
Sementara waktu tak ada jawaban dari Dian. Mungkin Dian masih tak percaya dengan ucapan Firman.
"Kenapa diam? jawab dong," ucap Firman sambil menggeser makanan yang baru datang.
Tangan Dian pun menarik piringnya. Kemudian menatap ke arah Firman, ia tak tahu ini cuma gombalan atau memang serius. Entahlah. "Saya ini seorang janda."
"Iya, tahu." Firman mengangguk.
"Saya juga tersandung kasus adegan panas, dan saya mengakui itu memang kesalahan saya. Kesilapan yang menciptakan petaka buat rumah tangga saya di masa lalu, saya tidak bersyukur dengan yang saya miliki. Suami saya sangat sayang dan menerima apa adanya. Namun itulah, saya tidak bersyukur akan itu." Kenang Dian. Tak terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipi.
"Saya tahu itu," gumam Firman sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Mereka tak pernah menuntut sesuatu saya tak bisa berikan. Tapi saya yang ngotot, saya yang salah," hati Dian terasa sesak. sakit, sedih dengan apa yang pernah terjadi.
"Saya juga tidak akan menuntut apapun sesuatu yang kamu tidak mampu." Tangan Firman terulur mengusap punggung tangan Dian lembut. "Kita akan membuka lembaran baru."
Dian mendongak. "Saya tak bisa punya keturunan."
"Saya sudah punya Ferdi. Kita urus dan sayangi dia sama-sama, sayangi dia seperti anak kandung mu sendiri." Jelas Firman dengan tatapan mesra.
Hening!
Netra mata Dian terus bergerak memperhatikan ke arah Permana Firmansyah. Entah apa yang kini ia rasakan, senang dan sedih. Ragu, yakin bercampur aduk menjadi satu.
Karena belum juga ada jawaban dari Dian. Firman berdiri, mendekat dan berlutut di dekatnya Dian. Dian terkesiap dan heran, apa yang akan Firman lakukan?
"Aku, Permana Firmansyah. Bertanya padamu, maukah menikah denganku? kita akan arungi bahtera rumah tangga yang bahagia, kita akan melewati semua duri-duri yang akan mengganggu kebahagian kita berdua. Bersama membesarkan putra kita, Ferdi." Firman menatap penuh harap tangannya memegang sebuah kotak kecil yang berisi cincin permata. Ia sodorkan pada Dian.
Mata Dian tertuju ke arah cincin, tak mampu berkata-kata selain meneteskan air mata haru. Sungguh tak menyangka akan secepat ini, ia hanya bisa menelan saliva nya berulang-ulang.
"Baiklah, kamu tak perlu menjawabnya. Cukup ambil cincin ini lalu kamu pakai, itu tanda kamu terima. Tapi bila kau ambil tapi tak memakainya, berarti kamu butuh waktu untuk berpikir dan Bila ... kamu sama sekali tak menyentuhnya sedikitpun. Berarti tak ada harapan sedikitpun buat ku!"
Pada akhirnya Dian mengangguk. Matanya tertuju ke ke cincin yang di tangan Firman, perlahan tangan Dian bergerak untuk mengambil atau membiarkan. Hatinya berdebar tak karuan, dengan ragu Dian mengunci tangan di satu posisi mengambang.
Jantung Firman dag dig dug. dugupnya begitu kencang, gugup dan harap-harap cemas. Kalau lamarannya akan diterima atau sebaliknya.
Jari Dian perlahan mendekati cincin tersebut. Sudah hampir tersentuh namun ia tarik kembali jarinya. Matanya beralih bergerak menatap wajah Firman yang pucat, lalu netra mata Dian kembali ke kotak tersebut. Ia ambil dan ia perhatikan.
Jantung Firman seakan mau lompat dari tempatnya. semakin tak karuan perasaannya saat ini. gelisah menunggu kepastian. Di terima atau tidak?
Dengan sangat perlahan. Dian mengangkat tangan yang kiri, ia arahkan cincin itu ke jari manisnya. Bibir Firman mulai tertarik tersenyum, walau masih tetap belum pasti di terima sekarang.
"Aku harap terimalah. Aku mohon ya Tuhan ..." batin Firman penuh harap.
"Ya Tuhan ... apa benar ini jodoh ku? apa aku bisa menjadi istri yang baik untuknya?" gumam Dian dalam hati.
Dengan cepat, Cincin itu kini sudah berada di jari manis Dian. Dengan refleks, Firman merangkul bahu Dian dan mengecup singkat kening wanita yang kini menjadi calon istrinya itu.
"Makasih sayang, makasih? kita akan segera meresmikan hubungan ini, secepatnya." Firman kembali duduk di hadapan Dian.
