
"To-tolong, ada ular menggantung, eh pisang menggantung, eh bu-bukan." Suara Susi meracau tak karuan, kedua telapak tangannya menutupi wajah dan memunggungi Zayn yang begitu usilnya. Menghadap ke arah Susi.
Zayn yang usil itu cuma tertawa lepas merasa lucu dengan ekspresi Susi yang bikin ia geli. "Ha ha ha ...."
Susi bergegas keluar dengan masih menutup wajahnya namun memberi celah untuk matanya melihat. "Dasar orang gila, dan kenapa aku ceroboh sih. Sial-sial, sial ... mataku telah ternoda nih. Ibu, maafkan Susi? huh dasar bodoh ..." merutuki sendiri.
Lain lagi dengan Zayn yang merasa puas hati telah berbuat usil pada Susi. "Dasar sok polos."
Bu Rahma dan pak Marwan tengah mengasuh baby Satria yang tampak anteng. "Soleh nya Oma, senang ya jalan-jalan sama Oma hem? doa kan Mammy nya ya? semoga cepat sembuh. Oke."
Bu Rahma menoleh ke arah suami yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya. Ikut menjaga baby boy. "Mama gak menyangka sama sekali kalau Ruswan tega sama Laras yang notabene nya istri sahabatnya sendiri."
"Sama Ma ... Papa juga sama. Bisa-bisanya punya niat jahat sama mantu kita. Untuk saja mereka datang tepat waktu ya Ma ...."
"Iya, Pa. Mama gak bisa bayangkan kalau saja terjadi." Bu Rahma lalu terdiam dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Ma ... sekarang Laras sudah selamat tinggal sehatnya aja segera pulang dari Rumah sakit." Tambah pak Marwan.
"Iya, Pa ... Mama jadi ngeri. Iiy ...."
"Yuk jalan-jalan sama Opa yu?" pak Marwan memanggil baby boy dari tempatnya.
"Mau di ajak ke mana Pa?" tanya bu Rahma.
"Nggak ke mana-mana Ma ... kamu kalau mau mandi, mandi saja sana. Biar baby boy sama Papa."
"Baiklah," Bu Rahma segera bersiap mandi. Mumpung baby Satria sama Opa nya.
****
Di kediaman Dian. Di bunga law nya sudah ramai dengan dengan keluarga yang datang dari luar Negeri. Orang-orang dekor juga masih sibuk dengan dekorasi dan song sistem, Dian berada di kamarnya ditemani pihak MUA, sang bunda dan beberapa sepupunya. Sedang memasang hena di tangan.
"Besok, Mommy mau ketemu baby boy nya Ibra. Senang deh." Gumamnya.
"Mommy ini, lebih senang mau bertemu baby Satria ketimbang aku mau menikah?" tanya Dian melirik sang bunda.
"Bukan gitu sayang, senang aja. Kamu mau menikah tentu Mommy bahagia juga dong. Semoga kamu juga secepatnya dapat momongan dari Permana, adiknya Ferdi." Harap Bu Lodia.
Dian tak menjawab lagi. Tangan satunya sekrol ponsel miliknya, terkejut dan tidak percaya setelah membaca sebuah berita hangat. Kalau istri seorang CEO muda di sekap di rumah kosong dan percobaan pelecehan.
Dian Shock. "Mommy. Laras di culik."
"Apa?" sang bunda tak kalah shock nya. "Masa sih hoax kali Sayang."
"Beneran Mom, sini lihat lebih dekat. Larasati istri CEO Malik Ibrahim baru saja selamat dari penjahat yang berinisial R. Ini wajah Ruswan teman kuliah dulu Mom." Dian membacakan berita tersebut dengan jelas.
__ADS_1
"Ya, Tuhan ... kurang ajar si Ruswan ya. Sudah tahu wanita punya suami. Terobsesi banget tuh orang," sambung sang bunda.
"R, terobsesi memiliki sosok wanita tersebut. Sehingga dia nekad menculik dan berniat jahat, kini sosok wanita itu dilarikan ke Rumah sakit, akibat banyak luka lebam di tubuhnya." Dian termangu sesaat.
"Kasihan baby boy. Bundanya di Rumah sakit," ucap Bu Lodia pelan.
"Baguslah, sekarang dah selamat ya ... lukanya ringan kok. Mungkin dia juga mengalami shock Mom."
"Shock itu pasti. Ya .... besok gak datang dong ke sini dong mereka?" sang bunda lesu.
"Mommy ... kan bisa lain kali kita main ke sana?" ucap Dian menghibur.
"Iya sih." Bu Lodia mengangguk.
Perbincangan mereka pun berakhir dengan adanya telepon dari calon suami Dian. Bu Lodia pun turun menuju kamarnya tuk istirahat.
Ke esoknya, Dian di dandani bak ratu di Negeri kerajaan. Sangat cantik, berdampingan dengan seorang pria tampan dan seorang anak yang ber jas putih seperti mempelai pria.
