Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Komplit


__ADS_3

Blak!


Pintu Laras buka, di sana tengah berdiri wanita paruh baya yang menjadi mama mertuanya. " Oh, Mama. Ada apa Mah?"


"Itu, mereka mau pulang. Mau pamitan sama kamu dan Abang." Jawab bu Rahma, matanya melihat baby boy yang tengah tertidur pulas.


"Oh, sebentar Mah, aku mau ambil kerudung dulu. Tapi Abang sedang mandi Mah," ucap Laras urungkan niatnya tuk pergi.


"Kalau masih lama. Bilang aja sayang."


Laras membalikan badannya mendekati pintu kamar mandi. Setelah mengetuk satu kali Laras berkata. "Abang ... Dian sama Mammy nya mau pulang." Sedikit memekik.


"Aku masih lama sayang mandinya. Bilang aja gak usah nunggu," balas Ibra dari dalam.


Laras kemudian menghampiri sang mertua. "Sebentar, Mamah duluan aja. Aku mau siapkan baju buat Abang, bentar kok." Langkah Laras menuju lemari besar untuk mengambil pakaian ibra. Ia letakkan di atas tempat tidur, lalu mengikuti bu Rahma yang sudah lebih dulu kembali ke ruang tengah.


Sesampainya Laras ke ruang tengah. Benar saja tamunya sudah bersiap untuk pulang. Dian melihat Laras dan langsung menghampiri.


"Kami pulang dulu, makasih atas sikap kamu yang selalu welcome pada kami. Aku minta maaf atas segala kesalahan ku." Dian memeluk Laras.


"Iya, sama-sama. Pintu rumah ini akan selalu terbuka kok kapan saja kalian mau, Sudahlah Kak Dian jangan minta maaf. Kak Dian gak ada salah kok sama aku, tanpa di pinta pun aku sudah jauh-jauh hari memaafkannya. Selamat ya? semoga Kak Dian temukan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya," ujar Laras. Keduanya merasa haru dan menitikkan air mata.


"Ibra, beruntung mendapatkan kamu," sambung Dian yang masih memeluk Laras.


"Sesungguhnya aku yang seharusnya meminta maaf, gara-gara aku lah kebahagiaan Kak Dian terganggu? semuanya terjadi gara-gara aku." Suara Laras lirih, ada rasa sesal di lubuk hatinya yang paling dalam. "Tapi aku percaya Kak Dian akan mendapat hikmahnya. Sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang akan tidak ternilai harganya. Kebahagiaan yang sesungguhnya."


Dian mengangguk di pundak Laras. "Nanti datang ya? ajak Abang untuk menghadiri acara ku nanti."


"Insya Allah Kak. Kami pasti akan hadir. Oya, saat ini Abang lagi mandi, ia menitip salam untuk kalian semua," ucap Laras sambil melepas pelukan Dian.


Setelah bergantian bersalaman. Dan bu Lodia pun sangat berterima kasih banyak-banyak telah menganggap dirinya seperti keluarga saja. Kemudian mereka beranjak keluar.


"Kalian jangan sungkan, kalau mau main, main saja kita akan selalu menjadi keluarga kok," ujar pak Marwan sambil mengantar ke teras.


"Iya, bu Lodia akan tetep jadi Oma baby Satria, sering-seringlah datang. Kita asuh baby boy sama-sama." Timpal bu Rahma.


"Terima kasih banyak besan." Balas bu Lodia sambil memeluk bu Rahma. Hatinya bahagia mempunyai besan seperti mereka tak ada sedikitpun keburukan diantara mereka semua.


"Kak Dian, sekali lagi selamat ya? Kak Dian dapat paket komplit," ungkap Laras menoleh ke arah Dian.

__ADS_1


"Maksudnya?" Dian mengerutkan keningnya.


"Maksud aku, Kak Dian selain dapat suami. Juga dapat anak sekaligus, anak yang ganteng. Lucu, pintar juga," jelas Laras dengan wajah yang tampak ikut senang.


"Oh, iya. Alhamdulillah." Dian tersenyum sambil melirik Ferdi yang sedang ia tuntun tangannya.


"Ganteng, sayang gak sama Mama ini?" tanya Laras sambil berjongkok di hadapan Ferdi.


Mata anak itu yang bening dan bercahaya menatap lama ke arah wajah Laras. Lalu mendongak melihat Dian, kemudian kembali melihat Laras. "Sayang Tante, Ferdi sayang sama Mama baru."


"Oya? makasih ya, sudah sayang sama Mama barunya." Laras meraih tubuh anak itu dipeluknya erat.


Suara adzan magrib sudah mulai terdengar, dari masjid terdekat. Mobil Dian pun merayap meninggalkan kediaman Laras dan Ibra, laki-laki yang bertahun-tahun menjadi suaminya itu. Saat ini Firman lah yang membawa mobil tersebut dan akhirnya melesat kencang. Berpacu dengan waktu dan kuda-kuda besi lainnya.


Setelah mobil Dian, tak terlihat lagi. Laras beserta bu Rahma dan pak Marwan kembali masuk ke dalam rumah, bersiap menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.


