Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Di rawat


__ADS_3

Kini Laras sudah di tangani oleh dokter ahli, Susi. Jodi dan Zayn di luar UGD berdiri tegang, Cemas dan khawatir menyelimuti wajah mereka bertiga.


Susi menoleh ke arah Zayn. "Tuan kenapa sih telat datang nya?"


"Sa-saya kena macet dan ini Bu langsung ke pihak yang berwajib. Makanya mobil saya juga, di kantor polisi." Suara Zayn penuh penyesalan. Lalu ia menerima sebuah telepon.


"Iya, tindak lanjuti saja sampai ke akar-akarnya pak. Saya tunggu kabar selanjutnya, terima kasih!"


Dua pasang mata melihat Zayn. dalam hati masing-masing bergemuruh harapan, akan kesembuhan Laras. Tidak ada yang bersuara selain hembusan napas dari hidung ketiga orang itu masing-masing, dan sesekali terdengar derap langkah orang-orang seperti perawat dan roda brangkar yang lewat. Di sekitar situ.


Setelah beberapa saat, Laras di tangani. Akhirnya dokter yang menangani keluar juga dan para suster membawa Laras yang berbaring di brangkar mau di pindahkan ke kamar inap.


Zayn dan Jodi menghampiri dokter tersebut. "Gimana dok keadaan pasien?" suara keduanya berbarengan.


"Puji syukur. Pasien tidak apa-apa, lukanya sudah kami jahit. Sampai beberapa jahitan, rupanya dia mengalami shock akibat kejadian itu. Kini tinggal nunggu sadar saja dan juga pengaruh obat yang akan membuat dia lebih lama tertidur," ucap dokter tersebut.


"Makasih Dok," balas Jodi dan Zayn berbarengan.


Dokter mengangguk, pamit permisi lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Zayn dan Jodi, keduanya berjalan menuju kamar inap yang di gunakan merawat Laras, dan Susi sudah lebih dulu mengikuti suster.


"Gimana keadaan Nona muda?" tanya Zayn pada Susi, setelah berada di kamar Laras.


Susi duduk di dekat Laras yang terbaring lemah dan belum sadarkan diri itu. "Belum sadar, Tuan."


Jodi menatap wajah Laras yang pucat paseh itu. Ada rasa sedih dan kecewa. Kenapa harus terjadi pula insiden seperti itu, kenapa pula ia sampai tak bisa menjaganya. Helaan napas Jodi begitu berat, lalu ia hembuskan dengan kasar.


Zayn mendekati Laras. "Nona, bangun Nona muda. Maafkan saya yang tak bisa menjaga anda." Zayn duduk di kursi samping Laras. Kemudian Zayn berdiri, berjalan mendekati sofa, duduk di sana bersama Jodi yang duduk berpangku tangan.


"Kau tidak ngantor?" tanya Zayn melirik Jodi.


Jodi menghela napas sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya. "Tadi pagi ngantor."


Zayn terdiam. Matanya melihat ke arah Laras yang masih belum juga sadar, tangannya sibuk dengan ponsel membalas chat dari seseorang.


Siang berganti sore, dan sore pun sudah berganti malam. Kondisi Laras masih juga belum sadar. Susi yang duduk di dekatnya, menatap sedih.


Jodi, baru dari luar, membeli makanan untuk mereka makan. Mereka lupa kalau sedari siang belum makan.


"Makan dulu? hidup juga butuh makan. Tertawa, menangis juga harus makan," ajak Jodi sambil membuka makanan yang dia bawa.


Dari jauh, terlihat Ibra bergegas mendekati pintu ruang inap Laras. Rupanya setelah diberi kabar Laras pingsan, Ibra yang tengah berada di Surabaya pun langsung terbang. Dan dari bandara meluncur ke rumah sakit di mana Laras di rawat.


"Bos?" sapa Zayn ketika tampak Ibra muncul dari balik pintu.


Netra mata Ibra langsung tertuju pada Laras yang berbaring lemah. "Sayang, kamu kenapa?" menatap hiba wajah Laras yang sangat pucat dan tak sedikitpun matanya terbuka.


