
Selang beberapa waktu di jalan, akhirnya mobil yang dikendarai Ibra sampai di parkiran bandara yang terletak di kota Jakarta ini.
Zayn yang sudah mengurus semua keberangkatan Ibra, menghampiri. "Heran gua ngaret mulu."
"Maklum lah, Nak Zayn. Namanya juga selalu pengantin baru, jadi melepas rindu dulu," sahut bu Rahma sambil tersenyum menggoda putra dan mantunya itu.
"Persiapan dulu, bawa bekal yang cukup. Ha ha ha ..." ucap Marwan menambahkan perkataan sang istri.
Wajah Laras berubah merah, menunduk malu. Mendengar celotehan mama dan papa mertua.
"Emangnya telat? masih ada waktu satu jam lagi juga, jangan suka bawel kaya nenek di rumah." Jelas Ibra sambil ngecek tas laptopnya.
"Ngomong-ngomong, emang Bos punya nenek di rumah? apa ... nenek Dian! ha ha ha ..." tawa Zayn begitu nikmat.
Ibra memukul bahunya Zayn. "Sembarangan. Nanti kedengaran orang nya, bisa berabe."
"Sayang ...?" suara Dian dari jauh. Setengah berlari menghampiri Ibra. Di belakangnya, pak supir membawakan koper milik Ibra. Langsung Dian memeluk dan mencium pipi Ibra kanan dan kiri.
"Kamu jahat ya? ninggalin aku pagi-pagi buta, hanya untuk bertemu dengan istri muda mu itu," gerutu Dian.
"Jahat itu, bila aku ninggalin kamu di hutan belantara. Baru namanya jahat," ucap Ibra membela diri.
"Apa bedanya, kamu mencuri waktu ku," Dian merasa kesal sedari pagi yang belum hilang.
"Apa bedanya aku tinggalin ke kamar pribadi? sama aja bukan," ungkap Ibra dengan santainya.
"Beda lah, di kamar pribadi mu satu atap dengan ku. Kamu malah kabur ke istri m--"
"Sayang, kamu mau ikut apa nganterin saja?" suara bu Rahma memotong pembicaraan Dian dan Ibra.
"Oh, iya Mah ... eh tidak, aku sedang sibuk di kantor jadi gak bisa temani Ibra." Menoleh bu Rahma sekilas.
"Oh ... kirain Mama mau ikut, temani Ibra."
"Nggak," Dian melirik ke arah Laras yang berdiri tidak jauh dari tempatnya Ibra berdiri.
Tangan Dian memeluk tangan Ibra, berdiri diantara Ibra dan Laras. Laras agak menjauhi dan duduk di sebelah bu Rahma.
Laras menundukkan pandangannya, ketika Dian bergelendotan pada Ibra. Ia mengambil ponsel dan bermain games.
Zayn mengurus surat-surat untuk keperluan Ibra di loket, Ibra pun mengikuti. "Siap Bos? berangkat sekarang."
"Siap aja," sahut Ibra sambil melihat jam di tangannya.
Kemudian Ibra menghampiri kelurganya untuk berpamitan. "Ma, Pa ... aku berangkat dulu." Sejenak memeluk sang ayah.
"Iya, hati-hati. Mama dan Papa juga besok lusa pulang ke belanda," ucap pak Marwan.
"Hati-hati ya sayang, cepat pulang juga. Kasian Laras gak ada siapa-siapa," ungkap bu Rahma pelan. Menatap dalam sang putra.
"Iya, Ma. doakan saja." Ibra mengangguk pelan dan memeluk sang bunda erat.
Ibra menoleh bidadari nya yang berdiri dengan jarak satu meter. Pertama yang Ibra hampiri adalah Dian. "Sayang, aku berangkat dulu." Memeluk tubuh Dian, mengusap punggungnya lembut.
Kemudin Ibra mencium kepala dan kening Dian. Dian pun membalas pelukan sang suamu sangat erat.
"Hati-hati, cepat pulang. Aku akan sangat merindukan mu," semakin mempererat pelukannya. Lalu mencium pipi, kening. Bibir Ibra. "Em ... kangen."
Lagi-lagi Laras menundukkan kepala, tak ingin melihat adegan mesra tersebut. Hatinya memanas, namun ia berusaha tersenyum. Apalagi ketika bertemu mata dengan sang mertua dan Zayn.
Ibra melepas pelukannya pada Dian, lalu mendekati Laras yang menunduk dalam. "Hai, kenapa?" gumam Ibra sambil memegang kedua bahu Laras dan Laras membalas dengan gelengan.
Kemudian Ibra memeluk sang istri, seraya berbisik. "Aku berangkat dulu ya? jaga diri baik-baik. Jaga juga baby kita. Aku akan pulang secepatnya."
Lalu kedua tangan Ibra membingkai wajah Laras. "Aku merindukan mu, baik-baik di rumah. Besok lusa mama dan papa kembali ke Belanda."
Balasan Laras hanya mengangguk, bibirnya tak mampu berkata-kata, saliva nya tercekat di tenggorokan. Namun matanya berkaca-kaca sebagai ungkapan perasaannya.
"Sayang, aku cuman pergi ke luar kota, kok sedih? dulu waktu aku ke luar Negeri, tidak sedih." Goda Ibra sambil mencubit pipi Laras gemas.
Laras menarik ujung bibirnya menunjukkan senyum getir. Kembali membenamkan wajahnya di pelukan Ibra. Ibra menghela napas dalam-dalam, mengusap punggung Laras dan meletakkan dagu di kepalanya.
Ini kali pertama Ibra dan Laras pelukan dengan penuh haru dalam suasana perpisahan. "Kalau sayang begini, aku gak akan pergi, biar Zayn yang gantikan aku pergi." ucap Ibra sangat lirih dan mengecup kepala Laras.
Netra mata Ibra bergerak menyapukan pandangan ke keluarga yang sedang memandangi dirinya.
__ADS_1
Terutama Dian, ia termenung. Sangat nampak kalau suaminya itu sangat menyayangi madunya, begitupun Laras nampak sangat tulus, tak Dian sadari. Buliran air bening menggenangi sudut matanya. Di balik kemarahan, ada rasa haru yang menguasai hatinya, sungguh egois bila ia ingin memisahkan keduanya. Sungguh nampak benih-benih cinta telah tumbuh di hati masing-masing.
Sebuah rasa yang hadirnya karena ulah ia sendiri. Kerena perbuatannya mereka berdua jadi dekat dan saling mencintai, hati Dian mencelos. Matanya semakin berkabut putih, berkaca-kaca.
Bu Rahma mengusap bahu Dian, setelah melihat sikapnya yang nampak sedih. "Kenapa Sayang?" Ibra pasti cepat kembali untuk kalian berdua, untuk kita semua."
Dian menoleh. Membuang napasnya dari hidung, lalu tersenyum tipis.
Laras bergerak mengusap pipinya yang mengalirkan air mata, kemudian melepaskan diri dari pelukan Ibra. "Ya sudah, pergilah. Hati-hati," ucap Laras tak berani menatap mata Ibra.
Pandangan Ibra tak lepas dari wajah sang istri. Cuph! lagi-lagi kecupan hangatnya mendarat di kening dan pipi Laras, berakhir di ***** Laras. Sontak Laras memejamkan mata, setelah itu Ibra bergegas pergi menenteng jasnya yang tadi sempat ia buka. Zayn mengekor dari belakang.
Laras menatap punggung Ibra, yang bergegas berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Hati Ibra sungguh merasa berat, dulu waktu mau ke luar Negeri rasanya tidak seberat ini. Entah kerena semakin dekat dan terikat batin atau terlalu lebay? entahlah.
Bu Rahma mendekati Laras, lalu merangkul bahunya. "Sayang pulang yu? sudah malam nih."
Laras menoleh dengan tatapan sendu, lalu mengangguk dan menunjukkan senyumnya biarpun sekilas.
"Heran aku, dia cuma mau ke luar kota bukan ke luar Negeri, bukan selamanya, tapi rasanya seperti mau pergi jauh dan selamanya aja," ungkap Dian sambil menggeleng.
Laras melirik dengan tatapan tanpa ekspresi, lalu pandangannya beralih pada sang mertua. "Yu, Ma. Pa ... pulang."
Pandangan Laras kembali pada Dian. "Kak Dian bareng kita gak, pulangnya?"
"Nggak-nggak, makasih. aku bawa mobil sendiri," ucap Dian sambil membuka tas nya entah mencari apa.
Laras dan kedua mertua nya berjalan berbarengan. Menuju mobil, sementara Dian masih di belakang. Laras melamun entah apa yang ia pikirkan? yang jelas pikirannya gak tenang, hatinya resah.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh pak Marwan. Mobil Dian di belakang bersama supir, dengan tujuannya masing-masing.
Sesampainya di rumah, Laras langsung masuk kamar. Begitupun pak Marwan dan istri, merasa lelah dan rasa ngantuk sudah menghinggapi kedua padang matanya.
Di kamar, Laras terlebih dahulu menganti pakaian dengan piayama. Dalam pikirannya ngebayangin dikala Ibra bersamanya, tutur sapanya terdengar jelas di telinga. Tingkah laku nya membayang di mata, dan sentuhannya jelas pula terasa!
"Ya Allah ... aku kenapa? astagfirullah," ucapanya irih. Kepalanya menggeleng, membuang semua yang ada dalam kepala.
****
Suatu waktu, Jodi tengah memandangi sebuah Foto di tangan. Gambar seorang anak perempuan sekitara 4 5 tahun, rambut di kuncir dua pipi cabby lucu. Mengemaskan.
Ia berbaring di atas tempat tidur. dengan berbantalkan kedua tangannya di bawah kepala, sorot mata jauh ke langit-langit menerawang. "Sudah ku kerahkan juga anak buah ku untuk mencari jejakmu, ah sama aja. Tidak ada gunanya." Mengumpat kesal.
Keesokan harinya. Jodi pergi ke kantor, dengan hati yang gusar. Pikirannya masih berjubel pencarian seseorang yang samai detik ini masih belum ia temukan.
Ketika siang datang, Jodi beranjak dari kursinya. Hendak makan siang, langkah kakinya yang bergegas menuju mobil pribadinya. Namun tiba-tiba ia mengurungkan niat makan, bukannya ke tempat makan. Namun mobilnya malah melesat menuju panti.
Blugh!
Pintu mobil Zodi tutup. Setelah sampai di depan panti, langsung di sambut bu panti yang super ramah pada Jodi.
"Eh, Nak Jodi. Masuk ,Nak." Ajak bu panti pada Jodi supaya masuk ke dalam rumah.
"Iya, Bu. Apa kabar?" Jodi memeluk bu panti selayaknya pada seorang ibu.
"Baik, Nak Jodi. Silakan duduk?" menunjuk kusri yang ada di ruangan itu.
"Makasih, Bu." Jodi duduk, bu panti ngeloyor ke belakang untuk mengambil minum.
Natra mata Jodi mendapati sebuah album foto yang tersimpan di bawah meja. mulanya biasa aja, sama sekali tak ada niatan untuk mengambil atau membukanya.
Namun matanya kembali menoleh dan ada keinginan untuk mengambil dan melihat-lihat isinya. Tangan Jodi mengambil lantas ia buka, dilihatnya satu demi satu gambar anak-anak panti dari masih kecil hingga sampai dewasa. Ketika ia menemukan gambar yang menyita pandangannya.
"Nak Jodi, silakan minum." bu panti menyuguhkan segelas air teh dan tak ketinggalan kue cemilannya juga.
"Oh, ya Bu makasih." Jawab Jodi sambil menutup album tersebut. Ia simpan kembali ke tempat semula.
"Anak-anak masih sekolah ya Bu?" tanya Jodi, matanya menyapu ruangan sekitar yang sepi.
"Iya, makanya sepi. Nak Jodi gak ngantor?" selidik bu panti.
"Aku dari kantor, barusan. Gimana kalau besok, setelah anak-anak sekolah kita ajak mereka jalan-jalan ke pantai?" usul Jodi menatap bu panti dengan tatapan dalam.
"Itu ... ide bagus, Nak Jodi. Pasti mereka suka. Pasti mereka suka." Bu panti menyambut bahagia usulan Jodi tersebut.
Jodi pun terlihat senang, lalu mengambil gelas minumnya. meneguk sebagian. "Bu, saya sebenarnya mencari seorang anak permpuan yang dulunya di titipkan ke saalh satu panti. Namanya Lala, mungkin Ibu bisa bantu, atau tahu."
__ADS_1
"Panti itu banyak, Nak Jodi ... pasti sulit intuk mencari seseorang itu, tidak gampang. Apalagi tidak ada datanya sama sekali," ucapnya bu panti dengan lirih.
"Saya ada fotonya Bu, sebentar saya tunjukkan." Jodi merogoh sakunya, mengambil dompet untuk mengambil foto yang ingin ia tunjukkan pada bu panti.
Namun ponselnya, berdering. Tentunya niat mengambil foto menjadi urung. Sebentar Bu mau angkat telepon dulu." Jodi beranjak dan menggulir layar ponselnya lalu menekan ikon ijo.
"Oke, bentar lagi saya datang." ucap Jodi di telepon. Lalu ia tutup kembali.
"Bu, maaf ya? saya pulang dulu, ada urusan penting di kantor." Pamit Jodi pada bu panti.
"Loh, kok terburu-buru?" bu panti keheranan.
"Besok, saya kemari lagi untuk menjemput kalian semua." Jodi bergegas menghampiri mobilnya. Yang sebelumnya berjabat tangan dengan bu panti.
