
"Kok, ngambek sayang? marah kenapa," mengeratkan pelukannya.
Laras menggeleng. Ia gak mau menjawab, gengsi lah harus bila harus ngomong. Masa harus bilang, kalau dia masih belum puas. Masalahnya besok mau pulang, gak mungkin Ibra akan bersamanya lagi. Hati Laras jadi kesal, kecewa, rasa sesak di rongga dada. Bercampur aduk menjadi satu.
Malam yang makin larut. Semakin menambah rasa dingin ditambah lagi suhu AC, dinginnya kian menyelinap ke sela-sela kulit.
Ibra semakin mengeratkan pelukannya, sehingga tubuh mereka benar-benar menyatu. Ibra menggencarkan kembali kecupan kecil di leher dan bahu sang istri dengan lembut. Dan hampir membuat tanda kepemilikan di sana.
Namun Laras segera menolak dan beralih posisi, karena ia paling segan ada tenda merah yang terlihat di leher atau di tempat yang sekiranya bisa kelihatan orang. Dia paling gak suka kalau Ibra berbuat seperti itu sesukanya.
"Iya sayang maaf, maaf?" gumam Ibra.
"Sudah ku bilang gak suka, jangan bikin di sembarang tempat. Aku gak suka." Laras ngedumel.
"Iya, sayang iya, aku lupa. Jangan cemberut ah, senyum dong?" goda Ibra sambil menarik bibir Laras untuk tersenyum.
"Em ... apaan sih?" menepis tangan Ibra yang memegang dagunya.
"Males ah, ngambek terus!" Ibra pura-pura marah dan membalikan badan gantian memunggungi Laras.
"Ya ... sudah. Kalau malas, gak usah. Gak maksa juga. kalau gak mau boddo amat." ketus Laras tambah kesal dan menarik selimut membungkus sebagian tubuhnya, hampir saja tubuh Ibra gak kebagian selimut.
Ibra menggelinjang dan menarik kembali selimutnya, serta mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Laras dipeluk kembali.
Laras melirik dengan ekor matanya, "Katanya malas, gak mau. Sana ... ngapain dekat-dekat coba," pura-pura jutek.
"Jangan jutek gitu ah. Nanti jauh gak, baru nyesel loh sayang!" ucap Ibra sembari mengeratkan pelukannya. Dinginnya malam semakin menyapa tubuh mereka.
"Nyesel?" Laras mengernyitkan keningnya. "Nggak ah, sudah biasa aku jauh sama kamu."
"Itu, dulu. Kalau sekarang istri aku cuma ... dua saja," sahut Ibra sembari membalikkan tubuh Laras, dan membuat tanda merah di bagian depan yang sekiranya tertutupi dengan pakaian. Karena di situlah yang Laras suka ketimbang di tempat lain.
Laras kembali memejamkan mata dan mengukir senyuman. Ibra mendongak melihat wajah sang istri yang memancarkan kebahagiaan dan melukis senyuman. Semakin ia bebas menebarkan aksinya.
Membuat tubuh Laras panas dingin, dada terus bergemuruh. Jantung yang terus berdegup kencang, sepertinya Ibra siap membawanya kembali melayang ke angkasa.
Lagi-lagi tempat itu dijadikan ring gulat yang memanas. Hening nya suasana menimbulkan satu tarikan napas pun terdengar nyaring, dan suhu malam yang sangat mendukung. Membuat semakin terbawa suasana.
Malam pun semakin larut dan menjelang pagi, keduanya baru saja terlelap tidur. Dari waktu yang begitu panjang dihabiskan dengan sangat berarti, dijadikan momen-momen yang sangat indah.
Pukul 07.00 wib. Ibra baru terbangun, memicingkan matanya melihat cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar itu dan begitu terasa menghangatkan badan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kamar itu, mencari keberadaan Laras namun nihil. Laras tidak ada.
Ia bangun menjuntai kan kakinya ke bawah. Berkali-kali mengusap wajahnya, menggosok mata yang masih diselimuti rasa kantuk. "Sayang ... kamu di mana?" suara serak Ibra bergema di kamar tersebut.
