
Laras mengurungkan niatnya tuk masuk, berbalik badan menyambut kedatangan Miftah dan sang istri. Senyum ramah Laras begitu merekah.
"Assalamu'alaikum ..." ucap salam dari Miftah dan istri.
"Wa'alaikum salam ... apa kabar? yu masuk?" Laras langsung mengajak masuk tamunya.
"Baik, makasih La. Gimana sebaliknya?" Miftah menyatukan tangan membalas salam dari Laras.
Mata sang istri. Mendelik. "Jangan genit-genit," pekiknya yang tertahan.
Membuat senyum Miftah sedikit memudar. "Apa sih sayang. Jangan gitu." Bisik Miftah sembari menoleh Laras yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Habisnya, jangan gitu--"
"Gitu gimana? jangan berpikiran yang aneh-aneh, Bun ...."
Keduanya masuk mengikuti langkah Laras. Sang istri memberikan balitanya pada Miftah, ia sendiri membawa kado buat baby boy.
"Silakan duduk?" ucap Laras menunjuk sofa. "Sebentar ya ke dalam dulu." Laras mau balik badan namun istri Miftah memanggil.
"Tunggu, ini ada kado buat beby nya." memberikan kado tersebut.
"Wah ... aduh jadi merepotkan, malu makasih ya?" tangan Laras mengambil pemberian itu. Kemudian Laras melanjutkan jalannya sambil membawa kado.
"Ayah sering-sering ya ke sini? tanpa sepengatahuan Bunda?" istri Miftah menatap curiga.
"Nggak, paling kalau ada perlu aja, jangan curiga gitu gak baik Bun." Jawab Miftah dengan jelas.
"Alaaah ... mana ada maling ngaku?" ketus istrinya dengan muka yang sedikit kurang bersahabat.
"Bunda, jangan cari masalah ya. Apalagi di tempat orang kaya gini. Gak baik, kamu selaku istri aku harus mencerminkan seri teladan buat masyarakat," ujar Miftah dengan nada kesal sama istrinya.
"Kamu yang buat saya seperti ini, aku tahu kamu itu masih mencintai dia," pekik istrinya tertahan.
"Itu masa lalu Bunda. Jangan di kait-kaitkan lagi, sekarang sudah jelas kalau saya suami kamu. Buat dipermasalahkan lagi," elak Miftah serta sorot mata yang tajam.
"Permisi ... Susi datang membawa minuman." Susi dengan sengaja bersuara sebelum berjongkok memindahkan gelas dan piring kue dari nampan. Sebab Susi sudah mendengar percekcokan tamu majikannya itu.
"Eh, Susi." Miftah terkejut.
"Silakan diminum, Pak RT dan Ibu, maaf cuma seadanya." Kata Susi sambil mengangguk.
"Oh, makasih ini juga lebih dari cukup kok Sus, makasih banget loh," balas istri Miftah sangat ramah sikapnya berubah drastis.
Susi berdiri kembali ke belakang. Laras datang bersama bu Rahma yang menggendong beby boy.
"Maaf ya agak lama?" ucap Laras sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Eh, pak RT dan istri. Sehat?" bu Rahma dengan senyum.
"Iya, Bu Rahma. Pengen nengok baby boy, alhamdulillah sehat." Jawab Miftah sembari mengulurkan tangannya.
"Iya nih, saya minta maaf baru sempat datang sekarang. Padahal dah lama ya? saya baru pulang kampung, jadinya baru ke sini," ujar Istri Miftah sambil mendekat pada bu Rahma meminta gendong baby Satria.
"Nggak pa-pa kok, makasih banget sudah menyempatkan datang. Membawa kado segala Loh, Mah ..." Laras melirik mama mertua dan tamunya bergantian.
"Iya, makasih ... sudah menyempatkan datang. Kemari ya?" lirihnya bu Rahma dengan sikap yang ramah sekali.
"Sama-sama," balas Miftah sembari mengangguk.
"Wah ... cakep nya. Putih, ganteng baby boy nya." Istri Miftah mengagumi sosok baby Satria.
"Hai. Bundanya boleh diambil sama baby, boleh?" Laras mengajak ngobrol putra Miftah yang anteng di pangkuan ayahnya.
Anak itu menggeleng. "Nggak-nggak Bunda nggak."
"Enggak, sayang. Cuma gendong aja bentar. Lucu ya? mau gak punya adek seperti baby ini?" tanya Bundanya.
"Nggak, gak boleh!" rengek anak itu mau nangis, matanya sudah berkaca-kaca.
"Bohong, bohong kok. Nggak diambil kok cuma minjam, boleh minjam sebentar. Boleh?" sambung Laras.
Anak itu mengangguk, sambil bengong menatap ke arah Laras. Mungkin dia merasa asing dan baru melihat Laras.
