
"Ck ck ck. Siapa sih? ganggu saja," gerutu Ibra sambil beranjak mendekati pintu.
Blak!
Pintu Ibra buka! Susi berdiri membawa dorongan berisi beberapa menu masakan buat makan malam Ibra dan Laras. Ibra menatap tajam kearah Susi yang mengangguk hormat.
"Malam. Tuan?"
"Siapa yang suruh kamu ke sini?" ucap Ibra sambil melipat tangan.
"Hehehe, bu Rika yang nyuruh. Katanya ini buat makan malam Tuan sama nyonya muda." sahut Susi sambil celingukan melihat-lihat ke dalam.
"Sini! saya saja yang bawa, mengganggu saja." Mengambil dorongan itu dan membawanya ke dalam kamar.
Brugghh!
Pintu di tutup membuat Susi memejamkan mata, karena pas di depan muka Susi.
Ibra membawa makan malam ke dekat Laras. "Makan malam sudah siap."
"Siapa yang ngantar? kenapa Tuan yang bawa!" tanya Laras heran kenapa Ibra sendiri yang menyiapkannya di sini.
"Susi, saya gak mau ya ada yang ganggu ketika sedang berdua. Eh ... maksud saya, biar kamu istirahat dengan baik," meralat ucapannya.
Laras tersenyum mendengarnya. "Tuan, jangan repot-repot. Aku bisa sendiri kok," sambil menggeser duduknya.
"Jangan! kamu duduk saja di situ." Ibra memegang piring berisi makam malam dan menyuapi Laras.
Laras bengong, tidak menyangka kalau Ibra akan menyuapinya. "A-aku bisa sendiri Tuan." Laras berniat mengambil piring nya.
"Sudah, kamu diam saja, biar saya yang suapi. Jangan keras kepala sama suami," ketus Ibra sambil memasukan sendok ke mulut Laras yang akhirnya di buka.
"Tapi ... Tuan? saya gak enak! di suapi Tuan." Laras mulai mengunyah.
"Biasanya kau yang suapi saya, sekarang saya yang gantian. Apa salahnya?" sambil makan juga sepiring berdua.
Laras mesem-mesem. Hatinya menghangat menerima perlakuan yang romantis seperti ini dari Ibra.
"Jangan mesem-mesem cepetan makan, apalagi sekarang kamu lagi berbadan dua jadi harus cukup nutrisi agar keduanya sehat. Saya gak mau ya? kalau sampai baby saya ke napa-napa. Kamu juga," ungkap Ibra.
"Apa? aku juga! gak boleh ke napa-napa maksudnya?" tanya Laras ingin memastikan yang ia dengar.
"Bu-bukan, maksud saya baby nya!" elak Ibra sambil membuang wajahnya.
Jawaban Ibra bikin hati Laras menciut. Ibra terus menyuapi Laras sampai makannya habis. "Kamu banyak juga makannya?" kata Ibra sambil menyimpan piringnya dan mengambil gelas minum.
"Katanya harus makan banyak? biar banyak nutrisi, tapi makan banyak, diomongin. Gimana sih? heran aku," sampai meneguk minumnya. Kemudian cemberut.
"Iya, iya ... jangan cemberut gitu." Ibra menjepit pipi Laras dengan jarinya. Lalu Netra mata mereka pun bertemu saling menyelami hati masing-masing.
__ADS_1
Rik, rik, rik ... suara putaran jam di dinding. Netra mata Ibra bergerak ke bibir merah jambu Laras. Perlahan tapi pasti wajah Ibra mendekat, mata Laras terpejam. Namun segera membukanya kembali.
"Tu-tuan, saya mau salat isya dulu. Tuan," bergegas menurunkan kakinya ke lantai.
Ibra menarik wajahnya dengan rasa kecewa, ia hanya menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Karena tergesa-gesa. Laras terpeleset dan tubuhnya hampir ambruk. "Aa ...hh," pekik Laras. Namun kebetulan dengan gesit. Ibra menyangga tubuh Laras yang oleng.
Sementara waktu keduanya saling pandang, tangan Ibra merangkul pinggang Laras erat. "Lepas. Tuan," suara lirih Laras setelah berdiri tegak.
"Oh, iya." Ibra melepaskan tangannya dari pinggang Laras. "Sudah, pergi sana?"
"Tuan ... bagai mana saya bisa pergi? kalau tangan--" netra mata Laras bergerak pada tangannya yang di pegang Ibra.
Ibra segera melepaskan genggamannya. "Sorry."
Laras barulah pergi ke kamar mandi. Tidak lupa mengunci pintunya takut Ibra masuk.
Sementara Ibra, mengeluarkan bekas makan ke luar kamar. Biar diambil oleh asistennya. Kemudian ia berbaring di kasur yang empuk itu, dengan tangan di bawah kepala dan mata memandang langit-langit. "Oya, malam ini aku akan memberinya kejutan."
Telepon ....
Telepon ....
Telepon ....
Suara dering ponsel Ibra berbunyi. "Ck ... siapa sih?" gumamnya.
"Tuan, nyonya Yulia ngamuk. Sambil membereskan barang-barang dari kamarnya." ucap bu Rika dari sebrang.
"Iya, urus saja. BuRik, bereskan semua barangnya, biar diangkat semua, semua asisten kerahkan semuanya, bantu dia. Dan jangan ganggu saya lagi, mau istirahat!" jelas Ibra, kemudian menutup teleponnya.
