
Laras meringis kesakitan, menerima dorongan dari Mery, sehingga tubuh Laras terjatuh.
Mery bertolak pinggang. Hati yang panas sejak semalam, terbakar api kemarahan yang tak terhingga. Amarah yang berapi-rapi yang kini Mery rasakan. Menurutnya, gara-gara Laras lah ia di ceraikan, gara-gara Laras hamil, dirinya di singkirkan. Penyebabnya Laras, ia di cerai talak tiga sekaligus, seperti yang dialami Yulia. Bahkan yang paling parah! aset yang sudah atas namanya, akan Ibra sita.
"Semuanya gara-gara kamu, perempuan sial, kau yang merebut suami ku, kau yang telah membuat aku diceraikan dan kamu juga yang membuat harapan ku hancur tak berkeping," teriak Mery hingga suaranya bergema di seluruh ruangan itu. Emosinya kian meluap-luap.
Laras di bantu berdiri oleh Susi dan bu Rika, mereka berdua sudah bersiap-siap jika saja Mery menyerang Laras secara tiba-tiba lagi.
"Apa maksud kamu? aku tidak mengerti sama sekali," tanya Laras yang memang tidak tahu kalau saat ini Mery sudah di ceraikan.
Sambil mengibaskan tangan. "Jangan pura-pura gak tau lah. Kamu, kan yang menghasut Ibra ceraikan aku? kamu juga, kan yang menyuruhnya mengambil mobil ku dan yang lainnya, agar semua menjadi milik mu!"
Laras menggeleng. "Itu ... tidak benar, demi Allah. Aku gak tau itu semua. Semua yang kau tuduhkan itu tidak benar." Elak Laras.
Bu Rika memberi kode pada Susi agar dia menjaga Laras, sementara dirinya mundur dan membuka sebuah chet di ponsel miliknya.
"Jangan sumpah demi Allah segala. Aku tidak pernah percaya sama omongan kamu itu, sok baik. Agar di pandang alim, nyatanya busuk , cuih ..." Mery meludah depan Laras. Sebagai luapan kemarahannya.
"Tapi, memang aku tidak tahu apapun, jangankan sekarang! dulu aja ketika Ibra menceraikan Yulia, aku tidak tau sama sekali. Dan aku memang tidak mau tahu urusan kalian," akunya Laras.
"Omong kosong. Sekarang kau senang, kan? aku menjadi janda! kamu puaskan aku keluar dari mension ini, kamu puaskan? tidak ada lagi saingan, yang ada hanya Dian si wanita mandul itu." Mery semakin menjadi omongannya. Semakin tidak terkontrol, bahkan tangannya lagi-lagi mendorong bahu Laras.
Namun saat ini Laras tidak kecolongan lagi, sehingga bisa menjaga keseimbangan.
"Jangan pake tangan dong ... Nyonya," ucap Susi.
"Jangan ikut campur! saya tidak ada urusan dengan mu." bentak Mery melotot sempurna pada Susi dan mendorong dada Susi sampai mundur ke belakang. "Kau yang sudah ngerjain aku kemarin. Sehingga aku sakit perut, rasakan pembalasan ku." Mery mengayunkan tangannya.
Bu Rika langsung menghadang dan mencekal tangan Mery yang hendak memukul Susi. "Cukup Nyonya! kelakuan anda sudah keterlaluan. Sekarang, silakan keluar dari mension ini.
Mata Mery beralih pada bu Rika, dengan tatapan mata yang merah. "Kamu pikir kamu siapa ha? sehingga berani mengusir ku, tanpa kalian usir pun, aku akan pergi dari sini!" teriak Mery pada bu Rika.
Kemudian, Mery menoleh pada Laras yang sedang memandangi nya. "Kamu, ingat ya, setelah ini hidup mu tidak akan tenang. Aku pastikan itu, kamu harus merasakan yang aku rasakan saat ini Laras. Wanita bodoh, yang mau saja diperalat oleh Dian si wanita mandul itu. Kau itu hanya di suruh hamil saja, dan setelah itu, kamu. Akan di buang ke jalanan. Ha ha ha ...."
