Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jangan macam macam


__ADS_3

"Kejar, jangan sampai lolos. Sayang barang bagus nih," sergah seorang pemuda itu sambil mengejar Laras yang berlari.


Geph-!


Tangan Laras dapat di raih oleh si pemuda baju hitam itu, Laras berusaha keras untuk melepaskan diri. "Lepas! tolong ...."


"Kau boleh teriak sekencang apapun. Karena di sini tidak akan perduli dengan teriakan mu itu sayang, lagian mana? orang-orang sudah pada sepi dan tidak satu pun orang yang akan menolong mu."


"Iya benar bos," timpal si kaos putih yang baru sampai di tempat Laras di cekal tangannya.


"Lepas iih, lepas." Laras terus berusaha melepas tangan pemuda itu yang mengunci tangannya.


"Kita bawa ke tempat biasa saja, kita nikmati di sana," ucap si baju hitam pada kawannya.


Laras gugup mendengarnya. "Mau kalian apa sih? uang atau--"


"Tubuh mu yang saya mau cantik," sambil senyum puas, puas karena mendapat buruan barang yang bagus.


Tubuh Laras meremang, cukup menakutkan kata-kata pemuda itu, Laras memutar otak agas bisa lepas dari kedua mangsa itu. Ia tidak boleh jadi korban kebejatan mereka. "Aku sudah bersuami dan lagi hamil, kalian jangan macam-macam."


"Ha ha ha ... saya tidak perduli cantik, yang penting kami bisa menikmati yang saya inginkan." lanjut pemuda berbaju hitam itu semakin buas tatapannya pada Laras.


Kedua pemuda itu mengapit dan menyeret Laras, yang mereka bilang akan dibawa ke sebuah tempat.


Di balik kecemasan dan gusarnya hatinya Laras, ia terus mencari cara untuk bisa lepas. teriak minta tolong juga belum tentu ada yang nolong, buktinya mereka hanya melihat sebelah mata di kira teriakan Laras main-main kali.


Lima langkah kemudian Laras menginjak sekuatnya kaki kedua pemuda itu bergantian. Sehingga tangan Laras terlepas, Laras memukulkan tas kecil nya membabi buta pada keduanya.


Kedua pemuda itu semakin geram pada Laras yang terus berusaha melawan mereka.


Tas Laras di tangkap oleh si baju hitam dan sementara si baju putih menangkap tubuh Laras. Laras rebutan tas dengan si baju hitam sehingga talinya putus. Dan lagi-lagi Laras menginjak kaki si baju putih sehingga Laras bisa lepas lagi. Dengan sekilas Laras mengayunkan kaki dan menendang pas benda pusaka si baju hitam.


Ngekk! dia menangkup miliknya sambil meringis kesakitan dan saking sakitnya dia menjatuhkan pantatnya ke tanah.


Si baju putih panik melihat kawannya meringis kesakitan. Dia berbalik melihat Laras dengan mata melotot, namun sebelum pria itu bertindak. Laras mengayunkan lagi kakinya ke tempat yang sama. Bahkan setelah menendang milik pria tersebut, kaki Laras juga menendang kedua lututnya. Tak ayal tubuhnya terjungkal ke belakang.


Setelah itu, Laras bergegas pergi, berlari sekencang-kencangnya agar segera jauh dari pemuda itu, ia buka sendal dan ia lempar begitu saja. Lalu lanjutkan berlari menuju hotel, dengan napas yang ngos-ngosan dan juga kaki yang sakit karena menendang-nendang, ditambah lagi sakit karena nyeker tak beralas kaki sama sekali.


Laras terus berlari dan sampailah di lobby hotel, orang hotel menatap aneh pada Laras yang lari-lari seperti di kejar orang gila. Napasnya ngos-ngosan dan berjongkok kelelahan depan meja resepsionis.


"Mbak, tolong kar kunci kamar ku," dengan suara berat dan napas yang belum terkontrol. Wajah pun nampak sekali cemas atau ketakutan.


