Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Seindah senyumanmu.


__ADS_3

Di sebuah tempat, Dian tengah duduk bersama anak itu yang mengaku nama Ferdi. Anak itu asyik makan eskrim yang Dian belikan. Netra mata Dian terus celingukan mencari seseorang yang mungkin sedang mencari keberadaan anak itu.


"Em, Ferdi ... kesini sama siapa Nak?" selidik Dian sambil menatap anak itu.


"Sama ... sama Papa." Jawabannya dengan tetap asyik makan eskrim.


"Terus, papanya ke mana?" tanya Dian terus menyelidik.


Ferdi menggeleng. "Tidak tahu."


"Kok tidak tahu? Mama mana? mama?"


"Tidak tahu juga. Kata papa mau mau punya suami baru!" jelas anak itu. Kakinya yang tak mau diam terus saja bergelayut di bawah meja.


Helaan napas Dian kasar. "Teledor amat sih orang tuanya."


"Fer, Ferdi?" panggil seseorang dari arah belakang Dian.


"Papa?" anak itu turun dan menyeruak ke pelukan yang dia panggil papa.


Seiring anak itu berlari, kepala Dian pun ikut menoleh. Alangkah Terperangah. Ternyata pria yang di panggil papa oleh anak itu, ternyata orang yang setidaknya ia kenal walau gak kenal-kenal banget.


****


Jodi berjalan, memasuki ruang tengah dan mendapati sang ayah dengan perawatnya. Tentunya manik mata Jodi mencari keberadaan Dian yang tidak ia lihat di tempat itu.


"Dian mana?" tanya Jodi sambil mendudukkan dirinya di sofa samping pak Mulyadi.


"Lah ... gak ketemu kamu di luar?" pak Mulyadi balik bertanya.


"Tidak." Jodi menggeleng.


"Tadi dia pamit pulang. Sepertinya dia shock--"


"Shock kenapa Yah?" Jodi heran dengan perkataan sang ayah. Begitupun Caca penasaran dengan maksud pak Mulyadi. Keningnya mengernyit.


"Iya, maksud Ayah. Sepertinya dia itu menyimpan harapan sama kamu."


"Harapan? aku gak merasa memberi harapan sama Dian."Jodi menaikan alisnya.


"Begitu maksud Ayah, kalau kamu tidak bisa memberikan suatu kepastian. Janganlah memberi harapan."


"Harapan apa Yah ... aku gak pernah memberi harapan sama dia. Aku cuma menganggap dia sahabat dan rekan bisnis saja." Jelas Jodi. Mengelak kalau dirinya memberi harapan pada Dian.


"Ya, baguslah kalau begitu." Pak Mulyadi hendak mengayuh kursi roda nya. Untuk ke kamar.


Jodi langsung mendorong. Kebetulan Caca entah sedang menyimpan gelas ke dapur.


"Ayah rasa, Dian itu menyimpan rasa sama kamu, Nak," ungkap pak Mulyadi.


"Rasa apa? Yah aku aja gak pernah punya rasa yang lain selain teman. Lagian bukan tipe wanita ku," sahut Jodi.


"Ayah tahu itu. Kalau ayah sih tidak harus kamu menikah dengan a atau si b. Enggak, terserah kamu dan jodohnya. Yang gimana juga."


"Iya, Yah. Aku juga tahu. Semoga aku dapat jodoh yang terbaik." Gumamnya Jodi.


"Gimana kabar adik mu?" tanya pak Mulyadi. Mengingat adik Jodi yang cewek sedang mengenyam pendidikan di luar kota.


"Baik, dia baik. Kemarin dia telepon dan Menanyakan Ayah juga katanya kangen," sahut Jodi.


"Baguslah."


Masing-masing menjalankan salat magrib, dan mereka berkumpul kembali setelah waktunya makan malam tiba. Selesai makan ayah dan anak itu berbincang di ruang tengah. Tadinya mau berkunjung ke tempat Laras mau menengok lagi baby boy. Namun dikarenakan sudah malam, akhirnya mereka putuskan ke tempat Laras itu keesok harinya.


Kebetulan pak Mulyadi sedang kurang enak badan jadi masih sore pun beliau sudah meminta diantar ke kamar dan beristirahat.


Caca tengah duduk di tepi tempat duduk yang berada di dekat kolam renang. Memandangi air yang bening mengkilat terkena sorot sinar lampu. Duduk bersandar dengan tangan melipat di dada. Pikirannya melayang entah kemana.


"Hai ... sedang apa di sana? melamun saja, nanti ada yang lewat gak kelihatan." Suara Jodi dari arah samping.


Caca segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Jodi berdiri dengan pandangan mengarah pada dirinya. Tajam. "Ah, agi duduk-duduk saja."


