
Laras menaikan kakinya ke atas tempat tidur dan menarik selimut. Dengan malas Ibra beranjak dan berniat membukakan pintu, penasaran siapa yang datang itu.
Belum juga sampai kaki Ibra ke depan pintu, dari luar sudah menggedor pintu lagi. Namun kali ini dengan suara pekikan. "Sayang ... ini Mama dan papa. Pengen tahu keadaan mantu Mama."
Ceklek!
Pintu di tarik ke dalam oleh tangan Ibra. "Mah, Pah ... kenapa gak bilang mau datang? kan bisa di jemput."
"Ah lama," bu Rahma mengibaskan tangannya dan langsung menghampiri Laras yang tampak duduk bersandar.
"Sayang, kamu kenapa hem?" bu Rahma memeluk tubuh sang mantu kesayangan.
Wanita berbaju daster itu bengong, merasa heran saja tiba-tiba sang mertua datang. Tahu dari mana? tangan Laras membalas pelukan mama mertua. "Mama kok gak bilang kalau mau pulang ke sini? kan bisa di jemput pak Barko."
"Banyak taksi juga, lagian tadi telepon ke mension katanya Barko jemput ke rumah sakit. Makanya ya udah, naik taksi aja." Marwan jawabkan pertanyaan Ibra.
Ibra mencium tangan sang ayah. "Iya sih, masuk Pa," ajak Ibra dan ia masuk duluan. Ke tempat semula.
Marwan mengayunkan langkahnya menuju Tempat tidur Laras. "Gimana keadaan mu Laras?"
Laras melepas diri dari pelukannya mama mertua. "Baik Pah. Aku sudah sembuh kok, Mah. Aku dah sehat." Mata Laras melihat kedua mertuanya bergantian.
Bu Rahma ingin melihat luka Laras di pinggangnya sang mantu. "Ih," ia bergidik. "Kamu sih Bang ... gak menjaga istri bodyguard banyak apa salahnya sewa mereka. Kamu itu banyak saingan pasti banyak orang yang iri sama kamu, gimana sih? Zayn banyak urusan juga di kantor. Apalagi ketika kamu berada di luar kota atau di luar Negeri, Heran Mama sama kamu."
Ibra mengacak rambut kasar, akhirnya ia dengar juga ocehan dari sang ibunda. "Iya, Mah. Aku yang salah."
Netra mata Laras bergerak melihat ke arah bu Rahma dan Ibra bergantian. "Aku yang salah Mah, Abang gak salah. Aku yang gak mau menuruti Abang," ucap Laras sangat lirih. Tangannya mengusap punggung tangan bu Rahma lembut.
"Tapi, kalau seandainya ada yang kawal. Mungkin gak akan kejadian seperti ini, Mama ngeri kalau sampai lebih parah dari ini. Ngeri Mama, gak berani bayangin nya juga. Ngeri." Bu Rahma bergidik Berkali-kali.
Ibra terdiam. Laras juga mematung, mendengar ucapan bu Rahma. Kemudian Ibra membuka suaranya. "Iya, itu salah ku, Mah. Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati."
"Ini sudah seharusnya begini kali Mah, aku gak pa-pa, yang penting sekarang aku sudah selamat. Jangan nyalahin lagi Abang, bukan salah Abang juga," ungkap Laras kembali.
"Ya, sudah. Sekarang semuanya sudah terjadi dan jadikan sebuah pengalaman yang berharga." Tutur Marwan. Menderai kekalutan sang istri.
"Masalahnya itu loh Pah ... kalau sampai terjadi apa-apa yang lebih parah yang tidak dinginkan gimana?" ungkap bu Rahma sambil mengusap air yang jatuh dari sudut matanya.
"Mama, sudahlah. Jangan nangis, Mama lihat kan? aku gak apa-apa cucu Mama juga gak kurang suatu apapun," sambung Laras memeluk bahu sang mama mertua.
Pak Marwan pun mengusap punggung sang Istri, tubuhnya bergetar. Menahan tangisnya.
Melihat mama mertua menangis. Laras pun jadi tak kuasa menahan air matanya. Hatinya terharu, ternyata masih ada juga orang yang mengkhawatirkan dirinya.
