
Ibra mengambil air minum dan meneguknya. Sambil minum ia melamun.
****
Laras yang gelisah sejak siang, sekarang malah melamun menghadapi makan malamnya yang cuma di aduk-aduk. Pikirannya tidak tenang, manik matanya melihat kursi yang biasa Ibra duduki.
"Di mana dia sekarang?" tanyanya dalam hati. Pagi saja terakhir mereka bertemu.
"Nyonya kenapa melamun? makan pun cuma di aduk-aduk begitu, rindu tuan ya?" tegur bu Rika.
Laras mendongak dan tersenyum samar. "Ah, nggak, Bu. hanya--"
"Hanya apa Nyonya? apa makanan nya tidak enak, maunya makan apa? atau mau menu restoran, biar saya pesankan." tambah bu Rika.
Laras menggeleng. "Tidak, ini enak kok," ucap Laras sambil memasukan sendok ke mulutnya.
"Kali saja, tidak enak, nanti saya pesankan yang lebih enak." lanjut bu Rika kembali, takutnya masakan di mension sedang tidak berselera.
"Enak, kok. Cukup ini saja, kalau aku mau ... pasti aku sendiri akan memesannya," ujar Laras sambil tersenyum.
Walau tak berselera, namun Laras habiskan makannya meskipun sulit habis. Kemudian meneguk susu bumil nya.
"Eeh ... apa tuan sudah makan?" tanya Laras basa-basi.
"Sepertinya, tuan malam ini tidak pulang Nyonya." Jawab bu Rika.
"Oh," gumamnya Laras. "Tadi siang, gak pulang. Sekarang, gak pulang juga." gumamnya dalam hati.
"Mungkin tuan sedang bersama nyonya Dian, yang baru pulang dari liburan. Tadi siang." sambung bu Rika kembali. Seolah menjawab pertanyaan Laras yang belum semoat diutarakannya.
Laras hanya menatap bu Rika, tanpa sedikitpun mengeluarkan bersuara.
Setelah beberapa waktu, Laras masih duduk di tempatnya semula. Sesekali melirik kursi yang ada di sampingnya.
"Huuh ..." ia menarik napas panjang. Lalu ia hembuskan secara perlahan, kemudian mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruang kali aja ada yang muncul. Namun tidak satu pun orang yang datang.
Laras berbaur dengan asisten yang sedang menonton televisi sebentar. Sebelum masuk ke kamarnya, sesekali melirik ponselnya yang hening. Hatinya tetap gusar, tidak tenang. Entah apa yang mengganggu pikirannya saat ini. Yang jelas ada rasa kekosongan yang melanda jiwanya.
Akhirnya, Laras beranjak dari duduknya. "Aku mau istirahat dulu ya?" ucap Laras berpamitan pada asistennya termasuk Susi, sementara bu Rika entah ke mana?
__ADS_1
Laras terus mengayunkan kakinya menyusuri setiap ruang. Setelah di depan lift, ia berdiri dan menekan tombol open. D dalam Ia melamun memandangi langit-langit lift, sampai akhirnya pintu lift terbuka. Tanda sudah sampai tujuan, ya itu lantai di mana kamarnya berada. Langkah Laras begitu gontai dengan kedua tangan dimasukan ke saku jaketnya.
Sesampainya di dalam kamar, Laras menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur, netra matanya bergerak menyapu ruangan yang terasa sepi itu. "Ya allah ... kenapa ya, hati aku rasanya gundah gini, tak bersemangat. tak ada gairah buat ngapa-ngapain?" terus matanya menatap jas milik Ibra yang menggantung di dekat lemari. Ia turun dan mendekati tangannya menyentuh jas itu, ia mencium wangi tubuh Ibra yang awet menempel di sana.
Kemudian, tangan kanan Laras mengusap perutnya, sambil bergumam. "Papi kamu di mana ya sayang? kok gak ada kabar, apa kau merindukannya, papi mu bukan cuma milik kita. Tapi milik wanita lain juga, Seperti yang sering papi katakan padamu, kamu tidak boleh manja. Harus kuat dan menjaga mommy selalu."
Detik kemudian, Laras menggantikan lampu temaram. Lalu kembali ke tempat tidur dan naik merangkak. Tarik selimut sampai menutupi dada, ia coba memejamkan mata meskipun tak lena. "Ayo, tidur jangan begini, kasian anak mu jika kau sakit nanti." Gumam Laras, lalu membaca doa sebelum tidur.
Beberapa kali mulutnya menguap, dan akhirnya rasa kantuk pun datang. Sehingga Laras tak mampu membuka kedua matanya lagi saking ngantuk nya. Sekitar pukul 23.30 wib. Laras tiba-tiba terbangun dan langsung duduk. Menggosok matanya dan menyisir rambutnya dengan jari-jari, membawa semua rambutnya ke sebelah kanan.
Kakinya turun menjuntai ke bawah. ingin turun, mengambil minum karena tenggorokan nya terasa kering dan haus. Ia bawa langkanya ke tempat air minum berada, perlahan menuang air dan meneguknya. Setelah menyimpan gelas, ia bawa kembali langkahnya ke tempat tidur. Namun suara ponsel miliknya memecah keheningan.
