Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bukan racun


__ADS_3

Blak!


Pintu terbuka dan nampak seorang OB mengantarkan sebuah paket.


"Oh, makasih?" ucap Dian setelah mengambil sebuah paket itu.


OB pun mengangguk lantas pergi, yang sebelumnya mengambil beberapa lembar uang dari Dian.


Dian menutup pintu, dengan senyuman mengembang. Ia membawa paket itu ke dalam dan membuka, Isinya sebuah lingerie yang super tipis berwarna merah, dan sebuah botol kecil yang entah apa isinya.


Ia simpan ke tempat yang ia rasa aman. Kemudian Dian berbaring di atas tempat tidur, senyumnya tak pernah pudar meskipun mata terpejam. Ia memikirkan sesuatu yang indah sehingga ia menutup wajahnya malu sendiri.


Sekitar menjelang sore. Dian terbangun dari tidur, telinganya terganggu dengan suara ketukan pintu dari luar kamar.


Dian menggosok matanya, memicingkan mata ke arah sumber suara. "Hem ... pasti suamiku yang datang." Dian turun dan mendekati pintu.


"Sayang ... aku kangen." Dian langsung memeluk Ibra setelah ia tahu yang datang itu adalah suaminya, Ibra.


Sejenak. Ibra membiarkan sang istri memeluk dirinya tepat di depan pintu, ia mengusap punggung sang istri yang mengenakan kimono mandi.


"Aku kangen, sama kamu." cuph, cium pipi kanan dan kiri Ibra, berakhir di bibirnya.


Ibra berusaha menolak dan menjauh sambil lihat kanan dan kiri malu bila di lihat orang. "Sudah, malu kalau di lihat orang." Ibra menyeret Dian masuk ke dalam kamar. Kemudian Ibra mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu.


Kamar hotel yang yang lumayan besar dengan fasilitas yang bagus. Ia duduk di sofa panjang, diikuti oleh Dian yang tangannya bergelantung di tangan Ibra.


Dian duduk di paha Ibra dengan tangan memeluk leher Ibra. "Sayang, makasih ya sudah datang?" dengan muka bantalnya.


"Sama-sama sayang, bangun tidur ya?" selidik Ibra menatap wajah Dian yang tampak jelas bangun tidurnya.


"Iya, sayang ... nunggu kamu lama." Dian merangkul Ibra dengan sangat manja.


"Emangnya kamu pikir Jakarta Semarang itu jarak tempuh yang dekat apa? jauh sayang ... butuh waktu." Jelas Ibra.


"Aku tahu." Dian terus merangkul sangat erat.


"Aku gerah, capek." Melepaskan diri dari Dian dan membuka jas nya.


Aku buatkan ambilkan minum ya?" tutur Dian sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas, di berikan nya pada Ibra.


Ibra meneguk segelas air yang Dian berikan, lalu duduk santai kembali. Dian mendekat kembali merangkul tubuh Ibra sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada Ibra.


Tangan Ibra membelai rambut Dian dengan lembut. "Nanti malam kita pulang."


Dian mendongak. "Nggak sayang, kita pulangnya lusa. Aku sudah sewa kamar ini sampai dua hari lagi."


"Sayang ... lusa itu acara tasyakuran anak ku, masa kita gak hadir?" ungkap Ibra berhenti membelai rambut Dian.


"Pokok nya, aku ingin kita menginap dua malam aja di sini. Jadi pulangnya lusa pas acaranya ya, oke?" mengecup pipi Ibra dengan lembut dan bergerak ke bibir.

__ADS_1


Sejenak Ibra diam dan membiarkan Dian melakukan yang dia mau. "Di kantor. Aku sibuk sayang, banyak kerjaan, sekarang juga ada rapat." suara Ibra setelah bibirnya terlepas dari bibir Dian.


"Ada Zayn, kan?" gumamnya Dian, jemarinya menari-nari membuka kancing kemeja Ibra.


"Emang ada, makanya menggantikan ku di sana." Timpal Ibra, sambil merentangkan kedua tangan di di sandaran sofa.


Dian makin leluasa melakukan apapun. Kemudian ia duduk diantara dua paha Ibra sehingga tubuh keduanya berhadapan, mengalungkan tangan di pundak Ibra. Wajahnya mendekati wajah sang suami. "Aku kangen," setengah berbisik.


