
Tangan mbok Darmi mengelus tangan pak Mulyadi sangat lembut. Bibirnya mengulas senyuman yang mengandung arti.
Pak Mulyadi merasakan desiran aneh dalam tubuhnya. Dan timbul rasa keinginan yang memuncak. Selama di rumah Jodi, kebutuhannya terabaikan dengan tidak adanya kesempatan dan rasa was was, takut diketahui oleh sang anak.
Sering kali Darmi menyelinap ke kamar sang majikan, namun baru masuk aja suka keburu Jodi masuk melihat sang ayah. Namun kali ini mbok Darmi benar-benar nekad menemui pak Mulyadi hanya untuk mencurahkan rasa rindu yang selalu harus terpendam karena keadaan.
Walau kondisinya di kursi roda, tapi jiwa ke lelakian nya normal seperti pria sehat lainnya. Seperti saat ini ia merasakan sesuatu yang mendesak.
Pak Mulyadi menegakkan duduknya. Mendekati wajah Darmi yang menatap sayu dan merayu, tatapan pasrah menawarkan sesuatu. Hidung Mulyadi menempel di leher Darmi menghirup wangi tubuhnya yang selama ini tak ia cium.
Tangannya meraih buah yang besar dan berisi. Buah yang selalu menggantung dan terjaga kesegarannya. Mbok Darmi tersenyum dan matanya terpejam merasakan sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Darah Keduanya mengalir deras naik ke ubun-ubun.
Darmi membuka kedua kelopak matanya, ketika sadar tangannya meremas pisang tanduk yang sudah siap tuk dinikmati. Ia menggigit bibir bawahnya, rasanya sudah tak sabar untuk melahap pisang tanduk tersebut.
"Lakukan lah kewajiban mu tuk melayani ku," bisik pak Mulyadi dengan suara yang bergetar pula.
Mbok Darmi tersenyum senang. Ia berdiri di hadapan pak Mulyadi, melepas semua yang melekat di tubuhnya. Sehingga tak ada lagi satupun tersisa, kemudian naik merangkak dan membuka satu/satu kain yang penutup tubuh pak Mulyadi dengan cekatan, hingga tak butuh waktu lama tuk menyingkirkan nya.
Sejenak mereka saling tatap, Kemudian seakan tak ingin membuang waktu lagi. Mbok Darmi langsung yang menghandle semuanya dengan liar. Pak Mulyadi hanya merem melek menikmati kegiatan ini.
Sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki, di luar kamar pak Mulyadi. Keduanya sedikit berwajah cemas saling pandang di bawah sinar lampu yang temaram. Namun tak mungkin menghentikan kegiatan yang sudah mencapai setengahnya. Sambil mendengarkan suara langkah itu yang makin lama semakin menjauh, mereka tetaplah meneruskan kegiatannya yang bikin ketagihan. Darmi yang berenang lebih leluasa bergerak sesukanya. Meskipun begitu, mereka tetap dengan hati-hati, jangan sampai suara mereka terdengar ke luar. Bahaya.
Pagi-pagi, Caca sudah ke kamar pak Mulyadi tuk membangunkan. Namun pak Mulyadi sudah duduk di tepi tempat tidur dengan tampak segar.
"Pagi, Tuan? sudah bangun rupanya," sapa Caca sambil beres-beres.
"Sudah, suster. Sudah dari tadi," sahut pak Mulyadi dengan wajah yang tampak sumringah, bersinar.
Caca yang bersih-bersi menyapu melihat sesuatu di bawah tempat tidur. "Eeh. Apa itu, kaya-kayanya sidi. Tapi seperti milik wanita." Batin Caca sambil menatap barang tersebut.
Melihat Caca bengong dengan sorot mata tertuju ke satu arah, pak Mulyadi heran dan alangkah terkejutnya dia melihat barang Darmi yang tertinggal di bawah sana.
"Ca, em biar saja di situ. Itu punya saya, aduh jadi malu." Pak Mulyadi tampak malu-malu.
"Oh, tak apa biar Caca ambilkan--"
"Ja-jangan biar saja. di-di situ, jangan nanti Caca jijik," cegah pak Mulyadi. Bisa curiga kalau diambil Caca, mana barangnya besar, selebar pemiliknya. "Bantu saya ke kursi roda suster."
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau begitu." Caca menghampiri dan membantu pak Mulyadi duduk di kursi roda.
"Makasih suster?" gumamnya pak Mulyadi.
"Sebentar saya mengantar cucian ke tempat nyuci. Setelah itu kita jalan-jalan menghirup udara pagi ya Tuan." Caca segera keluar kamar, sekilas matanya melihat sidi yang masih tergeletak di lantai. Padahal ia mau bawa dengan cucian lainnya.
Setelah Caca keluar, pak Mulyadi segera mengambil barang tersebut. Ia remas dan diciumnya sampai matanya terpejam. Aromanya begitu segar di hidung. Kemudian bergegas ia simpan di tempat yang sekiranya aman. "Teledor Darmi, hampir saja."
"Kalau Caca yang ambil bisa curiga dia, bisa terbongkar rahasia ku, Caca pasti marasa kok celana ku sebesar itu. 2x lipat pinggul ku itu he he he ..." tertawa sendiri.
Caca kembali. