
"Permisi ..." suara pemuda itu.
Semua mata tertuju pada siapa yang datang, Bu panti langsung berdiri dan menyambutnya kedatangannya yang masih berdiri di pintu. "Nak Jody ... masuk, Nak, masuk."
Bu panti begitu ramah dan menuntun Pria muda yang di panggil Jody itu. Masuk dan berbaur dengan Laras dan anak-anak.
"Laras, kenalkan. Dia ... Nak Jody dari Semarang, donatur panti ini." Bu panti mengenalkan Jody pada Laras.
Laras mengangguk dan sedikit terkesiap. Berasa sudah ketemu, tapi entah di mana? Sambil mengernyitkan kening, Laras melempar senyumnya.
Begitupun Jody mengulas senyum dan mengulurkan tangannya sambil berucap. "Jody."
Laras sambut uluran tangan Jody begitu saja. "Laras."
Kemudian Jody menghampiri anak-anak untuk bersalaman.
Ibra yang merasa penasaran dengan siapa yang datang, ketika Jody bersama anak-anak panti, jelas melihat pria tersebut.
Hatinya mulai merasa panas, seolah ada api yang berkobar membakar. Apalagi barusan terlihat, Laras tersenyum dan berkenalan. Bahkan berjabat tangan dengan pria tersebut. Di tambah Laras diam saja tidak mengajaknya bicara lagi. Melihat Jody duduk di sofa yang sama dengan Laras, lengkap sudah derita hati Ibra yang terbakar cemburu.
Ibra mematikan sambungan VC nya, kemudian di sambung lagi. Laras yang melihat ponselnya mati segera menyimpan ke dalam tas nya. Namun detik kemudian telepon masuk, siapa lagi kalau bukan Ibra.
"Ada apa lagi sih?" Laras dengan malasnya.
"Cepat pulang?" ketus Ibra.
"Tapi ... aku baru saja datang. Belum bertemu anak-anak yang lain, mereka masih belajar," ujar Laras menolak tuk cepat pulang.
"Pokonya, pulang sekarang." Bicara Ibra penuh penekanan. Membuat Laras lesu, padahal ia ingin sebentar lagi, karena ingin bertemu anak-anak panti yang lain yang sekarang ini masih di luar.
Laras menyimpan ponsel lalu pamit pulang. "Bu, aku pulang dulu ya?"
"Kok, kenapa cepat? baru datang juga, belum makan dan kamu belum ketemu anak-anak yang lain," bu panti menatap heran.
Dengan lesu Laras menjawab, "Lain kali saja , Bu. Aku datang lagi," ia berdiri dan menyoren tas nya.
Jody menatap ke arah Laras. "Pulangnya kemana? biar saya antar!" menawarkan jasa sambil berdiri.
"Oh, tidak. Terima kasih, aku bisa pulang sendiri." Laras bergegas pergi setelah pamit pada anak-anak juga.
Mata Jody terus memandangi punggung Laras, senyumnya terus mengembang dan tak hilang dari bibirnya.
"Nak Jody, jangan terlalu betah melihatnya, nanti jatuh cinta?" goda bu panti.
Suara bu panti membuyarkan lamunan Jody. "Ah, Ibu bisa saja, benar! sepertinya saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, Bu," jawab Jody tanpa ragu.
Bu panti sebentar terdiam, kemudian menghela napas dalam-dalam. "Laras sudah menikah, tapi biarlah, toh katanya cuma menikah kontrak. Menurut istri tua nya. Jody juga orangnya baik, aku yakin itu. Semoga mereka berjodoh kelak," batin bu panti.
"Bu, kok melamun?" tanya Jody, sebab bu panti hanya melamun.
****
Laras memasuki mobil dengan hati dongkol, sangat kesal pada Ibra. Baru saja datang, sudah di suruh pulang aja, Laras menangis sebagai luapan kekesalannya pada Ibra. Beberapa kali telepon dari Ibra ia abaikan.
Duduk bersandar pandangan tembus jendela, matanya terus mengalirkan air mata yang terasa hangat di pipi.
Sesekali pak Barko melihat dari kaca spion keadaan majikannya. Karena Laras tidak mengangkat teleponnya, pak Barko pun kena sasaran Ibra untuk menanyakan sang istri.