Laras pun memasuki kamarnya, dan langsung mendapati suaminya yang sedang bersujud dia atas sajadah. Tampak khusuk. Langkah Laras pun sedikit mengendap, begitupun menutup pintu sangat pelan agar tak mengganggu Ibra.


"Iya, Mas kasih aja uang buat belanja," ucap Laras di ujung telepon.


Ibra menghampiri dan merasa aneh. Istrinya bicara sama siapa? Ibra duduk di samping sang istri. "Siapa sayang?"


"Irfan nya di mana?" tanya Ibra kembali sambil menarik bahu sang istri.


"Justru itu, sedang berada di luar kota." Lanjut Laras sambil menyandarkan kepala di dada sang suami.


"Terus terbukti, orang itu membutuhkan dan layak mendapat bantuan? selidik Ibra sambil membelai rambut Laras.


"Iya, layak. Ia korban gusur yang yang kurang memadai sementara usianya sudah tua dan mempunyai putra yang lumpuh." Sambung Laras. Sekilas melihat sang suami.


"Oh, semoga berjalan lancar, semakin banyak orang yang dapat terbantu ya sayang."


Laras pun mengangguk seraya berkata. "Aamiin."


Kemudian Laras beranjak, sebab baby boy bangun. Diikuti oleh Ibra menyambut sang putra yang bangun dan mengajaknya bermain sebentar.


"Jagoan Papi dah bangun? kangen gak sama Papi sayang, hem kangen!" mengelus pipi nya yang halus dan tembem.


Laras yang mengganti popoknya. Ibra yang mengajak mengobrol nya. Namun tiba-tiba baby boy pipis ketika popoknya di buka dan nyembur ke wajah Ibra. Sontak Ibra mundur dan kaget, Laras terkekeh melihat wajah Ibra yang basah dengan air pipis baby boy.

__ADS_1


"Astagfirullah ... sayang, kok Papi di kencingin sayang?" Ibra bergegas setengah berlari ke kamar mandi mau bersih-bersih.


"Ha ha ha ... sayang, kok papi nya di sembur sih? jadi kotor lagi deh. Kasian sayang papi nya. Ah baby boy Mammy nackal nih. Nackal nih baby Satria nih." Akhirnya ganti popok baby boy selesai juga.


Laras mengangkat dan membawanya ke sofa. Kemudian ia beri asi, dan ternyata baby Satria sudah tak sabar karena kelaparan, terbukti kepalanya begitu aktif mencari mimi nya.


Tidak lama Ibra keluar dari balik pintu dengan bertelanjang dada. "Bisa-bisanya itu air mancur belok ke wajah ku?"


"Hi hi hi ... aneh ya? cari baju dulu sana, nanti masuk angin." Laras menoleh sang suami yang bertelanjang dada.


Ibra pun mengindahkan perintah istrinya. Mengambil pakaian ganti dari lemari.


****


Setalah beberapa hari dari Jodi mengutarakan niatnya pada Caca. Kini Jodi tengah duduk santai bersama pak Mulyadi dan Caca di ruang tengah.


Pak Mulyadi, walau masih di kursi roda namun sudah menampakkan perubahannya. Kadang bisa melangkah beberapa langkah. Dan Itu cukup membuat Jodi bahagia.


"Yah, ada yang ingin aku bicarakan." Pada akhirnya Jodi membuka obrolan dengan sang ayah, sebelumnya melirik ke arah Caca yang sedang membaca buku tentang kesehatan di tangan.


Pak Mulyadi yang sedang asyik menonton acara televisi menoleh. "Ada apa nih? berasa ada yang aneh, bicaralah." Menatap lekat pada putranya.


Jodi terlebih dahulu menghela napas panjang. "Anu, Yah. aku mau ..." Jodi terdiam sesaat. Menimbulkan rasa penasaran dari pak Mulyadi.


"Anu-anu apa? bicara yang jelas? jangan bikin Ayah mu ini penasaran." Pak Mulyadi semakin menaikan alisnya.


"Aku, aku mau menikah dengan Caca. Mohon direstui," jelas Jodi dengan tangan menyatu di dada.


Pak Mulyadi kaget, Seakan tak percaya. "Apa? kamu mau menikah dengan Caca! Caca yang ini?" menunjuk ke arah Caca yang menunduk malu.


"Iya, yah. Aku meminta restu sama Ayah, kalau kami berdua mau menikah. Biar Caca juga lebih tenang tinggal di sini nya. Tidak takut fitnah," lanjut Jodi.


"Sungguh kabar ini membuat jantung Ayah mau copot, namun bahagia akhirnya putra Ayah mau menikah juga, dan menemukan wanita sholehah. Makasih ya Allah ...."


Wajah pak Mulyadi mendongak dan memanjatkan doa. Di wajahnya tergambar jelas kebahagiaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata ....


****


Terima kasih reader ku yang terus memberi dukungan pada karya yang jauh dari kata sempurna ini🙏 yo dukung juga karya aku BUKAN SUAMI HARAPAN semoga suka🙏

__ADS_1


__ADS_2