Ibra tersenyum dan membalas ciuman sang istri. Kemudian Dian berdiri dan berbisik. "Aku mau ganti baju dulu ya bentar?"


Dian mengambil paper bag di bawanya ke kamar mandi. Ibra beranjak dari sofa berpindah ke tempat tidur, membuka kemejanya. Ia simpan di tepi tempat tidur, duduk bersandar di tumpukkan bantal. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk balik ke bandara.


Dian mengenakan lingerie yang tipis menerawang. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin, senyuman di bibirnya kian mengembang.


Sesaat kemudian, langkah kaki Dian sudah membawanya di hadapan Ibra yang tengah bertelanjang dada, memandangi ke arah Dian tanpa berkedip. Bibirnya menyeringai. Siapa sih yang gak senang bila di suguhi mangsa yang rela.


Dian mendekat dengan langkah menggoda dan terus mendekat sampai akhirnya berada di hadapan Ibra. Jemarinya menari di dada bidang suaminya itu.


Netra mata Ibra memandangi, dengan pandangan normalnya sebagai lelaki. Lalu dengan perlahan menyentuh setiap lekuk tubuh Dian, yang terlihat jelas seksinya, Dian menarik kedua sudut bibir senyum manis dan dengan beraninya mengarahkan tangan Ibra ke bagian-bagian tertentu di tubuhnya.


Yang membuat Dian merasa senang dan ingin merasakan yang lebih dari itu. Sampai dirinya mendapat kepuasan.


Tatapan keduanya sudah mulai berkabut gairah. Dan Ibra pun siap menunaikan kewajibannya pada Dian sebagai istri pertamanya. Ia turun dan melepas celana panjangnya dll nya.


Kemudian naik kembali merangkak di atas Dian yang posisinya sudah siap, diibaratkan bandara. Sudah siap menerima pesawat yang mau landing.


Ibra dan Dian menyatukan bibir keduanya, saling ******* dan ******** penuh gairah. Tibalah saatnya penyatuan mereka.


Kali ini sangat berbeda buat Ibra, yang biasanya ia mampu melakukan ritual itu berjam-jam. Apalagi kalau dengan Lara, namun kali ini cuma setengah jam saja. Waktu yang terbilang sangat singkat yang di rasa Dian, sehingga dia protes pada Ibra.


"Kok sebentar banget sih sayang, aku belum puas ..." dengan nada sangat menggoda dan napas yang masih belum teratur.


Ibra menatap langit-langit, mengendalikan napasnya yang masih memburu. "Capek." Dan juniornya pun langsung terkulai tak sanggup bangun lagi, benar-benar kalah dengan waktu yang sesingkat itu.


Dian berusaha membangkitkan lagi, namun sia-sia tetap saja junior Ibra tertidur lemas. "Ah ... kenapa gak bangun lagi?" setengah berteriak.


"Sayang ... mungkin capek, ngerti lah?" gumamnya Ibra melirik dan mengecup kening sang istri.


"Tapi, aku belum puas ... ngerti gak sih?" ucap Dian kesal.


"Sudah, lain kali bisa melakukannya lagi, kan?" bisik Ibra sambil merangkul bahu Dian. Dibawanya ke dalam pelukan.


Dian menyandarkan kepalanya di dada Ibra. Tiba-tiba Dian ingat sesuatu dan menyeringai, dia bangun. "Sayang, kamu pasti haus? aku ambilkan ya."


Dian turun, yang sebelumnya mengenakan lingerie nya. Lantas ia turun entah mengambil sesuatu dari laci. Dian menuang air mineral ke dalam sebuah gelas, diam-diam ia membubuhkan sesuatu ke dalam gelas yang sengaja buat Ibra.


Lalu, Dian memutar badannya. Serta menunjukkan senyum terindahnya. Membawa segelas air putih buat Ibra seorang.


"Ini, sayang ... di minum!" Dian naik dan memberikan gelas itu pada Ibra.

__ADS_1


Ibra menatap gelas tersebut, lalu menatap Dian bergantian. Tak lantas mengambilnya. "Aku gak haus sayang!"


"Ayo lah sayang ... kamu haus, kan? siapa tahu setelah minum. Kita bisa bermain lagi," ungkap Dian penuh harap dan menggigit bibir bawahnya.


