
Tidak terasa, sore sudah berganti malam, di luar dah mulai gelap meninggalkan terangnya matahari. Di sebuah kamar tersebut, penghuninya merasa leluasa untuk menghabiskan waktu bersama, melepaskan rindu dengan bebas.
Keduanya kecapean, habis bermain-main bersama mengarungi bahtera, menyelam di sagara yang penuh dengan madu. Membuat keduanya ketagihan bagaikan candu.
Di luar mobil Jodi memasuki garasi, Turun lah Caca duluan , tak selang lama Jodi pun masuk. Namun di rumah sangat sepi bagai tak berpenghuni.
"Mbak, pada kemana nih? apa Ayah sudah di kamarnya," tanya Jodi. Menatap asistennya.
"Sepi, Mas." Gumam Caca sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Iya, seperti ketika ayah belum berada di sini," sahut Jodi melirik sekilas.
"Tuan besar, di kamarnya." Asisten Jodi mengangguk.
Jodi melihat putaran jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. "Sudah makan malam?"
"Makan malam ... sudah Tuan, dibawakan sama mbok Darmi." Jawabnya sambil menunduk.
"Oh, baguslah." Jodi mengangguk. Kemudian melihat ke arah Caca. "Istirahat aja, besok pagi kita bicarakan sama ayah."
"Iya, Mas." Caca berdiri dengan tas di tangan. Pergi ke kamarnya di lantai atas.
Jodi menaiki anak tangga. Langkahnya mendekati pintu kamar pribadinya. Namun hatinya berkata lain, ia menggerakkan kepalanya melihat ke bawah. Merasa penasaran kalau belum melihat sang ayah dengan mata kepalanya sendiri.
Ia mengayunkan langkahnya, turun kembali mendekati kamar sang ayah. Entah kenapa ia tak ingin mengganggu orang lain dengan derap langkahnya, sehingga langkah kaki Jodi begitu pelan dan nyaris tak terdengar. Tangannya terulur pada gagang pintu, namun apa yang ia dengar? suara perempuan tertawa.
Alangkah terkejutnya Jodi saat ini. Sungguh terheran-heran. suara siapa itu jelas-jelas suara wanita, ia pasang telinga lebar-lebar. Ingin mendengar lebih jelas lagi, memastikan suara siapa itu. Namun tak ada lagi suara yang mencurigakan, menurut Jodi.
Hening!
Kemudian terdengar lagi suara yang aneh itu, suara perempuan yang merintih kecil, jelas-jelas dari dalam kamar sang ayah.
Klik.
Klik.
Klik.
Tiga kali Jodi putar handle pintu kamar sang ayah, penasaran siapa yang bersama sang ayah saat ini. Namun pintu dikunci dari dalam. "Ayah? ayah belum tidurkan?"
Hening! tak ada suara sedikitpun dari dalam. "Yah, Ayah!" Jodi mendorong beberapa kali pintu tersebut, namun tetap tak ada respon dari sang ayah.
"Nak Jodi?" panggil seseorang dari belakang.
Seketika Jodi menoleh. Ternyata mbok Darmi berdiri di belakang Jodi. "Mbok Darmi!" menatap heran.
"Tuan sudah tidur dari tadi," ucap mbok Darmi.
__ADS_1
"Tapi, kenapa dikunci pintunya?"
"Em, gak tahu. Tadi bilangnya biar gak ada yang ganggu katanya mau tidur, i-iya begitu kata tuan tadi," mbok Darmi mengangguk.
Jodi menatap penuh curiga, merasa aneh dengan yang ia dengar tadi dari dalam, jelas-jelas suara wanita. Ia yakin seyakin-yakinnya.
Tak mendapatkan jawaban sepatah katapun dari Jodi. Mbok Darmi pergi menuju kamarnya, dibalik rasa cemasnya ia tersenyum penuh arti.
Langkah Jodi kembali menaiki anak tangga, sesekai menoleh ke arah kamar sang ayah dengan perasaan yang masih penasaran.
Pagi-pagi Caca masuk ke kamar pak Mulyadi, kebetulan sudah tidak dikunci lagi. Tampak pak Mulyadi sedang duduk bersandar di bahu tempat tidur. Tersenyum ke arah Caca.
"Pagi Tuan," Caca langsung membereskan kamar pak Mulyadi, membuka gorden. Namun Caca heran kok tumben jendelanya terbuka apa semalam tidak di kunci atau gimana!
Belum rasa herannya terpecahkan, di depan jendela yang terbuka tergeletak bra dengan ukuran dabel XXL di lantai. Bikin kepala Caca pusing dan hatinya bertanya-tanya. Namun kali ini tak ada niat untuk mengambilnya, ia biarkan saja dan pura-pura gak tahu. Kemudian membawa pakaian kotor keluar kamar.
"Mbak, sini deh?" panggil Caca pada asisten rumah. Dengan lambaian tangan Caca pelan.
"Ada apa suster?" menghampiri Caca.
"Itu, di luar jendela kamar tuan, bagian luar. Ada bra tergelatak di lantai. Kira-kira punya siapa ya? Aku gak berani ngambil, gak enak sama tuan. Apalagi dari dalam."
