
Ruswan yang duduk tidak jauh dari Laras berbaring, tak henti-hentinya memandangi wajah cantik nan anggun Laras. yang masih tertidur.
Bibirnya terus menyunggingkan senyuman. Dan otaknya dah mulai traveling berjalan-jalan entah kemana.
Laras mulai bergerak memijit kepalanya yang terasa pusing. Perlahan sedikit-sedikit membuka memicingkan matanya. Pejamkan lagi lalu membuka kembali dengan lebar seraya terperanjat setelah menyadari tak mengenali tempat tersebut dan yang paling membuat ia terkesiap adalah di depannya ada seorang lelaki yang bukan muhrimnya dan juga bukan Irfan sebagai bodyguard nya.
"Kamu? di mana ini?" tanya Laras menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kamar tersebut.
Ruswan tersenyum mendengar pertanyaan dari bibir Laras. "Kamu sedang berada di suatu tempat yang akan membuat mu bahagia bersama ku."
"Apa? maksud kamu apaan!" tanya Laras kembali sambil mencerna sendiri maksud dari ucapan Ruswan barusan.
"Ha ha ha ... masa gak ngerti? tempat ini akan menjadi saksi dimana kita akan melewati waktu bersama, menikmati indahnya surga dunia." Jelas Ruswan seraya tertawa.
Sungguh Laras tidak mengerti kenapa dirinya ada di tempat yang sama sekali tak ia kenali itu. Jari lentiknya masih memijat pelipisnya yang masih terasa pusing itu. "Aku ingin pulang."
Ruswan tersentak ketika melihat Laras hendak turun. "Jangan. dulu pulang. Nanti aku antar pulang santai saja dulu sampai kamu merasa pusing mu hilang." Dia berdiri 5 langkah dari tempat Laras berdiri kini.
"Saya harus pulang, Irfan mana? Mas Irfan ... di mana?" pekik Laras memanggil Irfan dan hendak berjalan. Namun entah kenapa kepalanya terasa pusing banget.
"Hem. Nanti cantik, kita pasti pulang," ucap Ruswan, tangan memegang bahu Laras supaya terduduk kembali. Ruswan duduk di dekat Laras sedikit menghadap membuat Laras liris dan menggeser duduknya.
Semakin Laras menjauh semakin Ruswan mendekat. Laras pun mentok mepet ke bahu tempat tidur, Laras semakin merasa risih dan panik melihat sorot mata Ruswan yang aneh, lantas Laras berdiri namun tangannya di tarik sehingga terduduk kembali.
"Kamu jangan kurang ajar ya? pegang-pegang segala." Laras menepis tangan Ruswan yang sempat memegang pergelangan tangannya.
Ruswan mengambil botol minum dan membukanya, ia berikan minuman tersebut. " Minumlah, saya tak akan menyakiti mu melainkan memberi kenikma--"
Brak!
Botol terjatuh akibat Laras tepis dan air nya tumpah membasahi lantai. Mata Ruswan bergerak melihat botol tersebut. Kemudian beralih melihat ke arah Laras yang berdiri di pojokan, dengan rahang yang mengeras Ruswan berjalan maju mendekati Laras.
Laras yang merasa mentok tak bisa menghindar. "Kamu mau apa? saya mau pulang. Jangan coba macam-macam ya?" jari Laras menunjuk Ruswan. Hatinya berdebar-debar ketakutan.
kedua tangan Ruswan menempel di dinding. "Hem, kamu tahu? saya sungguh terobsesi dan ingin memiliki dirimu seutuhnya." jarinya berusaha membelai pipi Laras, namun berhasil Laras tepis.
__ADS_1
"Kamu gila, saya sudah punya suami dan anak. Tolong jangan macam-macam padaku." ucap Laras memelas. "Atau aku akan berteriak," ancam Laras kembali.
"Ha ha ha ... berteriak lah manis ... aku pastikan tak ada satupun orang yang mendengar suara mu." Ruswan mencolek dagu mangsanya. Kemudian membuka jas ia lempar ke sembarang tempat dan membuka kancing di dadanya.
Melihat itu Laras semakin dibuat panik, gugup. Takut, ia menangkap sinyal-sinyal yang semakin tak beres.
Dalam sepersekian detik Ruswan menarik kerudung Laras sampai terlepas dan memperlihatkan. rambutnya yang indah. Laras marah dan ingin merebut kerudung tersebut, namun Ruswan lempar ke belakang. Laras mendorong dada Ruswan dengan kuat sehingga Ruswan mundur dan Laras bisa melewati mau mengambil kerudungnya.
Belum sampai tangan Laras mengambil kerudung. Tangan Ruswan meraih pinggang Laras di tariknya ke tempat tidur.
Blak!
Tubuh Laras terbaring. Laras sontak menggelinjang bangun namun kalah cepat dengan Ruswan yang langsung mengungkung tubuh Laras menjepit kedua kakinya dengan dengkul Ruswan.
"Lepas? tolong ... aku mohon lepaskan aku!" aku di tunggu anak ku di rumah." tajuk Laras matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Ingatlah, aku istri sahabat mu." Suara serak Laras membuat Ruswan tambah gemas dan bergairah.
