
"Aih ... aku malu," ucap Laras dan masih berdiri.
Namun Ibra bukannya keluar malah tanpa malu kencing di hadapan Laras yang sontak memalingkan muka ke lain arah.
Kemudian, Laras melanjutkan niatnya yang ingin pipis sedari tadi. Setelah ritual di toilet nya selesai, Ibra kembali menggendong Laras ke tempat tidur.
Tangan Laras merangkul pundak Ibra sembari menatap lekat wajah suaminya itu. "Jangan perlakukan aku seperti ini. Nanti aku jadi manja," suara Laras pelan.
Telinga Ibra hanya mendengar tanpa memberi respon apapun. Kini mereka sudah berbaring di tempat semula. Ibra kembali membawa tubuh Laras ke dalam pelukannya.
"Sayang, sepertinya lusa. Minggu malam aku akan berangkat ke Balikpapan, baik-baik ya di di rumah?"
Laras mendongak. "Jadi ya?"
"Jadi, paling seminggu di sana!" jawab Ibra sambil membelai rambut sang istri.
"Sama Dian ke sana nya?" tanya Laras menempelkan dagunya di dada Ibra. Menatap sayu.
"Em ... emang kenapa kalau ikut, sayang hem?" tanya Ibra sangat lembut.
"Ah, nggak ... nanya aja. Bagus kalau dia ikut, jadi kamu ada temennya," jawab Laras dengan santainya dan memijit hidung ibra yang mancung itu.
"Oh, kirain cemburu?" kata Ibra sambil mengembangkan senyumnya.
"Nggak," ucap Laras, menempelkan kembali pipinya di dada bidang Ibra.
"Sepertinya dia juga gak bisa ikut, sebab dia sibuk dengan kerjaannya. Kamu aja yang ikut ya? tapi di sananya juga bukan jalan-jalan, melainkan urusan kerja. Selesai, langsung pulang lagi. Terus harus ke Bandung, di sana urusanku sudah menunggu."
Laras kembali mendongak dengan sorot mata yang lelah ngantuk. "Jadi Sibuk ke luar kota?"
"Iya sayang, bulan depannya ke Surabaya dan Banjarmasin. Tapi kalau seandainya kehamilan mu sudah menginjak 9 bulan, aku akan usahakan ada di rumah untuk menjaga mu. Meskipun ada urusan di luar, mau tidak mau Zayn yang harus gantikan, biar aku yang urus kantor pusat. Gantian."
Laras menghela napas panjang. "Hem ... sibuknya? ngantuk ah," lagi-lagi menguap.
"Iya, sayang doakan aku ya? semoga lancar selalu, dan semoga selamat juga." Ibra mencium pucuk kepala Laras. "Bobo sayang."
"Aku tidak pernah lupa kok, doakan kamu," ucap Laras sambil memejamkan mata, lalu bibirnya komat kamit membaca doa mau tidur.
"Makasih sayang!"
Tiba-tiba Laras terperanjat. "Ya, ampun, aku lupa. Besok aku mau USG periksa jenis kelamin baby."
"Astagfirullah, iya sayang. Kok aku juga bisa lupa ya? aku jadi gak sabar pengen tahu jenis kelaminnya. Perempuan atau jagoan ya?"
"Nggak tau, kan baru mau cek. Abang ..." lirih Laras sambil memegang tangan Ibra yang mengusap perutnya.
"Ya, udah. Mau jam berapa berangkatnya. Biar pak Barko yang antar, tapi itupun kalau gak ngantar Dian."
"Aku bisa pergi sendiri kok, atau sama Susi. Lagian mama dan papa, pasti ikut loh," suara Laras sangat lirih.
"Oh ... baiklah. Hati-hati ya?" tangan Ibra menarik kepala Laras, lantas diciumnya mesra.
"Iya." Laras membalas rangkulan Ibra. Sembari membayangkan gimana besok, rasanya sudah tidak sabar ingin tahu jenis kelaminnya. Mata yang tadi ngantuk berat mendadak segar.
"Besok, kalau sudah sampai klinik kasih tau aku ya? Aku akan langsung meluncur ke sana, aku harus menyaksikan dan mendengar kata dokter besok," ujar Ibra kembali.
"Ah, sayang, baby nya bergerak," ucap Laras sangat antusias dan mengusap perutnya yang ada gerakan di dalam.
__ADS_1
Ibra terkesiap dan bahagia, bukan cuma ucapan dari Laras yang bilang baby nya bergerak saja. Tapi juga dengan kata panggilan sayang terucap dari bibir Laras. Ibra segara menempelkan telapak tangan di perut Laras dan merasakan tendangannya.
Senyum dari keduanya mengembang sudah. "Kalau anak ini laki-laki akan kamu beri nama apa?" tanya Laras, netra matanya menatap lekat pada Ibra.
"Em ... kalau laki-laki ... aku beri nama, Akmal Satya Ibrahim. Kalau anak perempuan, namanya ... Aamera Satya Ibrahim. Gimana? setuju gak sayang hem?" ucap Ibra dengan raut wajah yang nampak bahagia itu.
Laras menunjukkan senyum indahnya pada Ibra dan mengangguk tanda setuju. "Terserah kamu aja, aku setuju-setuju aja lah."
Jari ibra mengusap pipi Laras dengan sangat lembut. "Malam ini kamu nampak cantik sekali sayang," dengan tatapan penuh damba.
"Emangnya malam-malam yang lain aku gak cantik ya?" membalas tatapan Ibra sejenak, lalu menundukkan kepalanya.
"Cantik, selalu cantik malah." Timpal Ibra dan mengangkat dagu Laras. Biar mendongak dengan sempurna.
Laras mendongak, namun pandangannya tetap ke bawah. Ibra segera mengecup kening, pipi Laras penuh kehangatan. Berakhir di bibirnya yang menggoda itu. Ibra ******* dan m******* dengan sangat lembut.
Tangannya pun tak tinggal Diam, bermain-main di kedua tempat terpaforit nya. Dan menanggalkan penghalangnya, kedua matanya Ibra sudah mulai dihiasi kabut gairah yang tebal.
Namun di sela-sela itu, Laras berbisik. "Apa kau melakukannya dengan Dian?" selidik Laras dengan suara parau nya.
Ibra tidak menjawab, hanya menatap lekat, manik matanya sudah di rasuki gairah yang sebentar lagi memuncak.
Laras ajukan lagi pertanyaan. "Apa kau tadi sudah bersih-bersih? setelah bergaul." Menetap, berharap jawaban.
Akhirnya, Ibra mengangguk. "Sudah sayang ... dalam keadaan begini, sempat-sempatnya kau bertanya hal itu? tentunya aku langsung bersih-bersih sayang, tahu, kan. Tadi aku salat isya?" dengan gemasnya Ibra sedikit menggigit sesuatu bagian tubuh Laras, membuat Laras memekik geli-geli nikmat.
Sehingga menimbulkan kulitnya merah. "Ah ... tuh, kan ... merah. Nggak mau," rintih Laras sambil memukul bahu Ibra dan tentunya bukan marah.
"Maafkan aku sayang, ada salep di laci yang sudah aku siapkan," bisik Ibra dengan napasnya yang memburu.
Malam yang semakin larut, ditambah lagi di luar hujan gerimis. Menambah suhu malam bertambah dingin dan sangat cocok suasananya untuk mencari kehangatan, itupun bagi yang sudah memiliki pasangan. Kalau tidak ada pasangan, cukup selimut dan guling saja lah he he he!
Istirahat sebentar, mulai lagi. Benar sudah menjadi candu untuk Ibra. Gak puas satu atau dua kali saja, tak tanggung-tanggung sampai-sampai menghabiskan waktu dua jam untuk melakukan ritual tersebut. Hingga tubuh mereka benar-benar merasa lelah. Ibra terkulai lemah di samping tubuh Laras. Yang juga kelelahan, badan terasa lengket sekali.
Ibra, mengecup kening, pipi. Kanan dan kiri. "Makasih sayang," Bisik Ibra di telinga Laras yang memejamkan matanya.
Akhirnya dalam waktu singkat, Ibra sudah tertidur lelap. Saling memeluk satu sama lain. Namun Laras masih terjaga, tidak segera dapat tidur. Netra matanya menatap wajah Ibra yang tampan, meskipun di bawah sinar lampu yang temaram. Tapi terlihat jelas.
****
Pagi-pagi buta Laras sudah terjun dan berkutat di dapur. Tidak serta merta membiarkan Susi menyiapkan sarapan sendiri. Sebelumnya Laras sudah mengurus Ibra lebih dulu, dari mulai mandi dan berpakaian. Merapikan diri, Selesai itu Laras langsung ke dapur.
Di meja, sudah tersedia copi hangat yang wangi kopinya menyeruak ke rongga hidung. Ibra datang dan duduk di kursi yang sekiranya menghadap kopi.
"Hem ... wangi kopinya." Ibra mencium wangi dari kopi.
"Pagi sayang?" sapa bu Rahma dan pak Marwan menghampiri meja makan. Bu Rahma membuatkan kopi lebih dahulu, buat sang suami.
"Pagi, Mah ..." Ibra mengukir senyuman pada kedua orang tau nya. "Oya, Papa dan Mama, hari ini gak ke mana-mana, kan?"
"Nggak, kenapa sayang?" tanya bu Rahma, kemudian melirik ke arah suaminya.
"Itu, tolong antar Laras ke klinik. Nanti aku nyusul ke sana." Ibra menatap serius pada kedua orang tua nya.
"Oh, iya ... mau USG, kan? tentu doong, kami ikut ya Pa?" Melirik pak Marwan juga.
Laras tersenyum sambil melirik suami dan sang mertua yang mengobrol.
__ADS_1
"Aku sibuk, mau adakan rapat. Nanti siang. Besok malam mau! terbang ke Balikpapan, doakan Aku ya?" ucap Ibra kembali sambil nyeruput kopinya.
"Oh, iya ... kami pasti doakan buat kebaikan kalian. Kelancaran usaha mu juga." timpal bu Rahma dan pak Marwan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan sang istri barusan.
Kemudian mereka sarapan bersama, Ibra tampak lapar sekali. Habis semalam capek bekerja keras, membajak sawah yang sebentar lagi membuahkan hasil. Diam-diam Ibra mesem-mesem sendiri bila mengingatnya.
"Hi ... pagi, aku gak terlambat kan?" suara seseorang yang baru datang.
Semua terkesiap, melihat orang yang tiba-tiba muncul di tempat itu. "Kau ini, gak bisa ya mengucap salam dulu dari depan. Ketuk ke, jangan tiba-tiba muncul saja." tegur Ibra pada Zayn yang menarik kursinya.
"Ah ... kelamaan. Sus ambilkan piring, saya lapar nih," Melirik ke arah Susi yang sedang mencuci wajan.
"Tuan Zayn itu seperti siluman, tiba-tiba datang." Timpal Susi sambil membawa sebuah piring untuk Zayn.
"Pagi, tante, Om. Nyonya muda, saya numpang sarapan bolehkan?" Zayn melihat orang tua Ibra dan Laras bergantian.
"Pagi juga, Nak Zayn. boleh ayo ambil sarapannya." Bu Rahma menyodorkan piring yang berisi masakan.
"Ayo, makan Zayn," pak Marwan menunjuk makan.
Laras menunjukkan senyumnya pada Zayn. "Silakan, kalau kurang. Nanti Susi bikinkan lagi."
Tidak buang-buang waktu, Zayn langsung mengiri piringnya dengan beberapa menu. Kemudian Zayn melahapnya.
Ibra, menghabiskan makannya. Hingga yang tersisa piringnya aja, lalu meneguk minumnya sampai tersisa setengahnya dan Laras meminumnya.
Sambil beranjak dari duduknya Ibra berkata. "Aku mau ambil jas ku."
"Biar aku saja yang ambil," Laras berdiri mengikuti langkah Ibra yang lebar.
Keduanya masuk ke dalam kamar, Laras ambilkan jas miliknya Ibra, tadi ia lupa siapkan. Laras membantu mengenakan dan merapikannya.
"Hari ini aku akan merindukan mu," ucap Ibra menatap pemilik wajah cantik itu.
Netra mata Laras bergerak, melihat Ibra yang menatapnya. Sambil menghela napas Laras berkata. "Besok juga ketemu lagi, kan? Kalau kamu di sini terus, apa kata Dian nanti?"
"Ya, udah. Kamu pindah lagi ya ke mension? biar kita selalu bertemu setiap hari. Mau kan sayang hem?" ibu jarinya mengelus pipi Laras.
Laras menggeleng pelan. "Nggak mau, tolong mengerti?" setengah memohon pada Ibra, kalau dirinya tidak ingin balik ke mension.
"Oke-oke," Ibra memeluk tubuh Laras sangat erat. Menumpahkan rasa rindu.
Tiba-tiba Laras memukul dada Ibra, sambil tersenyum. "Besok apaan! nanti siang juga mau ke klinik, kan? ketemu lagi lah."
"Oh, iya lupa, habis kangen terus nih." Menghujani pipi, kening. Kepala dengan ciuman kecilnya.
"Ih ... sudah ah, bosen." Pinta Laras yang menjauhkan dirinya.
"Apa, bosan? awas ya kalau minta!" ucap Ibra menyeringai.
"Nggak, kapan juga aku minta, gak pernah tuh." Elak Laras percaya diri.
"Em ... iya sih gak pernah minta, di bibir. Kalau di hati sih pengen terus, kan? ngaku, ayo ...."
Laras mengulum senyumnya. "Ih ... sok tahu." Laras membuang wajahnya malu ....
****
__ADS_1
Terima kasih reader yang masih dan tetap setia menunggu SKM ini up. Sekali lagi terima kasih banyak, tanpa kalian siapakah aku,🙏