Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Daftar Undangan


__ADS_3

Muncullah Ibra di tempat itu, Dengan tatapan tajam. Ibra berjalan mendekat dan duduk di hadapan Ruswan. "Kenapa kau ada di sini? ada perlu apa!" tanya Ibra,dia merasa heran dari tadi sesampainya di halaman, hatinya bertanya-tanya. Kenapa ada mobil Ruswan? padahal gak ada janji dengannya.


"Kamu sudah pulang sayang?" sapa bu Rahma pada putranya. Yang di balas dengan anggukan.


"Em, em ... itu-itu. Aku pengen ketemu baby boy kamu." Jawab Ruswan agak-agak gugup tuk memberi jawaban pada Ibra.


"Oya? kenapa datang ketika saya tak ada, kan bisa. Hubungi saya dulu, saya sedang ada di rumah atau tidak? jangan datang ketika saya gak ada!" jelas Ibra dengan nada yang kurang bersahabat. Entah kenapa ia merasa kesal. Ketika Ruswan datang tanpa sepengatahuan dirinya.


Ruswan bengong sambil menyeringai. "Kau cemburu ya?"


"Tidak, cuma saya ingatkan kalau mau ke sini harus ada saya di rumah." Jelas Ibra sambil beranjak ke kamar. Ingin menemui sang istri dan baby boy.


Bu Rahma dan Ruswan terdiam. Memandangi langkah Ibra yang berjalan menuju ke kamar.


Klik!


Tangan Ibra mendorong handle pintu. Tampak sang istri sedang mengganti popok baby Satria.


"Abang dah pulang?" tanya Laras menoleh sekilas ke arah suaminya.


"Hem, Satria bobo?" Ibra mendekat mencium pucuk kepala Laras. Dan mengusap kepala baby boy yang tidur.


"Baru aja tidurnya. Baru selesai mimi." Jawab Laras. Merapikan pakaian baby boy.


"Em ... sudah kenyang ya sayang hem ... tinggal bobo ya, di sisain gak mimi nya buat Papi? hai baby." mengelus pipinya.


"Abang ... kasian lagi bobo. Nanti dia bangun lagi loh!" protes Laras.


"Iya-iya. Itu sejak kapan Ruswan ada di sini?" menatap sang istri sangat lekat.


"Oh, sudah dari lama," balas Laras. " Kenapa? aku kira sudah ada janji sama kamu."


"Kalau ada janji, ngapain aku pergi sayang? buat apa aku pergi golp, kalau dia datang ke sini. Tentunya kita bertemu di luar juga." Ibra duduk di tepi tempat tidur. Menarik tangan Laras agar berdiri di depannya.


"Katanya kangen sama baby Satria. Makanya tadi baby Satria aku bawa di ruang keluarga." Tangan Karas melingkar di leher Ibra.


Jari Ibra mengelus pipi Laras dengan sangat lembut. "Aku tidak suka. Bila ada tamu pria datang, ketika aku tidak ada di rumah. Sekalipun itu kawan ku, kecuali seperti Zayn, Irfan sudah jelas tinggal di sini dan jelas tugasnya apa. Jodi, boleh. Itupun setelah tahu dia sepupu kamu sayang. Untuk yang lain tidak," ujar Ibra dengan tegas.


"Gitu amat?" Laras mengulum senyumnya. "Ya udah, mandi dulu sana?"


"Mandiin dong," cuph! mengecup kening sang istri dan di rengkuh nya ke dalam pelukan. Sesaat mereka hanyut dalam hangatnya pelukan.


Laras melepaskan diri dan mendorong dada Ibra hingga menjauh beberapa jarak. "Mandi sana. Aku mau siapkan baju mu dulu, setelah mandi. Salat, terus kita makan sama-sama, ayo cepetan mandi."


"Hem ... istriku bawel!" jari Ibra menjepit hidung Laras yang bangir dengan gemas.


"Ih sakit ...."


Laras pun menyiapkan pakaian Ibra, ia letakkan di atas tempat tidur. Ketika berbalik badan alangkah tercengangnya ia, melihat kaos suaminya.


tergeletak di atas sofa. Celana panjang di lantai, kaus dalam. Celana pendek berada di depan pintu kamar mandi. Pokonya berceceran, Laras bengong. terheran-heran, biasanya sang suami gak kaya gini-gini amat.


"Ya, ampun ... apa maksudnya?" gumamnya Laras sambil memungut pakaian kotor yang berceceran. Setelah ia masukan ke wadahnya, Laras berniat keluar untuk menyiapkan makan.


