
Alangkah terkejutnya bu Rahma, Laras dan pak Marwan. Ketika melihat Ibra yang duduk melambaikan tangan dan Zayn tersenyum ke arahnya.
Laras melirik pak Marwan dan bu Rahma bergantian. "Pa, Ma ... kok abang?" Laras heran kenapa Ibra ada di bandara? kan sedang di Balikpapan.
Keduanya hanya menaikan bahu masing-masing dengan ke tidak mengerti nya. Apa maksud putra semata wayangnya ada di sana, mereka bergegas menghampiri keduanya.
Masih jarak dua meter juga Ibra berdiri dan menyambut kedatangan langkah sang istri, dan Ibra langsung memeluk Laras dengan sangat mesra. Menumpahkan rasa rindu yang beberapa hari ini tersimpan terhalang jarak dan waktu.
"Kenapa Abang ada sini?" tanya Laras dengan herannya. "Apa urusan di sana sudah selesai?"
"Belum," gumam Ibra sambil tetap memeluk erat sang istri tak ingin ia lepas walau sedetik pun.
Laras pun membalas pelukan Ibra, beberapa hari ini ia rasakan rindu berat pada sosok pria yang memiliki istri dua ini. Saat ini ia dapat mencurahkan nya juga.
"Sayang ikut Abang ke Balikpapan ya?" ucapnya Ibra dengan lirih.
"Ha?"
"Abang, akan lebih lama di sana. Sementara kamu sendiri di rumah."
Laras keluar dari pelukan Ibra dan mendongak. "Ada Susi atau bu Rika, lagian aku sudah biasa sendiri juga, ya Allah ... aku biasa sendiri kok." Laras menatap lekat suaminya.
Ibra membalas tatapan Laras begitu dalam, jarinya mengusap pipi Laras dengan lembut. "Sayang gak mau kah, ikut Abang dan menemani Abang?" suara Ibra pelan.
Laras menelan saliva nya dengan susah payah. Menggigit bibir bawahnya, kedua netra matanya menatap lekat netra mata Ibra. Seolah mencari kebenaran di sana, apakah benar dia menginginkannya?
Ibra menganggukkan kepalanya, untuk meyakinkan hati Laras. Agar mau ikut dengannya.
"Tapi ... Dian?" gumamnya Laras. Berwajah cemas.
"Dian tahu, kalau kamu aku jemput. Mau ya?" ungkap Ibra penuh harap.
Laras menoleh ke arah mertuanya yang memberi senyuman. Serta memberi dukungan dengan menganggukkan kepalanya.
Pandangan Laras kembali ke Ibra seraya berkata. "Iya."
Ibra sangat bahagia, senyumnya kian mengembang. Kemudian lebih mendekat pada sang bunda dan ayah. "Pa, Ma. Aku sengaja jemput Laras, karena kemungkinan aku akan lebih lama di Balikpapan. Dian juga tahu kalau Laras akan aku jemput sekarang ini."
"Itu, lebih baik sayang," bu Rahma memeluk Ibra, "Jaga dia ya!"
"Iya, Mah."
"Sayang, mantu Mama ikut suami mu ke Balikpapan. Agar dia bisa menjaga mu dan memperhatikan mu," ucapnya bu Rahma pada Laras sembari mengusap bahu Laras dengan sangat lembut. "Berbahagialah di sana."
Lagi-lagi Laras mengangguk dengan senyum yang merekah.
"Tuh kan, Mah ... kata Papa juga apa? mantu kita ini sangat cinta sama putra semata wayang kita ini, makanya. Coba lihat wajahnya begitu berseri, matanya berbinar. Itu tandanya dia sangat bahagia bersama putra kita." celetuk pak Marwan pada sang istri.
Laras tersipu malu, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Iya, Pa. Mama juga tahu." Tutur bu Rahma.
Ibra pun tersenyum senang. akhirnya Ibra terbang kembali bersama bidadari hatinya ke Balikpapan, sementara bu Rahma dan suami pulang lagi ke Belanda. Zayn di bandara melambaikan tangan pada dua pasangan itu.
Di dalam pesawat, Laras merasa resah dan gusar. Bagaimanapun ini kali pertama ia naik pesawat, wajahnya pucat ketakutan. Apalagi ketika melihat ke bawah, sesekali memejamkan matanya. Detak jantungnya sangat tak beraturan, berdegup melebihi normal. Tangannya menggenggam tangan Ibra kuat-kuat.
Melihat Laras seperti itu, Ibra tersenyum dan menguatkan sang istri. "Tenang sayang, aku ada di sini bersama mu."
Laras menoleh, wajahnya begitu pucat. Matanya sangat berkaca-kaca. "Aku takut," ucapnya sangat lirih.
"Jangan takut, berdoa saja semoga perjalanannya lancar hem." Ibra terus menenangkan sang istri.
Laras terdiam sambil berdoa dalam hati, semoga diberi keselamatan dalam perjalanan ini. Tangan yang satunya mengusap perutnya.
Ibra mengusap kepala Laras yang dibalut kerudung itu. "Jangan cemas."
"Aku gak bawa pakaian, orang gak ada persiapan." Laras melirik ke arah Ibra.
"Itu, gampang. Bisa beli, lagian kita di sana khususnya kamu banyak diam di hotel. Aku sibuk sayang di kantor, ngerti ya?" meremas jemari Laras.
Balasan Laras hanya anggukan saja. Kemudian memejamkan kedua kelopak matanya.
Selang beberapa waktu kemudian, Pesawat pun mendarat dengan selamat di tempat tujuan. Akhirnya wajah Laras yang mulanya pucat kini berangsur berseri kembali sebab sudah melewati masa-masa yang menegangkan baginya.
Selama di taksi, Laras tertidur. Hingga sampai hotel pun Laras masih nyenyak, karena tak ingin tidur nya terganggu. Abra pun berinisiatif sendiri, ia gendong tubuh Laras ke kamar hotel!.
Dengan perlahan Ibra membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidurnya. Ia tatap sangat lekat, membelai pipinya lalu menciumnya lembut. "Aku tinggal dulu ya sayang, bobo di sini." cuph! kecupan hangat mendarat di kening orang yang masih terlelap itu.
Ibra membawa langkahnya meninggalkan Laras di tempat tidur, yang sebelumnya menyelimuti lebih dulu. Dengan pelan ia menutup pintu. Ibra pergi dengan tujuan kantor.
__ADS_1
Mungkin terlalu lelah yang di rasakan oleh Laras, hingga ia benar-benar tidur nyenyak sampai sore tiba.
Saat sedikit membuka mata, Laras kaget di mana nih? seingat dia tadi di taksi. Kenapa sekarang ada di sebuah kamar mewah, matanya membelalak. Mengingat-ingat lagi. Tetap aja ingatannya sampai di taksi aja.
Mengibaskan selimut, turun menginjakkan kakinya di lantai. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan tersebut, kamar yang lumayan sangat mewah bagi Laras.
Melangkahkan kakinya ke dekat jendela. Membuka pintu balkon, sesaat Laras merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara di sana.
"Astagfirullah ... sudah sore, jam berapa nih?" gumam Laras. Bergegas masuk mau ke kamar serta ingin mengambil air wudu.
Sebelum masuk kamar mandi, Laras tertegun. "Gimana caranya? gak ada mukena, gak ada kain atau pun baju, ah gimana nih? menepuk keningnya.
Ting! ting!
Suara pesan singkat, Laras segera menghampiri dan mengambil tas yang ada ponselnya di situ. Ia buka layar dan membuka sebuah pesan dari Ibra yang berisi kata-kata.
Ibra: "Sayang, sudah bangun belum? sebentar lagi akan ada orang yang mengantarkan keperluan mu."
Laras: "Aku mau salat tapi gak ada mukenanya!"
Ibra: "Ada, tenang saja, tunggu sebentar aja orang nya pasti datang."
Laras: "Oke. Makasih!"
Laras segera mengambil air wudu. kemudian ia duduk sementara waktu di sofa menunggu orang yang membawakan segala keperluannya.
Selang waktu yang relatif singkat, pintu ada yang mengetuk dari luar dan Laras bergegas membukanya. Benar saja ada orang menjinjing beberapa paper bag, berdiri di depan pintu.
"Dengan Ibu Larasati?"
"I-iya Bang." Laras mengangguk.
"Iya saya."
"Oh, ini milik anda," ucapnya sambil memberikan paper bag dengan ramahnya.
"Oh, iya makasih, Bang." Laras mengambil barang-barang itu.
Orang tersebut pamit dan berlalu. Sementara Laras menutup kembali pintunya. Lalu bergegas masuk dan membuka isi paper bag.
Rupanya alat salat, pakaian ganti buat Laras termasuk piyama dan tak ketinggalan pakaian dalamnya. Lalu segera melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
"Abang, kan belum makan?" menatap suaminya yang duduk di sofa memangku laptop.
"Hem, nanti aja lagi nanggung nih." gumamnya dengan mata fokus ke layar laptop.
Laras merasa kesal, sudah berkali-kali menyuruh Ibra makan. Namun jawabannya selalu sama, kemudian Laras mengambil piring makanan lalu ia mendekati Ibra, lantas menyuapi Ibra agar mau makan. "Nanti kamu sakit, tahu gak?" netra mata Laras berkaca-kaca.