Lantas Ibra mengambil gelas tersebut. "Gimana caranya nih? supaya air ini tak masuk ke perut ku, aku takut ada epek nya. Aku curiga." Batin Ibra berpikir keras.


"Ayo lah, diminum? dijamin kamu akan merasa tenang sesudah minum air itu, tuk beberapa hari ini kau akan lupa pulang dan akan selalu bersenang-senang dengan ku di sini." Gumamnya Dian dalam hati.


"Sebentar, aku pakai pakaian ku dulu," ucap Ibra menyimpan gelas di meja. Lantas mengambil celananya, setelah ia kenakan. Aku mau kencing," lalu meminum air yang Dian berikan. Sehingga Dian tersenyum puas.


Kemudian Ibra bergegas ke toilet, sesampainya di sana Ibra langsung memuntahkan semua air yang ada di mulutnya. Bahkan ia usahakan jangan ada sedikitpun masuk ke dalam perutnya. "Aku tahu ini bukan racun, tapi obat tidur. Epek nya akan membuat ku tidur dalam beberapa waktu dan akan mengakibatkan diriku tetap di sini. Melupakan jadwal pulang."


Membasuh mulutnya, sebersih mungkin. Langsung bersih-bersih di bawah air shower dengan suhu yang sedikit hangat.


Dian yakin, kalau Ibra meminum minuman yang ia berikan, terlihat jelas, kalau isinya tinggal setengah. "Bentar lagi kamu akan pulas sayang," melirik putaran jarum jam sekilas. Dengan senyuman yang terus mengembang dari bibir Dian.


Ia menghitung dari satu sambil menunggu Ibra keluar dari kamar mandi. Hingga hitungan yang kesekian, akhirnya Ibra keluar, namun betapa terkesiap nya Dian. Sebab yang dia lihat itu malah kebalikannya, bukannya ngantuk, malah nampak segar dengan handuk melingkar di pinggang. Dan juga dengan tetesan air yang jatuh dari rambut Ibra, tetesannya membasahi lantai.


Dian mendelik, melotot dengan sempurna. Netra matanya bergerak melihat gelas yang di meja dan ke arah Ibra bergantian, sungguh heran, kok obat tidurnya belum bereaksi sih?


"Kenapa sayang? cepetan mandi! kita akan pulang malam ini juga." Tegas Ibra sambil mengenakan pakaiannya.


"Ta-tapi, kamu?"


"Kenapa? cepat sana mandi!" jelas Ibra kembali.


"Aku gak mau pulang--"


"Kalau kamu gak mau pulang, buat apa suruh aku jemput ke sini segala ha? di Jakarta aku banyak urusan, bukan main-main, tahu gak?" ujar Ibra nampak kesal.


"Iya, aku masih ingin di sini, sama kamu sayang. Temani aku? besok atau lusa aja pulangnya, yang penting kita menghadiri acaranya." Dian memelas.


"Tidak, bisa. Harus pulang sekarang, kalau kamu gak mau pulang? ya terserah. Aku tinggalkan kamu di sini, dengar sayang, aku ini calon ayah. Aku harus bertanggung jawab sama istri dan anak ku."


"Kamu itu bukan tanggung jawab, tapi kamu egois. Cuma memikirkan dia saja, tak pernah memikirkan perasaan ku sama sekali." Dian menaikan nada bicaranya.


"Cukup, kamu bukan anak kecil lagi, bahkan kamu ingin punya anak bukan? tapi mana, tunjukkan dong. Kalau kamu itu layak menjadi seorang ibu," ujar Ibra. Menatap tajam.


"Pokok nya aku nggak mau pulang, titik."


"Terserah, aku mau pulang sekarang juga," lirih Ibra sambil mengenakan jam di tangannya.


Dian menghentakkan kakinya ke lantai. "Kamu itu egois," Dian bergegas ke kamar mandi.


Ibra menggeleng pelan. menghampiri meja kecil yang ada gelas yang tadi, Ibra ambil dan membuang airnya. Ke pot yang ada di sana. Akhirnya Ibra bisa mematahkan niat sang istri Dian ....


****


Hi, reader ku, niatnya tanggal ini juga up lagi. Namun karena review nya suka telat. Jadi ya gimana lagi. Semoga kalian puas 🙏

__ADS_1


__ADS_2