Pernikahannya Dian dan Permana berjalan dengan sangat lancar. Kebahagian begitu terpancar jelas dari wajah keduanya, mata mereka memancarkan sinar kebahagiaan.
Semua undangan pun ikut tenggelam dalam kebahagiaan kedua mempelai. Mereka bergantian memberikan selamat pada Dian dan Permana.
Dian dan Permana mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para undangan yang sudah menyempatkan hadir di acara pernikahan mereka berdua. Yang diantaranya Bu Ratna aza dan Tutut Puput, Rinjani. Venti Stianadewi, wik Soen. Wulandari dan banyak lagi yang lainnya yang tak bisa di sebutkan satu persatu.
Dari pintu yang berhiaskan bunga-bunga terlihat sepasang pria dan wanita dengan penampilan yang sangat elegan. Berjalan menghampiri tempat mempelai berada. Dialah Jodi dan Caca yang sengaja memenuhi undangan dari Dian.
"Makasih Jodi, makasih juga sudah menyempatkan diri untuk datang." Balas Dian.
Kemudian Jodi berjabat tangan dengan Permana disertai ucapan selamat yang tulus dari hati.
Caca juga mengucapkan selamat pada Dian. "Selamat ya Mbak, semoga menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah & warahmah."
"Makasih, Ca." Keduanya saling peluk mengusap punggung masing-masing. "Kapan nyusul?" tanya Dian sambil melepas pelukannya.
Caca tersipu malu. "Secepatnya mungkin."
"Semoga lancar ya?" Dian menunjukkan senyum bahagianya.
"Aku, sedih deh, Laras gak bisa datang kali ya? sama Ibra. Secara Laras di Rumah sakit." Wajah Dian berubah sedih.
"Iya, aku juga gak bakalan lama di sini--"
"Kenapa?" tanya Dian memotong dan menatap ke arah Jodi.
"Nah, itu. Aku mau langsung ke rumah sakit, Belum jenguk Laras. Kebetulan di luar kota kan lokasinya." Jawab Jodi.
__ADS_1
"Oh, kamu belum jenguk juga?" tanya Dian kembali.
"Belum, secara aku tahu tadi pagi. Gak tahu berita nya, itupun dari Zayn," sambung Jodi.
"Oya, kamu baru tahu?" Dian menatap serius.
"Iya," kemudian mengajak Caca mengambil makanan. Dian kembali menerima tamu bersama sosok laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya.
"Sayang, aku sangat bahagia akhirnya kita menjadi suami istri." Permana menatap lekat sang istri tangannya menggenggam erat.
"Aku juga sangat bahagia bahkan rasa bahagia aku gak bisa di gambarkan dengan kata-kata." Dian mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Wajah mereka mendekat, akhirnya menautkan bibir mereka, saling menyapu permukaannya. Seakan tak perduli banyak orang di sana dan mereka bersorak bertepuk tangan pada sang mempelai yang berciuman. Keduanya tersipu malu ketika sadar dan menjadi bahan sorakan para undangan.
Setelah selesai mencicipi makanan, Jodi dan Caca pamit pulang. Dengan alasan mau ke luar kota menjenguk Laras.
"Padahal masih siang loh, Oya sampaikan salam ku ya? aku juga mungkin besok ke sana jenguk Laras." Dian sebentar memeluk Caca dan Jodi bergantian.
"Oke, nanti saya sampaikan. Broo pulang dulu," pamit Jodi pada suami Dian.
"Yoi, hati-hati."
Jodi dan Caca pun keluar setelah berpamitan pada orang tua Dian juga, memasuki mobilnya. "Suka nggak dengan konsepnya?"
"Maksudnya konsep pernikahan Dian?" Caca balik bertanya sambil memasang sabuk pengaman.
"Iya, suka gak?" ulang Jodi.
"Suka, bagus." Jawab Caca.
Jodi mengangguk sambil fokus ke depan dan bersiap menyetir. keluar dari area parkir tempatnya Dian.
"Em, gak ajak ayah?" kini Caca yang bertanya kepada Jodi.
Jodi pun melirik sekilas. "Nggak. nanti saja kalau sudah pulang ke rumahnya langsung."
"Em, iya." Caca mengangguk seraya melepas pandangan keluar jendela.
"Sepertinya sih gak akan lama juga di Rumah sakit. Pasti segera pulang," ucap Jodi dengan yakin.
Caca cuma melirik sebentar lalu kembali melihat ke arah jendela. Mobil melaju begitu cepat melintasi kuda-kuda besi lainnya.
Tiba-tiba ponsel Jodi berbunyi. Caca menoleh. Melihat ke arah ponsel yang terus berbunyi ....
****
__ADS_1
Hi ... apa kabar semuanya. Makasih ya, sudah menunggu novel ini up. Senang deh hatiku bila banyak yang suka, dan aku juga gak akan bosan meminta kalian agar mampir juga di "Bukan suami Harapan"