Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Hantu kesakitan


__ADS_3

Ketiganya berjalan dan menaiki tempat tidur. Ferdi berbaring diantara Permana dan Dian.


Ferdi otaknya masih berputar, tak habis pikir dengan yang ia dengar tadi. "Pah. Tadi aku mendengar ada yang merintih dari dalam. Suara apa ya Pa?" menatap lekat.


Permana dan Dian tertegun saling bertukar pandangan. "Eh, itu-itu mungkin kamu salah dengar sayang." Jawab Permana sedikit bingung tuk jelaskan.


"Beneran Pah, Mah. Katanya ayo Pah lanjut, enak nih. Gitu Pah, yakin kok Ferdi dengar itu." Anak itu kekeh.


Dian terkejut rupanya Ferdi mendengar rintihan nikmat ia tadi, Dian menggigit bibir bawahnya sambil menatap dalam pada suaminya. Kemudian mengusap kepala Ferdi seraya mencari alasan. "Em ... suara apa ya sayang? Mama gak dengar tuh. Sebab kami kan bobo, jadi gak dengar apa-apa."


Permana mengangguk. "Iya, benar sayang. Kami gak mendengar apa pun, mungkin itu cuma suara angin saja."


"Tapi, Pah ... masa angin bisa bicara sih? angin itu ... suaranya menyiwur ... bukan merintih." Dasar Ferdi tetap tak mau mendengar alasan dari ayah bundanya.


Dian menepuk jidatnya sendiri. "Aduh ... berabe kalau kaya gini." Batinnya.


"Besok, Mama mau beres-beres di Wardrobe. Kali aja ada hantu lagi sembunyi di sana," ucap Dian sekenanya.


Ferdi terperanjat. "Apa Mah? ada hantu, di Wardrobe ada hantu yang kesakitan ya? iih ... takut." Langsung menyelimuti sampai kepalanya sampai-sampai tak ada celah sedikitpun.


"Iya, sayang di Wardrobe itu ada hantu, Mama sering dengar yang menangis di sana." Dian merasa mendapatkan angin segar.


"Aku takut Mah. Pah aku mau bobo takut." Ferdi meringkuk ketakutan.


Permana dan Dian menghela napas lega, berakhirnya pertanyaan Ferdi yang sulit mereka jawab. Permana beralih posisi dan berpindah ke dekat Dian sehingga dapat memeluknya dengan bebas, keduanya berbeda selimut dengan Ferdi. Menjadikannya leluasa satu selimut berdua.


"Sayang maaf ya? malam pengantin kita terganggu." Bisik Permana sembari mengecup kening Dian penuh kehangatan.


"Nggak pa-pa. Aku maklum kok." Balas Dian pelan juga sambil membalas yang Permana lakukan padanya.


Permana bangun dan mengecek Ferdi, apa benar sudah tidur apa belum? tuk memastikannya Permana mendekatkan wajahnya pada Ferdi lalu diciumnya penuh kasih sayang. Anak itu sudah mulai ngorok dengan teratur.


Bibir Permana tersenyum lebar, akhirnya anak itu tidur juga dan mereka bisa melanjutkan kegiatan yang menggantung tadi.


Keduanya tersenyum senang. Memulai cumbuan yang dahsyat di bawah selimut, Dian memunculkan kepalanya di permukaan selimut untuk memastikan anak itu tertidur lelap.


"Jangan di sini lah. Aku risih, takut Ferdi bangun," ucap Dian menatap cemas ke arah Permana.


"Di mana dong sayang? di tempat yang tadi lagi." Permana celingukan matanya mengitari tempat tersebut.


"Bukan apa, takutnya tiba tiba dia bangun dan melihat kita. Sedang--"


"Iya, sayang. Aku ngerti, ada kamar tamu, kan? yang di sebelah?" Permana menunjuk ke arah sebelah.

__ADS_1


"Ada, terus gimana?" tanya Dian berbisik tak tanggung-tanggung mengigit daun telinga Permana.


"Sakit dong sayang. Turun? aku mau bereskan bantal." Tangan Permana menarik tangan Dian untuk turun. Sementara ia membereskan bantal memanjang dan di pasang selimut menjadi persis orang sedang tidur.


Dian menarik dua sudut bibirnya tersenyum. Melihat kelakuan sang suami yang mengelabui putranya, Dian tertawa namun tak bersuara takut ganggu yang tidur.


"Aman ..." Permana menuntun tangan sang istri keluar kamar. Mereka berdua berjalan mengendap-ngendap biar semua berjalan dengan baik. Keduanya bercumbu di kamar sebelah, tidak lupa mengunci pintu.


Tangan Dian melingkar di pundak Permana. Mereka saling tatap dengan tatapan dalam dan penuh damba.


"Mulai sekarang?" bisik Permana di telinga Dian.


Dengan cepat Dian menanggapi dengan anggukan. Dia pun sudah tak sabar untuk lagi mereguk nikmatnya, kegiatan olah raga malam bersama suami.


Dinginnya malam semakin mendorong sepasang suami istri itu mencari kehangatan. Memanaskan tubuh yang butuh selimut hidup.


Di bawah selimut Dian begitu agresif. Menyeimbangkan gerakan Permana yang begitu tergila-gila dengan tubuh Dian dan membuatnya mabuk candu yang Dian tebarkan.