****
Di kediaman Laras. Ia sedang bersiap untuk mengantar sang mertua ke bandara. Sudah dua hari Ibra di Balikpapan, membuat Laras rasanya merindukan dia. Dengan alasan sibuk Ibra pun paling malam, sebentar melakukan vc dengan Laras.
Laras beranjak dan meninggalkan kamarnya. "Susi mau ikut gak?" tanya Laras ketika melintasi Susi yang sedang nyetrika.
"Nggak ah, kerjaan Susi masih banyak. Biar ketika aku pulang besok, gak ada kerjaan lagi," sahutnya.
"Oh, baiklah. Aku mau pergi dulu, Ma ... Pa ...?" panggil Laras.
"Iya, sayang. Kamu gak pa-pa, kan? kami tinggalkan!" tanya bu Rahma yang baru muncul dari kamar menjinjing tas nya.
"Nggak, Ma ... jangan khawatir, aku bisa jaga diri kok." Jawab Laras sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Sus, kamu pulang jangan lama-lama. Kasian Nyonya muda sendiri di rumah," pesan bu Rahma pada Susi.
"Paling satu dua hari Nyonya besar. Susi pulang, gak akan lama kok," kata Susi melirik sebentar.
"Apa tidak bisa, diundur pulangnya? nanti saja kalau Ibra sudah pulang." tambah pak Marwan pada Susi.
Susi terdiam. "Ini permintaan ibu Susi, Tuan. Dia kangen sama Susi, secara sudah hampir setahun Susi belum pulang." menjawab dengan sedikit haru.
"Oh, ya gak pa-pa kalau begitu. Pa biar aja, lagian ada bu Rika nanti yang gantikan Susi di sini," ujar bu Rahma. Lalu melirik ke arah Laras.
"Iya, gak pa-pa kok Susi kamu pasti kangen juga, kan? sama keluarga kamu. Aku akan baik-baik saja." Laras melukiskan senyumnya.
Kemudian mereka bertiga memasuki mobil Laras. "Papa aja yang bawa mobilnya."
Laras mengangguk sambil menarik bibirnya senyum. Setelah semuanya mengenakan sabuk pengaman. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Pandangan Laras tembus keluar jendela. Suasana hening kecuali suara mesin mobil yang halus terdengar di telinga. pak Marwan fokus dengan setirnya, bu Rahma juga melamun entah memikirkan apa?
"Oya, sayang. Nanti kalau lahiran mau sesar atau normal sayang?" tanya bu Rahma memecah keheningan.
Laras menoleh, sebelum menjawab ia membuang napas kasar dari hidungnya. "Maunya sih normal, Ma. Tapi ... maunya Abang sesar aja, namun gimana baiknya aja deh Ma," sahut Laras dan kembali melihat jalanan yang lumayan ramai.
"Laras cinta, kan? sama Abang," selidik mama mertua.
Seketika Laras menoleh dengan tatapan heran. "Kenapa Mama tanya itu?"
"Nggak, Mama pengen tahu aja. sebenarnya Laras cinta nggak sama putra Mama? sayang sama dia." Sambung bu Rahma.
Laras menunduk. Tangannya bertaut satu sama lain, keringan dingin pun keluar dari telapak tangannya. Bibirnya sulit ia gerakkan.
"Mama ... gak mungkin lah Laras melepas putra kita dengan berat hati, kalau dia gak cinta sama Ibra. Iya kan sayang?" Melirik Laras yang menunduk malu.
"Ah, Papa main jawab aja. Biar Laras yang jawab, Papa mengacaukan ih, Mama itu pengen denger dari mulutnya Laras sendiri Papa Marwan ..." tutur bu Rahma dengan nada gereget sama suaminya itu.
"Mama sayang ... mantu kita gak mau jawab. Jadi Papa yang bantu jawab!" sahut pak Marwan dengan tetap fokus menyetir.
Netra mata Laras bergerak melihat mama dan papa mertua bergantian. Namun tak sepatah kata pun yang ia ucapkan, sebagai ungkapan.
"Ah, Papa gak asyik!" ucap bu Rahma sambil menyandarkan punggungnya ke belakang. Ke sandaran kursi.
Pak Marwan pun terkekeh. Merasa lucu, melihat sang istri cemberut. Tidak selang lama, akhirnya sampai juga di tempat yang mereka tuju. Mereka turun dan menitipkan mobil ke tukang parkir.
Ketiganya berjalan memasuki bandara menuju loket terlebih dahulu. Nampak di bandara seseorang sedang menunggu dan melambaikan tangan pada mereka bertiga ....
****
Sudah baca belum, tambah penasaran gak? kira-kira ya🤔 ayo mana nih dukungannya, buat author semangat ya.
__ADS_1