"Punya siapa? mana mungkin ada di sana lagian. Nggak ada yang bawa cucian lewat sana, kan?" si mbak terheran-heran.
"Nggak tahu, Mbak. Kemarin juga aku menemukan pakaian dalam wanita di kamar tuan," sambung Caca, ia pun tak habis pikir.
Obrolan mereka yang pelan terdengar oleh telinga Jodi. "Ada apa nih?"
"Eh, Mbak, mbok Darmi ke mana?" tanya Jodi hentikan langkah wanita yang lumayan lama ikut dengannya itu.
"Beliau ke pasar, Tuan." Jawabnya.
"Oh, Caca. Ikut aku sebentar?" ucap Jodi pada Caca. Ia berjalan ke teras, dan Caca pun mengikuti dari belakang. Dengan hati bertanya-tanya.
"Duduk?" suruh Jodi menunjuk kursi.
Caca pun duduk. "Ada apa?" tanya Caca heran.
"Tadi kamu biang apa? menemukan kejanggalan gimana? di kamar ayah!" selidik Jodi menatap lekat ke arah Caca.
Caca bingung, bicara juga gak enak. Masa harus diomongin.
"Ngomong aja, kamu menemukan apa di kamar ayah. Sebentar lagi ayah akan menjadi ayah mu juga."
Caca menatap Jodi sesaat, kemudian pada akhirnya ia cerita tentang penemuannya di kamar pak Mulyadi. Jodi mengerutkan keningnya rasa heran memenuhi pikirannya.
"Terus punya siapa itu?" selidik Jodi pada Caca.
__ADS_1
Caca mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Di rumah ini siapa yang berbadan gemuk?"
"Mbok Darmi," gumamnya Jodi.
"Maaf aku gak nuduh loh." Caca jadi cemas kalau omongannya menimbulkan pitnah.
Kemudian sebelum bicara, Jodi melihat dulu kanan dan kiri khawatir ada yang dengar. "Justru aku juga semalam merasa aneh." Kemudian Jodi menceritakan kejadian semalam pada Caca wanita yang ia percaya dan sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Caca bengong. "Yakin dengan suara itu?"
"Aku yakin seyakin-yakinnya. Kalau telinga ini tak salah dengar." Obrolan mereka begitu pelan, lalu keduanya sama-sama tertegun, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun tidak ingin berpikiran lebih jauh lagi.
Akhirnya Jodi berdiri mau siap-siap tuk bekerja. "Kita akan cari tau nanti." Lantas menuntun langkahnya ke lantai atas menuju kamar.
Caca mengangguk pelan dan ia pun beranjak dari duduknya. Masuk untuk menemui pak Mulyadi.
****
Di kediaman Laras. Sedang bersiap-siap pergi ke mension. Laras ngecek koper yang isinya perlengkapan baby Satria semua. Begitupun barang Laras yang akan di bawa.
"Sayang, semua barang baby boy sudah siap semuanya?" tanya Ibra yang duduk santai di sofa sambil menggendong baby Satria.
"Sudah kayanya," sahut Laras menoleh. Ia maju menghampiri Ibra dan duduk di sana, mencium kepala baby Satria berkali-kali.
"Aku gak di cium?" netra mata Ibra menatap sang istri.
"Aish ... cemburu terus sama anaknya." Kata Laras sambil mengecup pipi sang suami kanan dan kiri.
"Iya dong sayang ... masa putra kita aja yang di sayang! Papi nya nggak, gak adil namanya," ucap Ibra lalu mengecup kening Laras lembut.
"Oak ..." suara baby Satria ketika Papinya mencium sang bunda.
"Kenap sayang? mau Papi cium juga hem, jagoan Papi yang ganteng." Ibra memeluk erat dan mencium baby itu, tampak gemas sekali Ibra pada putranya.
Manik mata Laras menatap sang suami dan baby boy. Bibirnya terus mengembangkan senyuman. "Aku gak di peluk? sekarang lebih banyak meluk baby Satria. Akunya di anggurin uuh ... nasib-nasib!" gumam Laras sambil merubah posisi duduknya membelakangi Ibra.
Ibra terkekeh, dengan satu tangan ia meraih pinggang ramping Laras dan menariknya. Kemudian menarik kepala Laras di letakkan ia bahunya.
"Siapa bilang di anggurin sayang? nggak kok, kan bentar lagi kita akan berbulan madu. mengabiskan waktu berdua." Cuph! kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Laras.
"Berdua?" Laras menjauhkan dirinya dari Ibra. "Baby boy gimana? masa mau ditinggal?"
"Nggak ditinggal sayang, kita ajak. Sekalian sama oma dan opanya juga Susi dan Zayn, biar mereka yang jagain baby boy. Selama kita bersenang-senang. kita seminggu di sana," ujar Ibra kembali meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Rencananya ke Bali, kan?" wajah Laras mendongak.
"Hem, baby boy bobo. Aku tidurkan dulu sayang." Ibra beranjak, setelah Laras menjauh ....
__ADS_1
****
Hi ... reader ku aduh aku baru bisa up nih,🙏 lagi kurang fit soalnya. Semoga kabar kalian semua pada sehat selalu ya Aaimiin.