
"Ayah istirahat saja, sudah malam." Jodi menyelimuti tubuh sang ayah. Jodi tahu ayahnya membutuhkan sosok pendamping tapi tidak harus dengan wanita licik seperti mbok Darmi.
Kini Jodi sudah berada di kamarnya membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang king size itu. Menatap langit-langit dengan pikiran melayang entah kemana.
Hari pernikahan nya dengan Caca sudah mendekati hari H. Dan Caca sudah libur kerja dalam mengurus calon mertua tinggal sementara di tempat keluarga sampai nanti waktunya hari pernikahan, barulah dia kembali ke sini bersama suami dan mengurus mertua.
Siang ini Jodi berniat membawa sang ayah ke panti asuhan. Entah kenapa ingin mempertemukan Bu Rosa dengan ayahnya yang Jodi rasa diantara mereka ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari Jodi. Ia curiga, pasti ada sesuatu yang penting diantara mereka berdua.
"Sebenarnya kamu mau ajak Ayah kemana Nak? emangnya kamu gak kerja apa?" tanya pak Mulyadi setelah duduk manis di samping Jodi. Memasang sabuk pengaman.
"Tadi sudah masuk kantor Yah, sekarang kita mau jalan-jalan aja mencari sesuatu yang fresh. Agar tak suntuk di rumah terus." Jawabnya sambil bersiap mengemudikan mobilnya.
Pintu gerbang terbuka oleh seorang scurity dan mobil pun meluncur keluar. Kendaraan yang hitam mengkilat itu melaju cepat meninggalkan kediaman yang mewah itu.
Di sepanjang jalan keduanya berbincang tentang semua hal. Khususunya urusan kerjaan.
Selang beberapa waktu. Mobil masih ke sebuah halaman bangunan yang lumayan luas dan ada sebagian yang sedang di bangun dan entah pembaruan.
"Nah Ini proyek yang Laras kerjakan tentunya aku juga ikut andil dan juga banyak lagi. Bangunan itu akan dijadikan sekolah buat anak panti dan juga anak-anak yang kekurangan biaya." Jodi menunjuk bangunan yang masih dalam tahap pembangunan itu.
Kedua mata pak Mulyadi mengamati tempat sekitar dengan mengulas senyuman. Penuh rasa kagum.
"Dan sebelah sana rencananya akan dijadikan Alfa mini. Sebagia usaha anak-anak panti." Tambahnya lagi.
"Siapa yang akan menjadi donaturnya?" selidik pak Mulyadi menatap sang putra.
"Sebagai donatur pertama adalah Laras dan Suami tentunya. Dan ... seterusnya siapa aja yang ingin turut menjadi donatur silahkan." Balas Jodi.
Pak Mulyadi mengangguk-anggukan kepalanya adalah tanda mengerti dan ia mengagumi. mulianya hati keponakannya Laras. "Apa kamu juga berperan yang signifikan di sini?"
"Alhamdulillah ... Insha Allah, Yah." Jodi mengulas senyumnya.
Kemudian Jodi mengajak sang ayah tuk masuk. Anak-anak yang sudah pulang sekolah menyambut kedatangan Jodi yang membimbing pak Mulyadi berjalan.
__ADS_1
"Kak Jodi apa kabar kak?" semua menyambut ramah.
"Baik adik-adik ku. Gimana kabar kalian semua? maaf nih kakak baru sempat ke sini."
"Kami kangen sama kakak," anak-anak itu sangat bahagia dapat bertemu dengan Jodi yang jarang-jarang datang.
"Iya-iya, mana Ibu?" mata Jodi celingukan ke dalam yang tampak kosong itu.
"Ibu sedang masak di dapur kak." sahutnya sambil pergi menemui ibu panti.
Jodi mengajak pak Mulyadi duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tengah.
Pak Mulyadi sudah mulai ada rasa kalau ini panti tempat Laras di besarkan. Dan pengelolanya adalah Rosa, kini mungkin sudah saatnya ia meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Rosa atas apa yang sudah ia lakukan terhadap Rosa di waktu dulu.
"Jodi, ini panti tempat Laras di besarkan bukan? kamu sengaja membawa Ayah ke sini kan untuk bertemu dengan Bu panti itu kan?" suara pak Mulyadi pelan.
Putranya menoleh. "Iya, Yah. Benar. Bukankah Ayah ingin bertemu dan berterima kasih padanya. Sebab sudah merawat Laras sedari kecil."
Pak Mulyadi tak menjawab. hatinya berdebar tak karuan, ragu mulai menyerang. Apa mungkin Rosa akan memaafkan dirinya. Seseorang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Wa'alaikum salam, Ibu sehat?" Jodi menghampiri dan menuntun tangan bu Rosa agar duduk bergabung dengan mereka.
"Ba-ik." gumamnya Bu Rosa. Ia menunduk rasanya tak sudi melihat pak Mulyadi yang telah menghancurkan hidupnya.