"Ck, siapa sih? gak tau apa, waktunya tidur." Gerutu Laras. Dengan malas mengambil ponsel itu, di layar terlihat jelas my husband menelpon lewat sambungan VC. Namun ia tidak secepatnya mengangkat, malahan di biarkan saja. Sampai panggilan yang ke dua, barulah dia angkat.
Laras menyimpan ponsel di depannya bersandar di tumpukan bantal. Tampak Ibra sedang duduk di kursi panjang, sepertinya dia berada di sebuah balkon. "Ada apa?"
"Kenapa lama sekali angkatnya?" tanya Ibra, matanya menatap ke arah Laras yang nampak cantik ketika bangun tidur.
"Tidur," sahut Laras dengan nada malas dan mengusap wajahnya lesu.
"Aku tahu, ini pukul berapa, itu ... bibir kamu basah, habis minum ya?" tanya Ibra menunjuk bibir Laras.
Mata Ibra terus menatap ke arah Laras dengan tatapan merindu. Rasanya ingin sekali saat ini juga ke tempat Laras. Tapi gak mungkin juga ia tinggalkan Dian sendiri di hotel. Lagi pula ini sebagai permintaan maaf, yang sudah membuat dia kecewa saat di luar Negeri itu.
"Kamu sudah makan?" tanya Ibra yang terus menatap Laras tak lepas walau seketip pun.
"Sudah," jawab Laras sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kamu kenapa meringis?" tanya Ibra, karena melihat Laras meringis seolah merasa sakit.
"Ha, tidak, gak pa-pa kok," elak Laras menanggapi pertanyaan Ibra, yang Lagi-lagi bertanya sesuatu yang tidak ia sadari.
"Bohong, bilang. Kenapa? tadi Mery membuat ulah, apa dia menyakiti mu?" tanya Ibra kembali.
Laras bengong, Ibra tahu dari mana? soal tadi pagi. Ia terdiam tak tau harus berkata apa, selain diam.
"Jawab? mulut mu itu untuk bicara!" tegas Ibra yang terus matanya menatap lekat ke arah Laras.
"Em ... kamu tahu dari mana? tanyakan saja sama yang sudah ngasih informasi itu langsung.
__ADS_1
"Aku cuma ingin jawaban darimu, jawab iya atau tidak?" jelas Ibra lagi. Sambil menyilang kan kakinya, untuk menutupi sesuatu yang tegang. Walau melihat Laras dari jauh.
Mendengar itu ... Laras akhirnya mengangguk. Dan mengambil guling untuk di peluknya.
"Apa yang sakit? dan kamu diapain sama dia!"
"Em ... di dorong, sampai aku terjatuh dari kursi." Jawab Laras pelan.
Ibra mengalihkan pandangan. Giginya mengerat kesal. "Sungguh sangat keterlaluan!"
"Sudah periksakan kandungan?" tanya Ibra sangat mencemaskan keberadaan laras dan kandungannya."
"Yang sakit pantat aku, bukan perut ku," ungkap Laras.
"Tapi ... perut mu bisa saja terganggu, kenapa bu Rika dan Susi ceroboh sih? dalam menjaga dirimu." Ibra turut kesal pada asistennya.
"Mereka gak salah kok, Mary menyerang ku secara tiba-tiba," sambung Laras, tidak ingin Asisten mension di salahkan.
Lagi-lagi Ibra menggeleng. "Pokoknya, besok periksakan kandungan." Tegas Ibra tak mau di bantah.
Laras diam, tidak menjawab sama sekali. "Pantat aku yang sakit bukan perut, kau tidak apa-apa, kan, Nak?" batin Laras sembari mengelus perutnya.
"Oya, aku minta maaf, gak bilang kalau malam ini aku tidak pulang? bagaimanapun aku harus adil. Aku harus menebus dosaku yang kemarin pada Dian," ungkap Ibra penuh harap kalau Laras dapat mengerti akan posisinya.
Laras mendongak, menatap Ibra yang mendekat ke layar laptopnya. Menebus dosa, apa maksudnya? namun tak bisa ia ucapkan lewat pertanyaan.
"Besok pagi-pagi aku akan pulang, inginnya sih sekarang juga pulang, tapi ... tidak mungkin aku tinggalkan dia di sini sendiri." Lanjut Ibra lagi. "Oke, sekarang ... kamu istirahat. Besok sore aku akan mengajak mu ke suatu tempat." Tanpa mendengar jawaban dari Laras. Ibra mematikan sambungan VC nya.
"Ke ma--" tergantung. "Iih ... aku mau nanya, main matikan saja.!"
Laras mengambil ponselnya, lalu di simpan di atas meja dekat tempat tidur. Merebahkan kepalanya ke tumpukan bantal, tarik selimut lagi dan memejamkan kembali kelopak matanya.
Waktu terus saja berputar. Malam yang terdengar suara jangkrik dari kebun buah akan segera menjelang pagi. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara tarhim, tanda bahwa sebentar lagi akan subuh.
Lewat subuh, Laras belum bangun malah kian nyenyak tidurnya. sampai-sampai ....
****
Hi ... hari ini aku up 3 episode nih, sebagai gantinya kemarin yang gak up, semoga suka dan terima kasih sudah menunggu novel remahan ini up🙏
__ADS_1