Lantas memejamkan matanya. "Ada ... saja gangguannya. Kalau mau istirahat.
Laras keluar dari kamar mandi. Melihat Ibra sudah tertidur. Laras mengambil mukenanya, menjalankan salat isya terlebih dahulu. "Ya ... Allah, kok suami ku gak salat ya? padahal dia muslim. Bukalah mata hatinya, tunjukan jalan yang lurus padanya. Bagaimana pun dia suami ku, jadikanlah dia imam yang baik untuk keluarganya. Aamiin," doa Laras setelah selesai salat. Kemudian menoleh ke arah Ibra yang sedang terpejam.
Kemudian Laras mengoleskan salep ke kakinya yang luka biar cepat sembuh, setelahnya mendekati tempat tidur. Perlahan naik dan berbaring di sebelahnya Ibra, menarik selimut sampai menutupi dada.
Sementara waktu! Laras memandangi wajah suaminya yang tampan. Namun segera memalingkan pandangannya setelah wajah Ibra bergerak memutar mengarah pada Laras. Jantung Laras berdegup kencang, melihat wajah Ibra dengan sempurna di depan mata Laras.
Laras menghela napas dalam-dalam. Kemudian memiringkan badannya menghadap dinding, memunggungi Ibra.
"Huuh ..." membuang napasnya secara kasar. Laras memejamkan mata setelah membaca doa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 menit. Ibra terjaga. Menggosok mata dan memicingkan nya, lihat kanan dan kiri. Laras yang tidur memeluk guling begitu pulas. Ibra tersenyum penuh arti.
Ibra turun dari tempat tidur, setelah mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia keluar dari kamar Laras perlahan menutup pintu, bergegas menuju kamarnya, namun sebelumnya Ibra ke dapur untuk melihat apa bu Rika ada di sana?
Kebetulan, Bu Rika dan Susi sudah bangun dan berada di dapur. "BuRik, sudah bangun?" tanya Ibra.
__ADS_1
"Sudah. Tuan! baru saja." Rika menjawab dan Susi mengangguk.
"Kalau gitu, siapkan saja. Saya mau ke kamar sebentar." Ibra membalikkan badannya menuju kamar pribadi miliknya.
Bu Rika dan Susi menyiapkan yang Ibra perintahkan. Bu Rika mengeluarkan kue tar ulang tahun ukuran besar nan cantik, yang bertuliskan. Happy birthday To Larasati!
"Apa cuma kita bertiga saja yang merayakannya Bu?" tanya Susi sambil menatap bu Rika.
"Iya, mungkin. Kita saja yang merayakannya, siapa lagi?" sahut bu Rika.
"Kali aja, bu Dian. Atau siapa gitu?" tambah Susi.
"Nggak tahu juga."
Ibra yang sudah sampai di kamarnya, mengambil sebuket bunga mawar merah dan putih. Diselipkan kotak kecil yang dia ambil dari dalam laci.
"Semoga dia suka dengan kejutan dari ku. Dan ini memang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. Bukan karena sekarang dia hamil anak ku," gumamnya sambil memperhatikan bunga itu, terlukis sebuah senyuman di bibirnya.
Kemudian kembali keluar. Setelah menutup pintu, berjalan membawa buket bunga nan indah itu ke kamar Karas.
Selang beberapa lama. Ibra sudah berada depan pintu kamar Laras, bersama bu Rika dan Susi.
Ibra melihat jam di tangannya. Sudah menunjukkan pukul 23.55 menit. "Ayo masuk?" membuka pintu perlahan.
Laras masih tidur pulas di tempatnya, masih di posisi yang sama juga. Ibra duduk di tempatnya tidur, perlahan tangannya menyentuh bahu Laras lalu digoyangkan nya pelan. "Bangun Nona?"
Ia masih tak bergeming. Susi dan bu Rika berdiri di tepi tepat tidur Laras.
Ibra kembali menggoyangkan bahu Laras. "Hi ... bangun."
"Em ... ada apa. Tuan? ngantuk nih," sambil menggeliat dengan mata masih terpejam.
"Buka dulu matanya," suara berat Ibra di dekat telinganya.
"Jam berapa nih. Tuan? aku ngantuk banget." Laras tetap memejamkan mata sekalipun terus menggeliat.
"Cek cek, susah baner bangunnya? bangun dan buka mata mu cepetan!" bisik Ibra di dekat telinga Laras.
Akhirnya Laras membuka mata, remang-remang. Ia melihat dua bayangan berdiri depan dirinya. Laras menggosok matanya berkali-kali, pas buka mata setengah sempurna, Ia melihat sebuket bunga mawar yang indah.
Laras sangat terkejut. Ibra memberikan bunga padanya, netra mata Laras bergerak ke bunga dan ke Ibra. "Apa ini Tuan?"
"Ambil?" lirih Ibra dibarengi gerakan matanya.
"Beneran? buat saya!" masih belum percaya. Rasanya seperti mimpi, lalu mengedarkan pandangan pada bu Rika dan Susi yang berdiri di ujung tepi tempat tidur.
"Selamat ulang tahun? selamat ulang tahun Nyonya ... semoga panjang umur, sehat. Tambah cantik dan baik hati!" ucap kedua asisten mension itu.
Laras sungguh terharu sampai-sampai meneteskan air mata ....
__ADS_1
,,,,
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya.