Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kelelahan


__ADS_3

Laras tetap terdiam tak merespon ucapan Ibra.


"Sayang, bangun? jangan tinggalkan aku." Ibra khawatir dan cemas. air mata pun menetes. "Cepetan dong mobilnya? kok lelet banget sih." Teriak Ibra.


"Aduh Bos ... ini juga sudah cepat Bos, sabar." Zayn fokus menyetir sehingga detik kemudian sampai di depan sebuah Rumah sakit.


Ibra bergegas turun dan menggendong tubuh Laras sampai suster menyambut dengan Brangkar. Hati Ibra di selimuti dengan rasa cemas.


Laras di masukan ke ruangan pasien VIP. "Tolong dok. selamatkan istri saya," pinta Ibra pada dokter yang mau masuk.


"Baik, Tuan ... sabar ya?" balas dokter sembari menenangkan. Ia bergegas masuk untuk menangani pasien.


Ibra berdiri di di depan ruangan tersebut dengan hati gelisah. Gusar. Khawatir, kecemasan yang amat sangat. Takut Laras ke napa-napa. Tangan nya mengepal. "Awas ya? bajingan. Kalau sampai istri ku ke napa-napa. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, apapun alasannya." Gerutu Ibra.


"Sabar Bos, semoga Nona muda tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan." Zayn menepuk pundak Bos sekaligus temannya.


"Kamu tidak ada dalam posisi yang sedang aku alami. Sebab kamu belum beristri, betapa cemasnya hatiku ini. Takut orang kita sayang kenapa-kenapa." Jelas Ibra.


Zayn terdiam, ada benarnya juga omongan Ibra kalau dirinya belum merasakan yang kini di posisi Ibra. Kepalanya mengangguk pelan.


Cukup lama Laras di periksa. Kebetulan Ibra minta Laras sekalian di visum sebagai bukti yang lebih memuaskan.


Setelah sekian lama, akhirnya pintu terbuka juga. Ibra langsung menghampiri dengan rasa menasaran. "Gimana istri saya dok?"


"Baik, istri anda cuma kelelahan dan rasa panik yang berlebihan. Apa lagi banyak luka benturan di tubuhnya. Di tambah luka tamparan di pipinya."


"Boleh saya menemuinya?" tanya Ibra kembali.


"Oh, tentu. Silakan, oya hasil visumnya nanti juga keluar dan kami akan segera memberi tahu anda." Sambung dokter sambil bergegas pergi.


Tidak membuang waktu. Ibra masuk ke dalam dan di sana ada seorang suster yang masih membetulkan selang infus.


Laras terbaring lemah. Namun sepertinya sudah mulai sadar, Ibra menggenggam tangan Laras dengan lembut. "Sayang."


"Aku, di mana? tanya. Laras dengan suara parau. Netra matanya bergerak menyapu ruangan tersebut.


"Kita berada di Rumah sakit sayang, aku bahagia kau sudah sadar." Wajah Ibra sedikit sumringah dan merasa lega, mendapati sang istri telah sadar. Ia beberapa kali mencium tangan Laras.


"Oh, kepala ku sakit. Pipi juga." Tangan Laras yang di pasang infusan menyentuh pipinya.

__ADS_1


Jemari Ibra mengelus pipi Laras sangat pelan. "Dia gak melakukan yang lain lagi kan?" tatapan Ibra sangat intens pada sang istri, dengan tangan masih menggenggam tangan Laras.


Laras menggeleng. " Tidak, Alhamdulillah. Mas Irfan keburu datang. Kalau saja telat, aku gak tahu lagi gimana nasib ku!"


"Aku minta maaf, gak bisa menjaga mu." Lagi-lagi menciumi tangan Laras.


"Bukan salah kamu kok, mungkin memang harus begini. Yang penting aku sudah selamat," ungkap Laras kembali.


"Ada hikmahnya loh kejadian ini. Polisi bisa menangkap penjahat yang mereka cari selama ini." Zayn mendekati Ibra dan Laras.


"Tapi, istri ku yang jadi korban. Masih mendingan seperti ini! kalau saja lebih parah gimana coba? Istri saya hampir saja jadi santapan kebejatan si Ruswan brengsek itu." Gigi Ibra mengerat, kesal mengingat akan hal itu.


"Padahal, kawan kuliah bukan? itulah kawan menjadi lawan dan lawan bisa aja menjadi kawan." Lanjut Zayn.


"Benar sekali. Sepertinya kita harus lebih waspada lagi, kita butuh seseorang buat supir. Supaya Irfan lebih fokus menjaga istri ku. Khususnya ketika di luar," sambung Ibra.


"Benar itu. Aku setuju, bila perlu satu lagi lah buat temenin aku capek nyetir mulu. Apalagi Bos nya kaya kamu, seperti tadi bikin orang darah tinggi."