Dian terkesiap. Tak menyangka kalau Firman akan mengecupnya, bibir keduanya mengembang, tersenyum Bahagia. Hatinya pun berbunga-bunga, perasaan Firman dan Dian saat ini tak dapat tergambarkan dengan apapun.
"Ha? secepatnya, tidak salah."
"Iya, secepatnya. Apa gak mau? bila kita secepatnya menikah."
Dian terdiam sejenak. Dan pada akhirnya Dian pun mengangguk tanda setuju. Senyum Firman semakin merekah di buatnya. Akhirnya Dian dan Firman pun melanjutkan makan yang sedari tadi terabaikan begitu saja. Firman semakin menunjukkan rasa sayang nya sama Dian.
Ketika selesai makan, Dian memilih untuk pulang. Firman pun ikut dan sekalian menemui orang tua Dian. Bu Lodia sebagai orang tua Dian, menyambut kedatangan Firman dan Dian. Firman ingin bertemu dengan ayahnya Dian, namun karena beliau tengah berada di luar Negeri. Jadi Firman bicara dengan sang bunda saja. Firman mengutarakan niatnya untuk melangsungkan pernikahan dengan Dian secepatnya, dengan alasan biar tenang.
Bu Lodia terkejut mendengar niat Firman yang terbilang terburu-buru itu. "Apa tidak terburu-buru Nak Firman?" menatap ke arah Firman. Sangat lekat.
Firman dan Dian duduk berdampingan. Tangan Dian bertaut dan menunduk hatinya masih tak percaya akan semua ini.
"Sesuatu yang baik, seharusnya jangan di tunda-tunda Bu ... saya ingin secepatnya biar lebih tenang aja. Gak takut terpeleset he he he." Firman terkekeh.
__ADS_1
"Apaan terpeleset?" Dian mengernyitkan keningnya heran.
"Iya sih ... tapi apa kalian sudah yakin? gak akan ada penyesalan nantinya. Secara kalian belum lama kenal, Mammy takut terlalu terburu-buru gitu. Apa kamu sudah--" bu Lodia menggantung ucapannya dan menatap curiga pada Dian. Tangannya memberi kode pada perutnya.
Dian terperangah. "Maksud Mammy apa? jangan berpikir yang macam-macam ya! Aku baik-baik saja, tidak seperti yang Mammy pikirkan. Jangan curiga gitu. Mammy pikirannya ada-ada aja," ucap Dian dengan nada kesal.
"Insya Allah kami yakin. Kami akan membina rumah tangga yang lebih baik dari sebelumnya. Saya janji, akan membuat Dian bahagia selalu." Firman menyakinkan bu Lodia.
Bu Lodia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah kalau mau kalian seperti itu. Saya selaku orang tua cuma bisa mendoakan kalian yang terbaik. Itu saja!" lanjut bh Lodia. Ia beranjak dan berpindah duduk ke dekat Dian, lalu memeluk Dian.
"Mammy bahagia kalau kamu bahagia sayang, semoga ini jodoh yang terbaik untuk kalian berdua. Nak Firman punya anak ya?" melirik ke arah Firman. "Sayangi anaknya Nak Firman, setulusnya. Dan nanti kamu juga akan nyusul punya baby, Mammy sudah tidak sabar deh ingin punya cucu dari rahim kamu. Ih ngomong-ngomong baby. Mammy jadi kangen baby Satria."
Dian dan Firman saling bertukar pandangan, Firman bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah bu Lodia tidak tahu kondisi Dian? Dian menggeleng pelan.
"Mammy kalau kangen sama baby Satria datangi aja ke sana." Dian memeluk bu Lodia erat.
"Iya, Mammy mau ke sana ah. Kangen sama baby Satria." Bu Lodia membalas pelukan Dian.
Akhirnya Firman pulang menggunakan taksi online. Sementara Dian masuk ke kamarnya. Setelah mengantar Firman sampai teras aja.
Bu Lodia mengikuti sang putrinya ke kamar. "Sayang, apa kamu yakin mau menikah dengan Firman? siap jadi ibu sambung putranya!" bu Lodia duduk di sofa melihat Dian yang bersiap mandi.
"Iya, Mammy ... aku yakin dan aku sayang kok sama putranya, Ferdi. Mammy kenapa sih? Sekarang, Mammy telepon tuh si Papi. Bilang kalau aku mau nikah, biar dia pulang secepatnya.
"Baiklah, kalau begitu. Sana mandi, Mammy mau keluar." bu Lodia beranjak keluar dari kamar Dian.
Dian sendiri segera masuk kamar mandi setelah menutup pintu kamarnya. Berendam di bahthub dengan air hangat dan aroma terapi, memanjakan dirinya sejenak.
****
Pagi-pagi. Seperti biasa Laras sedang sibuk mengurus baby boy. Mandiin, menjemur dan menidurkan kembali. Sementara Ibra masih bermalas-malasan di tempat tidur. Hari ini gak masuk kerja, mau bermain golp sama rekan-rekan kerjanya.
