Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kesambet apaan


__ADS_3

"Dia itu, kan Jodi yang berusaha deketin Laras. Ngapain bareng Dian, ah rekan kerjanya kali," gumam Ibra sambil memberikan kartu pada Zayn agar membayar makannya.


Zayn pun mengangkat tangan memanggil pelayan dan melakukan transaksi pembayaran. Sementara Ibra memainkan ponselnya dan sesekali menoleh ke meja Dian yang sedang mengobrol.


Kemudian Ibra berdiri. "Yu pulang?"


"Nggak datangi istri kau dulu?" tanya Zayn sambil menggeser kursi bekas duduknya.


Netra mata Ibra melirik ke arah Dian. "Tidak, biar saja. Aku capek pengen segera mandi."


"Oke." Zayn mengikuti langkah Ibra yang lebih dulu menuju pintu.


Setelah berada di mobil. Ibra mengambil ponsel dari saku jas nya. Dan menggulir ikon kontak my Honey.


Ibra menekan sambungan vc. Lama tidak tidak di angkat sampai berkali, barulah tersambung dan nampak Laras sedang duduk di ruang tengah sedang menonton televisi.


Ibra: "Kemana aja sih, lama banget angkatnya?"


Laras: "Sedang nonton televisi, jadi gak kedengaran dering ponselnya."


Ibra: "Sudah makan belum? tadi saya kirim gulai kambing. Sudah datang belum?"


Laras: "Sudah tadi. Belum datang, ya Sus. Belum ada datang paket, kan?"


Ibra memandangi Laras yang mengenakan piyama bunga dengan rambut di ke samping kan, bikin Ibra menelan saliva nya. Baru sehari ini berjauhan, rasanya rindu sekali ingin memeluk dan menciumnya. Menghirup bau minyak wanginya.


Laras: "Sedang apa, mau ke mana?"


Ibra: "Mau pulang, ke mension."


Laras: " Oh."


Susi: "Ya ... tuan gak pulang ke sini? Nyonya muda kesepian dong."


Ibra tersenyum, menanggapi omongan Susi. Dan melihat ke arah Laras yang terdiam.


Susi: "Tuan. Kenapa mau pulang ke mension? gak ke sini saja."


Zayn: "Mau ngasih pisang sama istri tuanya. Ha ha ha ...."


Susi: "Apa? mau ngasih pisang, mana sih, aku pengen lihat seperti apa sih pisang cinta itu?"


Mendengar ocehan Susi itu, Zayn tertawa lebar. Meskipun matanya tetap fokus ke jalanan.


Ibra mesem-mesem dan mengarahkan ponsel ke Zayn. Agar Susi bisa melihat Zayn yang sedang nyetir.


Susi: "Tuan Zayn, aku sudah cari di mbah google, kok gak ada ya yang namanya pisang cinta?"


Laras: "Susi ... sudah aku bilang, jangan bahas itu lagi, nanti juga kamu akan mengerti."


Susi: "Ah, Nyonya ... Susi, kan penasaran."


Zayn: "Cari saja, dua telor satu pedang, pasti ketemu. Di mbah google."


Susi: "Apalagi itu?"


Ibra: "Cari saja, pasti ketemu kok."


Susi: "Ah ... Tuan Zayn bikin pusing aja."


Laras: "Makanya jangan di anu Sus. Jangan di tanggapi dia."


Susi merengut, mencebikkan bibirnya. Laras langsung mematikan sambungan vc nya, kasihan Susi, semakin di bikin pusing oleh Zayn.


"Kau ini, bikin kacau saja." Ketus Ibra sambil memasukan ponsel ke saku.


Zayn tertawa, kalau saja tidak sedang nyetir pasti dia tertawa terpingkal-pingkal. Ini juga sampai sakit perutnya.


"Senang betul ngerjain orang, bikin orang pusing saja." Suara Ibra dengan nada gak suka.


Ting!


Notifikasi masuk ke ponsel Ibra. Pesan singkat dari Laras yang mengatakan. "Jangan suka ngomong macam-macam ke Susi, aku pusing jawabnya. Tau gak?"


Ibra, tersenyum senang menerima pesan itu. Bibirnya makin mengembang, mengukir senyuman.


Zayn melirik ke arah Ibra yang senyum-senyum sendiri. "Kesambet apaan, senyum-senyum gitu?"


"Gara-gara kamu, istri ku kebingungan dalam menjawab pertanyaan Susi. Ada-ada saja omongan mu itu," ujar Ibra dengan nada dingin.


Selang waktu yang tidak begitu lama, mobil mereka sudah sampai di halaman mension. Beriringan dengan mobil Dian.


Zayn memberikan tas yang berisi laptop, kemudian langsung putar kemudi dan mundur untuk pulang.


"Baru pulang sayang?" sapa Dian mendekati Ibra.


"Iya, tadi kamu sama siapa di restoran?" tanya Ibra sambil mengecup kening Dian.


"Oh, tadi itu ... rekan bisnis ku, kamu lihat juga ya? kenapa gang menghampiri ku," kata Dian sembari berjalan memasuki mension.


"Nggak ah, lagian mestinya kamu yang datangi aku." Langkah Ibra kian lebar menuju kamar pribadinya.


Dian berdiri menatap langkah Ibra. "Sayang, nanti ke kamar aku ya? di tunggu."


"Oke." sahutnya sambil terus berjalan.


Dian meneruskan langkahnya, menuju kamar yang berbeda.


Ibra langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia pejamkan mata, pikirannya melayang, di sini tak akan ada lagi pelayanan dari Laras.


"Huh ... akhirnya aku harus melayani diri sendiri lagi, tak ada kamu lagi." Sebenarnya saat ini hati Ibra amat sangat meronta ingin ke tempat Laras. Namun itu rasanya tidak mungkin.

__ADS_1


Setalah. Mengenakan pakaian tidur, Ibra tidak lupa merawat dirinya yang diantaranya minyak wangi.


Dengan ragu, langkah Ibra menuju kamar Dian yang mungkin sudah menunggu dirinya di sana.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Jari Ibra mengetuk daun pintu kamar Dian, dan bergerak memegang gagang pintu. Rkett pintu Ibra di buka, nampak Dian sudah menunggu di atas tempat tidur dengan posisi yang sangat menggoda. Ibra mendekati Dian yang menyambutnya dengan senyuman terindahnya.


"Belum tidur?" basa-basi Ibra lantas duduk di tepi tempat tidur di sebelah Dian yang langsung mendekapnya.


"Kangen, kenapa sih? kamu biarkan aku merindukanmu, hampir seminggu aku kamu tinggalkan.Teganya," ucap Dian sambil menghujani pipi Ibra dengan ciuman.


Ibra hanya diam dan merima perlakuan dari Dian yang terus menggoda. Berusaha membangkitkan gairahnya yang agak dingin, keagresifan Dian terus di tunjukan untuk menaikan sesuatu milik Ibra.


Entah kenapa milik Ibra begitu susah untuk bangun, gairahnya sulit naik. Sampai-sampai Dian hampir putus asa dibuatnya, hampir saja Dian kehabisan tenaga.


"Aku capek, banyak kerjaan yang menguras tenaga dan pikiran." Gumam Ibra. Merasa kasihan pada Dian yang terus berusaha membangun ke agresifnya.


Dian tidak merespon ucapan Ibra, ia terus saja berusaha.


Dengan susah payah dan penuh perjuangan, akhirnya pertahanan Ibra luluh juga. Sesuatu yang di nantikan muncul juga.


Akhirnya menikmati ritual tersebut, meski tidak bertahan lama, lumayan lah dari pada tidak sama sekali.


Dian meletakkan kepala di bahu Ibra dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. "Kenapa kamu begitu lesu sih sayang?" mendongak sebentar.


Ibra memejamkan mata. "Capek." sesungguhnya dalam pikiran Ibra, nama Laras dan wajah Laras menari-nari di ruang hati.