Bu Rika melihat dua security datang langsung menyuruh membawa menyeret Mery. khawatir menyakiti lagi Laras.
"Lepas, aku bukan orang gila," teriak Mery pada kedua security yang memegang kedua tangan nya kanan dan kiri.
"Silakan, ke luar Nyonya." kata security itu.
"Lapas, aku bisa jalan sendiri." Mery kembali berteriak dan berontak, serta menghentakkan kakinya ke lantai.
__ADS_1
Mery terus di seret security ke luar. Meskipun terus berontak. Laras menatap pilu, dadanya bergemuruh. Sungguh ia yang tidak tahu apa-apa, kena tuduhan yang macam.
Ia mendongak ke langit-langit. Mata yang sedari tadi berkaca-kaca akhirnya berjatuhan juga. "Ya Allah ... kuatkan aku!"
"Nyonya muda, sebaiknya istirahat aja di kamar." Ucap bu Rika dan mengajak Laras ke kamarnya.
Laras mengusap pipinya yang basah, rasanya sakit hati ini. bagai di tusuk-tusuk. Laras menuruti perintah bu Rika, untuk ke kamarnya.
"Susi, kamu bereskan barang-barang di kamar nyonya Mery dan keluarkan segera. Agar di angkut ke mobil." Bu Rika menoleh Susi di sela jalannya.
Laras terus berjalan, menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Laras membaringkan dirinya. Di atas tempat tidur, bu Rika membantu menyelimuti tubuh Laras.
"Nyonya, istirahat aja ya, jangan banyak pikiran yang macam-macam. Nanti baby nya stres gimana? jadi yang tenang saja. Rileks ... saya yakin masih lebih banyak orang yang sayang sama Nyonya muda ketimbang orang jahat." Lirih bu Rika.
Laras mengangguk, lalu bu Rika keluar, tidak lupa menutup pintu kamar. Laras memeluk guling, hatinya masih terasa sakit, juga pantat yang kena lantai tadi. "Aduh ... sakit." Ia tidur miring. Netra mata Laras menatap dinding.
Dadanya yang masih terasa sesak, serta terus terngiang di telinganya. Kata-kata Mery dan Yulia bahwa dirinya cuma jadi alat untuk memberi anak saja.
Air matanya yang jatuh semakin deras, air mata yang panas turut membasahi bantal yang sedang ia pakai tiduran. Seiring air mata yang berjatuhan itu ... kepala pun berasa sangat pusing.
Laras mencoba memejamkan matanya kuat-kuat, ingin ia tepis semua rasa yang kini menyiksa perasaannya. Namun tetap saja ada dan sangat menyesakkan, sampai akhirnya ia tak bisa lagi membuka mata. Rasa kantuk yang menyerang membawanya sebuah alam yang setidaknya akan membawa ia ke sebuah ketenangan dan melupakan semua masalah walau sejenak.
****
"Sayang," panggil Dian dari arah belakang Ibra, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Ibra menoleh dan membuka kaca mata hitamnya. Bibirnya melukis senyuman yang tak kalah mengembang, ia berdiri dan menyambut kedatangan sang istri.
Dian menjatuhkan tas nya, lalu memeluk tubuh Ibra yang kekar itu, seolah sudah lama tidak bertemu. Pelukan keduanya sangat erat dan saling melepas rindu, kecupan hangat beberapa kali mendarat di kening Dian.
Dian sangat bahagia, akhirnya bisa pulang ke tanah air dengan selamat dan bisa berkumpul dengan suami tercinta nya. "Kamu tambah gemuk saja sayang?" ucap Dian dengan tatapan ke seluruh tubuh Ibra yang semakin berisi.
Ibra menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Ah. Biasa aja."
"Kamu, di kasih apa sama istri muda mu itu?" tanya Dian sambil sedikit memukul dada Ibra sambil tertawa.
"Apa?" lagi-lagi menggaruk tengkuknya, kebingungan untuk menjawab pertanyaan Dian.