"Abang, belum sarapan?" Laras menghampiri setelah menidurkan baby boy di tempatnya.
"Katanya mau golp. Mau jam berapa perginya?"
"Nanti jam sepuluh," menarik tangan Laras ke dalam pelukannya. "Baby Satria sudah bobo ya?"
Laras mengangguk. Ia menempelkan dagu di dada Ibra, telapak tangan Laras mengusap pipi Ibra lembut. "Emang kenapa?"
"Hem, pengen di manja." Gumam Ibra. Mengusap punggung sang istri.
Bibir Laras menunjukan senyumnya. Kemudian mengecup pipi Ibra kanan dan kiri, serta mengecup singkat bibirnya. Ibra merasa mendapat angin segar dan sinyal yang bagus dari sang istri. Sehingga Ibra mencumbu sang istri dengan lembut.
Tangan Laras melingkar di leher sang suami. "Awas kebablasan." pinta Laras dengan suara berat.
"Iya sayang, Nggak." Timpal Ibra sambil terus mencumbu sang Istri dan tangannya terus aktif menyusuri setiap inci tubuhnya Laras. Tak ayal memberi ******* di bukit indah nan menggoda itu. Sesekali ******** nya seperti baby Satria bila sedang lapar. Terus bergantian dari yang satu ke yang lainnya. Deru napas keduanya memburu berat, dan terdengar indah di telinga.
Tangan Ibra menuntun tangan Laras ke sesuatu yang sedari tadi bangun. Ibra terus menuntun Laras agar mengikuti seperti yang ia mau. Laras pun berusaha ingin membuat suaminya bahagia, ia terus manjakan suaminya itu dengan tulus. Bibir keduanya menyatu semakin dalam, saling ******* dan ****** yang semakin menambah gairah. Di bawah selimut tebal. Keduanya sudah polos tanpa busana, namun tetap untuk yang satu itu keduanya masih mampu menahan diri. Sampai waktunya tiba.
Setelah beberapa kali mengeluarkan sesuatu. Ibra merasa lemas dan capek. Merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Nanti kalau sudah selesai itunya, kita bikin acara bulan madu ya?"
"Hem. Kemana?" tanya Laras wajahnya menempel di dada sang suami.
"Sayang maunya ke mana? pantai atau tempat wisata atau juga ke Vila," ucap Ibra, tangannya membelai rambut Laras.
"Nggak usah jauh-jauh lah. Kan sekarang sudah punya baby, gak enak kalau di tinggalkan. Setidaknya di bawa juga," kata Laras. Dengan masih di posisi yang sama.
"Iya, sayang ... baby Satria kita ajak kok. Dia itu kan anteng. Jadi gak ganggu papi dan mammy nya. Cuph! mencium pucuk kepala sang istri.
"Sudah pukul 09.00 tuh mandi sana." Laras melirik jam dinding.
"Mandi, sama-sama yu?" bisik Ibra. "Mumpung baby boy masih bobo." Tangan Ibra mengibaskan selimut itu. Turun dengan masih tubuh polos dan sekilas meraih tubuh sang istri, di gendong ala bridal style. Laras terkesiap dan melingkarkan tangan di pundaknya, menatap wajah sang suami. Bibir Laras terus tersenyum lucu, mengingat tubuh keduanya yang sama-sama polos berjalan ke kamar mandi.
Setelah berada di kamar mandi, mereka mandi bersama. Saling menggosok-gosokan sabun bergantian ke tubuh masing-masing. Kemudian membersihkan diri di bawah air shower, namun Ibra merasa tak tahan melihat yang menggantung di depannya, dengan tidak membuang waktu. Ia segera melahapnya dengan rakus. Laras menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara aneh. Jari-jari lentik miliknya meremas rambut Ibra. Suara-suara dari luar pelanet pun lolos dari bibir Ibra. Bak anak balita sedang kehausan, meneguk minumnya yang banyak.
__ADS_1
Setelah 40 menit di kamar mandi. Keduanya keluar dengan sama-sama menggunakan handuk, Laras segera mengambil pakaian buat Ibra. Ia sendiri memungut terlebih dahulu pakaian yang berceceran di lantai, membereskan selimut, bantal sampai rapi.
Ibra yang sudah rapi dan berdiri di depan cermin. Menyemprotkan minyak wangi yang baunya sampai memenuhi ruangan tersebut. Merapikan rambutnya yang kelimis itu. Melirik ke arah sang istri yang kini sudah mengenakan dress panjang rumahan motif burung terbang. Rambut terurai masih basah.
"Aku duluan, sayang aku tunggu di meja makan," ucap Ibra sambil berjalan melintasi pintu.
"Iya."