"Bunda? bunda!" tangan anak itu minta di gendong bundanya. Kemudian istri Miftah mengembalikan baby boy ke Laras. Sementara ia menggendong putranya.
"Abang nya cemburu sayang. Takut bundanya diambil kamu sayang, takut diambil bundanya." Laras mengajak baby nya berinteraksi. Matanya yang bening bergerak-gerak seolah mengenali sang Mammy.
Miftah dan bu Rahma juga Laras mengobrol sejenak. Tidak lama kemudian, Miftah diajak pulang istrinya. Dengan alasan ada perlu lain, Miftah pun segera mengindahkan permintaan sang istri. Padahal ia masih betah di sana berbincang dengan wanita yang berkerudung merah marun itu.
"Sudah, siang. Kami pulang dulu, makasih atas jamuan nya?" ucap Miftah sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada bu Rahma dan Laras yang langsung ditepis tangan sang istri.
__ADS_1
Padahal memang Laras pun cukup menyatukan tangan di depan dadanya. Tak pernah menerima jabatan tangan dari orang lain.
Sekilas Laras tersenyum melihat sikap istri Miftah yang tampak cemburu pada dirinya. Laras cuma bisa tersenyum manis saja.
"Padahal masih pagi loh, tuh anaknya masih betah bermain," timpal bu Rahma menunjuk putra Miftah yang pada akhirnya anteng bermain sendiri dengan banyak mainan.
"Ada urusan lain, gampang lah lain kali main lagi ke sini," sahut istrinya Miftah. Kemudian keduanya mengundur diri.
"Sus ... tolong itunya di bawa Sus ke sini. Panggil Laras pada Susi.
Detik kemudian Susi datang dengan membawa paket buah. "Iya, Nya?"
"Itu. Buahnya kasihkan sama pak RT Sus." Bu Rahma menunjuk tamu. Susi pun mengangguk. Lalu mengantar tamu majikannya ke teras dan memberikan keranjang buahnya.
Istri Miftah pun menerima dengan senang hati. "Makasih Sus ya? main ke rumah yu!"
"Sama-sama bu RT." Susi mengangguk dalam.
Setelah Miftah dan istri pulang, tak lagi terlihat di tempat tersebut. Susi masuk menghampiri sang majikan.
"Nya, tadi sebelum Susi datang bawa minuman. Mereka itu cekcok loh, Nya!" ucap Susi, sempat-sempatnya lemes ngomongin orang.
Manik mata Laras menoleh dengan tatapan datar. "Kok kamu sempet-sempetnya dengerin orang Sus."
"He he he ... gak sengaja Nya!"
"Emang cekcok soal apa Sus?" tanya bu Rahma malah ikutan kepo.
Laras menoleh sang mama mertua. "Mamah ... gak baik ah." Bibirnya sedikit mesem.
Bu Rahma pun tertawa kecil. Kemudian ngeloyor ke samping rumah mau nyiram tanaman. Sekarang di samping dan halaman bukan cuma ada bunga saja. Tapi juga ada bawang bakung, wortel. Seledri dan terong. Juga sawi, jadi bu Rahma atau Irfan kalau di rumah ada kegiatan.
Laras menoleh pada Susi. "Sus, tolong bawakan tempat tidur baby boy ke sini?"
"Oh, Iya. Bentar ya?" sahut Susi sambil berlalu ke kamar sang majikan.
Sesaat kemudian Susi kembali membawa tempat tidur baby Satria, seperti yang Laras pinta.
Kebetulan baby Satria sudah tidur dalam gendongan sang bunda. Laras tidurkan di tempatnya. Dari luar terdengar suara mobil yang entah mobil siapa?
Susi segera mengecek siapa yang sadang, ternyata dia orang yang tempo hari datang menemui Ibra. Sementara Susi mengernyitkan keningnya, ia sama sekali tidak mengenal orang tersebut. Sebab waktu itu Susi sedang ada di luar sama bu Rahma.
Pria itu menghampiri Susi yang berdiri di depan pintu. "Permisi ... Ibra nya ada?" tanya pria tinggi dan manis itu. Penampilannya rapi elegan, wajahnya mirip Rendi di Ikatan Cinta.
"Em, Tuan tidak ada! sedang ada acara golp. Maaf Tuan ini siapa ya?" selidik Susi penasaran.
"Oh, saya ini Ruswan, kawannya Tuan Ibra." Ruswan langsung memperkenalkan diri. Ia sudah bisa menduga kalau wanita muda ini adalah asisten Ibra, sebab ketara dengan panggilannya yang menyebut Ibra dengan sebutan Tuan.
"Kawannya tuan?" gumam Susi sambil bengong.