Ibra hanya membuka mulutnya setiap Laras suapi. Mata tetap fokus ke layar dan jemarinya dengan terampil memainkan papan keyboard laptop.
Sambil menyuapi Ibra, sesekali Laras mengusap matanya yang terus keluar air bening dan matanya terasa panas. Ibra menoleh, menatap sesaat. Merasa heran karena Laras menangis.
"Kok nangis, kenapa hem?" mengusap sudut matanya sang istri.
"Kesal!"
Ibra mengerutkan keningnya. "Kesal kenapa?" sebuah pertanyaan yang begitu ringan.
"Kesal kenapa? gimana aku gak kesal coba, disuruh makan aja sulitnya bukan main. Apalagi di suruh masak dulu!" gerutu Laras, hatinya benar-benar dibuat kesal kali ini.
Ibra menggeser duduknya. Jarinya mengusap pipi Laras yang basah. "Sayang ... sekarang kamu tahu, kan? sesibuk apa aku di sini. Makanya aku jarang kasih kabar--"
"Aku gak nanya itu!" ketus Laras sedikit memajukan bibirnya.
Ibra tersenyum lucu. "Jangan ngambek ah, nanti cantiknya ilang. Makasih ya sudah mau menemani ku di sini?" netra matanya menatap Laras yang kembali menyuapinya.
Laras mengangguk. Memberi minum Ibra yang makannya selesai, membereskan bekas makan dan mencucinya di wastafel.
Kemudian duduk kembali di dekat Ibra yang tetap sibuk dengan laptopnya itu.
"Sayang, bobo duluan aja. Aku nanti nyusul!" ucapnya Ibra begitu lirih.
Kedua netra mata Laras mengamati sang suami, yang baru kali ini ia lihat begitu sibuk. helaan napas Laras begitu berat, hingga akhirnya tak terasa laras ketiduran di sofa sebelah Ibra.
Ibra menggeleng. Melihat sang istri tertidur di sofa sebelahnya duduk, ia menutup laptopnya. Kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Ibra membungkukkan tubuh, menggendong tubuh sang istri. Memindahkan nya ke tempat tidur. "Ngeyel, di suruh tidur duluan juga." gumamnya Ibra.
Laras dibaringkan nya di atas tempat tidur. Begitupun dirinya berbaring di samping sang istri, menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya. Ia tatap wajah Laras yeng sudah pulas itu, jarinya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi keningnya.
__ADS_1
Cuph! Ibra mendaratkan kecupan hangat di kening dan pipi sang istri. Kemudian turun ke perutnya. "Apa kabar sayang?baik-baik ya yang sehat di sana, nanti kita bermain bersama," menciumi perut Laras berkali-kali. Saking capeknya, Ibra pun tak butuh waktu untuk menjemput mimpinya. Kedua mata tak mampu melek lagi. saking ngantuk nya.
Begitulah keseharian Ibra selama di Balikpapan. Boro-boro mengajak jalan-jalan istri, bersenang-senang. Mencumbu sang istri ataupun memberi kewajibannya sebagai suami pun tidak, yang ada juga. Laras sering dibuat nangis. Sebab Ibra sering kali mengabaikan kesehatannya sendiri.
Hari ini ... hari ke delapan Ibra berada di Balikpapan, dan segala urusan kerja Ibra sudah selesai. Ibra bersiap-siap pulang, Laras sedang mengemas barang-barang milik Ibra dan sebagian punya dirinya.
"Mau jalan-jalan dulu apa langsung mau pulang?" tanya Ibra sembari membereskan pakaiannya.
"Pulang sajalah," sahut Laras, ia tak ingin ke mana-mana selain pulang. Capek hati di sini juga, melihat Ibra terlalu sibuk.
"Maafkan aku sayang, kalau selama di sini aku terlalu sibuk." Ibra merangkul tubuh sang istri. "Coba katakan. Sekarang maunya apa?"
"Mau pulang," sahut Laras dengan cepat.
"Yakin?" tatapan mata Ibra sangat lekat dan mengandung keinginan.
Laras mengangguk. "Iya, pulang. Apalagi?" menatap dalam.
"Nggak ... ini dulu?" tanya Ibra , bibirnya menyeringai.punggung jari membelai pipi Laras.
"Apaan ih? gak ngerti! nyengir-nyengir gitu," Laras mesem dan menggeleng.
"Ini dulu." Menepuk-nepuk kasur sambil tiduran.
"Ih, apaan sih ... aku gak ngerti?" akunya Laras senyum-senyum malu.