"Silakan kamu berteriak tak ada satupun yang bisa menggangu kita berdua di sini." Bisik nya. Pas dekat telinga Laras dan napas Ruswan menyapu semua permukaan kulit Laras. Laras semakin panik dan mencoba berpikir gimana caranya bisa lepas.
Jemari Ruswan menyentuh bibir Laras yang langsung Laras tangkap tangannya dan ia gigit, seketika Ruswan merasa kesakitan dan menempelkan punggungnya di kasur. Mengibas-ngibaskan tangan yang terasa sakit dan panas.
Ruswan tertawa lepas melihat tingkah Laras yang menggedor pintu sambil berteriak meminta tolong.
"Tolong ... mas Irfan? Abang ... tolong aku!" Terus saja Laras meminta tolong dan memanggil Irfan dan suaminya. Tas miliknya pun tak ada di sana, boro-boro ponsel untuk menghubungi Ibra atau siapapun.
Ruswan membuka kemejanya lalu lagi-lagi dilempar. Berjalan mendekati Laras dan Laras terus menghindar dari Ruswan yang kemudian kejar-kejaran. Namun pada akhirnya Laras merasa capek dan tangannya ditangkap oleh Ruswan ditariknya dan di jatuhkan ke tempat tidur.
Sungguh hati Laras saat ini sangat cemas, ketakutan. Akan nasibnya ini. Hanya bisa berdoa dalam hati semoga ada pertolongan untuknya sehingga ia bisa terlepas dengan selamat dari bahaya ini.
"Pergi, jauh dari ku? teriak Laras sambil menangis. Saya ini istri Ibta, sahabat kamu. Lepaskan!" pekik Laras, kedua tangannya dalam genggaman Ruswan di atas kepalanya Laras.
"Saya tidak perduli kamu istrinya Ibra, sebab aku iri sama dia yang selalu dengan mudahnya mendapatkan wanita cantik. Termasuk dirimu sayang ... aku sungguh menginginkan mu." sorot matanya sudah diselimuti dengan kabut gairah. Sementara tangan yang satu lagi berusaha membuka kencing bagian dada Laras.
Laras semakin berontak dan akhirnya dengkulnya bisa menyundul barang pusaka Ruswan yang sudah on. Laras menjauh.
"Duh ..." pekik Ruswan menangkupkan kedua tangan di pusaka miliknya itu.
__ADS_1
Jantung Laras semakin kencang berdetak nya. Seakan-akan ingin lompat. Ia lempar semua benda kecil yang ada di sana ke arah Ruswan.
Jelas Ruswan semakin garang. Semakin geregetan. Dan nafsu nya semakin naik dibarengi rasa marah. Ia tangkap tangan Laras ia banting ke kasur, dengan sisa-sisa tenaganya, Laras memukul dagu Ruswan.
Jeduk!
Laras meninju dagu Ruswan dengan sekuat tenaganya. Ia kembali melompat ke dekat pintu.
"Aw ... brengsek. Wanita sialan." Ruswan semakin tersulut emosinya. Lagi-lagi main mereka kucing-kucingan.
Geph!
Kaki Laras Ruswan pegang dan di tariknya dengan kuat.
Blak!
Tubuh Laras terjatuh ke lantai, Laras nyengir merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Kali ini Ruswan langsung mengungkungnya di sana. "Layani aku, cantik puaskan aku sebentar saja. Aku janji akan mengantar mu pulang dan merahasiakan semua yang kita lakukan ini," suaranya bergetar penuh napsu dan amarah.
Laras semakin panik, Apalagi ketika tangan Ruswan mencoba menjamah sesuatu miliknya.
****
Setelah berbelanja buat santunan sosial Irfan balik ke tempat semula, namun Laras tidak ada di tempat lantas ia bolak balik telepon tak di angkat sama sekali oleh Laras. Irfan hubungi nomor Ruswan, aktif tapi sama nihilnya. Ia jadi khawatir, cemar. Gelisah bercampur jadi satu, sementara mobil Laras itu ia yang bawa dan Laras bersama Ruswan tadi.
Otak Irfan langsung berputar keras dan timbul kecurigaan di benaknya terhadap Ruswan. "Sial, aku ke colongan. Brengsek tuh orang. Kalau memang punya niat buruk terhadap Nona Laras."
Ia segera memasuki mobil Laras. Namun baru saja buka pintu ponselnya berbunyi dan yang telepon itu Ibra yang merasa khawatir terhadap sang istri, sebab telepon darinya tak pernah di angkat.
Irfan mulai bingung, harus jawab apa sama majikannya ini sementara ia sendiri kehilangan jejak tentang Laras. Namun pada akhirnya Irfan bicara sejujurnya. Ia yakin dengan bicara jujur pada Ibra setidaknya akan bisa membantu dalam mencari keberadaan Laras.
Dan GPS yang terhubung dengan Laras kan cuma Ibra seorang. Jelas Ibra ngamuk, dia marah semarah-marahnya di telepon setelah mendengar Laras hilang. Namun di belakang terdengar suara Zayn yang menenangkan Ibra di ujung telepon itu, supaya Ibra memberikan kode sambungan GPS nya ....
****
Yang sudah baca. Jangan lupa tinggalkan jejak ya?" satu lagi. Jangan lupa kunjungi juga BSH ya, makasih sebelumnya.🙏
__ADS_1