"Secapek itu kah? dulu. Biarpun capek, kamu selalu semangat dan tidak lesu seperti ini," keluh Dian sambil memainkan jemarinya di dada Ibra.


Dengan masih memejamkan mata. "Sayang, usia ku sudah tidak muda lagi. Jadi wajarlah, kalau aku cepat lemah." elak Ibra menyembunyikan perasaannya.


Hening!


Tidak ada yang bersuara lagi, akhirnya kantuk pun menyerang keduanya, mereka pun terlelap menjemput mimpi. Berlayar di alam lain.


****


Di kediaman Laras. Susi sedang berdiri di pintu, menerima paket kiriman Ibra, ya itu gulai kambing buat Laras. Susi membawanya ke Laras yang masih nonton televisi.


"Nyonya, gulainya sudah datang." menyimpan di meja depan Laras.


"Oh, makan aja Sus," sahut Laras melirik paket yang di meja.


"Susi, ambil piring dan nasi ya? Nyonya." Sebelum mendengar jawaban, Susi langsung pergi ke dapur.


Laras menatap paket tersebut. "Dia, ingat juga ya kalau aku suka gulai kambing."


"Ini, aku sudah bawa piring dan nasinya juga." Suara Susi sambil berlutut di depan meja.


"Huh ... Susi sudah gak kuat, Nyonya. Aku kenyang."


Laras senyum-senyum dan mengusap perutnya yang kekenyangan juga. "Abisin, Sus sayang loh."


"Nggak ah, gak muat lagi." Timpal Susi.


"Katanya pengen gemuk? ya banyak makan," ucap Laras sambil meraih gelas air minum.


"Iya, sih ... tapi, kalau banyak makan. Nanti buncit, kaya orang hamil. Oya, aku mau cari itu ah yang di bilang tuan Zayn itu."


"Apaan Sus?" tanya Laras penasaran.


"Itu, dua telor satu pedang itu--"


Ehuk uhuk uhuk, Laras terbatuk-batuk, hingga air minum yang di dalam mulutnya muncrat seketika. "Astagfirullah ... Susi jangan."


"Pelan-pelan dong minumnya." Susi terkesiap dan mencari tisu untuk mengelap meja.


"Kamu itu jangan dengar omongan Zayn, kenapa sih?" Laras menatap Susi dengan kesal.


"Emangnya, kenapa Nyonya muda?" Susi malah menatap heran kea arah majikannya.


"Ih ... Zayn ada-ada saja, bikin pusing aku saja!" gumam Laras kebingungan. Gak tau harus gimana cara menjelaskannya, Laras memijat keningnya. Kalau tidak di jawab, pasti akan berkepanjangan. Sesuatu yang akan terus jadi pertanyaan Susi.


Berkali-kali Laras menarik napas dalam-dalam dan di hembuskan dengan sangat panjang. Susi memandangi dengan heran.


"Susi, aku mau jelaskan ya!" ucap Laras, lagi-lagi menghela napas panjang.


"Iya, apa Nyonya?" sangat penasaran.


"Em ... yang di maksud oleh Zayn itu ... cuman perumpamaan saja. Bukanlah yang sesungguhnya," ujar Laras.


"Maksud Nyonya muda gimana sih? aku belum mengerti." Kata Susi.


Helaan bapas Laras kian dalam dan panjang. "Gini ... Yang di bilang Zayn itu--"


"Iya." Tatapan Susi kian serius.


"Semua yang dibilang Zayn, adalah sesuatu yang ada dalam tubuh laki-laki, nanti juga kalau kamu punya suami pasti tau." Ungkap Laras.


Susi termangu dengan maksud yang ada dalam tubuh laki-laki. "Apa maksud Nyonya ... ke***** laki-laki gitu?" Susi nyengir dan bergidik.


Laras mengangguk pelan. "Iya, itu kamu tahu," balas Laras.


"Iiy ... ih ..." berkali-kali Susi bergidik geli dan menutup mata.