Namun belum juga sampai ke pintu. "Sayang? tolong dong ambilkan shampo, habis nih." Pekik Ibra.


"Aish ... ada-ada aja, kan shampo banyak." Gumam Laras sambil menggeleng. Laras menuntun langkahnya masuk ke kamar mandi.


Setelah di dalam kamar mandi. Menggerakkan matanya ke tempat shampo. "Ini, apa Abang? shampo banyak. Stok sabun pun masih ada."


Ibra menyeringai, Laras menatap datar ke arahnya. "Nggak lihat sayang ..."


Kemudian Laras berbalik badan. Hendak keluar lagi. Baru mau melintasi pintu, namun Ibra memanggil kembali.

__ADS_1


"Sayang, tolong dong gosokan punggung ku?" pinta Ibra pada sang istri.


Laras mundur kembali, dan berjalan menghampiri. "Aku mau siapkan makan siang loh sayang."


"Biar saja Susi yang siapkan, buruan?" ucap Ibra kembali.


Laras menuruti kemauan sang suami. Menggosok punggungnya dengan sabun, ia duduk ke tepi bahthub. "Big baby boy. Lagi manja."


Ibra tersenyum, ia sengaja menghalangi sang istri dengan secara halus untuk tidak keluar kamar. Supaya dia tidak bertemu Ruswan dulu, 25 menit kemudian Ibra pun selesai. Kini ia sedang bersiap salat duhur. "Sayang, nanti keluarnya bareng sama aku."


Laras yang sedang ngecek baby boy. Mengangguk tanpa menoleh atau. Ataupun menyahut. Lima menit kemudian Ibra selesai.


Setelah menyimpan sajadahnya. Ibra menoleh sang istri yang duduk di sofa melamun. "Yu," mengulurkan tangannya pada Laras.


Laras pun menyambut tangan Ibra. Kemudian mereka berdua berjalan bergandengan. "Sebentar."


"Kenapa?" Ibra menghentikan langkahnya sesaat.


"Kerudung ku rapih gak?" Laras menghadap suaminya seolah bercermin di manik mata Ibra.


Tangan Ibra merapikan kerudung sang istri yang terlihat miring. "Sudah, dah tapi." melanjutkan lagi langkahnya.


Di meja makan bu Rahma dan yang lain sudah siap makan siang, tinggal menunggu Ibra dan Laras yang baru muncul di tempat itu.


Sorot mata Ruswan tertuju pada tangan Ibra dan Laras yang bergandengan mesra. Diam-diam bibinya menyungging, kemudian menunduk melihat ke arah meja makan yang tersedia banyak menu masakan.


Sebelum duduk, Ibra menarik kursi buat sang istri yang menyiapkan lebih dulu buat makan suaminya.


"Mau apa lauknya?" melirik sang suami.


"Rendang dan ikan goreng, sayur bayam." Balas Ibra. "Loh ... kok bengong? Ayo dong makannya."


Yang lain yang masih bengong pun memulai makannya dengan lahap. Irfan Menangkap sesuatu yang kurang beres dengan sikap Ruswan. Namun dia tidak ingin terlalu berpikir buruk tentang itu, yang penting meningkatkan kewaspadaan saja.


Begitupun dengan Ibra. Ekor matanya menangkap sikap Ruswan yang curi-curi pandang pada Istrinya. "Apa maksudnya? curi-curi pandang gitu, oh dari tadi sikap mu seperti itu. Dasar jomblo akut." Dalam hati Ibra.


Sementara Laras sendiri anteng aja dengan makannya. Ia tak merasa diperhatikan oleh Ruswan, ia rasa ada Ibra ini.


"Baby boy, nyenyak ya bobo nya sayang?" tanya bu Rahma pada Laras.


"Tadi, iya Mah ... sangat nyenyak tuh." Laras menyudahi makannya dengan segelas air minum. "Abang, aku duluan ya? mau lihat baby boy." Suara Laras pelan pada sang suami.


"Hem."


Mata Ruswan melirik ke arah Laras sekilas. Kemudian mengalihkan pandangan pada Ibra. "Oya, gimana acara golp nya?"


"Oh, baik aja. Kamu gak ada acara di luar? tanya balik Ibra.


Ruswan, menggeleng pelan. "Tidak. Makanya aku main ke sini, ingin bermain dengan baby boy."


"Oya? begitu ya!" Ibra menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya.


"Aku. Suka tempat ini, asri dan nyaman." Ruswan mengedarkan pandangan ke seluruh tempat tersebut.


Ibra mengangguk. "Memang benar."


