
"Ferdi sayang sama Mama Dian. Mama jangan tinggalkan aku sama papa ya?" gumam anak itu.
Mendengar perkataan anak itu, membuat air mata Dian tumpah ruah. Membanjiri pipinya, ia menggeleng seraya berkata. "Mama janji, akan selalu bersama kalian." Lalu melepas pelukannya, memberi jarak antara mereka. Dian menatap wajah anak itu dengan tulus. "Mama janji."
"Serius, Mama janji. Tidak akan meninggalkan kami berdua?" wajah anak itu langsung sumringah.
Dian kembali memeluk anak itu. "Tentu donga. Mama kan sayang sama kalian."
Firman tak berhenti tersenyum dan ikut memeluk, setelah berjongkok. Namun Ferdi mendorong sang ayah.
"Papa jangan dekat-dekat sama Mama, belum nikah. Nggak boleh peluk-peluk dosa."
"Aduh, gimana dong? tadi Papa memeluk Mama sangat erat. Dosa gak?" ungkap Firman sambil senyum. Begitupun Dian.
"Jangan Papa, gak boleh. Nanti saja kalau sudah halal." Anak itu terus ngoceh.
"Gimana kalau kita cari makan di luar sayang?" ajak Firman sambil membantu Dian berdiri.
"Boleh, ajak Mammy ya?" pinta Dian sambil menggandeng tangan Firman.
"Tentu." Firman mengangguk. Ferdi sudah dengan cepat berlari keluar kamar Dian, entah kemana.
Firman mengajak Dian dan Mammy nya makan di restoran favorit Firman dan Dian. Yang ternyata itu restoran milik nya, Dian tak menyangka kalau tempat makan yang sering ia kunjungi itu milik Firman Permana.
Sang ayah yang belum lama pulang dari luar Negeri menyusul ke restoran tersebut.
"Pap, sini duduknya sama Mammy." Bu Lodia menunjuk kursi buat sang suami.
Ferdi yang aktif tidak mau diam sebelum makan, jalan sana jalan sini. Kadang Dian pun dibuat pusing bila harus mengejarnya. Untung saja kalau di restoran itu milik Firman yang pekerjanya bisa menjaga juga Ferdi.
"Papi sudah lama tak makan masakan daerah. Rindu rasanya. Apalagi Lama Mammy mu di Indo Papi cuma makan cepat saji aja," ungkap Papinya Dian. Sejak mendengar Dian di cerai oleh Ibra. Bu Lodia memang lebih memilih menemani putrinya di indo sampai saat ini.
"Sayang, Nanti setelah kalian menikah. Mammy pasti kembali ke luar Negeri, kasian kan Papi sendiri di sana," tutur bu Lodia pada Dian.
Dian mengangguk. "Iya, Mam. Jangan khawatir. Aku sudah biasa kok."
"Nak Firman, titip Dian ya. Setelah menikah Dian adalah tanggung jawab Nak Firman."
"Iya, Mam. Tentu aku akan menjaga dan menyayanginya," ucap Firman dengan tatapan sangat lekat pada Dian yang tersenyum bahagia.
"Kamu juga, jadilah istri yang baik, jangan suka macam-macam. Mammy gak mau mendengar lagi yang aneh-aneh," sambung bu Lodia menatap putrinya. Dian.
__ADS_1
Sementara suami bu Lodia hanya diam dan fokus makan. Orangnya memang jarang bicara dan lebih condong dengan tindakan. Di matanya ada rasa dendam pada seseorang yang ia anggap telah menyakiti hati putrinya.
"Tambah lagi Pap makannya?" tawar Firman.
"Sudah, cukup." Mengelap mulutnya dengan tisu.
"Sayang, mau nambah lagi gak makannya?" tanya Dian pada Ferdi yang langsung di balas dengan gelengan.
****
Karena hati Jodi dihinggapi rasa penasaran dan curiga pada sang ayah dan mbok Darmi. Pada akhirnya Jodi memasang cctv tanpa sepengetahuan sang ayah.
Ditengah persiapan pernikahannya dengan Caca. Jodi ingin mengungkap rahasia apa yang tersimpan di balik hubungan tuan dan bawahan itu, yang mungkin tersembunyi dari lama.
Dan ada sebuah kejanggalan yang Jodi dapatkan dari data yang baru ia temui, kalau harta sang ayah semakin menipis. Padahal perginya ke mana harta itu tak ada kejelasan. Sementara ia sendiri sudah tak merongrong harta sang ayah lagi, malahan ada sebagian harta miliknya. Sudah di atas namakan sang ayah.
Otak Jodi semakin berputar, tak habis pikir. Kalau saja di kasihkan pada siapa? adiknya pun yang sedang kuliah di luar Negeri Jodi yang mengurus semuanya. Kalau di hibahkan harus ada hitam di atas putih biar jelas. Namun ini tidak ada bukti sama sekali.
Sore ini Jodi sengaja mengajak Caca berkunjung ke mension Laras untuk pertama kalinya. Sebelum acaranya besok empat puluhan baby boy. Dan sengaja gak mengajak pak Mulyadi dengan alasan cuma mau bertemu kawannya Jodi.
