pagi Abang mau terbang ke Surabaya sama Zayn. Paling 3 hari. Jaga baik-baik di rumah, oya Irfan akan siap sedia di sini menjaga kalian."


"Oh, iya semoga semunya lancar selama di sana ya Bang," ucap bu Rahma sambil mengaduk sayur.


"Aamiin, Mah. Makasih doanya." Ibra menarik ujung bibirnya tersenyum.


Laras ke kamar, menenteng jas Ibra. Diikuti oleh Ibra sambil membuka dasinya, pengen mandi. Badan terasa lengket. Sesampainya di kamar, Laras membantu membuka kemejanya. Namun setelah di tangan baunya kok aneh.


Hidung Laras mendengus kemeja milik Ibra. "Kok baunya, aneh sih?" melirik Ibra yang bertelanjang dada.


"Hah, em ... bau apa sih? itu kan bau farpum ku sayang. Nih cium badan ku," tangan Ibra menarik kepala Laras ke dalam dadanya.


Laras malah membalas pelukan itu, menyusup dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Besok mau berangkat ya?"


"Iya, sayang. Kenapa kangen ya?" selidik Ibra, dan tangannya mengusap punggungnya Laras dengan lembut.


Laras tak menjawab, dia itu paling gengsi bila soal harus mengutarakan perasaannya terhadap suami.


Kedua tangan Ibra menjauhkan bahu Laras dari pelukannya. Agar berhadapan dan dapat ia tatap wajahnya. "Aku cuma 3 hari sayang, dan akan secepatnya kembali. Untuk mu dan baby kita."


Ibra mendekatkan wajahnya ke wajah Laras. Mendaratkan kecupannya di kening dan kedua pipi, dan berakhir di bibir. Mengingat tiada penolakkan, Ibra menarik tengkuknya untuk memperdalam.


Lama-lama sentuhan itu menuntut lebih, gairahnya semakin naik. Suara napas yang bersahutan kian memicu, penyempurna keinginan tuk melakukan sesuatu.


Tanpa aba-aba, Ibra mengangkat tubuh Laras. Mambuat Laras tersentak dan terkejut, namun ia hanya pasrah dengan apa yang akan ia terima saat ini. Ibra baringkan di atas tempat tidur dengan perlahan dan menarik pakaian yang melekat di tubuh sang istri, hingga semua terlihat jelas di pandangan mata Ibra.


Dengan lembut, Ibra menyentuh semua bagian tubuh sang istri. Napas keduanya kian memburu, tanpa buang waktu lagi. Ibra pun melakukan penyatuan itu dengan sangat lembut, agar lawan mainnya merasa tetap nyaman. Hampir satu jam, waktu yang terlewati untuk bermain panas.


Kadang Laras menggigit bibirnya agar tidak sampai mengeluarkan suara nikmatnya, namun Ibra selalu bilang. "Keluarkan saja sayang suara mu itu, jangan di tahan. Aku ingin mendengarnya."


Laras sering merasa malu, bila suara kecil itu lolos dari bibirnya. Wajahnya memerah. Namun Ibra suka melihatnya, akhirnya Ibra mengahiri ritualnya. Dan tubuhnya ambruk di atas tubuh sang istri. "Ah ... aku capek sayang." Cuph mendaratkan kecupan di kening Laras.

__ADS_1


Buru-buru keduanya masuk kamar mandi dan bersih-bersih. Lanjut mengerjakan magrib bersama. Selepas itu baru mereka keluar menuju ruang makan.


"Wah ... kalian tampak segar sekali nih?" celetuk bu Rahma pada anak dan mantunya yang baru datang itu.


Laras menunduk malu. Sementara Ibra tersenyum dan menarik kursi untuk sang istri. "Kalian belum makan nih?"


"Belum. Menunggu kamu, biar makan bareng," sahut pak Marwan.


Laras menyiapkan piring buat Ibra terlebih dahulu. Menuangkan setiap menu yang Ibra suka. Kemudian mereka mulai makan dengan sangat lahapnya.


"Tadi siang Mama ketemu sama bu Ludia sayang, dia sangat kecewa dengan kelakuan putrinya. Dia menyesal semua ini terjadi," ucap bu Rahma.


"Iya, dia berkali-kali memohon maaf agar kita memaafkannya. Dan memperbaiki keadaan." Tambah pak Marwan.


"Itu, tak mungkin Pah ... tidak bisa segampang itu," sahut Ibra di sela makannya.


Laras cuma mendengarkan, sebab ia gak tahu siapa yang mereka maksud.