Namun baru saja selesai berdandan. Dan mau mengikuti suaminya ke meja makan. Baby boy bangun. "Wah ... bangun lagi sayang. Baby boy bangun lagi iya, lapar ya? iya lapar." Laras segera mengangkatnya dan langsung memberikan ASI-nya. Kebetulan belum membuat stok asi di botol.
Derap langkah kaki seseorang yang mendekati pintu, kebetulan pintu pun terbuka setengahnya. Timbul kepala Ibra. "Sayang?"
"Iya, ini baby boy bangun. Makan aja duluan, Abang mau pergi sebentar lagi, kan?" sahut Laras menoleh sang suami.
"Ah, malas makan sendiri." Berjalan mendekati sang istri, duduk di dekatnya. Mencium kepala baby boy.
"Eh ... cucu Oma dah bangun lagi. Sini main sama Oma. Big baby boy mau makan katanya sayang, pengen ditemani sama mammy. Yu baby boy sama Oma saja." bu Rahma menghampiri dan ingin mengambil baby Satria.
Laras pun memberikan baby boy pada omanya. Setelah merasa kenyang. "Titip dulu ya Ma ...."
Kemudian berdiri. "Yu. Makan dulu?" menoleh sang suami yang menatap sang bunda.
"Mama ngerti aja nih. Makasih Mah?" cuph mengecup pipi sang ibunda.
"Elehh ... dasar manjanya ... papi mu itu sayang ya?" lalu mata bu Rahma terbelalak tatkala melihat sesuatu di bawah temapat tidur. Menoleh ke arah Ibra dna istrinya yang hampir keluas kamar. "Sayang, itu apa di bawah yempat tidur?"
Keduanya hentikan langkah. Memutar badan, netra mata Laras bergerak pada tempat yang bu Rahma tunjukkan. Laras terkesiap kok bisa sih ketinggalan. Padahal tadi sudah ia pungut semuanya, ia segera berlari dan mengambilnya, wajah Laras merah menahan malu. Langsung ia bawa ke kamar mandi, bisa-bisanya ****** ***** miliknya tertinggal di sana. Apa coba yang bu Rahma pikirkan setelah melihat itu, jorok.
"Tumben kamu jorok sayang?" selidik bu Rahma. Pikirannya mulai traveling ke mana-mana apa lagi melihat mereka baru selesai mandi.
Ibra menyeringai. Sementara Laras menunduk malu. Dan melanjutkan niatnya untuk makan.
"Abang sih? aku jadi malu sama mamah. Malu," ucap Laras sambil memeluk tangan Ibra sambil jalan.
"Kok nyalahin Abang sih. Sayang yang kurang teliti--"
Makanya kalau istrinya kurang teliti itu di bantu dong? ini gimana! handuk aja simpan asal-asalan. Kadang pakaian kotor juga tergeletak di mana saja, kalau tak aku yang bereskan." Gerutu Laras.
"Aku sengaja sayang. Biar kamu ada kerjaan ha ha ha ..." ucap Ibra sambil tertawa. Menggeser kursi buat sang istri duduk.
"Sudah tahu, kan? aku juga bnayak kerjaan. Makasih." Kemudian Laras menuang nasi dan lauknya ke piring miliknya Ibra.
Pada akhirnya, Ibra dan Laras makan bersama. Melahap makanan yang tersaji di meja, tangan Laras mengambil segelas air putih dan lantas meneguknya.
"Sayang, gimana kalau kita nikahkan Susi dengan Zayn?" tanya Ibra pada sang istri, di sela mengunyahnya.
"Apa? aku setuju tuh. Tapi apa mereka mau sayang?"
"Pasti mau mereka. Oya, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang aku berangkat dulu ya." Ibra beranjak setelah meneguk minumnya sampai tandas.
Mendekat sama sang istri, Cuph! mencium mesra pucuk kepalanya. "Aku pergi dulu ya. Hati-hati di rumah. jagain baby boy kita."
"Iya, hati-hati juga." Laras mengikuti langkah sang suami ke teras. Dengan tangan saling menggandeng. "Cepat pulang ya?"
"Hem ... mau di kasih apa kalau cepat pulang hem?" Tangan Ibra mengusap punggung sang istri.
"Sudah ah, tuh Mas Irfan sudah menunggu. Peralatannya sudah di bawa, kan?" tanya Laras. Mengingat peralatan golp sang suami.
"Sudah sayang, sudah ada di mobil. Oke aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Ibra kembali mendaratkan kecuppan hangat di kening sang istri.
Laras melambaikan tangan ketika mobil Ibra menkauhi halaman rumah tersebut, Laras hendak masuk. Namun niat itu ia urungkan sebab ada yang datang dan ingin bertamu ....
****
Makasih banyak ya teman-teman reader semua. Semoga yang aku tulis ini dapat menghibur reader semua, dan semoga puas. Maaf atas segala kekurangannya.
__ADS_1