****
Di pantai yang indah pasir putih yang terbentang. Banyak wisatawan ataupun turis yang menikmati keindahannya, di tepi pantai itu ada seorang wanita dengan dress merah tanpa lengan, di atas lutut. Tengah berjalan-jalan, rambutnya yang sepundak terbawa angin yang sepoi-sepoi.
Sudah beberapa hari ini wanita itu menikmati liburan + urusan kerja di Lombok. Di sore ini ia jalan-jalan di pesisir pantai Aan. Yang pasir putih nya bersih dan nyaman, tadi dari pasir marica, setelah puas di sana Dian berpindah ke tempat yang sekarang.
Ia coba memenangkan dirinya, membuang segala ke kacawan dalam pikiran, menenangkan dan merenungkan semua yang sudah terjadi. Wajahnya mendongak ke langit yang luas dan warna biru nan indah, burung-burung seakan menari dan suaranya bersahutan. Bernyanyi, seakan menikmati indahnya cuaca, ia tatapi dengan lekat dan bibir menyungging membentuk senyum. Dian sempat mendengar berita tentang Laras yang kena tusuk, namun alhamdulillah katanya Ibra Laras selamat.
"Woi ... ngapain menatap langit gitu, berharap burung jatuh apa? ha ha ha ..." ucap seorang kawan perempuan.
Dian menoleh ke arah sumber suara. "Iya, kali aja ada burung yang cantik dan membawa cinta untuk ku."
"Ciellah ... kamu itu merindukan burung yang terbang itu, apa burung yang lain Nyonya Dian? jangan-jangan kamu merindukan burung lain karena kesepian." Balas Misca dengan nada sinis, dibarengi senyuman.
"Hoho ... bisa jadi," sahut Dian mengulum senyumnya.
"Eh, mau ikuti cara aku gak?" ucap Misca. Wanita cantik berpenampilan seksi. Rambut panjang di bawah bahu itu.
__ADS_1
"Apaan tuh?" tanya Dian heran.
"Tuh, lihat ke arah sana. Ada pria tampan sedang duduk sendiri, sepertinya sedang nunggu seseorang. Gimana kalau kita goda dia?" menaik turunkan alisnya.
Dian menoleh ke tempat yang Misca tunjukkan. "Nggak ah, saya punya suami. Dan kamu tau itu."
"Hai, ayolah. Itu bisa mengusir rasa kesepian mu teman, kamu juga tahu kalau saya pun sama, saya punya anak pula. Tapi ... kalau sedang jauh gini rasa sepi menyapa hati, walaupun kita ramai! namun hati tak bisa di pungkiri. Kita butuh teman spesial, yakin deh," ujar Misca meracuni pikiran Dian.
"Terus suami mu gimana?" selidik Dian kembali.
"Suami, ya di rumah. Merawat anak ku, dia gak tahu lah kalau saya kadang bermain dengan orang selewat gitu. Cari kehangatan sesaat." Kata Misca tanpa ragu, bercerita aibnya sendiri yang sering mencari kepuasan sesaat di luar.
"Lagian kita, cari yang berduit. jadi kita dapat kan dabel-dabel dapatnya," sambung Misca sambil menyeringai.
Sesaat Dian terdiam dan memainkan sedotan minuman di depannya. Lalu menyedot, netra matanya menatap lekat pada wanita yang berada di hadapannya itu. Misca. Kemudian Dian menoleh laki-laki yang masih duduk di sebrang sana.
Kemudian Mata Dian menunduk, dia sadar kalau dia ini seorang istri.
"Apa lagi, kau itu di madu. Pasti kesepian dong ... wajar bila kamu mencari sedikit obat, ya ... anggap aja pelampiasan. Obat pening ha ha ha ..." ujar Misca yang terus meracuni pemikiran Dian.
Dian berdiri merapikan dress nya, menghela napas dalam-dalam. Langkahnya ia ayunkan sampai 3 langkah, lalu ia membalikkan badan menoleh temannya. Temannya balas dengan anggukkan. Dian kembali melangkah menuju pria asing tersebut.
Setelah sampai di tempat, Dian berdiri terlebih dahulu memperhatikan kira-kira ... apa benar pria ini berduit?
Akhirnya Dian bersuara juga. "Excuse me?
Pria asing itu mendongak. Mengamati ke arah wanita cantik berambut sebahu, menatap ke arah dirinya. "Wanita ini seperti bukan wanita biasa dan dia seperti pegawai kantoran." Batinnya pria itu.
Dian yang masih berdiri. sudah bersiap membuka suaranya, Namun pria tersebut mendahului.
"Silakan duduk!" rupanya pria asing ini sudah pasih dengan bahasa Indonesia.
"Terima kasih, apa anda pandai berbahasa Indonesia?" tanya Dian ragu.
"Aku. Sedang liburan dan juga ada urusan sedikit," sambil memperlihatkan senyuman manisnya. "Anda sendiri, sedang apa mana yang lainnya?" tanya balik Dian.
"Saya sedang menunggu rekan kerja, tapi sudah lama menunggu tapi belum nongol juga." Keluhnya.
"Oh, saya ganggu dong ya?" ucap Dian pura-pura mau beranjak dari duduknya.
"Oh, no, no. Tidak, saya sangat senang kamu di sini," mata pria itu dengan nakal memperhatikan bagian-bagian tertentu tubuh Dian. Termasuk paha mulus milik Dian.
Melihat mata nakal pria itu tertuju ke dirinya, Dian makin merasa bangga sedikit memajukan bagian depan seraya berkata. "Saya takut Tuan terganggu dengan kehadiran saya." Dengan sangat lembut dan manja.
"Oh, tidak. justru aku akan lebih senang bila kamu mau menemani saya," timpal pria itu. Menyeringai.
"Emang tidak ada yang menemani anda gitu?" tanya Dian dengan menatap lekat dan menampakkan senyum manisnya.
Manik mata pria itu makin nakal menikmati pemandangan yang ada di depannya itu. Ia teliti dari kepala sampai unung kaki yang begitu mulus, semakin menaikan hasratnya.
"Tidak, saya di sini sendiri, lain dengan di rumah," ucap pria itu tanpa ragu-ragu. Tangannya mulai menyentuh paha Dian di balik meja.
Dian sedikit menghindar. Menggeser tangan pria itu dengan pelan. "Em, Tuan yakin kalau senang bertemu saya?"
"Tentu, saya senang bertemu dengan mu. Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" meraih tangan Dian dan meremasnya. netra mata menatap lekat.
Dian tersenyum. "Kita belum kenalan Tuan, nama saya Dira." Akunya Dian berpura-pura dengan nama Dira.
"Secantik orangnya. Nama saya Jhoni, senang berkenalan dengan mu cantik," ungkap Jhoni. "Bagaimana, bisa kita bersenang-senang? saya akan memberi apapun yang kau mau. Uang, barang? akan saya penuhi. asalkan kau buat saya puas," ujar Jhoni menawarkan sesuatu. Cara bicaranya menggambarkan kalau dia sudah biasa boking perempuan.
"Gila, dia pikir saya wanita yang kekurangan uang apa?" batin dian beradu argumen.
__ADS_1
Dian menunjukkan senyumnya. "Oke, kalau anda berkenan dengan saya--"
Rett ....
Rett ....
Rett ....
Ponsel Dian bergetar. "Sebentar, Tuan. Saya terima telepon dulu."
Pria tersebut mengangguk dengan melepas genggaman tangannya.
Dian menjauh dari tempatnya duduk. "Halo sayang? aku lagi sibuk nih. Iya lagi meeting, iya aku akan jaga diri kok. Sudah dulu ya? nanti aku hubungi balik, emuaahh." Dian memberi kecupan jauh.
Tuut ....
Telepon, Dian tutup, sesaat ia termenung. Setiap hari dan sesering mungkin Ibra hubungi Dian, walau sekedar bertanya tentang kabar. Ibra berusaha menjadi suami yang perhatian.
Kemudian Dian menoleh pria tersebut dengan senyuman tipisnya. Kini ia jadi dilema meneruskan atau mundur. bagaimanapun dirinya bersuami dan tak satupun yang tidak Ibra penuhi. Nafkah lahir tak pernah kekurangan, nafkah batin pun berusaha Ibra penuhi dengan normal. Apalagi yang Dian cari? hanya gegara cemburu sama istri muda. Lah ia sendiri yang memulai.
Kepalanya mulai pusing dengan pemikirannya. Ketika mau berbalik, kepalanya membentur dada seseorang. Ternyata Jhoni mendekati dan lantas tanpa ragu merengkuh pinggangnya yang ramping itu. Dian terkesiap, netra matanya bergerak menatap ke arah wajah Jhoni dan pada tangan yang melingkar di pinggangnya.
