Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Demam


__ADS_3

Sore-sore Laras terbangun, namun tidak mendapati Ibra di sisinya. Ia menggeliatkan badannya, memicingkan mata melihat ke semua sudut ruang kamar mewah itu.


"Di mana pria manja itu?" gumam Laras sambil mengibaskan selimut dan menurunkan kakinya ke lantai. Bergegas ke kamar mandi, waktu masih menunjukan pukul 16.45wib.


****


Saat ini Ibra sedang berada di suatu tempat bersama Zayn, ia meninggalkan Laras di hotel dalam keadaan tidur.


Manik mata Zayn mengamati Ibra yang tampak lebih fresh lebih terpancar aura bahagianya. "Wah ... nampak bahagia sekali nih, sepertinya gempur terus nih? jadinya terlihat fresh."


Ibra senyum simpul mendapat ucapan seperti itu dari Zayn. "Bisa aja," sambil menyandarkan punggung ke kursi.


"Gimana? senang ya, gak ada yang recokin, gak harus berbagi, yang ada cuma dia dan dia saja," tanya Zayn sembari menaikan alisnya.


"Sangat, sangat puas. Yang ada hanya aku dan dia, sikapnya yang kadang malu-malu. Bikin aku tambah geregetan," ungkap Ibra sambil menggeleng dan tertawa.


"Aduh ... jadi pengen," ucap Zayn sembari menepuk jidatnya.


"Makanya nikah," jelas Ibra.


"Mau, tapi belum ada yang cocok buat dijadikan istri, jadi ... ceritanya lupa nih sama istri tua?" sambung Zayn.


Ibra termangu, benar yang di katakan Zayn itu. Selama bersama Laras tak sedikitpun mengingat Dian, kebetulan Dian pun tak mengganggu nya sama sekali. Lain kalau di mension, seolah dirinya cuma hanya milik dia.


Tapi kalau sedang bersama Dian justru hatinya gusar memikirkan Laras. Seperti waktu itu, ketika berada di luar Negeri, pull dia cuek sama Dian. Ibra menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan napas kasar dari hidungnya.


"Gimana, sudah ketemu belum?" tanya Ibra mengalihkan pembicaraan.


"Nah, itu yang ingin aku sampaikan. Aku sudah menemukan, tempatnya nyaman. Strategis, walau berada dipinggir kota namun dekat dengan Rumah sakit, pusat pembelanjaan. Keamanan juga." Jelas Zayn.


Ibra mengangguk. "Baguslah. semoga nanti dia suka."


"Ini, gambar setiap ruangnya. Tidak besar tapi ... lumayan lah. kalau untuk di huni 4 atau 5 orang." Tambah Zayn sembari memberikan gambaran rumah tersebut pada Ibra.


"Oke ... bagus. Aku sih suka, Desain rumahnya juga bagus," ungkap Ibra dan memberikan ponsel Zayn.


Duar! .... suara guntur menggelegar dibarengi kilat yang menyambar. Hujan pun begitu deras membasahi bumi. Ibra jadi ingat Laras yang ia tinggalkan di hotel sendirian.


"Aku tinggalkan dia sendirian, aku harus pulang sekarang." Ibra berdiri mengambil kaca mata dan ponselnya.


"Tapi, obrolan kita belum selesai bos." Zayn menatap heran.


"Lain kali aja di kantor, kasian dia sendirian, apalagi dia gak tau kalau aku pergi."


"Telepon aja lah," sambung Zayn kembali.

__ADS_1


"Sudah ya? sampai jumpa lagi nanti di kantor." Ibra berlari meninggalkan Zayn yang melongo, menembus derasnya hujan. Menuju mobil yang terparkir agak jauh dari tempat ia bersama Zayn.


Zayn menggeleng, segitu khawatirnya Ibra pada istri muda nya itu.


****


Selesai menunaikan kewajiban nya, Laras berjalan mendekati Jendela. Di luar hujan sangat deras, dibarengi kilatan petir dan suara guntur, ia memeluk tubuhnya sendiri serta memejamkan mata. Merasa ngeri mendengar dan melihatnya.