****


Suatu hari di kediaman Ibra dan Laras. Tepatnya di Mension, tampak riuh dengan keberangkatan Ibra sekeluarga ke Bali nanti siang.


Susi sudah menyiapkan koper-koper milik majikannya tuk di bawa ke lobby, biar supir yang masukan ke mobil.


"Ikutlah. Masa nggak!" sahutnya ketus.


"Kalau mau ikut kenapa penampilan mu seperti itu?" ucap Zayn sambil mengamati penampilan Susi yang masih semrawut.


"Aish ... berangkatnya juga nanti pukul dua. Sementara sekarang baru pukul 09. masih pagi kali ah masih lama." Susi memajukan bibirnya ke depan.


Zayn menggeleng. Lalu berjalan mencari keberadaan Ibra sang majikannya. Ke lantai atas, Susi pun mengikuti dari belakang.


"Ngapain mengikuti ku?" tegur Zayn menoleh ke belakang.


"Ih, GR banget sih. Siapa yang mengikuti Tuan Zayn? aku tuh mau ke lantai atas. Enak saja bilang mengikuti." Susi mendahului.


Namun tangan Zayn menangkap pergelangan Susi yang langsung Susi tepis.


"Apaan sih pegang-pegang? bukan muhrim tahu."


"Siapa juga pegang-pegang? iih ... GR sekali sih." Seraya berjalan di depan.


"Aku duluan? aku kan cewek!" tangan Susi menarik kemeja Zayn dari belakang.

__ADS_1


"Enak saja. Aku yang duluan," kekeh Zayn berjalan dengan langkah lebar mendahului Susi.


"Dasar. Bukannya mendahulukan wanita? egois." Susi berdiri menatap punggung Zayn sambil terus menggerutu.


Ibra sedang di Raung olah raga bersama sang istri yang sedang senam kegel. "Sayang. Nggak ada barang yang ketinggalan lagi kira-kira."


Laras menoleh. "Nggak kayanya. Semua sudah dibawa, lagian yang banyak itu barangnya baby boy. Punya ku cuma beberapa potong saja."


"Tak apa lah, di sana bisa beli. Lagian gak usah banyak pakaian yang panjang sebab kita akan lebih mengabiskan waktu di kamar saja." Lanjut Ibra sambil berolah raga.


"Apaan? ngapain jauh-jauh ke Bali Tuan, kalau cuma di kamar saja. Sudah aja di rumah gak harus keluar biaya juga, kan?"


Ibra menghampiri. "Bedalah sayang ku, suasana yang akan. terasa berbeda. Walau di kamar, kita bisa melihat pemandangan yang indah. Laut juga yang terbentang, burung menari dan bernyanyi. Sementara kita berdua memadu kasih tanpa ada yang menggangu seorang pun." Ibra merangkul tubuh Laras dari belakang.


Ibra membuang napas ke ceruk leher Laras menyapu rata kulit leher sang istri. "Kita akan banyak menikmati waktu hanya berdua sayang." Bisik nya.


"Apaan? kita gak bisa begitu saja membiarkan baby boy sama mereka dong Tuan ... anak itu tanggung jawab kita loh." Memegang tangan yang melingkar di perutnya.


"Iya ... aku tahu itu. Tapi setidaknya baby boy itu anteng sayang. Gak pernah mengganggu kita bercinta, justru yang lainlah yang suka mengganggu kita bikin bete dan mood ku turun saja."


Laras tersenyum manis dan melepas pelukan sang suami. Namun Ibra tak mau melepaskan malah memutar tubuh sang istri agar berhadapan dengannya.


"Aku mau mandi dulu ya?" Laras hendak pergi.


"Tunggu dulu?" Ibra menarik kembali dan mendekapnya erat. Menaikan wajah Laras supaya mendongak. Kemudian perlahan tapi pasti wajah Ibra mendekat, dan mendaratkan kecupan lembutnya di bibir Laras.


Laras memundurkan kepalanya. "Malu. Nanti ada yang lihat."


Tangan kekar Ibra menarik tengkuk Laras dan menguncinya. Agar tak terlepas lagi. "Ini tempat tertutup sayang. Gak akan ada yang melihat kita."


Ibra kembali menikmati hidangannya. ******* ***** sang istri dengan penuh kelembutan. Setelah beberapa saat Kemudian, Ibra melepaskan sang istri. "Kita mandi bersama ya?" mengusap bibir sang istri.


"Aduh ... masih di rumah nih ... dah mesra aja. Gak seru dong nanti Di Bali nya kalau dari sekarang, ah gimana sih? sabar, tahan. Biar pas di Bali nanti kalian melakukan dengan sepuasnya, Kan pasti lebih asyik." Suara Zayn dari dekat pintu.


"Ngatur aja kau ini, terserah kau lah. Mau di mana saja juga, oh iya lupa, dianya kan belum menikah jadi belum merasakan yang kita rasakan sayang." Ibra melirik ke arah Laras.


Laras mesem menatap Zayn. "Menikah sih mungkin iya, belum. Tapi kalau hal lain sepertinya gak asing lagi. Hi hi hi ..."


Di belakang Mension. Irfan sedang meringkus seorang laki-laki yang menyelinap masuk ke area Mension tentunya tanpa di kenali dan entah apa tujuannya masuk ....


****


Hi ... apa kabar reader ku? makasih masih setia. Jangan lupa kunjungi juga "Bukan Suami Harapan" 🙏

__ADS_1


__ADS_2