Kening Laras mengerut penasaran. "Emang kenapa?"


"Tadi aku sudah ngebut Nona ... tapi suami ini malah bilang lelet segala. Kalau saja aku adalah Jin. dalam sekejap mata pun oke, ting! aku sulap sampai deh." Jawab Zayn sambil menggerak-gerakkan tangannya.


Ibra menempelkan telunjuknya di bibir Laras. "Sangat. Aku sangat takut kehilangan dirimu, kau tau itu?" cuh! mengecup hangat kening, pipi sang istri.


Zayn menutup mata dengan jarinya. "Aduh aku ini masih belum pengalaman. Jadi gak bisa lihat yang seperti ini, pamali haduh ...."


Ibra tersenyum. Dengan sengaja Ibra malah menempelkan bibirnya dengan bibir Laras. Ia kecup mesra. Namun Laras meringis sebab sudut bibirnya sakit yang tadi berdarah.


"Maaf sayang." Ibra mengelus dan meniupnya perlahan.


"Aduh duh duh, jangan perlihatkan itu padaku. Aku ini masih di bawah umur." Akunya Zayn sambil menyeringai.


"Ah, belum pengalaman. Belum pengalaman mencium kebo?" cibir Ibra melirik sekilas.


Tiba-tiba Zayn tertawa lepas. "Ha ha ha ..." Namun tidak lama ia menangkupkan tangan di mulutnya setelah sadar bahwa ini Rumah sakit.


"Belum Bos, jangankan kebo. Istri anda saja belum pernah aku coba, ha ha ha ..."


Seketika Ibra melempar bantal pada Zayn. "Pergi kau. dan tolong jagain anak ku, Irfan biar menjaga di Rumah sakit saja."

__ADS_1


"Baik, Bos. Aku pergi dulu tapi awas istrinya di cicipi orang." Zayn membawa langkah lebarnya keluar kamar. Tidak lupa menutupnya.


Setelah memastikan Zayn sudah pergi, Ibra mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih dan sayang. "Istirahatlah sayang."


"Baby Satria gimana?" tanya Laras cemas pada putranya yang ia tinggal.


"Dia akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan dia ... banyak yang menjaganya." Ibra membuka jas nya.


"Aku bisa pulang cepat kan dari sini?" tanya Laras kembali.


"Wajah mu masih pucat, lemah. Paling besok kita pulang yang penting kamu cepat sembuh saja." Cuph! kecupan hangat mendarat di kening Laras.


"Tapi, aku pengen cepat pulang. Kasian baby Satria." Rajuk Laras.


"Sayang, dengar aku. Jangan banyak pikiran dulu. Baby kita aman, percayalah di sana sama Oma, opanya. Sekarang pikirkan dirimu saja biar cepat sembuh oke?"


Laras mengangguk pelan. Netra mata Ibra menatap lekat wajah sang istri. Menggerakkan jemarinya mengusap bibir Laras, ia tak bisa membayangkan jika miliknya ini di jamah orang seperti Ruswan. Ibra menautkan bibi mereka, kali ini dengan sangat lembut sekali. Jangan sampai melukai yang Laras rasa sakit.


Tangan Laras memegangi dada Ibra. Dengan berbaring Laras tampak pasrah.


Bibir Ibra menyapu setiap permukaan bibir Laras dan memperdalam ci**** nya. Sehingga menciptakan sensasi panas menjalar di tubuhnya.


Setelah beberapa saat. Ibra melepaskan. "Tidurlah. Bobo, biar cepat sembuh. Tapi jangan lupa makan dulu lalu minum obat.


****


Zayn yang baru tiba di Mension. Sibuk menerima segala pertanyaan. Soal kejadian Laras. Ini dan itu, ia pun menceritakan yang ia tahu saja. Selebihnya Zayn tidak tahu.


Bu Rahma ingin sekali menjenguk Laras ke Rumah sakit. Namun Zayn memberi pengertian. Biar Laras d rawat tanpa ada yang mengganggu biar cepat sembuh, yang di Mension fokus aja menjaga baby Satria.


"Baiklah, kalau baiknya begitu, Nak Zayn. Kami menurut saja." Balas Bu Rahma. Pak Marwan pun mengerti dengan alasan yang Zayn berikan.


Zayn minta handuk tuk bersih-bersi pada Susi yang bengong. Kesedihan terlukis jelas di wajahnya, khawatir pada sang majikan.


Saking melamun nya. Susi memberikan handuk pada Zayn sehingga dengan usilnya tangan Susi di tarik ke dalam oleh Zayn, membuat Susi menjerit dan menutupi matanya ....


****


Hi ... makasih sudah setia. Dan jangan lupa kunjungi kembali "Bukan Suami Harapan" semoga kalian suka🙏

__ADS_1


__ADS_2