Berdiri. Sebelumnya mengenakan bathrobe lebih dulu, sudah tersedia di atas tempat tidur. Pakaian bekas semalam entah kemana, mungkin Laras mencucinya. Ia mencari ke kamar mandi, di sana kosong. Ibra balik lagi kebingungan mencari Laras.
Langkah Ibra tertuju ke balkon, ketika ia membuka pintu. Nampak Laras sedang duduk santai menghirup udara segar, menikmati pemandangan yang indah, laut dan pegunungan.
__ADS_1
Laras menarik napas berat, mungkin sebentar lagi ia akan pulang ke mension, bertemu dangan ... mungkin segala kesemrawutan di sana. Walaupun dua istri Ibra sudah hengkang dari mension, namun tetap Laras merasa berat. Apalagi kalau harus lihat Ibra dekat dengan Istrinya yang lain, bikin hati kepanasan dan lama-lama bisa terbakar juga. Gak sanggup rasanya.
"Sayang, ngapain di situ?" tegor Ibra membuyar kan lamunan Laras.
Laras menoleh ke arah suaminya sambil menguncir rambutnya yang sudah kering itu. "Kalau di kamar mandi, ya lagi mandi Abang ..." sahutnya.
"Melamun gitu?" sambung Ibra.
"Ya ... ngapain aku melamun di toilet? menikmati ngedden ha ha ha ..." senyum garing.
"Hem ... gak boleh melamun sayang, nanti baby nya bengong mulu, mau?" sambil memeluk bahu Laras dan memberikan kiss pagi pada sang istri.
"Em ... bau belum gosok gigi," ucap Laras sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangan.
"Orang belum mandi," Ibra terkekeh.
"Mandi sana, dah siang juga ih. Lapar nih cari makan," lanjut Laras.
"Lapar, pesan aja dari hotel," sahut Ibra sambil melihat pemandangan dan tangan memegangi pagar balkon.
"Nggak mau, aku pengen makan bakso," Laras merengut.
Ibra membalikan badan memandangi ke arah Laras. "Sayang, mana ada bakso sepagi ini? yang ada belum pada buka sayang."
"Pokoknya harus dapat, rasanya sudah ada di bibir nih," kata Laras terlihat menelan saliva nya.
Ibra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mana ada yang jualan bakso sepagi gini?" gumamnya.
Ibra merangkul bahu Laras. "Sayang ... ini jam berapa nih? gak ada sayang ... paling ada juga pukul sembilan ke sana, sekarang masih pagi."
"Aku tahu sih ini masih pagi." Sahut Laras. "Siapa juga yang bilang ini malam?"
"Iya, makanya belum ada sayang ..." kekeh Ibra.
"Iya, tapi, kan kalau sudah keluar, bisa beli apa aja. Cepetan mandi ..." titah Laras membalikan badan ibra dan mendorong punggung Ibra ke kamar mandi, Ibra pun menuruti dan langkahnya menuju kamar mandi Di pintu, langkah Ibra terhenti dan menarik tangan Laras. Masuk.
"Ih ... nggak mau!" Laras menarik tangannya.
"Mandiin aku sayang, katanya suruh mandi? tapi gak mau mandiin!" gerutu Ibra.
"Buruan, lapar nih ..." ucap Laras mendorong lagi bahu Ibra.
"Iya, sayang iya ..." Ibra masuk kamar mandi dan menutup pintunya.
Laras menggeleng dan membulatkan bola matanya. Kemudian menyiapkan pakaian nya. Usai bersih-bersih Ibra mengenakan pakaian yang sudah Laras siapkan.
Laras kebingungan. Memegangi tas yang putus talinya, menundukkan pandangan pada kakinya. "Abang ... aku gak ada sendal, masa nyeker gini?" gumam Laras kemudian menoleh ke arah Ibra dan menghampirinya.
__ADS_1
Membantu mengancingkan kemejanya. Juga memasangkan sabuk, menyisir rambut, menyemprotkan minyak wangi sampai baunya menyeruak ke seluruh ruangan.
Pandangan Ibra turun ke kaki Laras. "Nanti sekalian pulang, belanja ya?" kemudian pandangan Ibra beralih ke tas yang tergeletak di meja. "Sekalian beli tas."
