
Seketika keduanya menoleh, Laras mundur satu langkah dari Ibra. Wajahnya nampak merah dan malu. Kemudian ia membereskan paper bag, tampak gugup dan salah tingkah.
Netra mata Ibra mendelik ke arah Pintu yang kembali tertutup. "Masuk!"
Zayn membuka pintu kembali. "Sorry bos?"
"Bisa gak, ketuk dulu? jangan asal buka saja," gerutu Ibra menatap tajam pada Zayn.
"He he he ... itu Bos." Menggaruk kepalanya.
"Itu apa?" tanya Ibra sembari melipat tangan di dada. Hatinya kesal baru saja mau mendarat, sudah dikagetkan dengan kedatangan Zayn.
"Em ... itu, barang sudah datang, mana yang harus di dulukan masuk?" ujar Zayn menunjuk ke arah luar.
"Tempat tidur ke kamar utama, ya itu ke sini. Di simpan sofa juga di sebelah sana, gorden juga ganti, pokonya dahulukan keperluan kamar ini." Jelas Ibra sembari melirik Laras yang masuk kamar mandi.
"Baik, Bos." Zayn keluar. Setelah dapat jawaban dari Ibra.
Ibra pun mengikuti langkah Zayn sambil menyingsingkan lengan bajunya untuk bantu-bantu.
Tempat tidur dengan ukuran king size sudah terpasang di sudut kamar, Ibra membawakan bantal dan bedcover nya dan langsung di pasang oleh ke tiga orang suruhan Zayn.
Ibra menoleh ke arah Laras yang berada di pojokan mengenakan mukena. Lalu melirik orang yang sedang memasukan lemari besar. "Sayang, lemarinya mau si letakkan di mana?" tanya Ibra pada Laras, sehingga semua mata pun tertuju padanya. Menunggu jawab.
Laras berdiri. "Sebelah sini aja." Ia menunjuk tempat untuk lemari tersebut. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur. Mengamati yang sedang bekerja.
Sementara Ibra berjalan mendekati sang istri. "Kau pasti capek. Istirahat aja, tempat tidur sudah siap," menunjuk tempat tidur dengan dagunya.
Laras mengangguk. "Tapi, masih banyak orang." Lirih Laras melirik pekerja.
"Gorden sudah terpasang, barang yang mau di simpan di sini juga sudah di masukan semua sayang, tinggal merapikannya aja. Dan itu nanti saja, Biar Susi yang bereskan." Tangannya merangkul pinggang Laras, setelah orang-orang sudah keluar.
"Susi mau di suruh ke sini?" tanya Laras sambil menundukkan pandangan ke lantai.
"Iya, nanti ke sini," jari Ibra mengangkat dagu Laras dan mendongak sempurna. Ibra mendekatkan wajahnya ke wajah Laras. Namun netra mata Laras bergerak melihat ke arah pintu yang masih terbuka.
Ibra pun menoleh, seiring waktu Laras melihat ke arah pintu. Ia pun dengan kesal turun mengayunkan langkahnya yang lebar mendekati pintu, lalu menguncinya.
Kemudian Ibra mendekati Laras kembali, berjalan sambil membuka jas nya lalu ia simpan di atas sofa. Setelah duduk kembali di sebelah Laras, jarinya bergerak membuka mukena yang masih Laras pakai. "Sekarang sudah aman sayang, mana tanda terima kasih nya?" menaik turunkan alis yang tebal dan hitam itu.
"Oya, makasih ya ... atas semua ini?" ucap Laras sembari melipat mukena nya.
Ibra menatap lekat. "Itu saja, gak ada yang lainnya?" mengernyitkan kening.
"Terus apa lagi? oh ..." lalu Laras mencium pipi kanan dan kiri Ibra yang senyum nakal. "Sudah."
Ibra menangkupkan kedua tangannya di wajah Laras. Kemudian perlahan wajahnya memposisikan dengan sempurna depan wajah cantik itu.
Membuat dada Laras bergemuruh. Jantungnya berdegup sangat kencang, Netra matanya menangkap wajah yang mempesona semakin mendekat.
Lalu bibir Ibra mendarat sempurna di ***** Laras. Benda kenyal dan lembab itu, Ia **** dengan sangat lembut. Lama ... keduanya menikmati ritual tersebut.
Dengan refleks, Laras melingkarkan tangan di pundak sang suami, Ibra.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu dari luar. sehingga kedua terkejut dan melepas pautannya. "Aish ... apalagi sih?" suara Ibra sambil mengacak rambutnya, penuh kesal. Kemudian melempar pandangan ke arah pintu.
"Bentar sayang," mengusap lembut bibir Laras yang basah.
Ibra mengayunkan langkahnya menuju pintu, sesekali mengusap bibirnya. Blak! pintu ia buka, nampak Zayn berdiri depan pintu. Kemudian nyengir dan celingukan. Ia menatap lesu wajah Zayan. "Apa lagi sih ... gak bisa kah, membiarkan saya istirahat?"
"He he he ..." Zayn menengadahkan telapak tangannya. "Minta buat konsumsi, anak-anak kelaparan."
"Emang gak bisa mengeluarkan uang mu dulu? nanti juga saya ganti," ucap Ibra sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
"Nggak ada uang kes Bos," sahut Zayn sembari menatap dada Ibra yang terbuka, seketika pikirannya traveling dengan senyum yang mengembang.
Ibra mengambil kartu ATM dan memberikannya pada Zayn. "Kenapa senyum-senyum? pake ini," menangkap tangan Zayn lalu meletakkan kartu itu.
"Lah ... kok kartu, uang kes dong," ucap Zayn membolak-balik kartu yang sering ia gunakan itu.
"Sama, saya juga kehabisan uang kes. Sekalian aja ambilkan uang kes buat saya." Bugh! pintu langsung Ibra tutup, tak perduli Zayn masih di sana.
"Aish ... hampir saja nih hidung kena daun pintu, bener-bener Bos ku, sedang buta, buta karena C I N T A. Hi hi hi." Zayn menggeleng sembari pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ibra melangkah mendekati Laras yang sedang mengeluarkan pakaian dari paper bag. Niatnya mau ia masukan ke lemar, namun Ibra mencegahnya. "Sudah, biar nanti Susi yang bereskan." Menuntun tangan Laras ke tempat tidur.
Laras menatap curiga ke arah suaminya. Ia duduk di tepi tempat tidur, namun Ibra mendorongnya pelan agar Laras berbaring. Ia menindih tubuh sang istri, menatap sangat lekat. Masih untung hari ini masih bersama-sama, dan masih bisa menghabiskan waktu bersama pula.
Laras langsung memejamkan matanya sembari bergumam. "Aku ngantuk ah, capek."
__ADS_1
Ibra menyeringai dan mencium pipinya lembut. "Tidurlah, aku juga capek." Ia membaringkan tubuhnya di samping Laras, menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
Tidak butuh waktu lama, keduanya tertidur lelap. Melepas penat dan lelah.
Matahari sudah mulai tenggelam ke peraduannya dan tugasnya akan digantikan oleh sang rembulan. Itupun jika ia sudi menampakkan diri tuk menemani sang malam, tinggal menghitung menit lagi magrib akan berkumandang. Kebetulan kediaman Laras yang sekarang, tidak begitu jauh dari masjid.
Laras terbangun, menggeliat nikmat. Tangannya menepuk kasur sebelah, namun kosong. Laras memicingkan mata yang masih terasa ngantuk, rupanya dia berada di sofa sedang sibuk dengan laptopnya.
Ibra melirik Laras yang menggeliat. "Mencari aku ya?"
Laras langsung membalikkan badan. "Kok dia tau sih aku mencarinya." Gumamnya Laras dalam hati.
Laras bangun, mengibaskan selimutnya, menjuntai kan kakinya. "Nggak, siapa yang mencari mu? aku cuma melemaskan tangan yang tegang saja."
"Hem, oya?" menggelengkan kepalanya, dengan mata tetap fokus ke layar laptop.
Laras turun, mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Mau mandi sekalian.
"Yakin, tidak akan merindukan ku?" suara Ibra hentikan langkah Laras, yang sudah berada depan pintu.
"Nggak," sahutnya tanpa menoleh, lalu lanjutkan langkah memasuki kamar mandi.
Ibra, menatap punggung Laras yang memasuki kamar mandi. Sampai menghilang di balik pintunya.
Terdengar sahutan suara adzan magrib, Ibra menutup laptop, berjalan mendekati sebuah paper bag. Tangannya mengambil sarung dan peci yang Laras pilihkan, melihat ke arah kamar mandi dan sarung, bergantian. Kemudian teringat suara anak kecil yang itu, ia memegang sarung dan peci itu.
Setelah, Laras keluar dari kamar mandi dengan kostum yang berbeda. Ya itu mengenakan daster selutut, manik mata Ibra tak berkedip memandang Laras dasteran. Merasa di pandangi oleh Ibra, Laras mengamati penampilannya. Kali aja ada yang aneh. Tapi biasa aja.
Kemudian Ibra, bergegas masuk kamar mandi. Dengan niat mau ngambil air wudu.
Setelah Laras keluar dari kamar mandi, lalu menyanggul rambutnya. Kemudian mengenakan mukena untuk menunaikan salat magrib.
Ketika ia mengucap salam ke kanan, netra matanya mendapati Ibra sedang bersujud. Degh! perasaan Laras tak karuan, baru kali ini ia melihat Ibra bersimpuh dan bersujud. Mengenakan sarung dan peci yang Laras pilihkan, Laras segera selesaikan salatnya dan berdoa. Tiada terasa, air mata haru jatuh membasahi pipi. "Masya Allah ..." ucap Laras melukis senyum getirnya.
Selesai sujud dan berdoa, Ibra menoleh ke arah Laras yang sedang menatap dirinya. Pandangan pun bertemu, saling menatap dalam.
Laras terus menatap lekat suaminya, yang tampak beda. Ia terlihat lebih tampan dengan mengenakan peci itu. Ia jadi tersipu malu dan menundukkan pandangannya ke lantai.
Kemudian Ibra beranjak, mendekati Laras, dengan refleks Laras meraih tangan Ibra dan diciumnya. Sungguh kali ini ada yang berbeda Ibra rasakan, sebuah ketenangan. Kenyamanan, suatu rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ibra memeluk bahu Laras, ia tempelkan dagu di pucuk kepala Laras setelah mengecupnya berkali-kali. Ada buliran air bening dari sudut matanya Ibra, seberapa lama ia tidak pernah bersujud. Ia jauh dari sang maha pencipta dunia dan isinya, mungkin selama ini ia telah lupa bersyukur atas. Akan segala nikmat yang telah ia dapatkan.
"Aku, senang. Bahagia ... banget, akhirnya, Abang mau menunaikan salat seperti sekarang, tanpa di suruh apalagi di paksa." Gumam Laras dalam pelukan Ibra.
"Doakan, Abang ya? agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Selama ini Abang lupa, aku ... jauh dari Tuhan." Sahut Ibra penuh sesal.
Laras melepaskan diri dari dekapan Ibra, tatapannya berbinar menandakan rasa bahagia.
Begitupun Ibra memandangi sang istri sangat lekat, ia merasa sangat beruntung dipertemukan dengan Laras. Ia menghujani Laras dengan kecupan kecil di kening dan pipi Laras, membuat Laras mengikik. Berusaha lepas, namun sebelum puas tidak juga Ibra lepaskan.
"Aku lapar," ucap Laras menghentikan tingkah Ibra.
"Lapar? Susi pasti sedang masak." gumam Ibra, kemudian mengajak Laras berdiri.
"Emang ada Susi?" tanya Laras. yang tidak tahu kalau Susi sudah datang.
"Sudah. Yuk keluar? sambil lihat-lihat, apa rumah ini tertata rapi." Jawab Ibra sambil membuka sarung dan peci nya.
Laras pun membuka mukenanya. Kemudian melipat, menyimpan ke tempat semula bersama sarung Ibra.
Ibra menggandeng tangan Laras, diajaknya keluar kamar. Keadaan rumah sudah rapi, tertata dengan sangat sempurna.
"Wah ... sudah berubah 100%," ucap Laras dengan raut wajah yang sumringah tampak bahagia.
"Nyonya muda, apa kabar? Susi kangen, aduh ... berapa hari saja Nyonya muda sudah banyak berubah, lebih berisi. Gemuk, Tuan kasih makan Nyonya muda apa aja nih?" suara Susi yang muncul dari dapur, di sambut Laras dengan senyuman bahagia.
"Apa lagi, kalau bukan di kasih pisang setiap hari, makanya Nyonya muda tampak gemuk seperti itu." celetuk Zayn. Sehingga semua mata melihatnya.
"Oya? pisang apa Nyonya, di mension juga tidak kurang buah pisang, tapi Nyonya muda kurus aja. Emang pisang apa? bervitamin banget ya?" ungkap Susi diakhiri tanya. Ia merasa heran.
"Huh ... banget-banget vitaminnya banyak sekali, jadinya seperti ini. Gemuk, subur. bahagia selalu. Puas dan bikin lengket kaya perangko, bikin gembira selalu. Iya, kan Bos?" Zayn melirik ke arah Ibra yang tampak kikuk.
Susi bengong, dan Laras tersipu malu. Tak tau harus berkata apa.
"Oh ... banyak banget ya?" ucap Susi polos banget, dia gak ngerti dengan maksud Zayn pisang apa?
Zayn ngangguk-anggukkan kepalanya, sambil terkekeh. Merasa lucu telah mengkibuli Susi yang percaya aja yang ia omongin.
"Susi mau dong? biar aku gemuk kan, secara aku ini kurus." ungkap Susi kembali.
Zayn menoleh terkejut. "Ha? cari aja di swalayan. Pasti ada."
"Tuan Zayn, namanya pisang apa emang?" tanya Susi tambah penasaran dan menatap Zayn yang jadi kebingungan.
"Sukurin," gumam Ibra mencibir Zayn. "Pusing-pusung lah."
__ADS_1
Zayn menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Itu ... namanya pisang cinta, iya bener pisang cinta. Kau cari saja ya? pasti ketemu kok."
"Pisang ci ... nta? ada gitu, perasaan aku baru dengar deh." Susi tambah bengong seumur hidup baru dengan nama pisang cinta.
Ibra dan Laras sama-sama mengulum senyumnya, sesekali menggeleng dengan obrolan Zayn dan Susi.
"Cari sana, sampai lebaran monyet juga gak bakalan ketemu tuh pisang." Gumam Zayn terkekeh.
"Ah, Susi pusing. Mendingan Susi masak lagi deh, Tuan Zayn bikin kepala Susi mau pecah." gerutu Susi sambil ngeloyor lagi ke dapur mau menyelesaikan tugasnya di sana.
"Dasar, kau benar-benar gak ada akhlak." Ibra menggeleng pelan.
Laras mengikik. Setelah Susi pergi ke dapur. "Ih ... ada-ada aja deh, kasian dia ... jadi pusing mikirin nya."
"Biar aja Nyonya muda. Dia, kan otaknya kadang polos," sahut Zayn.
Ibra mengelus tangan Laras. "Kau suka pisang ku sayang?" sambil tertawa lebar.
"Apaan sih?" Laras berdiri dan berjalan-jalan melihat-lihat semua ruangan.
"Mana kartu ku? yang kerja sudah di bayar?" tanya Ibra menatap dingin pada Zayn yang sibuk dengan ponselnya.
Zayn menoleh dan memberikan kartu ATM milik Ibra dan uang kes yang tadi Ibra minta.
"Oke," tangan Ibra mengambil dan memasukan ke sakunya.
"Anak-anak, sudah di bayar. Itu sisanya." Jelas Zayn sembari menyimpan ponsel di meja.
"Baguslah." Ibra mengangguk dan mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Laras yang tidak ada di sana.
Setelah makan malam sudah siap, Ibra, Laras dan Zayn langsung melahap hidangan yang tersedia di meja. Susi diajak makan bareng tidak mau, dia memilih beberes di kamar Laras.
Zayn lebih dulu selesai makannya, diakhiri dengan segelas air putih. Kemudian beranjak dan pamitan untuk pulang, besok pagi akan datang, menjemput Ibra buat ke kantor dan mobil akan ia bawa pulang.
Ibra pun mengangguk. Menyetujui ide Zayn, yang penting tidak ada yang menganggu kegiatannya selama di sini. Kalau terus-terusan ada yang menggangu, bisa-bisa ia pusing tujuh keliling.
Zayn pergi, sebelumnya menyambar kunci mobil Ibra dari meja. Kemudian bergegas pergi.
Usai makan, Laras membereskan bekas makan dan mencucinya di wastafel biarpun sudah Ibra larang. Namun Laras kekeh mencucinya.
Ibra menatap senang pada Laras, entah kenapa suka aja melihat Laras mengenakan daster seperti sekarang ini. Laras menoleh ke arah Ibra yang terus menatapnya.
"Kenapa sih? melihat seperti itu. Ada yang aneh ya?" ucap Laras sambil mengelap tangannya.
"Nggak, suka aja lihatnya," sahut Ibra sambil beranjak, mendekati. Merangkul Laras dari belakang. menempelkan dagu di bahu sang istri.
Laras melepas rangkulan tangan Ibra. "Jangan gini, malu. Kalau di lihat Susi nanti." Lirih Laras sambil menjauh dari tempat Ibra berdiri.
Ibra merengut kecewa. "Ya, sudah nanti saja di kamar."
"Loh, kok bekas makannya sudah di cuci? aduh ... Nyonya ... apapun pekerjaan nya, biar Susi aja yang ngerjain. Nyonya cukup duduk manis aja jangan capek-capek, ada Susi ya?" suara Susi yang baru keluar dari kamar Laras dan Ibra.
Keduanya menoleh ke arah Susi. "Sudah beres, membereskan pakaiannya?" tanya Ibra pada Susi yang menenteng paper bag kosong.
"Sudah, Tuan. Sudah beres. Sekarang, silakan kalian istirahat di kamar." Susi menunjuk ke arah kamar mereka berdua.
"Makasih ya Sus?" ucap Laras senyum manis.
"Sama-sama, Nyonya muda." Mengangguk hormat.
"Baiklah, saya capek dan ingin segera istirahat." Ibra melangkahkan kakinya menuju kamar.
Laras meminum susu bumil yang barusan ia seduh. Matanya menatap punggung Ibra dari jauh.
"Sus, aku masuk kamar dulu ya? kamu juga istirahat ya, jangan begadang," ucap Laras sambil memberi pesan.
"Iya, Nyonya. Susi mau nonton televisi sebentar." Jawab Susi mengangguk.
"Baiklah, aku masuk dulu." Langkah Laras tertuju ke kamarnya dan Ibra sudah menunggu di sana.
Kini, Laras dan Ibra sedang berada di tempat tidur, sebelumnya menunaikan salat isya bersama. Hati rasanya tenang. Sejuk ... ini kali pertama salat bareng.
Di luar, terdengar suara hujan yang turun begitu deras. Sampai terdengar bergemuruh begitu kuat. Ibra mengeratkan pelukannya pada tubuh Laras yang sudah mulai menguap, pertanda sudah dihinggapi rasa kantuk.
"Sayang, mulai sekarang. Kamu tinggal di sini sama Susi, tidak apa-apa, kan?" lirih Ibra, tangannya mengelus perut Laras yang sudah mulai ketara ini.
Laras mengangguk. "Tidak apa-apa kok," suaranya lesu.
"Besok aku pulang ke mension, jangan marah ya?" ucap Ibra yang di tanggapi oleh Laras dengan anggukan, dan menatap kedua netra mata Ibra yang menatap sendu.
Ada rasa tidak rela dalam hatinya Laras. Namun ia tak ada hak untuk menahan Ibra di sana, apalagi sudah beberapa hari ini melewati waktu bersama dirinya tanpa menyempatkan waktu untuk istrinya yang lain.
"Ini malam pertama di rumah baru," Ibra mendaratkan kecupan hangat di kening Laras lama ... turun ke pipi kanan dan kiri. Kemudian berpindah ke ***** Laras yang berwarna merah jambu itu.
Tak ketinggalan, tangannya meraba tempat-tempat terfavorit nya ....
__ADS_1
****
Hi .... terima kasih masih setia dengan kisah Ibra dan Laras. dan terus dukung aku ya🙏tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa. Buat aku tambah semangat, selamat membaca biarpun satu episd tapi lumayan panjang kok.