"Bu, kenalkan ini dia ayah saya yang tepatnya paman dari Laras Bu." Jodi memperkenalkan sang ayah dan Bu Rosa. Walau ia yakin mereka berdua saling mengenal sebelumnya.
"Apa ... kabar?" ucap pak Mulyadi pada Bu panti yang memalingkan mukanya dari lirikan pak Mulyadi.
"Em ... aku mau ke toilet dulu sebentar ya? kalian ngobrol aja berdua." Jodi tanpa menunggu persetujuan. Langsung beranjak dari duduk nya.
Keduanya memandangi punggung Jodi yang berlalu menjauhi mereka berdua.
"Sudah lama tinggal si sini?" selidik pak Mulyadi.
__ADS_1
"Sudah." Jawabnya singkat.
Inilah saatnya ia harus meminta maaf atas segala. "Saya tahu menangis darah pun belum tentu saya mendapatkan maaf mu. Tapi dari hati yang paling Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan saya lakukan sama kamu di masa silam."
Bu Rosa tetap tak bergeming. Hatinya terlalu sakit untuk diobati dengan kata maaf saja. Gara-gara Mulyadi hidupnya hancur. "Apa kau pikir dengan kata maaf mu bisa mengobati hati saya yang terluka?"
Mulyadi terdiam dan keduanya bersitatap lekat. Pak Mulyadi melihat ada buliran air di sudut mata Bu Rosa.
"Jawab. Apa dengan kata maaf mu cukup bahkan mengembalikan kesucian saya?" suaranya bergetar dan Sesak yang kini ia rasakan di dadanya.
"Saya tahu. Permintaan Kata maaf saya tak berarti apa-apa. Namun setidaknya saya dapat lepas dari rasa bersalah yang sellau menghantui hidup saya," sambung Mulyadi.
"Kamu dihantui dengan rasa bersalah! saya juga sama hidup saya dipenuhi bayang-bayang masa silam yang membuat saya hancur. Tak ada yang mau sama saya, sebab pria-pria itu mendambakan kesucian dari seorang wanita. Sedangkan saya ... saya adalah korban dari kebejatan kamu." Hardi Bu Rosa dengan tatapan sangat tajam penuh kekecewaan.
Pak Mulyadi menunduk dalam. Ia merasa bersalah yang tiada guna lagi adanya. "Maaf saya khilaf." Sesal Mulyadi dengan suara pelan.
Jodi sengaja menghindar dan berpura-pura ke toilet. Padahal memang sebuah kesengajaan. Dan ia pun menyimpan sebuah alat penyadap pembicaraan mereka berdua. Sehingga apa yang mereka bicarakan terdengar jelas oleh telinga Jodi.
Jodi pun minta kerja samanya dari anak-anak panti, agar tidak mendekati Bu panti yang sedang mengobrol dengan ayahnya.
Dengan serius Jodi mengikuti semua pembicaraan sang ayah dan Bu panti dari kejauhan. Sebuah obrolan yang bikin hati penasaran. Ia pun sungguh tak menyangka jika masa lalu sang ayah bobrok ternyata.
"Kamu bilang khilaf. Kejadian itu memang terencana, memang bukan aku sasarannya tapi kenapa aku yang jadi korbannya? kenapa kamu tega melakukannya pada saya, padahal yang kamu tunggu itu bukan saya kenapa kamu tega?" suara Bu Rosa bergetar dan tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Bu Rosa menangis tersedu sesekali terdengar isak nya memilukan. Sakit yang ia rasakan terbawa sampai sekarang. "Kalau saja waktu bisa ku ulang kembali, pastinya akan ku buat semua berubah di mana saya tidak harus melayani napsu bejat mu. Sekalipun itu pengaruh obat." Suaranya hampir timbul tenggelam karena dibarengi tangisannya.
Pak Mulyadi terdiam seribu bahasa, terkenang masa silam yang merenggut kesucian seorang gadis yang bernama Rosa. Dirinya sengaja meminum obat agar bisa menjalan aksinya pada sang kekasih. Tapi yang masuk pada jebakannya ternyata bukanlah sang kekasih melainkan gadis yang bernama Rosa. Namun kini seribu sesal pun tiada guna, semua percuma.
"Saya tahu saya salah dan saya juga gak bisa mengembalikan semua yang sudah saya ambil darimu. Cuma kata maaf yang dapat saya ucapkan! saya pun tidak tahu harus dengan cara apa agar saya bisa menebus dosa-dosa saya," helaan napas pak Mulyadi kian berat.
Jodi yang mendengarkan, tanpa sadar menjatuhkan air mata. Merasa terharu dan kasian pada keduanya, apakah keduanya dapat berdamai dengan satu sama lain dengan arti saling memaafkan? atau hanya berdamai dengan keadaan dan saling membiarkan begitu saja ....
****
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah di bulan romadhon ini. Semoga saling diberi kesehatan dan rejeki yang tak kurang apapun. Jangan lupa fav "Bukan Suami Harapan" semoga dapat populer seperti novel yang ini.🙏