"Bu Ludia, sangat berharap kalau suatu saat nanti hubungan kalian kembali, katanya," sambung bu Rahma lagi.


Dengan kata-kata barusan yang bu Rahma ucapkan, Laras jadi mengerti. Kalau yang jadi bahan obrolan itu berkaitan dengan Dian. Laras dapat berkesimpulan kalau keluarga Dian berharap kalau Ibra dan Dian kembali bersatu.


Ibra melihat Laras yang mengangguk. Seolah mengerti. "Sayang kok makannya cuma diaduk-aduk? makan dong. Nanti baby kita kurang nutrisi gimana?"


Laras mesem, lalu memasukan makan ke mulutnya. "Pengen makan sate." ngucap sekenanya aja.


"Ya udah, aku carikan ya?" Ibra berdiri.


"Eh, nggak-nggak, jangan. Aku gak serius kok, aku akan habiskan ini aja." Ralat Laras.


"Loh, katanya mau sate. Setidaknya aku pesankan." Ibra menatap lekat.


"Nggak ah. Kurang banget pengennya, lain kali aja. Abang makan aja. Mau nambah lagi gak?" tanya Laras.


"Sudah. Cukup sayang." Ibra meneguk minumnya.


Selesai makan, mereka mengobrol sebentar. Hingga pada akhirnya sama-sama masuk ke dalam kamar masing-masing. Di ruang Televisi hanya Susi sendiri sambil menonton acaranya faporitnya.


Ibra dan Laras duduk bersandar di tempat tidur, tangan Ibra menarik tubuh Laras ke dalam pelukannya. Laras pun menggeser duduknya agar lebih mendekat dengan sang suami. "Jangan marah ya? tadi kami membicarakan dia."


"Oh, gak pa-pa kok. Kenapa mesti marah? lagian aku juga sudah bilang, Abang kemba--"


"Sudah, jangan bahas itu lagi ya, mendingan kita bahas yang lain saja, oke?" Jari Ibra menempel di bibir Laras.


Laras tak membicarakan hal tentang Dian lagi. Tapi yang ia bicarakan hal lain, termasuk ia akan memberi keperluan baby yang sama sekali belum pernah Laras beli.


"Iya, beli saja sayang semuanya. Yang gimana dan seperti apa terserah sayang aja." Menggigit sedikit kulit bahunya Laras gemas.


Membuat Laras nyengir. "Sakit."


Ibra makin suka mendengar pekikkan Laras, dengan nakalnya Ibra malah menambah gigitannya di curuk leher Laras. Dengan refleks Laras memukul dada Ibra.


"Sakit, napa sih?" Laras mendongak memandangi wajah Ibra.


"Iya, maaf sayang. Gemas sih, apa lagi dengan ini aku gemas banget." Lantas Mencium bibir sang istri dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


Laras pun tak menolak, ia malah menikmati setiap sentuhan Ibra di setiap inci tubuhnya. Keduanya kembali bersiap mengulang permainan yang tadi sore mereka lakukan. Laras sudah pasrah. Dalam kungkungan tubuh sang suami.


Ibra mulai menyatukan tubuh mereka kembali. Dengan perlahan ia melakukannya. Sangat kehati-hatian, Bibirnya meraup bibir Laras yang basah itu. Dan memperdalam permainannya. Netra mata dari keduanya saling tatap, seolah mendalami satu sama lain.


Dan hasratnya yang kian menggebu memacu gairah masing-masing. Yang semakin lama malah kian nafsu. Gairahnya semakin naik, makin lama makin panas saja.


Bibir Ibra makin mengembangkan senyumnya. Walau sudah berapa kali merasakan puncaknya, namun ia belum merasa puas juga. Sehingga tangannya gak berhenti juga bergerilya ke setiap inci milik Laras. Terutama si kembar yang selalu menantang untuk di jamah.


Tubuh Laras terus bergerak geli dibuatnya. Sebab Ibra melakukannya semakin nakal, senyum Laras pun terus mengukir di bibirnya saat ini. Laras benar-benar merasa puas, kali ini dapat memberi bekal yang cukup untuk kepergian Ibra besok.


Angkat telepon ....


Angkat telepon ....


Ponsel Ibra berbunyi, Ibra dan Laras saling tatap. Namun segan untuk ia angkat, nanggung banget. Akhirnya di biarkan saja ....


****


Hi ... reader ku, apa kabar hari ini, mana suaranya yang masih setia dengan SKM. yu tetap dukung karya ku,🙏

__ADS_1


__ADS_2