Laras menaikan alisnya. "Sekarang, kamu ngerti, kan? yang di bilang Zayn itu apa, sudah ah. Aku ngantuk huam ..."

__ADS_1


"Iya, Nyonya muda. Istirahat saja, biar ini Susi yang bereskan."


"Ya, makasih, itu sisanya simpan aja di lemari pendingin. Buat besok aja!" Laras beranjak dari sofa. Meninggalkan Susi yang membereskan bekas makan.


Saat ini, Laras sudah berada di kamar. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tarik selimut dan pejamkan mata. Seketika membuka mata Karena di kepalanya, mengingat nama Ibra. Bayangan wajahnya seakan menari-nari di kelopak mata.


"Ih ... buat apa sih ingat dia? dia itu lagi senang-senang bersama istrinya. Ngapain sih aku mengingat dia?" bibir Laras komat kamit membaca doa dan kembali memejamkan mata.


Namun tetap saja bayangan wajahnya membayang jelas di mata. Suaranya terngiang di telinga, Laras menutup telinga dengan bantal. "Aduh ... gimana aku bisa tidur? aku gak bisa pejam kalo gini, mana perut berasa tak karuan lagi! gimana nih?"


Ia mengusap perutnya yang berasa aneh. "Sebelumnya gak pernah kaya gini! sekalipun makan pedas atau apalah. Sayang ... bobo dong ... Mommy ngantuk." Laras bergumam sendiri.


Dari tiduran sampai duduk bersandar di bantal yang tinggi. Tetap saja tak nyaman, malam semakin sepi. Gemercik air hujan terdengar menghiasi hening nya malam, bagai suara musik mengiringi kesepian.


Laras turun, menginjakkan kaki di lantai, perlahan menyingkap gorden. Melihat keluar air hujan berjatuhan ke dedaunan, membuat daun tersebut bergoyang. Seakan melambai-lambai memanggil. bunga pun sama, bergoyang indah. Terkena air hujan, Laras berdiri di dekat jendela dengan hati yang gundah dan tangan terus mengusap perut yang rasanya sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


Pandangan menatap kosong. Pikiran terus membayang wajah Ibra yang dekat dengan wajahnya, Laras menggeleng kasar. Menepis semua yang ada dalam kepalanya itu, ia menutup gorden. Kemudian kembali ke tempat tidur membaringkan diri.


Tepat pukul 23.00 wib. Belum sekejap pun Laras memejamkan mata, biarpun pejam namun tak lena. Tak lelap tidurnya Laras. Ia mengambil ponsel di meja, berasa ada notifikasi yang masuk.


Benar saja, ada pesan dari Ibra yang isinya. "Met bobo sayang, moga mimpi indah. Aku merindukan mu dan anak kita."


Membuat Laras menghela napas panjang. "Apa ... mimpi indah. Belum bisa tidur nih." Gerutu Laras sambil menyimpan kembali ponselnya.


Malam semakin dingin, Laras sendiri. Berteman sepi dan bantal guling yang menemani.


Esoknya, Laras bangun dan bergegas bersih-bersih. berendam di air hangat, memenuhi bahthub, aroma terapi pun tak ketinggalan ia bubuhkan.


Susi sudah berkutat di dapur dengan masakan kesukaan Laras. Dengan nyanyian suaranya sendiri berasa di cafe.


Rindu ... rindu serindu rindu rindunya ... namun engkau tak mengerti oo ... mahu ... semahu mahunya ... namun apa daya ... orang tak sudi.


"Wah, lagi rindu sama siapa nih Sus?" suara Laras menghentikan nyanyian Susi lantas tersipu malu.


"Ah, Nyonya muda. Itu cuma nyanyian, yang ada, pasti Nyonya muda yang rindu sama tuan muda. Iya, kan? tuh matanya sembab seperti kurang tidur semalam." Susi menunjuk Laras yang memang benar kurang tidur itu.