"Ah, lama. Mikir mulu nih cewek?" gumamnya Ruswan dalam hati.
"Istrinya ada, ada dong? saya ingin bertemu sama dia. Dan dia sudah kenal sama saya," ujar Ruswan kembali sembari menatap Susi yang malah membiarkannya berdiri di teras.
"Oh, silakan masuk?" pada akhirnya Susi mempersilahkan pria tersebut masuk. Dan ia sendiri jalan lebih dulu, Ruswan mengekor dari belakang.
Setelah di ruang tamu. Susi membalikan badan dan menyuruh tamunya duduk. "Silakan duduk." Susi hendak melangkah. Namun Laras sudah muncul di sana.
"Assalamu'alaikum?" ucap Laras. dengan bertanya-tanya dalam hati ada apa Ruswan datang? sementara Ibra tak ada di rumah.
"Wa'alaikumus salam, apa kabar?" sahut Ruswan, berdiri dan mengulurkan tangan pada Laras.
Seperti biasa, Laras hanya menyatukan tangan di depan dada. "Baik ...."
Kemudian mereka duduk berhadapan. "Ibra gak ada di rumah?" tanya Ruswan menatap lekat pada Laras.
"Iya, sedang keluar. Kalau ada perlu telepon saja langsung." Jawab Laras menunduk.
"Em ... perlu sih tidak. Cuma ingin melihat baby aja," sahut Ruswan sambil mengulas senyumnya.
"Oh," kepala Laras mengangguk. "Oya, istrinya mana? kok gak di ajak ke sini." Laras celingukan kali aja Ruswan membawa sang istri.
"Istri, no. Saya belum beristri, gak laku. Beda dengan Ibra yang di kerubuni wanita-wanita cantik, lain denganku, mereka melihat ku itu pada takut he he he ...."
"Ah, masa seperti itu sih? bisa aja." Laras mesem.
Netra mata Ruswan terus memandangi wajah Laras yang cantik natural. Berhias kerudung pasmina, semakin tambah nampak cantik. Ekor mata Laras menangkap mata Ruswan yang sering memandangi dirinya.
Berhadapan dengan Ruswan kali ini bikin Laras merasa risih dan salah tingkah. Susi datang membawa nampan yang berisi dua gelas jus untuk Laras dan tamunya.
Kemudian Susi kembali ke belakang. Mau nyetrika pakaian.
__ADS_1
"Oh, silakan di minum?" ucap Laras menunjuk minuman di meja.
"Iya, makasih." Ruswan mengulurkan tangan mengambil minumnya. Dan entah kenapa mungkin sedang meleng atau apa sehingga air minumnya tumpah ke jas bagian depannya.
"Ups," gumamnya Ruswan sambil bergegas menyimpan gelas di meja.
"Kenapa?" tanya Laras heran.
"Nggak. Gak ke napa-napa," balas Ruswan sambil senyum-senyum tipis. Tangannya mengambil tisu dan ia lap kan pada jas yang basah itu.
Kepala Laras menggeleng, kok bisa air yang mau di minum tumpah. Netra mata Laras bergerak melihat gelas milik Ruswan yang tinggal setengahnya malah. "Saya tinggal ke dalam sebentar ya?" ucap Laras sambil beranjak. Niatnya mau ngambil minum buat ganti punya Ruswan.
"Eh, mau ke mana? baby nya di mana ya." Tanya Ruswan. menahan Laras supaya tidak pergi.
"Oh, ada di ruang keluarga. Mari?" Laras tetap berdiri dan berjalan, menuntun langkahnya menuju ruang satu lagi.
Pada akhirnya Ruswan pun berdiri, serta mengikuti langkah Laras yang berhenti tak jauh dari tempat barusan duduk. Di sana ada sudah box baby dan kebetulan, baby Satria bangun namun tak nangis. Tak terdengar suaranya malah bermain sendiri.
"Eh ... baby nya Mammy sudah bangun. Gak nangis lagi! pinter ya, langsung main aja nih baby Mammy. Suasana baru ya hem?" Laras langsung mengajak ngobrol.
"Oh ... iya nih. Ponakan Om sudah bangun. Apa kabar ganteng? Om main lagi nih. Pengen ketemu kamu ganteng," ucap Ruswan, tapi matanya melirik ke arah Laras.
"Iya, Om. Aku dah bangun, makasih ya Om? sudah kunjungi aku!"
"Eeh, siapa nih? berasa kenal, tapi siapa ya, lupa lagi aku." Gumam bu Rahma dengan heran, ia yang baru datang ke ruangan itu. Matanya langsung mendapati pria yang serasa kenal namun lupa.
Ruswan menoleh pada bu Rahma menatap lekat dan bibir tersenyum. "Tante. Masa sudah lupa sama saya? saya Ruswan, kawan Ibra waktu kuliah Tante." Ruswan mendekat dan mengulurkan tangannya.