__ADS_1
"Halo Tuan, iya. Ini menuju pulang."
Laras yang mendengar percakapan pak Barko hanya melirik malas, kemudian kembali melepas pandangan ke luar dimana jalanan ramai dengan kendaraan lainnya.
Laras sudah sampai di mension, ia langsung menyendiri di kamar. Bu Rika yang penasaran, langsung menanyakan pada pak Barko.
Pak Barko cuma bilang. "Mungkin ada masalah sedikit sama tuan, makanya nyonya seperti itu."
"Oh, ya sudah, makasih Pak?"
Pak Barko pergi meninggalkan bu Rika yang berdiri di lobby. Kemudian bu Rika juga kembali masuk ke tempat lain.
Laras yang menyendiri di kamar masih saja merasa gondok, kesal yang berkepanjangan. Ia meringkuk di dalam selimut, hatinya berkecamuk kesal, marah dan akhirnya menangis.
"Nyonya muda, baiknya anda makan siang dulu," suara pekikan Susi dari balik daun pintu.
Laras malas untuk menyahut, ia biarkan Susi terus memekik. Semakin mengeratkan selimutnya, memejamkan mata, tidur.
****
Di sebuah cafe, Mery sedang berbincang dengan seorang pria yang bersamanya ke bali itu, Duduk mereka begitu berdempetan seperti pasangan kekasih.
"Kau harus bisa mengambil harta Ibra sebanyak-banyak, apalagi kalau kamu hamil hampir semua hartanya akan jatuh pada anak mu." Ujar pria tersebut.
"Iya, sayang, aku bodoh banget. Kenapa tidak dari dulu saja hamil, mungkin saat ini aku sudah tinggal menunggu senang saja," sahut Mery.
"Tenang saja, tak ada kata terlambat. Sekarang juga bisa memulainya. Kau akan hamil!" menatap penuh maksud tertentu.
"Tapi, sayang. Kalau aku hamil sekarang ini, itu bukan anak dari Ibra, karena aku sudah lama tidak di sentuh oleh suami ku. Ini pasti anak kamu, sayang." Mery cemas.
"Gimana kalau ketauan, bahwa anak yang aku kandung ini bukan anaknya?" tanya Mery semakin cemas.
"Hi ... kamu belum hamil sayang, kau sudah cemas tingkat tinggi saja. Santai ... kita akan pikirkan seiring berjalannya waktu," ucap Hadi sambil mengecup bibir Mery yang menantang itu.
Hadi memeluk dan berbisik. "Nanti kalau suami mu pulang, usahakan kamu bisa tidur dengannya," bisik Hadi.
"Gampang. Kalau cuma tidur saja, memang dapat jatah lah, orang aku istrinya," sangat percaya diri.
"Dasar kepala udang, kau cantik tapi otaknya kosong." Gumam Hadi pelan. Namun terdengar jelas di telinga Mery.
"Apa sayang?" tanya Mery.
"Em ... maksud aku. Kalau dia pulang, usahakan kamu tidur dan melakukannya, gitu maksud aku." tambah Hadi.
"Oh, iya sayang, aku ngerti." Meri mengangguk.
"Gimana kalau kita cari penginapan? kita bersenang-senang lagi." Ajak Hadi mencumbu Mery.
Mery yang hanyut dengan setiap sentuhan Hadi semakin menikmati. Dan seakan lupa bahwa dirinya mempunyai suami. "Boleh."
"Oke! kita akan bersenang-senang semalaman. Mau, Kan?" ajak Hadi menghipnotis Mery dan Mery hanya mengangguk saja.
****
Ibra di kantornya terus uring-uringan. Hatinya masih terasa panas terbakar api cemburu pada Laras, puluhan kali telepon darinya Laras abaikan. "Aku harus selesaikan kerjaan ku hari ini juga, agar segera pulang."
Ia segera melanjutkan kerjaannya. Sampai sore menjelang, Ibra kembali menyambungkan VC dengan Laras, yang akhirnya diangkat juga. "Alhamdulillah ... kemana saja sih kamu ha?"
__ADS_1
Laras yang sedang duduk di kursi balkon tampak lesu dan matanya sembab. "Tidur."
"Kamu kenapa? matamu sembab gitu, habis nangis apa?" sambung Ibra penasaran, sebab Laras tidak menjawab pertanyaannya.
"Nggak ke napa-napa," tampak malas bicara.
"Apa ... kamu merindukan ku?" goda Ibra.
Laras menoleh, kemudian melotot dengan sempurna. "Aku kesal, kamu sudah menyuruh ku pulang, padahal baru saja sampai. Aku tuh belum bertemu dengan anak-anak yang lainnya." Gerutu Laras.
Ibra tertawa, "Dasar manja, gitu saja nangis. aku kira karena ingin masih bersama pemuda itu?" gumam Ibra di akhiri dengan memajukan bibirnya cemberut.
"Kamu, bilang apa?" tanya Laras menatap tidak suka.
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa, jadi kamu marah? aku suruh pulang? kalau mau marah ayo marah." Tantang Ibra sambil menyeringai.
"Kamu itu tidak adil, istri mu diberi kebebasan di luar, sampai tidak sempat mengurus kamu. Aku, yang ketika kamu tidak ada saja, aku masih tidak diberi kebebasan juga," akhirnya Laras menggerutu juga. Sesuatu yang ingin ia ungkapkan sedari tadi siang.
Ibra malah nyengir. "Kalau kamu tidak suka dan masih ingin bertemu anak-anak, kenapa pulang juga?" tanya Ibra menatap Laras yang bermuka jutek. Ia tambah merasa gemas melihatnya.
Laras terdiam, bener juga. kenapa ia pulang. "Karena ... karena aku--" Laras tidak bisa menjawab.
Ibra menatap sendu, ingin rasanya memeluk wanitanya itu. "Kamu sudah makan?"
Laras menggeleng, ia tak habis pikir kenapa ia memang menurut sama Ibra. "Ah. Bagaimanapun Dia itu suami ku, jadi wajar kalau aku menurut sama suami." gumam Laras dalam hati.
"Makanlah, nanti anak kita kurang gizi. Kamu juga, makan sana." Suruh Ibra.
"Abang sendiri sudah makan?" melirik sekilas, lalu melihat ke lain arah.
"Aku masih di kantor. Sebentar lagi aku makan! pengennya sih, makan kamu," sambil mengedipkan mata genitnya.
Laras mencibirkan bibirnya. "Emangnya aku makanan?" ketus Laras menggeleng.
"Aku rindu kamu," gumam Ibra menatap kedua manik mata Laras. Pandangan mata mereka bertemu seolah berbicara sesuatu yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Rasanya gak tahan lagi ingin segera menumpahkan rasa rindu yang menyesak di dada Ibra. Lagi-lagi Ibra merasa kepanasan, gerah di sekujur badan. Ibra menarik dan melonggarkan dasi yang mengikat leher. Serta membuka beberapa kancing di dadanya.
Entah kenapa Laras pun merasakan hal yang sama. Namun Laras sebisanya menyembunyikan perasaan.
Ibra jadi ingat lagi tentang pria yang berkenalan dengan Laras. "Ingat, kalau ada yang ngajak kenalan. Jangan mau."
"Kenapa? cuma kenalan, bukan ngajak nikah!" sahut Laras.
Ibra terperanjat mendengar ucapan dari Laras. "Tidak, kamu adalah istri ku, dan sebentar lagi akan jadi ibu dari anak ku. Enak saja! siapa tahu dia suka sama kamu nantinya."
"Iih ... dia sendiri punya istri banyak, aku kenalan aja, tidak boleh, kamu tidak adil," ucap Laras sambil tersenyum manis.
"Ah ... itu lain cerita. Pokoknya--"
"Pokoknya apa?" tantang Laras, lagi-lagi mengulum senyumnya. "Eh, sebentar! aku buka chat dari bu panti dulu."
Laras membuka chat dari bu panti terlebih dahulu. Di ponsel yang lama milik Laras. Tumben-tumbenan bu panti chat ....
****
Assalamu'alaikum ... reader ku semua ... selamat membaca dan semoga suka! tak bosan aku ucapkan terima kasih banyak. Pada kalian yang sudah menunggu novel ini up🙏
__ADS_1