"Ya sudah, pulang sekarang yu?" ajak Dian sambil menarik tangan Ibra yang sedang menerima pesan.
"Yu, gimana kalau kita makan dulu. Dimana saja yang kamu suka, aku turuti." Ibra ingin menebus kesalahannya sewaktu di luar Negeri, yang sudah menelantarkan Dian atau menyia-menyiakan kehadiran dia selama di sana.
__ADS_1
"Beneran, boleh di mana saja yang aku suka. Gimana kalau ... di restoran xx?" tanya Dian dengan tatapan yang sangat berbinar menampakkan kebahagiaan.
Ibra mengangguk. "Boleh, dimana saja, aku siap mengantar kok."
"Makasih sayang?" cup mencium pipi Ibra dengan penuh kebahagiaan. Entah kenapa hari ini ia merasa sangat bahagia dengan sikap Ibra yang hangat.
Tidak seperti waktu di luar Negeri yang cuek, dingin dan amat menjauhinya. Jangankan menyentuhnya sebagai istri, biasa-biasa aja pun ogah. Kini keduanya sudah memasuki mobil Ibra.
Ibra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Gimana liburannya apa sangat menyenangkan?" tanya Ibra sambil tetap fokus, matanya ke depan, jalanan raya yang agak ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Sangat, sangat menyenangkan, ketimbang ketika bersama mu, yang ada aku stres tingkat dewa. Huuh ... bikin kepalaku mau pecah." Dian menggeleng penuh sesal.
"Maafkan aku sayang? ngerti lah, mungkin waktu itu ... aku ngidam laki. Jadi semuanya gak mood. untung saja urusan kerjaku tidak terbengkalai juga," ujar Ibra sambil mesem-mesem.
Dian melirik dengan tatapan yang tetap penuh kebahagiaan. "Oya, gimana kabar anak kita?"
"Baik, sangat baik," sahut Ibra sambil mengangguk.
"Baguslah, rasanya sudah tidak sabar menunggu anak itu lahir." Pandangan Dian menerawang ke depan.
"Sayang, sudah sampai," mobil menepi ke tempat yang di tuju, Ibra membuka sabuk pengamannya. Lantas keluar dari mobil, berjalan mengitari mobil tersebut. Untuk membukakan pintu buat Dian.
"Makasih sayang?" ucap Dian setelah berada di luar mobil.
"Iya, sam-sama," sahut Ibra sembari menguncikan mobilnya.
Keduanya berjalan bergandengan tangan, nampak sangat bahagia sekali. Malah Dian berasa kembali ke masa-masa pacaran dulu, wanita berambut pendek itu sangat menikmati suasana saat ini. duduk di pojokan berdua, sesekali tangan saling bertaut mesra. Menghadapi hidangan yang mereka berdua pesan.
Di sela makannya, Dian menatap ke arah Ibra dengan senyuman yang melukiskan perasaan senangnya. "Hari ini aku ... sangat bahagia. Terima kasih sayang? atas hari ini."
"Iya, aku juga minta maaf. Kalau aku kurang perhatian sama kamu," ujar Ibra penuh penyesalan.
Tangan Dian menggenggam tangan Ibra. "Aku, ngerti kok dan aku tahu semuanya aku juga yang memulai. Aku yang membuat semua ini, kamu harus membagi cinta, perhatian. Waktu, itu semua gara-gara aku juga yang menyuruh menikah lagi." Raut wajahnya berubah sendu.
"Sudahlah, gak isah bahas itu lagi. Aku sudah memahami itu, dan tinggal kita menjalaninya dengan baik," ungkap Ibra, balik mengelus punggung tangan Dian.
Di tengah asyiknya makan siang dan mengobrol, ponsel Ibra masuk sebuah notifikasi ....
****
Maaf ya 🙏 reader ku semu ... kemarin aku gak up, dikarenakan kurang sehat. Dan insyaAllah hari ini up lagi, terima kasih pada yang sudah menunggu dan kasih sarannya.
__ADS_1