Keduanya berjabat tangan. Namun bu Rahma masih mengingat-ngingat siapa pria ini. Sambil mengernyitkan keningnya, sembari berkata. "Oh, iya ... Ruswan yang itu, yang suka ngisengin Tante. Aduh ... tambah ganteng aja, makin tua tambah tampan. Tubuh makin kekar--"
"Aduh Tante, jangan di bilang tua nya dong. Jadi malu, sudah usia segini belum punya istri juga." Ruswan menyeringai.
"Ha ha ha ... Tante juga sama dah tua. Makanya sering lupa, hampir pikun nih," ungkap bu Rahma.
"Ah, Tante bisa aja. Tante juga awet muda loh. Dan masih terlihat cantik, segar bugar gitu," kata Ruswan.
"Nak Ruswan bisa aja," bu Rahma merasa tersanjung dengan ucapan Ruswan barusan. Ia tersenyum simpul dan duduk di sofa tumpang kaki.
Ruswan kembali menghampiri baby boy yang sedang diajak bermain oleh bundanya.
"Hi, main sama Om yu?" ajak Ruswan. Dan mengangkat baby Satria ke dalam gendongannya.
Manik mata Laras terus bergerak melihat Ruswan yang tampak lihai dalam menggendong baby boy. Ibra aja sebagai seorang ayah kadang masih ragu dan sering takut bila menggendong baby Satria sendiri.
Laras duduk di samping sang mama mertua yang bibirnya terus tersenyum melihat baby boy di pangkuan Ruswan.
"Nak Ruswan lihai ya, gendong baby? kaya sudah biasa gitu pegang baby atau mengurusnya." Bu Rahma mengulas senyumnya.
"Ah, nggak juga Tante. Jarang-jarang sih gendong baby, tapi suka juga! suka sama anak kecil. Baby kaya gini." Jawab Ruswan dengan baby Satria dalam. Pelukannya.
Untuk bu Rahma datang. Jadi ada diantara Laras dan Ruswan, tadi Laras sudah merasa risih dengan sikap Ruswan.
"Oya, Nak Ruswan kok tahu sih Ibra tinggal di sini?" selidik bu Rahma. Ia tidak tahu kalau Ruswan ini pernah datang.
"Oh, tempo hari beliau datang. Waktu Mamah gak ada," sahut Laras.
"Itu, benar Tante. Saya pernah datang, dan waktu itu baby boy nya tidur. Aku jadi penasaran. Pengen lihat melek nya seperti saat ini. Tambah ganteng!"
"Oh ... gitu? pantas Mama gak tahu." Melirik sang mantu. "Terus sekarang ke sini ada perlu sama Ibra? dia kan sedang ada acara di luar. Nak Ruswan gak kerja hari ini!" tanya bu Rahma kembali.
"Hari ini, sabtu Tante ... lagian aku bisa masuk kapan saja Tante," balas Ruswan. "Saya ... gak ada perlu sih, cuma main saja!"
"Oh, gitu." Kepala bu Rahma mengangguk. Manik matanya mengamati bahasa tubuhnya Ruswan.
Setelah capek dan lapar, baby Satria merengek dan nangis. Akhirnya Ruswan balikan ke mammy nya. "Kayanya haus deh, Capek."
"Iya, lapar ya sayang, capek ya main terus?" Laras mengambil alih dan langsung di bawa ke kamar untuk di kasih mimi.
Hati Ruswan mencelos. Ia kira itu baby mau di kasih mimi di situ. Ternyata di bawa kabur. Cuma bisa menatap punggung Laras dari samping. Kemudian duduk di sebrang bu Rahma, menoleh kearah bu Rahma yang sedang menatap datar dirinya. "Oya Tante. Om di mana dan gimana kabarnya?"
"Oh, Om Marwan lagi berada di luar Negri dia. Mungkin beberapa hari lagi juga balik." Jawab bu Rahma.
"Pantas, aku gak lihat. Lama juga tidak ketemu beliau." Lanjut Ruswan.
"Itu pasti." Timpal bu Rahma. "Terakhir ketemu itu ... kalau gak salah itu pas Ibra nikah sama Dian. Betul gak Nak Ruswan?"
"Em ... betul tante, betul banget dari situ tidak bertemu lagi, saya terlalu sibuk melanjutkan kuliah Tante," sambung Ruswan.
Keduanya asyik berbincang, bercerita tentang masa lalu, dan saat ini. Dari luar terdengar derap langkah kaki seseorang mendekati ruangan tersebut ....
****
__ADS_1
Hai ... reader ku, sudah baca kan? ayo mana like & komennya nih, terus dukung aku ya. Biar tambah semangat.🙏