Makan siang pun selesai. Ibra dan Ruswan meneruskan perbincangan nya di teras. Sementara Laras istirahat siang di kamarnya.


Di saat berbincang, mata Ruswan diam-diam mencari keberadaan Laras. Namun yang ia cari tak kunjung datang kembali, akhirnya Ruswan berpamitan pada Ibra.


Dengan senang hati Ibra mengangguk. "Oh, oke."


Ruswan berlalu meninggalkan Ibra. Memasuki mobilnya, kemudian mobil tersebut menjauhi kediaman Ibra. Ibra berdiri dan membawa langkahnya ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ruswan ke mana?" tanya bu Rahma pada putranya yang berjalan sendiri.


"Sudah pulang, Mah ...."


"Oh," bu Rahma mengangguk. Kemudian ia masuk ke dalam kamar.


Ibra terus berjalan menuju kamarnya. Setelah masuk, Ia mendapati sang istri sedang tidur meringkuk di atas tempat tidur. Netra mata Ibra bergerak melihat sang baby boy yang masih tidur nyenyak.


Ibra terus berjalan mendekati tempat tidur yang di atasnya ada sang istri sedang tidur nyenyak. Ia merangkak naik dan berbaring di samping sang istri. Tangannya langsung memeluk dan mengecup kening sang istri dengan lembut.


Ibra pun tak butuh waktu lama untuk memejamkan matanya.


****


Dian dan Firman sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan. Seperti saat ini mereka tengah menyiapkan undangan. Mengisi daftar orang-orang yang akan mereka undang.


Dian tercengang, begitu melihat daftar orang yang mau di undang. "Sayang, banyak banget?"


"Kenapa? memang banyak sayang, banyak yang ingin hadir di pernikahan kita sayang."


"Tapi, sebanyak ini?" selidik Dian kembali.


"Iya." Balas Firman singkat.


Daftar orang yang akan di undang. Ummi alfa. Tutut puput, Ratna aza. Farra, Venti Stianadewi. Mukayah Sugino, Rina Siswati. Wiek Soen, Arga gandun. Jar waty, Ida Sriwidodo. Retno Harningsih. Farhan nunung, Tutiks. Tina, Icha. Yangyang, Hetty Julia dll nya.


"Kok. Nama perempuan semua?" Dian menatap Firman dengan lekat.


"Ha ha ha ... iya sayang, itu semua kawan ku sayang. Dari mulai kawan kuliah sampai kawan kerja dan juga kawan ngegosip."


"Masa?" Dian mengernyitkan keningnya. Menatap Firman yang masih terkekeh.


"Sudah lah sayang, isi aja." Kata Firman kembali.


"Baiklah." Dian mengambil kartu undangan satu persatu dan ia isi dengan nama-nama yang ada dalam daftar.


"Mamah ..." panggil Ferdi berlari kecil menghampiri Dian yang ia panggil mamah itu.


"Ada apa sayang?" jawab Dian menyambut Ferdi dan memeluknya.


"Mamah. Makasih ya? mainannya aku suka banget," ucap Ferdi.


"Oya, sama-sama sayang! gimana kalau lain kali kita membeli lagi, mau?" tanya Dian pada Ferdi.


"Mau, sambil membeli eskrim ya Mamah?" anak itu menatap Dian penuh harap.


"Boleh. Tentu kita akan membeli eskrim yang enak," jawab Dian.


"Hore ... aku mau beli eskrim sama Mamah dan Papah juga, kan?"


"Tentu saja, sayang ... sama Papa juga!" timpal Firman sambil mengangguk dan tersenyum.


"Yeyy ... hore, hore. Asyik ..." Ferdi bersorak kegirangan. Anak itu tampak sangat bahagia.


Dian tersenyum. Melihat sang anak sambungnya yang sangat kegirangan. Kemudian bermain kembali di lantai tepat di depan mereka berdua.


Dian dan Firman kembali mengerjakan mengisi kartu undangan yang menumpuk di meja itu. Asisten datang membawakan dua gelas minuman untuk Dian dan Firman.


Firman meneguk minuman tersebut. Kemudian meminumkan minuman di gelas yang sama pada Dian. Sejenak Dian terdiam namun tak ayal menerima dan meneguknya.


Firman tersenyum. Menatap Dian penuh kasih dan sayang, Dian tersipu malu. Menerima tatapan dari calon suaminya itu ....


****

__ADS_1


Reader ku semua, maaf ya malam ini up nya sedikit. Sebab aku sedang kurang sehat, mohon doanya🙏


__ADS_2