
Caca masih bungkam, Belum juga memberi jawaban pada Jodi yang sudah sudah tidak menunggu. Sesekali mereka saling pandang, ingin sekali Caca mengatakan iya. Namun entah kenapa bibirnya begitu berat dan kaku untuk di gerakkan saat ini.
Tapi pada akhirnya. Caca menyiapkan diri untuk memberikan sebuah jawaban. Sejenak menghela napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan panjang. "Apa Mas, yakin ingin memperistri aku?" suaranya pelan dan sedikit bergetar.
Jodi memberikan senyumnya. "Kalau gak yakin, buat apa saya utarakan? apa kamu melihat saya main-main?" ucapan Jodi malah balik bertanya serta menatap Caca dengan lekat.
"Em, nggak sih." Pada akhirnya Caca mengangguk seraya berucap kembali. "Aku mau."
Alangkah bahagianya hati Jodi, kala mendengar jawaban yang terucap dari bibir Caca. Sorot mata Jodi berbinar, rona kebahagiaannya begitu terpancar dari wajah Jodi. "Terima kasih banyak?"
Begitupun dengan Caca, rasa bahagia terlukis indah dari matanya Caca. Walaupun matanya berkaca-kaca, menitikkan air mata bahagia. Terpupuk kembali harapan-harapan tentang masa depan. Sebagai wanita dewasa, jelas ia ingin berumah tangga seperti wanita lainnya.
Apalagi dalam Islam, menikah itu salah satu ibadah untuk menyempurnakan iman kepada Allah. Apapun yang dilakukan seorang istri dengan ikhlas terhadap suaminya, akan bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.
Kegagalan yang dulu pernah terjadi, ia anggap sebagai kegagalan yang akan berganti dengan sebuah kebahagian yang sesungguhnya.
"Gimana kalau kita pulang sekarang? kita beri kabar baik ini pada ayah. Ia pasti akan senang mendengarnya." Jodi berdiri menggeser kursinya. Begitupun Caca beranjak sambil memeluk buket bunga, pemberian Jodi.
Keduanya berjalan menuju di mana mobilnya terparkir. Sesampainya di dekat mobil, Jodi membukakan pintu buat Caca.
Caca merasa tersanjung, bibirnya tersenyum merekah. "Makasih?" setelah duduk di mobil.
"Sama-sama," balas Jodi sambil mengitari mobilnya. Ia duduk tepat di belakang setir.
Setelah sama-sama mengenakan sabuk pengaman, Jodi pun segera menancap gas melajukan mobilnya membelah jalanan yang gelap dan rintik hujan. Berhias gemerlapnya lampu-lampu jalanan, suasana malam semakin dingin. Namun lain lagi dengan perasaan dua insan yang berada si mobil ini, hatinya terasa syahdu dan menghangat, berhias ratusan bunga-bunga yang bermekaran. indahnya tak terhingga.
Sekilas Jodi melirik Caca, Keduanya saling melempar senyuman termanis mereka. Selang beberapa waktu mobil Jodi melintasi pagar rumahnya.
Keduanya turun berbarengan. memasuki rumahnya. Namun suasana sudah sepi, maklum. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib.
"Ayah mana?" tanya Jodi pada asistennya.
"Tuan, sudah istirahat. Barusan."
"Oh, Mbok Darmi?"
"Kurang, tahu." Kata asisten itu sambil ngeloyor pergi.
"Kamu, istirahat saja." Jodi melirik ke arah Caca.
"Baiklah, Mas." Caca mengangguk pelan.
Jodi meneruskan langkahnya menuju kamar sang ayah. Setelah sampai di depan pintu kamar sang ayah. Perlahan ia mendorong handle. Jodi mendapati sang ayah tengah berbaring, tidur lelap di atas tempat tidurnya.
Jodi mendekati tubuh sang ayah. Setelah memastikan sang ayah tertidur lelap. Jodi membalikkan badan hendak keluar, namun sebelum melintasi pintu. Telinga Jodi mendengar sesuatu, suara air keran yang mengalir di dalam kamar mandi.
Jodi kembali memutarkan badan. Menuntun kakinya menuju kamar mandi untuk mematikan air keran, setelah itu barulah Jodi keluar meninggalkan kamar sang ayah.
Jodi menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur. Senyumnya terus merekah. Mengembang sedari tadi, hatinya begitu berseri, hingga ia lupa pada dirinya yang senyum-senyum seorang diri.