"Yah, aku mau ajak Caca untuk bertemu kawan lama. Merek mengundang ku makan malam," ucap Jodi pada sang ayah yang sedang belajar jalan menggunakan tongkat.
"Oh, iya gak pa-pa. Pergi saja, oya besok acaranya Laras ya?" pak Mulyadi balas tatapan sang putra.
Pak Mulyadi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rasanya sudah tak sabar ingin bertemu mereka."
"Besok juga bertemu, Yah." Kata Jodi.
Pak mulyadi mengakhiri belajar jalannya. Caca membawa ke kamar tuk bersih-bersih. Selang 20 menit pak Mulyadi keluar menggunakan kursi roda. Wajahnya tampak segar. Pakaiannya sudah Caca siapkan di bawah. Dan memang pak Mulyadi bisa memakainya sendiri.
Waktu pun sudah menunjukkan sore, Jodi sudah siap-siap tuk pergi. Ia turun sambil melipat lengan bajunya sampai siku.
Pak Mulyadi sudah berada di ruang tengah. Di dorong Caca yang sudah siap juga tuk pergi.
Jodi mendekat dan berpamitan. "Ayah, Jodi pergi dulu ya?" meraih tangan pak Mulyadi diciumnya.
Caca pun begitu. Mencium punggung tangan pak Mulyadi, sebelumnya memberikan minum obat pada pak Mulyadi.
Jodi memanggil mbok Darmi tuk menjaga sang ayah selama Caca pergi bersamanya. Jodi pun berpesan kalau ia pasti akan pulang malam, sebab sekalian reunian.
Mbok Darmi dengan senang hati mengiyakan, matanya berbinar bahagia. Jodi dan Caca menangkap itu yang tergambar jelas dari wajahnya.
__ADS_1
Kini Jodi sudah berada di dalam mobil. Caca yang duduk di sampingnya mengenakan sabuk pengaman.
"Mas, kita sudah berbohong sama ayah," ucap Caca menatap Jodi.
"Terpaksa, kalau bilang kita mau ke tempat Laras. Ya ... tentunya minta ikut lah, gagal dong rencana kita," sahut Jodi sekilas melihat ke arah Caca.
"Iya sih, cuma gak enak saja gitu."
"Sudahlah. Semoga umpan kita berhasil," sambung Jodi penuh harap.
Netra mata wanita berjilbab itu hanya mengangguk. Melihat calon suaminya menyetir. Melesat keluar dari pekarangan, meninggalkan rumah mewah tersebut dengan tujuan ke mension Ibra dan Laras.
Sementara di rumah yang Jodi tinggalkan. Mbok Darmi tersenyum penuh kemenangan. "Akhirnya, Mas."
Pak Mulyadi cuma melirik, tak sepatah kata pun yang ia ucapkan. Matanya mengamati suasana sekitar, asisten rumah lainnya tengah sibuk memasak buat ntar makan malam.
Mbok Darmi membawa langkahnya ke dapur. "Mbak, kepala mbok sakit nih, apa ada obat?" sedikit memijat keningnya.
"Oh, kalau gak salah ada di laci ruang tengah, Mbok."
"Oya, Mbok mau cari dulu. Sepertinya harus istirahat nih, sakit banget."
"Iya, Mbok istirahat aja kalau sakit." Asisten itu tak menyimpan curiga kalau itu cuma pura-pura saja.
Mbok Darmi kembali ke ruang tengah. Pura-pura mencari obat di kotaknya. "Sudah Mbok dapatkan obatnya." pekik Mbok Darmi.
Dengan mata yang terus bergerak khawatir ada yang lihat, Mbok Darmi bergegas mendorong ke kamarnya pak Mulyadi. Tidak lama Darmi keluar lagi. Berjalan menuju kamarnya. Mengunci dari dalam.
Lanjut keluar dari jendela. Dengan jeli matanya mengamati sekitar. Sedikit mengendap jalannya, menuju jendela kamar pak Mulyadi. Lantas segera masuk jalan sana.
Klik!
Mengunci jendela tersebut. Berdiri menghadap ke arah pak Mulyadi yang sudah berada di atas tempat tidur. "Aman."
Berjalan gemulai, menghampiri pak Mulyadi yang melempar senyumannya. Dengan percaya diri, mbok Darmi melepas kain yang membungkus tubuhnya.
Rupanya wanita bongsor itu sudah siap untuk memberikan energi pada pak Mulyadi, yang berkali-kali menelan saliva nya. Matanya pun seakan tak berkedip melihat pemandangan yang sungguh membuat tergugah segalanya. "Aku siap Mas."
Kemudian merangkak naik dan menarik selimut yang menyelimuti tubuh pria paruh baya itu, jelas di balik itu ada yang bangun dengan sempurna dan siap untuk menerjang ....
****
__ADS_1
Terima kasih reader ku selalu setia SKM ini up ya? terus dukung aku ya! oya jangan lupa fav juga ya🙏 "Bukan Suami Harapan" semoga kalian suka.