Tangan Dian melepaskan rangkulan itu. "Maaf Jhoni. Saya punya suami."
"Emang kenapa cantik kalau kau punya suami? saya juga sama, di rumah ada. Ayo kita sama di sini tanpa mereka, sama-sama kesepian." Tangan Jhoni makin leluasa memeluk tubuh Dian. Sehingga tubuh kedua menempel satu sama lain.
Netra mata keduanya saling tatap dan tatapan Jhoni sudah berkabut penuh damba. Dian segera melepaskan diri. "Maaf. saya tidak bisa." Dua langkah menjauh dari tempat Jhoni berdiri.
"Ayolah cantik ... kita sama-sama dewasa dan ini akan jadi rahasia kita berdua," ucap Jhoni sambil menghembuskan napasnya tepat di telinga Dian.
Membuat terciptanya gelenyaran aneh menyelinap ke seluruh tubuhnya. Darah pun mendidih naik ke ubun-ubun, apalagi hal itu sudah dirasakan Jhoni semenjak tadi juga. Dian memejamkan mata sejenak.
Jhoni semakin menyeringai dan makin mendekatkan bagian tubuhnya ke pinggul Dian. Sehingga Dian merasakan ada yang menonjol dan bergerak di bagian sana. Entah apa itu namanya? hi hi hi.
Jhoni menarik tangan Dian yang panggil Dira itu duduk di kursi tempatnya semula duduk.
Dian menepis tangan Jhoni, lalu menyambar tasnya. Memasukan ponsel miliknya ke dalam tas, setelah itu hendak pergi membawa hati yang gusar, merasa bersalah pada sang suami. Bila dirinya mengkhianati kepercayaannya.
Namun lagi-lagi tangan Dian, Jhoni tangkap. "Oke-oke. Kita batalkan rencana kita tadi. Oke ... tapi duduk lah dulu kita bisa berbincang soal lain kan? di sini. Bisnis misalnya," sambil menaikan kedua bahu dan tangannya.
Dian menatap sekilas lalu membuang pandangan ke tempat lain. Sejenak berpikir kalau cuma ngobrol apa salahnya sih? asal jangan macam-macam, jujur Dian menyesal sempat punya niat yang tidak baik. Yang jelas-jelas akan menodai bersihnya hubungan dirinya dan Ibra.
Netra mata Dian kembali menoleh ke arah Jhoni. "Oke." Dian menggeser kursinya lantas duduk di tempat semula.
"Terima kasih Dira? lagian minum mu saja belum kau sentuh sama sekali," ungkap Jhoni sambil mengangguk dan senyuman yang entah berarti apa.
Netra mata Dian bergerak melihat minuman yang Jhoni tunjuk, memang benar belum ia sentuh sama sekali. Dian mengaduk pelan sebelum akhirnya ia sedot minuman itu.
Jhoni mengembangkan senyumnya. "Sungguh kau cantik Dira. Lebih cantik dari istri ku. Body mu pun benar-benar indah, seperti gitar Spanyol." Puji Jhoni yang tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari pesona Dian.
"Makasih," jujur sekarang Dian malah merasa risih dengan sikap pria ini. "Bodoh banget ... aku, ngapain mendatangi buaya ini Dian? kau bodoh! suami mu lebih segalanya. Iya sih ganteng. Kulit putih, tapi tetap suami orang. Bukan suami mu Dian," menggerutu dalam batinnya.
"Kenapa kamu melamun Dira? apa kau sedang memikirkan sesuatu." Tanya Jhoni menatap penuh curiga.
"Oh, tidak." Balas Dian sambil tersenyum. Manisnya minuman yang ada dihadapannya membuat ia ketagihan untuk menyedotnya kembali.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing, jarinya sedikit memijat kening dan pangkal hidungnya.
"Kau kenapa Dira? apa kau sakit," tanya Jhoni sambil memegang tangan Dian.
"Tidak, saya cuma merasa sedikit pening aja," sahut Dian menggeleng. Namun lama-lama pusingnya makin parah ....
__ADS_1
****
Sudah membaca, kan? jangan lupa like dan komennya ya.🙏