Kaki Jodi turun menapaki lantai. berjalan menuju kamar mandi, tuk bersih-bersih, sementara waktu ia berendam di dalam bahthub. Sembari sibuk dengan pemikiran yang terus menata masa depan bersama Caca nanti.
Malam yang semakin larut. Mambawa Jodi memasuki alam bawah sadar ya itu alam mimpi.
****
"Sayang, tinggal satu minggu lagi. Pas baby boy 1 bulan 10 hari ya?" ucap Ibra yang membenamkan wajahnya di perut sang istri.
Laras tengah duduk bersandar di bahu tempat tidur. Jarinya yang lentik membelai rambut Ibra lembut. "Hem."
Ibra dan Laras sudah menyiapkan acara akikahan baby Satria secara besar-besaran. Dengan banyaknya membuat undangan, dan itu akan diselenggarakan di mension biar tempatnya lebih memadai.
Undangan pun sedang dalam tahap proses percetakan. Hari ke hari baby boy tumbuh kembang nya sangat lumayan pesat. Makin gemuk dan sehat. Laras begitu menikmati proses menjadi seorang ibu yang kadang sangat menyita waktu.
Apalagi Laras sekarang punya kegiatan, atau kesibukan sendiri dengan program yang ia buat, ya itu menjadi salah satu donatur. membantu orang-orang yang membutuhkan! yang dinamai program "Yu Bantu"
Yang diantaranya. Membantu biaya pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Anak yatim piatu, merangkul anak jalanan, pengemis. Supaya menjadi anak-anak yang mempunyai masa depan yang lebih baik. Serta dalam bidang kesehatan, termasuk orang yang sakit dan tak mampu berobat. Maka ia pun turun tangan.
__ADS_1
"Besok, aku harus ke Rumah sakit. Menjenguk orang yang mau operasi," gumam Laras.
"Oh, iya hati-hati aja. Oya, pasien yang tabrak lari itu ya?" tanya Ibra.
"Hem, sampai sekarang gak ada tindakan untuk meminta maaf atau apa, katanya," ujar Laras kembali.
"Ya, sudah. Bantu aja sampai tuntas dan tanpa pamrih." Gumamnya Ibra sembari memejamkan matanya.
"Iya, itu pasti. Kita akan membantu sampai dia sembuh," sahut Laras.
Lama tak terdengar suara lagi. Rupanya Ibra sudah tertidur, sementara Laras masih terduduk di tempat semula. "Abang. Bobonya pindah, jangan gini aku susah loh kalau nanti baby boy bangun."
"Hem." Gumamnya Ibra tanpa membuka matanya.
"Bangun, dan pindah!" pinta Laras, kebetulan ia pun merasa ngantuk.
Tak ada reaksi apapun. Tangan Laras menepuk-nepuk pipi sang suami. "Sayang ... bangun! pindah lah ke bantal."
Akhirnya mata Ibra terbuka, menggerakkan kepalanya mendongak. Kemudian memindahkan kepalanya ke bantal yang sudah tersedia. Bibir Laras tersenyum. Baru saja mau membaringkan diri.
Oak ... oak ... oak ....
Suara baby boy bangun. Laras segera bangun kembali sambil menguap, mendekati tempat tidur baby boy. "Baby boy bangun sayang, Mammy baru saja mau bobo, baby boy bangun lagi. Mammy ngantuk sayang."
Baby boy Laras angkat, yang sebelumnya memeriksa popok nya terlebih dahulu. Kali saja sudah gak nyaman. "Lapar ya sayang? hem baby boy lapar? Iya lapar, oh sayang ... baby Satria lapar ya."
Laras menyusui baby Satria dengan penuh kasih sayang. Sampai baby Satria kekenyangan, dan tidur lelap kembali.
Baby boy di tidurkan pada tempatnya semula. Laras barulah bisa membaringkan dirinya di samping sang suami yang sudah lebih dulu terlelap. Tarik selimut dan meringkuk memeluk tubuh sang suami, matanya sudah tak bisa diajak kompromi lagi.
Sepanjang malam, Laras sampai tiga kali bangun untuk memberi asi nya pada baby boy. Kadang Ibra pun bangun menemani, seperti sekarang ini, Ibra pun duduk menemani sang istri yang terbangun oleh suara baby Satria.