Dengan merasa heran, pihak resepsionis memberikan kartu itu pada Laras. Tatapannya terus mengarah ke laras yang nyeker dan menenteng tas yang putus talinya itu, serta jalan yang sangat tergesa-gesa.


Laras terus berjalan menyusuri lorong hotel, dalam hati masih was-was, khawatir orang itu terus mengejar atau mencari dirinya. Di depan pintu, sesaat Laras berdiri, netra matanya bergerak mengawasi lokasi sekitar. Setelah merasa aman. Barulah ia masuk dan mengunci pintu.

__ADS_1


"Huh ... akhirnya sampai juga." Laras menjatuhkan tubuhnya di sofa. Laras memejamkan mata lalu membukanya kembali, dan mengatur napas yang masih memburu. Mengusap perutnya. "Sayang ... Alhamdulillah ya? kita selamat dari mereka." Lagi-lagi ia menghela napas.


Dari jauh terdengar sayup-sayup alunan suara adzan yang merdu. Laras segera beranjak dari sofa hendak ke kamar mandi. "Aduh ... kaki ku sakit dan perih sih?" ia duduk kembali dan mengangkat kakinya yang terasa panas. Perih dan Sakit.


Benar saja, kaki Laras memerah. dan lecet sisinya. "Ya Allah ... segini nya. Mana sih Ibra? katanya mau pulang sebelum magrib, mana lapar. Gak ada makanan." Ucap Laras ngedumel sendiri.


Selepas salat, Laras mengambil ponselnya hendak ngechat Ibra. Namun ia urungkan, dan menyimpan kembali ke tempat semula.


"Males ah, bilangnya sebelum magrib pulang! sekarang udah jam berapa nih? belum nongol juga, bikin kesal aja."


Di luar, hari sudah gelap. Namun Ibra belum juga muncul di tempat itu. Membuat hati Laras tambah gusar, ada rasa takut kalau dua orang itu mencari dirinya. Sesekali bahu Laras bergidik membayangkan bila sesuatu terjadi padanya. "Iih ... amit-amit," sambil mengusap perutnya berkali-kali.


Ibra yang baru keluar dari mobil langsung masuk ke lobby. Di depan langsung di sapa oleh sang resepsionis.


"Malam Tuan? tadi Istrinya keluar, namun pulang-pulang lari-lari seperti sedang di kejar sesuatu dan wajahnya sangat ketakutan begitu. Tidak memakai sendal dan tas juga sepertinya rusak," ucap Resepsionis tersebut.


Ibra sangat terkejut mendengarnya. "Apa? yang benar." Menatap tajam ke arah orang yang bicara.


"Benar Tuan," dia mengangguk.


"Kapan?"


"Sekitar satu jam yang lalu Tuan, pas magrib tadi," sambungnya lagi.


Tanpa berkata apa-apa lagi Ibra langsung berlari menuju kamarnya dan juga Laras. Dalam lift pun hati Ibra gusar ingin segera sampai. Dari sore pun hatinya sudah gelisah, namun apa daya, setelah dari kantor, Ibra memeriksakan dulu dirinya ke dokter pribadinya. Belum lagi di jalan yang agak jauh, sehingga saat ini baru sampai ke hotel.


Brugh!


Brugh!


Brugh!


Ibra menggedor pintu sangat keras dan tak beraturan. Kalau terbuat dari bahan biasa, pasti langsung rusak.


Laras terkesiap mendengar suara pintu yang di gedor tak beraturan. Wajah Laras berubah pucat, khawatir kalau itu pemuda yang tadi, mencarinya.


"Sayang, buka pintu? ini aku!" suara Ibra dari balik pintu.


Laras menatap daun pintu, memantapkan hati kalau itu benar-benar Ibra yang pulang.


Ibra semakin di buat khawatir, sebab tidak ada jawaban dari dalam. "Sayang, buka pintunya dong, jangan buat aku cemas nih. Buka ...."


Setelah kembali mendengar suara Ibra, akhirnya Laras beranjak dari tempatnya dan membuka kunci pintu.


Blak!

__ADS_1


Pintu terbuka, Ibra langsung menutup pintu dan memeluk Laras yang berdiri masih mengenakan mukena. "Kamu, tidak ke napa-napa, kan sayang hem?" tanya Ibra nampak cemas.


Laras melongo, kenapa datang-datang Ibra bertanya seperti itu? Laras tidak menjawab apapun selain membalas pelukan suaminya.


"Tadi kamu ke mana dan apa yang terjadi sehingga kamu pulang lari-lari." Tanya Ibra kembali.


Laras tambah bengong, heran. Ibra tahu dari mana ia pulang lari-lari. "Tau dari mana?" tanya Laras sembari menjauhkan dirinya dari Ibra.


Ibra mengajak Laras ke tempat duduk agar lebih nyaman ngobrolnya. "Di depan resepsionis cerita, kamu kenapa?" Ibra langsung celingukan dan berdiri menghampiri meja yang ada tas kesayangan Laras. Melihatnya, benar saja yang Ibra dengar, tas Laras talinya putus.


Kemudian Ibra memutar badan, kembali ke sofa. Dan duduk dekat Laras. "Apa yang terjadi sayang? cerita padaku!" menatap lekat dan menangkupkan tangannya di wajah Laras yang nampak kebingungan, entah harus mulai dari mana untuk menjawab.


"Kenapa baru pulang?" Laras malah balik nanya dengan nada kesal. Kesal kalau Ibra tidak tepat waktu.


"Maafkan aku, dari kantor aku ke dokter pribadi ku untuk berobat, kamu tau itu? jadi jangan ngambek aku pulang telat.


Laras, menundukkan kepalanya melihat lantai. Kenapa ia harus ngambek kalau Ibra telat pulang? dulu juga ia jarang tahu kalau Ibra pulang nya jam berapa, jarang tahu. Kenapa sekarang jadi posesif gini.


"Sayang, kenapa diam?" tanya Ibra, tangannya menggenggam tangan Laras dan di remasnya dengan lembut.


Laras menghela napas dalam-dalam, lalu ia buang dengan panjang. Kemudian mendongak menatap ke arah Ibra. "Tadi ... aku ke pantai."


"Iya, terus? gak mungkin gak ada apa-apa di sana. Sehingga menyebabkan kamu lari-lari pulangnya," sambung Ibra. dengan tatapan yang masih mengarah ke Laras.


Sebelum melanjutkan cerita, Laras menghela napas panjang dan menggigit bibir bawahnya, membuat Ibra tambah geregetan.


Laras. Kembali memandangi Ibra. "Aku masih takut, takut mereka mencari ku," keluh Laras.


"Sekarang sudah ada aku sayang, ceritakan?" terus mengelus tangan Laras. Dengan sekilas senyuman di bibirnya.


Laras menceritakan apa yang ia alami, dari mulai keluar dari kamar sampai kembali lagi. Laras cerita tak sedikitpun ada yang terlewatkan. "Begitu ceritanya," ungkap Laras kembali menunduk.


Ibra mengepalkan tangannya. Marah, kenapa pemuda itu berani sekali mengganggu istrinya? mengeratkan giginya. "Awas, kalian akan berhadapan dengan ku, tunggu saja waktunya." Gumam Ibra sambil menonjok kepalan tangan ke tangan satunya.


Ibra mengambil tisu basah yang ada di meja. Ia lap tangan Laras yang katanya tadi di pegang pemuda itu, pipi juga tak luput dari belaian tisu basah itu.


"Aku sudah cuci dan berwudhu tadi," ucap Laras menatap sendu ke arah Ibra yang membuang tisu ke tempat sampah.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Lagi-lagi suara pintu di ketuk dari luar, Laras menggenggam tangan Ibra. Ia sangat ketakutan kalau itu ....

__ADS_1


****


Mana suaranya yang tetap setia menunggu ku up? makasih banyak ya? semoga Allah membalas segala kebaikan kalian semua. Terus dukung aku ya, agar semakin semangat lagi.


__ADS_2