
Laras sedang menggendong baby boy untuk tidur, ketika mau menidurkan baby boy ke tempatnya, terdengar suara derap langkah kaki seseorang. Sehingga ia urungkan dulu niatnya.
"Sayang sudah bobo Baby nya?" suara bu Rahma di sisi pintu dan langsung masuk menghampiri Laras dan baby boy.
"Bobo, Mah. Baru aja mau di tidurkan," sahut Laras sambil melanjutkan niatnya menidurkan baby boy ke tempatnya.
"Em ... iya bobo kan, jangan dibiasakan bobo di dalam pangkuan," ucap bu Rahma.
"Iya, Mah ..." balas Laras. Mengangguk menyetujui kata-kata mama mertua.
"Mama mau minta antar Barko untuk belanja ke Mall, mau nitip gak sayang?" tanya bu Rahma menatap sang mantu.
"Em ... nggak kayanya Mah, soalnya gak ada yang diperlukan. Baru kemarin Susi belanja." Laras menggeleng pelan.
"Oh, baiklah. Kalau butuh sesuatu telepon saja ya?" mengusap bahunya Laras. Kemudian bu Rahma kembali keluar kamar tersebut.
Laras berjalan menutup gorden-gorden. Hari dah mulai gelap, matahari sudah tenggelam dan akan digantikan oleh sang rembulan yang belum tentu bersinar. Menghiasi malam yang gelap gulita.
Laras membawa langkahnya ke sofa. Mendudukkan dirinya di sana dengan menyalakan televisi, sesekali melihat jam yang bergantung di dinding. hatinya mulai gelisah, sang suami belum juga ada tanda-tanda pulang. Terdengar rintik hujan jatuh membasahi bumi.
Laras berdiri menuntun langkahnya ke ruang di mana Susi berada. "Sus Mas Ini Irfan di mana?"
Susi menoleh pada sang majikan. "Mas Irfan Baru saja setengah jam yang lalu pergi Nya. Mau jemput tuan katanya.
"Oh, sudah jemput?"Gumamnya.
"Ada apa Nya?" tanya Susi penasaran.
"Ah, nggak. Nanyain aja Sus, sebab suami ku belum pulang." Jawab Laras. Lalu ia balik lagi ke kamar.
Susi hanya menatap datar sang majikan yang kembali menjauhi Tempat itu. Namun baru beberapa langkah, Laras memutar tubuhnya menoleh ke arah Susi.
"Mama, sudah berangkat Sus?" Tanya Laras kembali menatap Susi dari jauh.
"Nyonya besar masih ada di dalam. Mau Susi panggilkan?" tawar Susi.
"Tidak. Gak usah. Kalau kamu mau ikut Mama ke Mall, boleh kok. Biar kamu gak bosan Sus."
"Ha? beneran Susi boleh ikut Nyonya besar jalan ke Mall? gak pa-pa gitu Nyonya di rumah sendiri?" Susi tak percaya Laras perbolehkan pergi berama bu Rahma.
"Benarlah, boleh. Aku nanti tuan pulang. Irfan juga ada, jadi boleh saja. Kasian kamu di rumah terus? lagian gak lama Mama juga." Tambah Laras.
"Makasih Nya? Susi senang sekali, tapi ... oya Susi mau bereskan masak dulu sebentar." Susi segera menyelesaikan masak buat makan malam majikan nya di rumah.
__ADS_1
Kemudian Laras kembali memutar badan, membawa langkahnya ke kamar, takut baby boy bangun dan gak kedengaran suaranya.
Kini Laras sudah berada di kamar. Baby boy masih nyenyak. Ia memilih untuk ke kamar mandi sebentar. Mengambil baju tidur tuk ganti, beberapa saat ritual Laras di kamar mandi rampung juga. Sehingga ia kembali ke kamar dengan penampilan yang beda, tampak lebih segar sehabis mencuci muka barusan.
"Ih, pengen salat, sudah berapa hari ya gak salat?" gumamnya dalam hati. Melihat tempat tidur yang agak berantakan, ia rapikan terlebih dahulu. Lantas mengambil pakaian ganti buat Ibra nanti, ia simpan di atas tempat tidur. Terlihat rapi juga. Biar nanti Ibra pulang dan mandi pakaian gantinya sudah tersedia, takut nanti gak sempat ambilkan. Kali aja waktunya bertepatan dengan mengurus baby boy.
Laras menyandarkan punggungnya ke bahu sofa. Netra mata menatap ke layar televisi. Di luar masih gemercik hujan, kecil namun banyak temannya sehingga yang kena hujan pun tak ayal akan kebasahan.
Klik!
Handle di putar dari luar dan di dorongnya sehingga pintu pun terbuka dengan lebar. Netra mata Laras beralih melihat ke arah pintu.
Tampaklah Ibra berdiri dengan tangan memegang handle pintu. "Assalamu'alaikum sayang? Aku pulang."
Brugh!
Pintu kembali Ibra tutup rapat. Langkahnya berjalan mendekati Laras. Sembari membuka jas nya.
"Wa'alaikum salam. Abang ..." jawab Laras kemudian berdiri meraih tangan Ibra mencium punggungnya.
Begitupun Ibra. memegang kepala sang istri, mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri. Menoleh ke arah baby boy yang tampak pulas bobonya. "Baby boy pulas ya bobonya."
"Iya, enak dan merasa nyaman kali. Makanya nyenyak." Gumamnya Laras sambil menggantungkan jas Ibra ke tempatnya.
Ibra berdiri di samping bok baby dan mencium keningnya lembut. Lalu berjalan membuka kancing kemejanya.
"Iya, di luar hujan. Berdua enak kayanya sayang." Menyeringai.
Laras mengerutkan keningnya. "Emang kenapa kalau berdua?"
"Asyik aja, kalau berdua jadi hangat sayang ... gak ngerti amat. Jadi istri." gerutu Ibra sambil berjalan dengan menggunakan ****** ***** saja. Sebab handuk sudah ada di kamar mandi.
Laras menangkap lengan Ibra. Membuat langkah Ibra terhenti, kedua tangan Laras menyusuri perut sixpack sang suami. Ia peluk dari belakang, mata Ibra terpejam. Dengan sentuhan seperti itu mampu membuat sesuatu yang di puasa kan bangun dan meronta ingin singgah ke sarangnya.
Laras sengaja memeluk tubuh Sang suami yang baru saja bilang jadi istri gak pengertian. Ia menenggelamkan wajahnya di punggung lebar Ibra dengan Nyaman, tangan Ibra mengeratkan tangan Laras agar pelukannya semakin erat.
Ibra senyum nakal. Tiba-tiba ia punya ide untuk mengerjai sang istri. Tangan Laras ia arahkan pada pisang cinta yang sedang tumbuh besar. Seketika Laras terkejut dan memekik, dengan refleks tangan nya di tarik ke belakang dan pelukan pun pudar.
"Apaan sih? geli amat. Iiy ..." bahu Laras bergidik kencang, kemudian mendudukkan dirinya di sofa. Lagi-lagi bergidik geli serta mengusap telapak tangannya yang masih terasa dengan apa yang ia genggam barusan.
Lain lagi dengan Ibra ia malah tertawa puas melihat reaksi sang istri yang ia anggap lucu. Ibra pun mengambil posisi duduk di dekat sang istri. Tangannya merengkuh bahu Laras. "Kenapa sayang? bukannya suka dengan pisang cinta milik ku hem?" mencium pucuk kepala Laras yang masih shock.
"Apaan sih? lagi-lagi pisang cinta iiy ... aku terkejut Abang ... nih jantungku jadi berdebar gini! gara-gara abang nih." Lirihnya Laras sambil mengusap dadanya yang naik turun.
__ADS_1
"Hem ... gitu aja kok kaget sayang? kan sebab itu juga kita punya baby boy yang ganteng itu." Bisik Ibra sambil menempelkan dagu di kepala sang istri.
Tangan Ibra menarik tubuh Laras ke dalam pelukannya. Mumpung si kecil masih lelap tidurnya. "Mana yang berdebar nya mana?" Jarinya mengelus dada Laras, yang tentunya tidak di sia-siakan kesempatan baik itu oleh Ibra. Jari-jarinya bermain di bukit-bukit indah yang kini jadi sumber yang sangat bermanfaat, bukan cuma untuk dirinya namun juga buat si buah hati.
Wajah keduanya mendekat menyatukan ***** mereka yang seakan haus dengan sentuhan, melepas rindu yang jarang tercurahkan. Mulanya cuma sentuhan biasa, namun lama-lama semakin dalam dan memanas. Tangan Ibra semakin asyik ******* squishy sampai Laras menggigit bibir bawahnya agar tetap hening tak keluar suara apapun dari bibirnya.
Dengan santainya. Ibra ******** sumber makanan baby boy sampai puas, masih untung biarpun Ibra ambil gak habis-habis isinya. Sudah tidak perlu diceritakan lagi, gimana meronta-ronta nya pisang cinta. yang kian tak tahan dengan desiran rasa yang bergejolak dalam tubuhnya.
Tubuh Laras sudah seperti ayam bakar yang di bolak balik, beda nya kalau ayam bakar agar tak angus di bolak-balik. Kalau Laras untuk dinikmati. Masih mending, segi manapun kuatnya dorongan dari bawah sana. Ibra masih bisa menahan. Agar tak sampai membobol gawang Laras yang tengah di benteng dan terkunci itu.
Napas Laras makin naik turun. Di sisi lain sangat menikmati dan di sisi lain gelisah. Tak tenang hati, takut baby boy nya bangun. Namun untungnya. Sampai Ibra mengakhiri pun baby boy masih nyenyak. Cuma sedikit merubah posisi kepalanya aja.
Ibra mengecup kening. Pipi kanan dan kiri, terus berakhir di bibir yang ranum itu dengan singkat. Posisi Laras masih terbaring di sofa, napas keduanya masih memburu belum bisa terkontrol. "Bangun sayang? biar aku pakaikan lagi tali surga nya." Gumamnya Ibra dengan suara berat yang masih berusaha ia kendalikan.
Laras pun bangun dengan tubuh bagian atas polos. Serta terlihat banyak tanda merah yang menghiasi dada bagian depannya, bekas gigitan binatang ****** yang tak bisa Laras hindarkan Ha ha ha ....
Ibra mengenakan pakaian Laras bagian atas dengan tulus. Layaknya seorang ibu tengah mendandani putrinya. Sementara waktu Ibra terdiam. Menikmati sesuatu yang berhasil keluar, menyelinap nikmat dari jalannya.
Telapak tangan Laras mengusap dada bidang sang suami. Bibirnya tersenyum bahagia, setidaknya telah membuat sang suami puas. Dalam hati kecil yang paling dalam, Laras ada rasa takut yang teramat. Takut kalau suaminya tak tahan godaan, di luar sana tak sedikit wanita yang mengincar. Entah harta entah dirinya, yang jelas Laras harus lebih waspada. Serta membuat suami selalu puas dan bahagia di sisinya. Walau ia percaya kalau Ibra gak akan berani macam-macam di luaran Namun tetap hati Laras was-was.
"Aku siapkan air hangatnya dulu ya?" suara Laras pelan. Beranjak hendak ke kamar mandi.
Geph!
Tangan Ibra menangkap pergelangan Laras. "Mandi sama-sama ya?"
Tubuh Laras berbalik. "Sendiri-sendiri ya? takut baby boy bangun." Lirihnya Laras sambil kembali mengusap dada sang suami.
"Ck." Ibra berdecak kesal. Namun tidak bisa apa. Ya sudahlah. yang penting sudah merasa puas barusan.
"Cepetan mandi, bau!" Laras segera masuk kamar mandi untuk mengisi air hangat.
Netra mata Ibra mengamati kondisi tubuhnya, yang benar saja basah. Dengan entah cairan apa, mungkin para pembaca yang budiman tahu itu.
Setelah Ibra masuk kamar mandi, Laras bergegas keluar. Khawatir baby boy terbangun kebetulan sudah lama tidurnya.
"Sayang. Mandikan dong bentar?" rajuk Ibra ketika Laras membawa langkahnya melintasi pintu.
"Abang ... aku khawatir baby bangun, sebab sudah lama bobo nya. Pasti sebentar lagi bangun loh." Lirihnya Laras sambil menutup pintu kamar mandi.
Ibra mengacak rambutnya, kemudian masuk ke dalam Bathub berendam di sana dengan rileks. Namun ketika tengah asyik berendam, perutnya berbunyi minta makan. Akhirnya Ibra segera menggosok seluruh badannya. Membersihkan diri di bawah air shower.
Laras memekik dari balik pintu. Mengatakan bahwa di luar ada tamu dan Laras gak bisa nemuin. Sebab baby boy sedang bangun ....
__ADS_1
****
Maaf ya🙏 malam ini up nya lebih sedikit di sebabkan penulisnya hari ini ada kesibukan lain. Insya Allah besok banyak lagi, yang sudah baca? jangan pelit dong jempolnya. Biar aku tambah semangat, jangan lupa juga jadikan "Bukan Suami Harapan" sebagai favorit kalian juga ya🙏makasih.