Waktu sudah menunjukkan pukul 03. Laras menggantikan popok baby Satria yang sudah merasa tak nyaman.
"Baby boy nya bobo lagi sayang." Ibra menoleh sang istri dan baby nya.
"Iya, nih. Baby boy memang anteng anak nya. Selama ini belum pernah begadang dia," sahut Laras tanpa menoleh.
Laras menarik tangannya. Dengan alasan pengen kencing dulu. Ia langsung membawa langkahnya menuju kamar mandi. Ibra menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
Selang waktu yang sebentar. Laras kembali dari kamar mandi, Ibra segera bangun menatap langkah sang istri yang mendekati tempat tidur yang ia tempati. Tangan Ibra kembali meraih pergelangan sang istri agar duduk di dekatnya.
"Bobo lagi yu, ngantuk." Laras menguap dan ia menutup mulutnya.
Ibra merangkul bahunya sang istri. "Dingin." Gumamnya Ibra.
"Ya udah. Bobo lagi ada waktu sebentar sebelum subuh." Laras mengusap pipi Ibra. Mengajaknya tuk kembali tidur sebelum menjelang subuh.
Tangan Ibra malah merekatkan pelukannya di tubuh Laras. Laras pun membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami sambil terpejam.
"Em ... ngantuk." Laras bergumam dan membalas pelukan.
Kemudian Ibra melepas pelukannya dan merenggangkan tubuhnya dari tubuh Laras. Di tuntun nya naik serta berbaring kembali. Menarik selimut yang bermotif bunga sampai menutupi kedua tubuh itu.
Suasana dini hari seperti ini semakin menambah rasa dingin yang teramat, dingin yang Ibra rasakan seolah menyelinap dan menusuk ke dalam tulang. Tubuhnya semakin mepet ke tubuh sang istri, sehingga kedua tubuh itu seakan menjadi satu.
Ibra semakin tidak kuat dengan rasa dingin yang mengganggunya. Saat ini ia butuhkan kehangatan dari sang istri. Akhirnya meminta dimanjakan, Laras yang ngantuk berat, habis mengurus baby Satria. Ditambah lagi harus ngurus big baby boy.
Tangan Ibra makin melanglang buana ke mana-mana, ke setiap inci tubuh sang istri. Termasuk bukit-bukit yang nan indah, kini tubuhnya. Berada di atas sang istri, semakin menjadikannya lebih leluasa untuk melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang ia suka.
"Sabar. Kurang lebih satu minggu lebih." Suaranya Laras nyaris tak terdengar.
"Nggak kok, ini juga sabar." Balas Ibra. Dengan napas yang tak beraturan, kemudian melahap jatah putranya dengan rakusnya. Satu demi satu pakaian keduanya terlempar ke lantai. Dibalik selimut tebal itu Ibra minta dimanja, Laras berusaha mengiakan nya sampai Ibra merasa puas. Sepuas-puasnya, satu jam kemudian kegiatan yang sedikit panas itu barulah terhenti.
Keduanya. Merasa kelelahan, tangan Ibra menarik kepala sang istri ke dalam bahunya. Menempelkan dagunya di pucuk kepala Laras, seraya berbisik. "Makasih sayang?" dengan suara yang sedikit berat.
"Hem," gumam Laras sambil menempelkan pipinya di dada Ibra Jari-jarinya menari-nari di benda hitam yang ada di dada sang suami. Membuat Ibra merasa geli.
__ADS_1
"Geli sayang," ucap Ibra sambil menangkap jemari Laras, ia arahkan ke mulutnya lantas ia cium penuh kehangatan. Diremasnya mesra. "Kangen. Ingin segera berakhir."
"Sepertinya masih lama deh." Goda Laras sambil mengulum senyumnya.
"Ah, gak mau tahu. Pokoknya harus tepat waktu." Ibra bangun.
Laras menjepit selimut di bawah ketiaknya. "Loh, aku yang lahirannya kok kamu yang repot sih?"
Ibra menoleh sesaat dengan tatapan tajam. Ia kesal, marah dengan ucapan Laras kali ini. "Iya, kamu yang lahirannya. Kan aku sudah menyarankan untuk Caesar, tapi kamu gak mau dan lebih memilih normal," ucap Ibra dengan nada marah sambil turun, berjalan dengan tubuh polos menuju kamar mandi. Kebetulan waktu pun sudah subuh.