Ibra mencondongkan wajahnya, lantas mencium mesra kening, pipi sang istri yang tetap tertidur. "Bangun sayang, jangan lama-lama tidurnya." Suara lirihnya Ibra dengan hati mencelos melihat kondisi sang istri yang memperihatinkan.

__ADS_1


Kemudian mata Ibra menoleh kebelakang. Kedua netra matanya melihat Jodi dan Zayn yang duduk di sofa yang berbeda.


Ibra beranjak dan menghampiri mereka berdua. "Kau? buat apa kamu di sini?" selidik Ibra menatap tajam pada Jodi.


Jodi menatap lekat ke arah Ibra, tanpa membalas pertanyaan dari Ibra sedikitpun.


Namun Susi yang berdiri tidak jauh dari mereka menjawab pertanyaan sang majikan. "Tuan, Jogi yang menyelamatkan Nyonya muda. Dari penjahat itu."


Ibra menoleh ke arah Susi bergantian dengan Jodi. Kemudian pada Zayn, Ibra mendekati Zayn dan mencengkram leher bajunya. Matanya melotot, rahangnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu mengeras. Tampak sangat marah sekali pada Zayn.


"Kau kemana saja? saya tugaskan kamu untuk menjaga Laras, Menjaga dia Zayn. Kenapa bisa terjadi seperti ini ha?" hardik Ibra, dengan tangan masih mencengkram di kerah leher Zayn yang ketakutan.


Zayn terkesiap dan mengangkat kedua tangannya. "Te-tenang Bos, tenang dulu."


"Apa? kau bilang tenang, apa bisa saya tenang ketika istri saya berada dalam bahaya. Bahkan bukan cuma istri! tapi anak yang ada di dalam kandungannya." Netra mata Ibra berubah jadi berkaca-kaca. Air bening menyelimuti kelopak matanya.


"Sa-saya minta ma-maaf? Bos."Zayn menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia mengerti yang Ibra rasakan kali ini. Namun apa daya semua sudah terjadi dan itu bukan sebuah keinginan.


Ibra melepas cengkeramannya. Lalu mengusap air mata yang menggenangi sudut matanya, mendongak agar air bening itu tidak kembali menggenangi kelopak matanya itu.


"Tapi kalau saja kau lebih sigap, pasti tidak ada kejadian ini--"


"Abang ..." suara lirihnya Laras memotong pembicaraan Ibra.


Semua mata menoleh ke sumber suara, dengan hati plong. Lega akhirnya Laras sadar juga.


Ibra langsung menghampiri sang istri. "Sayang, kamu sudah sadar?" memeluk dan mencium keningnya.


"Aku di mana?" tanya Laras setelah sadar kalau dia berada di tempat yang tidak ia kenali. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu.


"Kamu, di rumah sakit. Cepat sembuh ya sayang, cepat sembuh, maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu." suara Ibra dengan parau nya.


Ibra menggenggam tangan Laras dan di ciumnya berkali-kali.


"Abang, jangan menyalahkan Zayn atau siapapun. Ini salah ku yang mungkin kurang hati-hati atau mungkin sudah takdirnya begini," suara Laras dengan sangat lirih, pelan.


"Iya, sayang. Iya." Ibra mengangguk sambil terus menggenggam tangan Laras.


Jodi mendekat. "Semoga kamu cepat sembuh?" tatapannya tertuju ke Laras.


"Makasih ya Jodi, makasih kau sudah menolongku!" suara lembutnya Laras.


"Iya, sama-sama," sahutnya Jodi lagi.


Jodi pun menoleh Ibra tuk berpamitan. "Saya pulang dulu, jaga istrinya."


"Ya, makasih? telah menolong istri ku, dan kamu telah meluangkan waktu untuk menunggui istri saya di sini." gumamnya Ibra sambil berjabat tangan.


"Oke," Jodi pun pulang meninggalkan tempat tersebut. Ketika melintasi Susi, Jodi mengangguk. Lalu menepuk bahu Zayn.