"Panggil saja Jodi. Jangan canggung-canggung gitu." Jodi berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi yang sama. Berjarak sekitar 80 cm. Dari duduknya Caca.


"Oh, iya." Caca tersipu malu, tangannya saling bertaut.


"Kenapa belum tidur?"


"Em, belum ngantuk. Lagian masih sore juga, Tuan aja yang ingin cepat istirahat. Sebab kurang sehat."


"Sudah diberi obat?" Jodi melirik ke arah Caca.

__ADS_1


"Sudah, tinggal istirahat saja." Caca mengangguk.


"Em ... kamu meninggalkan anak atau suami di rumah!" selidik Jodi.


Caca mengerutkan keningnya. "Maksud?"


"Kalau saja kamu punya suami dan meninggalkan anak. Kau boleh kok PP, pulang malam dan balik jam 6 pagi ke sini. Aku tidak ingin mengganggu kewajiban mu di rumah. Walau ini tanggung jawab atau pekerjaan mu, Tetapi tidak harus 24 jam juga," ujar Jodi.


Sesaat Caca menatap ke arah Jodi. Kebetulan di rumah tak ada suami ataupun anak, yang ada cuma orang tua saja. Caca tersenyum manis dan seraya berkata. "Tidak. Saya ... tidak meninggalkan beban di rumah, di sana hanya ada orang tua saja."


"Oh, kirain ada. Saya sih cuma tidak ingin terlalu membebani dirimu, itu saja." Jodi berujar sambil menatap air yang tenang.


Caca menggeleng. "Tidak." Ia menunduk dalam seolah ada yang di pikirkan.


"Kenapa? kok tampak sedih," tanya Jodi. Melirik sekilas.


Caca menggeleng. "Terlalu sakit untuk di ceritakan." Menghela napas kasar.


"Cerita aja, mungkin akan sedikit membuat hati kamu lega."


Caca terdiam, pandangannya kosong. Tangannya bertaut. Napasnya kian berat, seakan menanggung beban yang sulit terlepaskan. "Saya ... pernah di tinggalkan tatkala hari pernikahan berlangsung."


Seketika kepala Jodi menoleh. Tak percaya dan terheran-heran. "Masa? kok bisa seperti itu, gimana ceritanya?" selidik Jodi tambah penasaran.


Sebelum menjawab, lagi-lagi Caca menghela napas kasar. "Dia, lebih memilih wanita yang bari dia kenal." Tidak terasa air mata Caca menetes di kedua pipinya. Keluar dari bendungannya yang sudah terasa panas.


Kini giliran Jodi yang menghembuskan napasnya dengan kasar. "Terus acaranya gimana?" selidik Jodi seakan cerita Caca menarik tuk ia ketahui. Terbayang gimana hancurnya hati dan kecewanya keluarga Caca kala itu.


"Tentunya batal. Orang tua saya kecewa, hati saya hancur tak berkeping. Lukanya masih terasa sampai sekarang."


"Kurang ajar tuh laki. Tidak bertanggung jawab sekali, meninggalkan dikala hari H." Jodi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kepala Caca mengangguk. "Hati saya bertambah hancur. Ketika selang seminggu aku mendengar kabar dia melangsungkan pernikahan dengan wanita itu. Namun nasib malang menimpa keduanya."


"Maksudnya?" tanya Jodi kembali menatap penuh rasa penasaran.


"Mobil calon pengantin, yang di dalamnya kedua calon mempelai. Mengalami kemalangan dan korban tak terselamatkan." Kenang Caca sambil menghapus bekas air matanya yang membasahi pipi.


"Azab tuh, Sukurin loh," ucap Jodi yang tampak geram, meskipun cuma mendengar cerita Caca. Dia tipe pria yang tidak suka bila mendengar ada pria yang menyakiti wanita.


Caca menunduk. Sambil membuang napasnya. "Saya tidak pernah berharap mereka seperti itu. Saya bertambah shock kala mendengar berita tersebut."


"Tapi sesungguhnya, pasti ada hikmah di balik itu semua. Kadang kita kecewa dan menyesali setiap yang terjadi, padahal Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk kita." Jodi menatap langit yang terbentang luas, berhiaskan bintang yang saling berkedip.


Caca menoleh, lalu melepas pandangan ke langit yang Jodi tunjukan. "Emang kenapa?"


"Tidak ke napa-napa, indah saja. He he he," sahut Jodi sambil tertawa kecil.


Caca kembali menoleh. Sambil menggeleng, bibirnya mengulas senyum. Kemudian pandangannya kembali menatap langit.


"Seindah senyuman di bibirmu," gumamnya Jodi. Kemudian keduanya saling menoleh menatap satu sama lain. Caca. tertegun dan Jodi sedikit salah tingkah.


Jantung Caca jadi berdebar tak menentu, detak nya kian tak karuan berada dekat Jodi. Ia memilih segera pergi dan menyembunyikan perasaan gugupnya.


Jodi memandangi langkah Caca yang meninggalkan tempat tersebut. Dengan helaan napas yang panjang netra matanya menatap langit yang berubah hitam pekat dan sepertinya bersiap menjatuhkan airnya.


Jodi berjalan memasuki kamar sang ayah. Namun di sana netra mata Jodi mendapati mbok Darmi sedang duduk di tepi tempat tidur sang ayah dan tampak gugup tatkala Jodi memergoki dirinya di sana.


"Em, Mbok. Mbok lagi melihat Tuan. Ta-takut butuh sesuatu, Sebab suster Caca entah ke mana!" kata mbok Darmi, tanpa Jodi bertanya.


"Oh, iya." Jodi mendekat mengamati sang ayah yang sudah tertidur. Kemudian keluar dari kamarnya sang ayah.


Mbok Darmi pun keluar mengikuti langkah Jodi, lalu menutup pintu pak Mulyadi. Jodi menaiki anak tangga, mempercepat langkahnya ke kamar pribadi.


Kini Jodi sudah berada di kamar yang termasuk luas dan mewah. Menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang king size, dengan dipan berwarna emas.


Menatap langit-langit. Pikirannya melayang entah kemana? di bibirnya terbesit senyuman tipis. Terbangun, berjalan mendekat dan berdiri di depan cermin.


****


Di sebuah tempat tidur yang besar, ada sepasang pasutri tengah berbincang, terlihat sangat intim. Posisinya berbaring dengan kepala si wanita berbantal kan bahu sang pria, dan tangan si pria merangkul pinggang sang istri.


Ya. Laras baru saja memberikan asi ke baby Satria dan menidurkannya. Kini tinggal mengurus baby besarnya yang minta di manja.


"Abang, kangen seperti ini. Kangen berdua dengan intim saling peluk," ucap Ibra sambil melabuhkan kecupan di kening sang istri.


"Lagak Abang ini, seperti gak lama gak pernah kaya gini aja. bagai lama terpisah gitu." Jari Laras menjepit hidung sang suami yang mancung itu.


"He he he, iya lah. Beberapa hari di Rumah sakit. Mana ada aku bisa peluk cium seperti ini, selalu di bayang-bayangi mama dan papa, belum si kecil minta mimi, jadi papinya gak kebagian deh." Goda Ibra.


Bibir Laras mesem-mesem, seraya bergumam. "Apaan sih?" mendongak mengusap pipi sang suami.

__ADS_1


Jemari Ibra membelai rambut panjang sang istri sangat lembut, serta dengan tatapan sayu. "Bobo sayang, mumpung baby Satria bobo. Nanti kalau bangun, tidur mu akan terganggu juga. Besok aku mau ke kantor cabang, kemudian ada rapat di mension. Kemungkinan pulang sore. Nggak pa-pa kan hem?"


Netra mata Laras menatap sendu dan berkali menguap, ia mengangguk. Lantas menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Memejamkan matanya itu, telapak tangan masih di pipi sang suami dan mengusapnya pelan. Begitupun Ibra. Matanya terpejam hanyut dengan usapan telapak tangan sang istri yang lembut.


Dua jam kemudian si kecil bangun, sebagai ayah siaga. Ibra bangun duluan dan mengganti popoknya yang basah, kebetulan sudah diajarin sang mama. Cara mengganti popok si baby boy.


Setelah selesai di ganti popoknya, barulah dibawa ke sang istri untuk di beri asi. Ia sendiri kembali berbaring di samping sang istri yang tengah menyusui.


"Abang?" panggil Laras melirik sang suami. Suaranya nyaris tak terdengar.


"Hem, apa sayang?" Baru saja mau pejamkan mata, buka mata lagi dan bangun. Memicingkan matanya.


"Haus, tolong dong ambilkan!" pinta Laras.


Pada akhirnya. Ibra turun mengambil air minum mineral yang tersedia di meja, sebelum di berikan pada sang istri. "Ini sayang."


"Makasih," lirih Laras, kemudian meneguk minumnya. Lek lek lek.


Setelah kenyang, baby boy bobo kembali. Laras menidurkan di tempatnya. "Bismillah ... bobo yang nyenyak ya sayang ..." tangan Laras mengusap pucuk kepalanya, lalu Ia tiduran kembali di tempat semula. Memejamkan kedua matanya terpejam, namun ia terkejut. Seketika membuka matanya, tatkala tangan Ibra menarik dirinya ke dalam pelukan sang suami dengan mata tetap terpejam.


Sampai pagi menjelang. Baby boy cuma bangun 3x saja. Kini Laras sedang menyiapkan pakaian formal sang suami untuk ngantor. Bersih-bersih kamar, buka gorden. Merapikan tempat tidur, mengumpulkan sampah.