Laras bengong, menelan saliva nya menatap kepergian Ibra yang tampak marah.
Brugh!
Suara pintu kamar mandi yang sedikit Ibra banting. Membuat Laras terkesiap, tidak menyangka akan membuat Ibra marah seperti ini. Perlahan Laras turun menapaki lantai mengambil pakaiannya tergelatak di lantai, mengenakan dasternya. Lantas memungut pakaian kotor Ibra yang berceceran di bawah.
Hati Laras merasa gak enak, sudah bikin sang suami marah. Ia sering bengong menatap pintu kamar mandi. Terdengar suara air yang mengalir tak teratur dari dalam.
Setelah membuka gorden dan jendela. Menyapu dan beberes di dalam kamar, menyiapkan pakaian formal Ibra, lalu kembali menatap pintu yang masih tertutup. Hatinya dihantui rasa bersalah, ia menuntun langkahnya menuju pintu kamar mandi.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu. "Abang, dah beres belum? dah siang loh." Namun tak ada respon. Kecuali suara air yang terus-terusan mengalir, bikin hati Laras khawatir. Gelisah tak karuan. Takut yang di dalam ke napa-napa.
Laras menghela napas panjang. Netra matanya tetap menatap daun pintu tersebut. Perlahan, tangan Laras mendorong handle pintu.
Blak!
Pintu terbuka dan tampak Ibra masih berendam. Melihat Laras, Ibra memalingkan mukanya seketika. Laras menunduk sebentar, kemudian berjalan mendekati suaminya.
Berdiri dekat bathtub. "Sudah siang loh, salat dulu."
Ibra tak merespon. Dia tampak marah pada Laras sehingga tak mau menatap pun. Terus saja memalingkan wajahnya ke lain arah.
Laras tersenyum. "Marah ya sama aku?"
Ibra tak menjawab. Ia bangun dan membersihkan diri di bawah air shower. Meraih handuk, ia pakai lantas ke luar kamar segera tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Laras.
Laras menggeleng. Melihat punggung Ibra dari belakang. Ia pun bergegas membersihkan diri langsung di bawah shower, agar tak buang waktu lagi.
Setelah Laras selesai. Laras keluar, membuka pintu. Netra matanya langsung mendapati sang suami yang sudah siap dan rapi. Laras tersenyum.
Ibra masih cuek. Tak perduli dengan senyuman manis Laras. Senyuman Laras seketika memudar. Menunduk, berjalan mendekati meja rias.
Ibra duduk di sofa membuka laptopnya. Dengan sedikit kesal tergurat jelas di wajah Ibra yang ditekuk. Kemudian Ibra berdiri, membawa langkahnya ke dapur.
Laras masih terdiam di kursi meja rias. Termenung, segitu marahnya sih dia padaku? batin Laras bergejolak sendiri. Kemudian beranjak mau keluar kamar mengikuti sang suami yang ngambek.
Belum juga menarik pintu kamar tersebut. Ibra sudah kembali. Dengan sorot matanya yang tajam, memandangi ke arah sang istri. Namun tetap tak bersuara sepatah katapun yang terucap dari bibir Ibra.
Laras berpikir keras, gimana caranya agar Ibra tak bersikap dingin seperti ini lagi. "Abang marah bukan sama aku?"
Ibra yang duduk kembali, menyimpan secangkir kopi hangat di meja. "Tidak."
Laras duduk di dekatnya. Sedikit duduk menghadap pada Ibra. "Terus kenapa cuek gitu?"
Ibra menanggapi ucapan sang istri dengan gelengan, nyeruput kopinya yang masih panas itu.
Tiba-tiba Laras berdiri dan beralih, duduk di atas paha Ibra. Tangannya melingkar di leher Ibra. Ia memberanikan diri untuk meluluhkan hati sang suami.
Manik mata Ibra menatap sang istri, rambutnya masih terlihat basah. Bulu matanya yang panjang dan lentik menambah indah matanya itu, menambah cantik wajahnya Laras. Walau hati terkesiap, namun tak berusaha menolaknya.
Netra mata Laras menatap lekat ke arah sang suami, bibirnya yang ranum sangat menggoda. Dan ingin rasanya Ibra menggigit sesuatu yang ada di depannya ini ....
__ADS_1
****
Makasih ya masih setia menunggu SKM up. Ayo mana like dan komennya? sebab dukungan dari kalianlah yang membuat ku tambah semangat.