Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Tidak boleh cemburu


__ADS_3

"Nona! tolong doong?" seru Ibra menatap Laras.


Perlahan. Laras menoleh tanpa ekspresi, namun tidak bersuara apa pun. "Iih ... apa lagi sih? ganggu orang saja. Sudah posisi wuenak nih," gerutu batin Laras.


"Siapkan pakaian tidurku!" ucap Ibra lagi dengan tetap berdiri.


Dengan malasnya. Laras bangun membuka selimutnya, turun menapaki lantar mengambil pakaian tidur Ibra yang ada di sana.


Dia simpan di samping Ibra yang duduk di tepi tempat tidur. Netra mata Ibra terus bergerak melihat Laras yang tetap diam, ia naik dan memakai selimut kembali kemudian membaringkan tubuhnya seperti tadi.


Ibra mengambil pakaian ganti, tak segan-segan mengganti di situ juga. Dengan sengaja melempar pakaian bekasnya ke sembarangan tempat. Tentunya kelihatan sang istri yang lagi ngambek.


Mendengar suara lemparan baju. Laras membuka mata dan melirik kearah suara, kemudian kembali memejamkan mata. "Ah, bodoh amat," batin Laras.


Ibra naik dan masuk ke dalam selimut Laras! tangannya memeluk dengan erat. Laras menggelinjang bangun.


Laras menatap Ibra dengan tatapan penuh tanda tanya, namun bibirnya tetap terkunci. Ibra pun ikut duduk. Semakin gemas melihat Laras yang bena-benar membisu.


Dengan cepat bibir Ibra menyentuh bibir Laras, membuka paksa dengan lidahnya. Laras terkesiap menerima serangan itu dan langsung berontak. Namun tangan Ibra mengunci tengkuk dan dagunya.


"Em ... lep--"


Laras hanya bisa membelalakkan mata dan memegangi tangan Ibra, sampai Ibra merasa puas bermain dengan bibirnya. Hingga napas keduanya tersengal-sengal.


"Lepas! apa-apaan sih. Tuan?" ucap Laras sambil mengusap bibinya yang lembab air liur Ibra yang tersenyum puas.


"Aku kira! kamu mendadak bisu dari tadi diam terus," jelas Ibra sembari mengelap bibirnya dengan punggung tangan.


"Itu ... karena anda sendiri yang bikin aku marah." akunya Laras.


"Iya, iya ... aku minta maaf?" gumam Ibra, kembali menatap Laras penuh gairah.


Ibra menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Laras yang kali ini tidak ada penolakan lagi. Ibra semakin berani menyusupkan tangan ke dalam baju Laras bagian dada. Bermain di sana dengan asiknya.


Jantung Laras berdegup kencang malah seakan ingin melompat dari tempatnya. Rasanya kalau bisa menciut seperti siput saja agar terhindar dari sentuhan suaminya. Andai saja bisa! ingin pingsan saja agar tidak merasakan betapa jantungnya terus berdebar, agar tidak merasa malu ketika nanti keduanya saling bertubuh polos.


Napas Ibra kian memburu, bibirnya terus me***** bibir Laras dengan lembut dan penuh kehangatan. Tangannya masih betah menjamah kedua buah milik Laras. Makin lama napas mereka kian memburu, yang akhirnya menuntut lebih. Kabut yang sudah memenuhi netra mata mereka kian tebal. Entah dari kapan keduanya menanggalkan kain yang membalut tubuh mereka.

__ADS_1


Ibra membungkuk di atas tubuh Laras, yang sudah pasrah dalam kungkungan seorang Malik ibrahim. Ibra semakin gencar melepaskan serangan demi serangan! agar wanita yang berada di bawahnya merasa benar-benar siap untuk menerima benih yang akan dia tanam.


Berakhirlah pada titik dimana penyatuan di mulai. Keduanya sangat menikmati permainan yang mereka buat, sungguh menggairahkan. Saking nikmatnya! sampai berkali-kali Ibra menumpahkan benihnya di dalam rahim Laras.


Laras menggigit bibir bawahnya. ketika Ibra mengisap kuat da** nya dan semakin menimbulkan rasa gelenyar aneh dalam tubuhnya.


"Aku pengen pipis. Tuan!" lirih Laras sambil mendongak.


"Keluarkan saja di situ sayang!" ucap Ibra tanpa berhenti melancarkan permainannya yang semakin liar.


"Aku semakin gak kuat," rintihan Laras sambil memeluk tubuh Ibra.


Mendengar itu Ibra berhenti sesaat! mengelus lembut pipi Laras memberi ketenangan. "Ini bukan pertama kalinya sayang, kenapa kamu begitu sulit ku dapatkan hem?" kecupan hangat mendarat di kening Laras. Setelah dia nampak tenang! Ibra melanjutkan permainan sampai puncaknya. Sehingga dia benar-benar terkulai lelah.


Menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. dengan napas yang belum teratur.


Laras menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya. Ibra begitu kelelahan sehingga tidak lama ia tertidur pulas, lain lagi dengan Laras dia masih terjaga. Sampai larut malam matanya masih terbuka, namun lama-lama menjelang pukul 00.30 kantuk pun menyerang juga. Laras menguap dan memejamkan matanya.


****


Hari-hari kegiatan Laras adalah mengurus semua keperluan Ibra. Menemani pertemuan kantor, atau rapat! itupun kalau Dian sibuk dan tak bisa menemani Ibra. Dian sosoknya yang cuek namun pada Laras sekarang sikapnya lebih baik.


Laras menoleh kearah Dian. "Belum."


"Kamu suburkan! bukannya bulan yang lalu kamu periksakan ke dokter?"


"Iya. Tidak ada masalah," sahut Laras.


"Kapan kamu datang bulan?" tanya Dian mengulang pertanyaannya.


"Em ... satu bulan yang lalu! kalau gak salah!" timpal Laras lagi.


"Jadi bulan ini kamu belum datang bulan lagi?"


Laras menggeleng. Dia berjongkok mencium bunga yang ada di dekatnya.


"Semoga saja ... kau tidak datang bulan lagi, dan artinya kamu hamil." Dian menatap Laras penuh harap dan berandai-andai.

__ADS_1


"Eeh, sayang sini?" tangan Dian melambai pada Ibra yang baru datang dengan masih mengenakan pakaian formal.


"Ada apa?" menatap Dian dan Karas bergantian.


"Sayang. Aku senang deh! bulan ini Laras belum datang bulan, aku sangat berharap kalau dia ngidam bulan ini juga." Dian memeluk Ibra sangat erat. Wajahnya sumringah.


Ibra membalas pelukan Dian dengan sangat mesra dan mengecup pucuk kepalanya. "Jadi dia sekarang hamil?" penasaran.


"Belum tau sayang! ini perkiraan ku saja, habis dia belum datang bulan," sambung Dian mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Ooh! belum. Aku kira sudah--"


"Belum sayang!" sahut Dian, tangannya melingkar di leher Ibra, dan tangan Ibra melingkar di pinggang rampingnya Dian. Mereka saling tatap-tatapan.


Laras yang melihat adegan itu, menunduk dalam! kok hatinya terasa sesak, sakit. Kesal dan entah perasaan apa lagi yang ia rasakan saat ini.


Laras memfokuskan pandangan pada bunga-bunga yang beraneka ragam terlihat indah. Tambah lagi tersorot cahaya lampu, menambah keindahannya.


Laras tak ingin melihat mereka bercumbu. Laras membalikan badannya, memunggungi Dian dan Ibra. "Kenapa ya! kok hati aku terasa sakit? Dian istrinya, dia berhak pada tuan Ibra. Kenapa aku merasa kesal! apa aku cemburu? sedangkan aku tidak boleh jatuh cinta terhadap suamiku! huuh ..." Laras membuang napasnya kasar.


Ibra yang mencumbu Dian, matanya melihat kearah Laras yang berdiri memunggungi. "Maaf! bila hatimu terluka. Aku tahu sekarang kau mulai mencintaiku," batin Ibra.


Laras mengayun langkahnya, mau ke kamar. Terdengar suara Dian yang meminta suaminya tidur bersama dia malam ini. Laras semakin mempercepat langkahnya.


Tibalah Laras di kamar, menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Kenapa aku harus merasa kesal? aku tidak boleh cemburu sama Dian, dia lebih berhak terhadap Ibra." Laras mengumpat dirinya sendiri.


Mengambil majalah dan membacanya, namun hatinya terasa gusar apa yang dia lihat tadi terus membayangi pikirannya. Majalah ia simpan di meja. Berdiri menyilang kan tangan dan menggigit kukunya, jalan mondar mandir seperti setrikaan.


"Sedang apa ya, sekarang dia?" tanya Laras dalam hati. "Aduh ... Laras! ngapain sih mikirin dia? jelas-jelas dia sedang senang-senang! ngapain coba," gumamnya lagi.


Membaringkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut. "Tidur. Laras ... jangan memikirkan apa pun! tugasmu adalah secepatnya mencetak anak!"


Pagi-pagi seperti biasa sesudah membereskan kamarnya sendiri. Laras mendatangi kamar pribadi Ibra untuk berbenah di sana. Tentunya juga menyiapkan pakaian kantor Ibra.


Di kamar masih kosong! sepertinya Ibra masih berada di kamar Dian, tiba-tiba Laras merasakan sesuatu yang ia rasa aneh ....


,,,,

__ADS_1


Hi ... reader ku semua? semoga kabar baik ya, ayo dong bikin aku semangat! bisa dengan like, komen nya juga, kan aku tambah semangat kalau dapat dukungan dari kalian semua🙏


__ADS_2