__ADS_1


Setelah Jodi keluar, Kemudian Ibra menoleh ke arah Zayn. "Kau pulang saja, biar aku yang disini."


"Oke, aku pulang dulu. Dan aku akan langsung ke kantor polisi, untuk mengurus semuanya. Mobil juga ada di sana." Zayn berdiri dan mendekat. Nona muda cepat sembuh dan ... maafkan aku yang gak bisa menyelamatkan mu."


"Tidak, pa-pa. Aku juga yang bodoh kok, gak segera minta tolong sama kamu." Keluh Laras pelan.


"Baiklah, aku pulang dulu," Zayn mundur dan membalikkan badannya.


"Sus, kamu juga pulang aja. Antarkan dulu sama Zayn," ucap Ibra sambil melirik Zayn bergantian.


"Oya, kuncinya di tas Nyonya muda," ucap Susi sambil memberikan tas Laras kepada Ibra.


Ibra langsung mengambil dan mencari kunci di dalam tas Laras. "Nih, kuncinya."


Susi pun pamit, dan mengikuti langkah Zayn yang sudah lebih dulu melintasi pintu ruang inap Laras.


Tinggallah Ibra dan Laras di ruangan tersebut, Ibra menatap Laras. Tangannya memegang tangan Laras sangat erat.


"Abang, kenapa pulang? bukannya belum selesai urusannya di sana."


"Nggak mungkin aku membiarkan istriku terbaring, di Rumah sakit sendiri," sahut Ibra.


Suster datang untuk ngecek keadaan Laras dan memberinya obat. Setelah selesai memeriksa, suster pun kembali meninggalkan kamar tersebut.


Tinggallah mereka berdua di kamar inap yang cukup mewah itu. "Kamu pasti belum makan, makan dulu sana!" ucap Laras.


"Aku belum lapar."


"Makan dulu, nanti aku marah nih." Lirihnya Laras lagi sambil mengarahkan pandangan ke lain arah.


"Emangnya kamu bisa marah sama aku? tidak kan?" goda Ibra sembari mencubit hidung Laras.


"Pokonya makan dulu," suara Laras agak keras dan menjadikannya meringis kesakitan. Bekas jahitannya ke gerakkan.


Ibra terkejut. "Kenapa sayang? Sus ..." panggil Ibra, niatnya memanggil suster.


Namun tangan Laras memberi kode sambil bergumam. "Jangan, aku cuma butuh istirahat saja."


Ibra menatap cemas ke arah Laras. "Yakin tak ingin aku panggilkan dokter?"


Laras menggeleng sambil memejamkan mata. Tangan yang kena infus mengusap perutnya. "Makan dulu sana, nanti baru ke sini lagi."


Ibra hanya diam dan tak segera mengabulkan permintaan Laras. Telapak tangannya mengusap kening sang istri lembut, ia tatapi wajah Laras berkali-kali. Kemudian akhirnya ia bergumam. "Baiklah. Istirahat ya? aku mau cari makan dulu sebentar," cuph mengecup kening Laras."


Sambil memejamkan mata, Laras mengangguk perlahan. Ibra pun pergi mencari makan, dan janji tidak akan lama.


Laras sendiri di tempat baringnya. Membuka mata tidak ada siapa-siapa, Ibra sudah pergi. Namun apa yang Laras lihat dari balik pintu, seseorang memakai pakaian hitam dan mukanya pun di tutupi dengan kain hitam juga. Hingga yang bisa di lihat cuma matanya saja.


Laras heran, dan penasaran banget siapa orang itu? dia terus mendekat. "Siapa kamu? dan mau apa," tanya Laras. Bahkan Laras makin terkejut dengan sikapnya yang dingin dan sorot matanya yang tajam. Tangannya membawa bantal sofa dan bersiap membungkam mulut Laras ....

__ADS_1


****


Hi ... reader ku semuanya, gimana kabar kalian hari ini? tentunya kabar baik kan, mana nih dukungannya. Agar aku tambah semangat nih🙏


__ADS_2