"Ah, gak juga. Aku sulit tidur ... sebab semalam kebanyakan makan. Bukan rindukan orang! siapa juga yang harus aku rindukan." Elak Laras sambil mengusap perutnya.


"Susi juga semalam sama, kebanyakan makan tapi ... baik-baik saja tuh," sambung Susi.


"Kamu itu, gak hamil. Aku, lain lagi lah." timpal Laras. Kemudian meneguk susu bumil sampai tersisa setengahnya, lalu Laras keluar rumah menghirup udara yang sejuk di pagi hari yang cerah ini.


"Nyonya sarapan dulu," titah Susi yang mengikuti dari belakang.


"Iya, bentar lagi Sus. Sejuk sekali udara di pagi ini ya?" ucap Laras melirik ke arah Susi.


"Iya, sih ... sejuk banget." Susi mengangguk.


Agak siang, mereka berdua sarapan. Dan menghabiskan sate sisa semalam.


"Oya, besok lusa. Aku harus cek kehamilan. Kamu temenin aku ya, Sus?" ucap Laras melirik Susi yang sama juga sedang makan.


"Siap, Nyonya muda, aku akan menemani," sahut Susi mengangguk.


"Makasih, sebelumnya, Sus ..." Laras tersenyum.


Selesai sarapan, Laras kembali masuk ke dalam kamar untuk menunaikan salat duha. Laras masuk kamar mandi ingin mengambil wudu, kemudian ia mengenakan mukena. Lalu bersujud.


Susi berlari untuk membuka pagar, karena ada tamu dengan mobil di belakangnya membawa BMW merah. Susi heran mobil siapa di kirim ke tempat ini.


"Permisi, apa benar ini kediaman nyonya Laras Ibrahim?" tanya seorang dekat supir itu.


"Oh, iya. Ini kediaman nyonya Laras. Ada apa ya Mas?" sahut Susi heran.


"Orangnya ada? saya ada perlu tolong ya? panggilkan." lanjut Orang tersebut.


"Oya, sebentar saya panggilkan." Susi setengah berlari, menuju kamar Laras.


Sesampainya depan pintu kamar majikannya, Susi berdiri dan dengan ragu dia memanggil Laras. Majikannya. "Nyonya ..."


Laras yang baru selesai membaca doa terkesiap. "Iya ... Sus, ada apa?"


"Ada tamu. Ingin bertemu Nyonya muda." Jawab Susi dari balik pintu.


Laras berdiri. Menyimpan mukenanya, lantas membuka pintu. "Siapa Sus?"


"Nggak tau, dia bawa mobil BMW baru yang masih memakai pita. berwarna merah, mereka menanyakan kediaman Nyonya."


"Ah, salah kali Sus, salah alamat kali, kan aku gak beli mobil. Lagian Abang juga waktu itu, gak bilang mau kirim mobil baru kok." Laras dan Susi berjalan beriringan ke depan.


Benar saja BMW merah masih nangkring di atas mobil besar. Laras bingung, mobil siapa itu? gak merasa beli juga.


"Pagi menjelang siang, Nyonya. Anda Nyonya Laras Ibrahim?" sapa orang itu.


"Iya, aku Larasati," mengangguk pelan.


"Saya ke sini ... dengan tujuan mengantar BMW itu, harap anda terima. Silakan tanda tangani." memberikan selembar kertas untuk di tandatangani oleh Laras.


"Tapi, aku gak merasa membelinya Mas." Laras menggeleng.


"Tapi, jelas kok minta di kirimnya ke tempat ini, kami gak mungkin salah kirim." tambah orang itu.


Laras bengong. Memandangi BMW tersebut, apa Ibra yang belikan? tapi kenapa gak bilang dulu.


Kring!


Kring!


Kring!


Suara ponsel Susi berbunyi Susi langsung mengangkat ....

__ADS_1


****


Hi ... apa kabar reader ku yang pada baik hati, semoga kabar baik semuanya ya? selamat membaca, semoga puas dengan bab yang banyak ini.


__ADS_2