Laras membalikkan badan menghampiri sofa. Hatinya mulai bertanya di mana Ibra sekarang? kedua netra mata Laras bergerak mencari sesuatu, laptop ada di tempatnya. Namun ponsel sepertinya gak ada.


Hatinya mulai gelisah. "Kemana sih dia? kok gak bilang sih?" bertanya-tanya.


Segera dia mengambil ponselnya, dan menelpon kontak Ibra namun yang Laras dapat bukanlah suara Ibra. Melainkan operator yang bilang nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


Hati Laras semakin gelisah. Cemas dan rasa takut yang menghinggapi. Masa ia di tinggal sendirian di hotel? lagian barang berharga seperti laptop masih ada di situ. Mana gak tau alamat yang sekarang ia tinggal di mana? ia duduk di lantai bersandar ke tempat tidur, memeluk lututnya sembari terus menghubungi kontak Ibra. Di luar, hujan semakin deras guntur pun semakin lebat dan kilat terus terlukis berwarna merah di langit.


Hari pun mulai gelap, seiring dengan waktu yang memasuki malam.


Rasanya bagai terulang lagi masa kesendirian dulu, dimana ia hanya berteman sepi. Tanpa ia sadari air mata menetes di pipi.


Suara derap langkah kaki mendekati kamar yang di duduki oleh Laras sekarang. Kedua mata Laras tertuju ke daun pintu, penasaran siapa yang akan muncul dari balik pintu tersebut. Tangan Laras mengusap kasar pipinya yang basah. Lalu Berdiri dan ingin mendekati pintu.


Cekrek!


Kenop pintu di putar dan pintu terbuka. Dan nampak Ibra berdiri dengan rambut klimis baju juga basah kuyup, pandangannya tertuju ke Laras yang sedang menatap cemas dirinya. Detik kemudian Laras berlari menghampiri Ibra dan memeluk dengan erat.


Ibra hanya diam dan membalas pelukan Laras, ia cium pucuk kepala sang istri penuh rasa kasih dan sayang. Semakin lama bukan napsu aja yang ia rasakan, tapi juga rasa sayang yang sudah mulai tumbuh.


"Aku cemas, aku takut. Di sini sendirian, mana gak tau jalan arah pulang? kamu tega ninggalin aku?" gumam Laras lagi, sambil mendongak melihat wajah Ibra yang basah.


"Hi ... siapa yang ninggalin kamu? aku itu ada urusan di luar sayang, bukan ninggalin kamu." Ibra menyelipkan anak rambut ke telinga Laras dengan netra mata bergerak menatap wajah cemas sang istri.


Sementara waktu, mereka saling bertatapan. Kemudian Laras sadar kalau tubuh Ibra basah kuyup, dan masih berdiri di pintu. "Ya sudah, masuk, tubuh mu basah kuyup begitu. Aku ambilkan handuk dulu ya? juga siapkan pakaian ganti." Laras segera mengambil handuk dan pakaian gantinya.


Ibra mengunci pintu dan berjalan mendekati sofa. Sesaat kemudian Laras kembali dengan handuk di tangan dan mengeringkan rambut Ibra yang sedang duduk di sofa. Lalu Laras membuka pakaian Ibra yang juga basah. "Dari mana sih, sampai basah kuyup begini?"


"Kan, tadi sudah aku bilang. Aku ada urusan sayang," timpal Ibra sambil melepas pakaiannya.


"Kenapa harus hujan-hujanan segala?" ucap Laras sambil berjalan mengambil pakaian Ibra.


"Bukan hujan-hujanan, sayang ... tapi ... kena hujan! bawel banget sih istri ku ini?" ungkap Ibra sembari menjepit hidung Laras.


"Sama aja, sama-sama basah." gerutu Laras. Setelah beres menggantikan pakaian Ibra. Bergegas membawa pakaian kotor ke kamar mandi dan langsung ia cuci.


