
Dengan malas, Dian turun dari tempat tidurnya, langkah dengan teratur mendekati pintu.
Blak!
Dian membuka pintu, dan tampak berdiri ibunda dan di belakangnya seorang pria berpakaian polisi.
Deg.
Hati Dian berdegup sangat kencang. Menatap orang yang berada di belakang sang bunda.
"Dian, ada tamu," ucap bu Lodia dengan tatapan penuh kecemasan.
"Siang, Bu. Saya datang untuk menyampaikan surat panggilan ini sama anda." Pria tegap itu memberikan sebuah amplop.
"Oh," tak ada lagi kata yang terucap dari bibir Dian, tangannya mengambil amplop itu.
"Putri saya tidak akan di tangkap kan Pak?" tanya bu Lodia dengan nada ketakutan.
Polisi tersebut menatap ke arah bu Lodia dengan bibir melukiskan senyuman. "Tidak, Bu ... saya cuma menyampaikan saja surat tersebut. Dan semoga putri anda dapat memenuhi undangan dari kantor."
Wajah bu Lodia yang mulanya pucat, sedikit berseri kembali. "Beneran Pak? putri saya tidak di tangkap," ulang ibunda Dian ingin memastikan kalau putrinya hanya diberi surat panggilan saja.
"Benar, Bu ... Baiklah. Saya undur diri dulu, permisi." Pria tersebut mengulurkan tangan pada Dian dan ibunda. Kemudian berjalan meninggalkan pintu kamar Dian yang masih mematung.
Bu Lodia berjalan mengikuti langkah polisi tersebut. Niatnya mengantar sampai teras, begitu sampai di teras. Bu Lodia menatap mobil patroli yang membawa dua polisi yang terlihat masih muda dan gagah itu.
Dian berjalan gontai menuju sofa. Tangannya membolak-balik amplop tersebut, perlahan ia buka dan membaca surat tersebut. Bahwa ia diharap memenuhi undangan dari polres, sebagai saksi tentang video itu.
Jantung Dian kian berdegup kencang. Khawatir dan penuh kecemasan, si kertas pun terjatuh begitu saja. Ia ambil kembali dan disimpannya di meja.
Bu Lodia muncul kembali dan menghampiri sang putri tunggalnya. "Panggilan apa sih Dian?"
Dian tak menjawab, selain menunjuk selembar kertas yang tergeletak di meja. Ia sendiri lebih memilih pejamkan matanya yang terasa lelah dan perih. Pikirannya kacau balau.
Ibunda Dian mengambil kertas tersebut. Netra matanya bergantian melihat ke arah Dian juga. Ia baca dalam hati dengan rasa yang deg deg degan itu.
Lalu kedua matanya menatap Dian yang bersandar dan memejamkan mata. "Ini--"
Tangan Dian di angkat ke udara. "Jangan komentar apapun Bu, Aku lagi pusing. Biarkan aku tenang, Bu ..." lirihnya Dian. Nada bicaranya pelan.
Sang ibunda yang sudah menganga mulutnya kembali mencakup, diam. Menyimpan kertas yang sebelumnya ia masukkan ke amplopnya. Kemudian disimpan di atas meja seperti semula.
"Ya, Sudah. Mommy turun dulu, jangan lupa makan ya sayang?" bu Lodia mengangkat pantatnya. Berdiri dan berjalan meninggalkan Dian sendiri di sofa.
Mata Dian terbuka, setelah ibunda nya sudah meninggalkan kamar tersebut. Ia menegakkan duduknya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pun pecah kembali, bahunya bergetar. Hik hik hik. Suara isak tangisnya memenuhi ruang kamar tersebut.
****
Suatu hari, kondisi Laras dah benar-benar fit, dan siang ini Ibra sudah pulang dari kantor. Seperti biasa setelah bersih-bersih, makan siang. Kemudian bersiap-siap pulang ke rumah Laras. Katanya sudah terlalu lama tinggal di mension, Makanya siang ini akan ke sana.
Ibra menyingsingkan lengan bajunya. Berdiri di depan cermin, sementara Laras juga sedang mengenakan kerudung. Duduk di kursi rias. Sesekali saling pandang melalui pantulan dari cermin.
"Cantik sekali istri ku." Ibra memegang kedua bahu sang istri. Tatapannya mengarah ke cermin.
"Maaf ya, gak ada receh." Akunya Laras sambil mesem.
"Aku gak butuh recehan sayang, dengan ciuman di pipi pun aku sudah bahagia dan gak akan ku tolak loh." Sungut Ibra sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Hem ... itu sih maunya, mesum mulu otaknya ya?" ucap Laras menggeleng, tangannya memasukan kakinya ke pantofel.
"Gimana gak mesum sayang, sudah beberapa hari ini gak di kasih, aku di biarkan puasa terus. Ada aja halangan nya. Heran." Kata Ibra dengan kesalnya.
Bagaimana gak kesal, setiap mau mulai selalu ada aja halangan nya. Ini lah itu lah, setiap malam Laras suka gelisah dan mood nya pun kurang baik untuk di ajak ritual harian. Akhirnya Ibra berpuasa.
Laras mesem ... aja mendengar ocehan sang suami. Laras berdiri, mengecek isi tas kecilnya. Kali aja ada yang ketinggalan.
"Sudah siap sayang?" tanya Ibra sambil memegang tangan laras.
"Sudah. Mama sudah pulang belum dari Yogjakarta nya?" tanya Laras pada sang suami.
"Belum, besok katanya," sahut Ibra.
Pak Marwan dan istri sudah dua hari ini berada di Yogjakarta. Sedang memenuhi undangan dari keluarganya, dan ada janji juga sama rekan bisnis nya dulu.
"Oh, jadi mengajak pak Barko nya?" tanya Laras kembali.
"Jadi, diajak."
"Yu, jalan?" Laras menarik tangan Ibra yang malah duduk di sofa.
"Aku capek pengen tidur dulu," ungkap Ibra sambil merentangkan tangannya.
Laras berdiri di depannya. "Aish ... ayo ah." Kembali menarik tangan Ibra yang berat.
Namun tubuh Ibra bukannya terangkat, malah tubuh Laras yang Ibra tarik dan duduk di atas pahanya. "Duduk dulu. Nanti pegal kakinya."
Laras melotot. "Ih ... apaan sih?" gumamnya Laras sambil merangkul leher Ibra.
Sementara tangan Ibra merangkul pinggang Laras yang berisi itu. Wajah Ibra mendekat ke wajah Laras yang langsung menghindar, menerima penolakan. Ibra makin dibuat penasaran. Jarinya memegang dagu Laras, lantas menangkap bibir ranum sang istri.
Membuat Laras menolak dan menangkap tangan Ibra. "Sudah rapi, pulang sekarang yu?"
Mata Ibra menatap sayu, seolah meminta ijin untuk melakukan sesuatu. Laras pun faham, tapi ia malas dengan alasan semuanya sudah rapi dan siap pergi.
Ibra tak perduli dengan diamnya sang istri. Ia kembali memberikan kecupan-kecupan kecil. Di ***** sang istri. Tangan juga tak bisa di kendalikan, terus saja berusaha untuk berselancar. di gunung salju.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu. Laras pun bergelinjang dari pangkuan Ibra. Mata Ibra menatap tajam.ke arah pintu.
Laras merapikan penampilannya. Tak lupa turut merapikan kemeja Ibra yang kusut itu dan terbuka kancing di bagian dadanya. Ibra berdiri membawa langkahnya mendekati daun pintu.
Blak!
Ibra membuka pintu. Tampak Irfan berdiri di depan pintu dengan kepala menunduk dalam. Tak berani mendongak.
"Ada apa?"
"Maaf, Tuan. Pulang ke jalan xx nya jadi sekarang gak? kalau sekiranya gak jadi sekarang, saya mau minta ijin pulang. Ibu Saya sedang kurang sehat," ujar Irfan tanpa mengangkat wajahnya.
Ibra menarik napas panjang ... membuang rasa kesal tadi yang menggerogoti hatinya. "Kalau ibu mu sakit, pulang lah. Saya akan nyetir sendiri, ibumu lebih penting. Saya ijinkan kamu pulang."
__ADS_1
Mendengar seperti itu. Irfan barulah sedikit mengangkat wajahnya itu. "Makasih, Tuan." Mengangguk hormat.
"Pergilah." Ulang Ibra. "Semoga ibumu cepat sembuh. Seandainya butuh bantuan hubungi Zayn, jangan sungkan."
"Baik Tuan." Kemudian Irfan mengundur diri.
Ibra menutup kembali pintu dengan helaan napasnya yang sedikit yang tidak beraturan. Menoleh sang istri yang menatapnya penuh arti.
"Heran aku, di mension sebesar ini. Masih ada aja gangguan, setiap mau bercinta, bikin pusing ini kepala dua-duanya." Batin Ibra.
"Ehem. Yu berangkat?" ajak Ibra. Menyambar jam tangannya dari meja. Dompet dari laci.
"Jas nya?" Laras menunjukkan jas di tangan untuk Ibra pakai. Namun Ibra menggeleng. Dengan alasan panas.
Akhirnya Laras yang tenteng jas itu. Keduanya sudah berada di lobby, bu Rika pun mengantar majikannya yang hendak pulang.
"Nyonya, kalau nanti butuh tenaga saya. Mungkin perutnya susah berasa mau lahiran. Telepon aja saya."
"Iya, Bu ... makasih ya? sebelumnya," tutur Laras dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Sama-sama Nyonya muda."
Ibra, sudah siap di belakang kemudi. "Ayo sayang?" membukakan pintu depan, biar Laras duduk di sampingnya.
"Bu, aku pergi dulu ya?" Laras turun dan memasuki ke dalam mobil.
"Hati-hati," gumam Ibra.
Bu Rika melambaikan tangan ke arah majikannya pelan.
Laras memasang sabuk pengaman. Di bantu sang suami tuk menguncinya, kemudian Ibra melajukan mobil kesayangannya dengan kecepatan sedang. "Mau bali sesuatu dulu gak sayang?" tawar Ibra dengan mata fokus ke depan.
"Nggak tahu."
"Ya, sudah nanti kalau bilang sesuatu bilang aja ya?" sambung Ibra.
"Hem," netra mata Laras lepas keluar jendela.
Sesekali Kepala Laras bersandar ke belakang jok. Menikmati angin yang masuk melalui kaca jendela yang terbuka. Sekilas Ibra melirik, kemudian fokus lagi ke depan.
"Oya, gimana dengan rencananya yang ingin berbagi itu sayang?" Ibra mengawali obrolan.
"Jadi, kalau memang Abang ijinkan," jawab Laras menoleh sang suami.
"Tentu lah aku ijinkan, aku tak akan berubah kok. Selagi menurut mu baik. Abang gak akan melarang."
"Makasih, sayang makasih." Dengan refleks Laras mengecup pipi sang suami.
"Iya, sama-sama. Aku percaya kamu akan menggunakannya dengan baik." Ibra sangat mempercayai sang istri.
Di tengah perjalanan, seperti biasa Laras akan membeli jajanan yang ia suka. Seperti kali ini ia ingin membeli rujak pedas. Cilok tahu, gorengan. Dan sup buah. Mulutnya terus menggiling yang memakan ini dan itu. Sesekali menyuapi sang suami.
Ibra pun turut menikmati semuanya, yang Laras beli. Padahal Ibra gak pernah ngemil, namun kalau apapun yang Laras suapi pasti di makan juga.
Ketika asyik memakan yang ada tiba-tiba Laras melihat sesuatu. "Abang, itu-tu, Itu." Suara Laras membuat Ibra ngerem kembali mobilnya ....
****
__ADS_1
Hai ... reader ku yang baik hati yang selalu setia. Tadinya hari ini aku mau libur, tapi karena kalian semua pasti menantikan kelanjutan SKM. Jadi aku nulis juga, biar sedikit gak pa-pa ya? semoga terhibur dan sedikit mengobati rindu.