"Sayang ... jangan terlalu banyak bergerak, biar nanti Susi yang bersih-bersih di sini. Kamu banyak istirahat aja." Suara Ibra yang baru keluar dari kamar mandi.


Laras menoleh. "Sudah selesai kok. Tinggal buang sampah aja. Mencuci, menyapu udah. Beres-beres pun sudah," membuka tangannya. Kemudian berjalan mendekati sang suami.


"Kamu itu belum sehat benar sayang," jari Ibra mencolek dagu Laras.


"Aku, sehat kok." Laras membantu mengenakan kemeja Ibra, dengan terampil mengancingkan nya dengan cepat.


"Kalau sudah sehat, ayo dong bercinta?" goda Ibra sambil melingkarkan tangan di leher sang istri.


"Aish ... apaan sih? baru berapa hari, gak ngerti amat sih!"


"Katanya sehat? boleh dong ..." ucap Ibra sambil memainkan matanya.


"Badan yang sehat, kalau yang itu masih belum sehat." Lirihnya Laras. Dengan cepat memasang dasi dan jasnya. Kemudian terdengar suara baby Boy yang bangun.


"Sayang, cucu Oma baru bangun," bu Rahma nyelonong masuk ke dalam kamar Laras. menghampiri baby boy yang tengah Laras angkat.


"Baru bangun, Oma ... baby boy baru bangun, aku anteng loh. Bobonya nyenyak banget."


"Oya, berapa kali bangun sayang?" menatap ke arah Laras yang membawa baby boy ke sofa.


"Cuma 3x kalau gak salah, Mah ... nyenyak banget bobonya."


"Em ... baguslah, berarti anteng ya?" ucap bu Rahma, kemudian melirik sang putra semata wayangnya yang masih berdiri menghadap cermin. Masih berdandan.


"Sayang, baby mu yang satu lagi sudah di urus belum?" tanya bu Rahma pada Laras. Ia pun mendudukkan dirinya di sofa samping sang mantu.


"Oh, sudah Mah." Mata Laras mengarah ke Ibra sambil tersenyum manis.


"Mama, Mama pikir aku beby apa?" tanya Ibra melihat sang bunda dari pantulan cermin.


"Memang seperti itu, Abang itu manja. Apa-apa maunya di layani istri. Memang begitu sih rata-rata pria yang istrinya habis melahirkan. Mentang-mentang di suruh puasa ha ha ha ... sebab Papa juga dulu gitu."


"Mama tau aja. Kalau maunya Abang begitu, gak juga sih. Abang juga tahu dan pengertian kok sama istri, iya kan sayang?" mata Ibra beralih pada Laras yang masih menyusui baby boy.


"Sudah belum mimi nya sayang, cucu Oma? kita berjemur dulu. Dan itu baik untuk baby boy, yuk sama Oma sayang. Kayanya baby besar Mammy mau sarapan tuh." Tangan bu Rahma mengambil baby boy.


"Ya, udah. Sama Oma dulu cari mata hari, titip ya Mah ..." Laras memberikan baby boy pada sang Mama mertua.


Bu Rahma membawa baby boy keluar mencari matahari, untuk berjemur. Sementara Laras dan Ibra berjalan ke tempat makan, Laras langsung menyiapkan sarapan buat sang suami. Dimulai dengan bikin susu hangat, dan menyiapkan roti bakar telor ceplok.


"Biar Susi aja yang bikin Nya!" Tawar Susi.


"Nggak pa-pa Sus. Aku aja, kamu bikin sarapan buat yang lain saja. Ibu panti di mana?"


"Sedang menyiram tanaman kayanya Nya." Jawab Susi menunjuk ke arah luar. "Bersama anak-anak, ramai deh Nya. Kalau banyak anak-anak."


"Oh ... itu pasti." Laras sudah selesai menyiapkan sarapan buat Ibra. Langsung ia suguhkan ke depan Ibra yang malah sibuk dengan laptopnya.


"Sarapan dulu," Laras duduk di samping Ibra, namun Ibra bukannya sarapan malah tetap sibuk. Akhirnya Laras sendiri harus turun tangan untuk menyuapi sang suami yang malah terus menyibukkan dirinya.


"Iih ... sarapan dulu." Laras menyuapi sang suami agar jalan sarapannya.


"Ih ... ada baby besar, yang makan aja masih di suapi. Kata salah seorang anak menatap ke arah Ibra.


Ibra langsung menoleh dan memberikan senyumnya dengan mulut penuh dengan roti. Laras pun tertawa tipis. Memandangi anak itu ....


****

__ADS_1


Ayo klik fav di novel satunya "Bukan Suami Harapan" Agar aku tambah semangat untuk up lagi. Makasih ya reader ku yang baik hati masih setia pada SKM ini🙏


__ADS_2