Ibra membaringkan badan di sofa, Namun badan terasa dingin banget. Ia berdiri dan pindah tidurannya ke tempat tidur, ia menarik selimut dan membalut tubuhnya dengan selimut itu.

__ADS_1


Selesai nyuci, Laras keluar seraya berkata. "Nggak ada air dispenser ya di sini, pengen minum air hangat. Turun yu cari minuman anget gitu?" sembari berjalan mendekat ke tempat tidur. Lalu mengambil alat salatnya.


"Hem ..." gumam Ibra sambil mengeratkan selimut di dadanya.


Selepas salam, Laras memanjatkan doa pada yang maha kuasa. Kemudian membereskan mukena dan sajadahnya, langkahnya mendekati tempat tidur yang ada Ibra nya di sana.


"Cari minuman hangat yu? pengen minuman hangat." Kata Laras sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur itu.


"Pesan aja sayang ... ke resepsionis, aku, kedinginan nih," suara Ibra bergetar.


Mulanya Laras menunduk, mendengar suara Ibra yang bergetar. Laras terkesiap. "Jangan-jangan dia demam?" bergegas naik dan menempelkan punggung tangannya di bawah telinga Ibra.


"Ya, ampun ... dia demam, aku harus cari obat ke mana?" seketika wajah Laras pucat, khawatir bukan main. Jadi kebingungan sendiri.


Ia turun menelpon pihak resepsionis, meminta air minum yang hangat dan obat untuk menurunkan demam. Sambil menunggu pesanan datang, Laras segera mengambil handuk kecil. Dibasahi untuk mengompres kening Ibra.


"Kenapa harus hujan-hujanan sih? jadinya Kamu demam gini," gumam Laras sambil menempelkan handuk basah itu.


Ibra terus memejamkan matanya. Badannya bergetar akibat rasa dingin yang hebat. Bibirnya pun terus bergetar.


"Aku harus gimana?" menatap wajah Ibra yang pucat dan panasnya makin tinggi. "Kenapa harus sakit di sini sih? aku jadi bingung ... harus gimana?" kedua mata Laras terus saja menatap ke arah Ibra yang demam.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Laras segera turun, mendekati pintu, pasti dia pegawai hotel yang membawakan pesanan Laras. Dan benar saja. Pihak hotel yang datang membawa obat penurun panas dan minuman hangat nya juga.


Laras meminum sebagian. Kemudian ia minum kan ke mulut Ibra. Tidak lupa memberi obatnya, setelah meminum obat. Ibra berbaring kembali, dengan suara bergetar. " Ber ... dingin."


Laras menatap iba, jarinya mengelus lembut rambut Ibra. "Jangan sakit dong ... aku gak tega lihatnya," gumam Laras sambil terus memandangi Ibra yang terbaring lemah, dan dengan ragu mengecup kening Ibra dengan sangat lembut.


Ia terus bolak balik ke kamar mandi untuk membasahi handuk kecil yang ia pakai untuk mengompres kening Ibra.


"Aku, panggilkan dokter ya?" suara Laras pelan dengan kedua netra mata yang terus bergerak melihat ke arah Ibra.


Ibra membuka matanya, melihat wajah Laras yang begitu dekat dengannya. "Jangan, nanti juga aku sembuh. Sini peluk aku." Tangan Ibra menarik tubuh Laras ke dalam pelukan.


Laras menurut saja, ia tidur sambil memeluk Ibra yang suhu badannya lumayan tinggi. Laras pikir, kalau besok pagi masih tidak juga turun panasnya. Ia akan panggilkan dokter saja. Setiap satu jam sekali Laras terjaga untuk menggantikan kompres Ibra.


Namun kadang, Ibra tidak ingin di tinggalkan sekalipun hanya untuk membasahi handuk itu. Dengan erat Ibra memeluk tubuh Laras agar mendapat kehangatan. Laras hanya bisa menghela napas panjang dan membelai kepala pria tersebut ....


****

__ADS_1


Makasih banyak ya reader ku, yang selalu menunggu aku up, maaf ya jika ada kata yang kurang berkenan di hati kalian semua 🙏


__ADS_2