"Hem ..." Laras mengangguk dan mengembangkan senyumnya.
Ibra merangkul pinggang Laras, menatap lekat, rasanya berat juga mau pulang. Sebab pasti tidak akan sedekat ini lagi, dengan aktifitas yang sudah siap menunggu. Ia memeluk erat tubuh Laras yang juga membalas pelukannya, seakan merasakan yang sama.
Laras membenamkan wajahnya di dada Ibra. Rasanya enggan sekali pulang, namun tidak bisa apa-apa bila itu sudah keputusan Ibra. Lagian beberapa hati ini Ibra banyak bersantai, meninggalkan kerjaan kantornya.
Laras semakin membenamkan wajahnya dan menguatkan pelukan di tubuh Ibra seolah tidak mau lepas.
Ibra mencium pucuk kepala Laras berkali-kali. "Em ... perut mu sudah mulai membulat nih, janinnya sudah mulai tumbuh. Sebentar lagi kamu akan gemuk seiring membesarnya perut mu," ujar Ibra.
Laras hanya mendengarkan tanpa menjawabnya apapun. Ia masih terbuai dalam pelukan sang suami.
Ibra melepas pelukan dan menjauhkan bahu Laras. Menatap lekat wajah yang nampak sedih dan menundukkan kepalanya. Jari Ibra menaikan dagu Laras agar mendongak melihatnya. "Eh ... kok muram gitu bumil ku? sedih kenapa hem?" dengan sangat lembut.
Laras hanya menggeleng dan mendudukkan tubuh nya di sofa. Ibra pun mengikutinya. Berdiri dekat Laras yang nampak sedih itu. "Ya, sudah. Kita kemas dulu barang-barang kita, biar sekalian kita pergi dari sini."
Disebabkan waktu pergi gak bawa koper, akhirnya pakaian Ibra akan masukan lagi ke paper bag yang semula mereka bawa dari konter.
Laras berjongkok mau membereskan pakaian yang Ibra keluarkan dari lemari. Ibra memegang bahu Laras dan mengangkatnya biar berdiri. "Sayang, duduk saja. Biar aku yang bereskan hem," menatap lekat.
"Tapi, aku yang bereskan. Itu kerjaan ku," sahut Laras menggerakkan netra matanya ke pakaian yang mau di kemas.
"Nggak, tadi kamu sudah nyuci. Jadi ... Abang saja yang membereskannya," cuph mengecup pipi kiri Laras. Membuat Laras tersipu malu.
Laras duduk kembali di sofa sambil memperhatikan Ibra yang sibuk berkemas.
"Sayang, apa kamu mau pulang mengenakan celana pendek itu?" menatap Laras yang mengenakan celana selutut. "Nanti banyak yang lihat kaki kamu yang mulus itu."
Laras mengamati penampilannya sendiri. "Yang lain malah lebih seksi, di atas lutut. Memperlihatkan paha, dada. Bukannya laki-laki suka lihatnya ya?"
Ibra menghampiri dan berjongkok depan Laras. Menggenggam tangannya. "Sayang ... kalau milik aku, gak boleh di lihat orang apalagi sampai di sentuh orang." Cuph mencium punggung tangan Laras.
Laras mencibirkan bibirnya sambil berdiri mengambil pakaiannya lalu masuk kamar mandi. Untuk mengganti pakaian di sana.
Ibra kembali mengemas yang tadi ia tinggal, dan sekalian mengambil pakaian basah yang tadi Laras cuci.
Laras sudah kembali dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Menenteng baju bekas yang sudah ia lipat.
Akhirnya semua sudah tanggal jinjing, Ibra simpan dekat pintu. Entah kenapa, ia ingin membuka pintu.
Blak!
Pintu, Ibra buka. Dan ternyata di depan pintu sudah berdiri seseorang sambil nyengir ....
__ADS_1
****
Apa kabar hari ini reader ku semua? semoga dalam keadaan baik ya. Baik kesehatannya, baik suasana hatinya. Baik rejekinya dan baik juga yang lainnya🤲