Ibra bangun dan memposisikan duduk bersila di depan sang istri. "Masa gak ngerti sih?"
Laras menggeleng. "Nggak."
"Uuh ..." dengus Ibra kesal. menarik tangan Laras agar mendekat. Dibawanya ke dalam pelukan. "Nggak maukah membuatku bahagia, eh ... maksud aku gak pengen kah? kita melakukannya."
"Pengen apa ih? melakukan apa, yang jelas dong," ucap Laras sambil menyeringai dan pura-pura gak ngerti.
Ibra mendekap tubuh Laras sangat erat, mencium pucuk kepalanya. Mencium wangi rambutnya. "Selama di Balikpapan kita belum pernah melakukannya, belum pernah bulan madu. Lama aku tidak menjenguk baby kita."
Bibir Laras tersenyum lebar mendengarnya. Jantungnya yang deg deg gan kian melompat aja nih, apalagi kini Ibra semakin gencar dengan sentuhan-sentuhan halus yang siap menaikan libidonya. Atau gairah untuk melakukan sesuatu yang lebih.
Ibra makin ganas. Semakin menggencarkan serangannya, membuat Laras kian pasrah. Gairah Ibra begitu tinggi, maklum lah biasanya juga setiap hari melakukan ritual pribadinya. Tapi sudah seminggu ini tidak sama sekali, juniornya benar-benar dibikin puasa. Sebab saking sibuknya dengan urusan kerjaan.
Tubuh Ibra mengunci mengungkung tubuh Laras yang menatap sendu padanya. perlahan tangan Ibra melepas semua penutup keindahan yang ada di diri Laras, sehingga nampak semuanya.
Napas Ibra kian memburu, Suaranya kian berat. libidonya yang meluap-luap, tak sanggup lagi menahan hasratnya yang begitu tinggi.
Saat ini keduanya sedang menikmati ritualnya, ritual yang seminggu ini terjeda oleh kesibukan. Peluh keduanya bercucuran, napas di dadanya naik turun dan berdesis suara yang menambah gairah keduanya.
"Su-sudah, nanti kita telat." Suara berat Laras di sela permainan yang Ibra lakukan.
Namun Ibra tidak mengabulkan. Malah tambah asyik, menikmatinya. Sampai ia benar-benar puas, keringat membanjiri tubuhnya itu.
Waktu terus berputar dengan cepat. Kini keduanya sudah bersih-bersih dan siap untuk pergi ke bandara, akhirnya pulang ke Jakarta.
Di bandara, sambil menunggu penerbangan. Keduanya mencari makan terlebih dahulu, perut sudah pada demo sedari hotel juga. "Mau makan apa sayang?"
"Makan kamu," ucap Laras sambil melihat ke arah sekitar.
"Apa sayang?" tanya Ibra sambil memasang telinganya. "Nggak salah, kan sudah tadi. Belum puas apa? nanti aja di rumah dilanjut lagi oke!"
"Ha? apa. Maksud aku, kamu makannya apa samakan aja! ngomong apaan sih?" ralat Laras tersipu malu.
"Oh, itu ... ngomong dong sayang!" ungkap Ibra sambil merapikan kerudung Laras.
"Kamu aja yang pikirannya ngeres mulu!" sahut Laras kembali. Makanan pun datang, Ibra dan Laras makan dengan sangat lahapnya. Perut yang sudah keroncongan akhirnya terisi juga.
"Oya, sayang selama di hotel gak pernah keluar, aku gak sempat mengajak mu jalan. Sorry ya? sudah buat kamu jenuh," ungkap Ibra di sela makannya.
Sebelum menjawab, Laras menghabiskan dulu makanan yang di mulut. "Nggak pa-pa, lagian aku takut. Nanti Dian mengira kita senang-senang di sini, jadi ya begitu adanya, mana ada kita jalan-jalan ataupun senang-senang!" Laras menaikan kedua bahunya.
"Iya, sayang." Ibra memasukan sendok ke mulutnya.
Mereka pun menghabiskan makannya, diakhiri dengan minuman jus. Kemudian keduanya balik ke tempat semula, menunggu penerbangan.
Setelah menunggu beberapa waktu. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi berangkat juga, mulut Laras komat kamit membaca doa. Hatinya bergemuruh, perasaannya tak karuan.
Wajahnya sudah mulai menampakkan kecemasan, kebetulan cuaca kurang mendukung. Langit sedang menangis dan kilat pun menampakkan cahayanya, seolah menyambar-nyambar yang ada disekitarnya ....
****
Hai ... reader ku semoga puas ya, biarpun satu episode tapi isinya sama dengan dua episode kok. Terus dukung aku jangan lupa ya🙏
__ADS_1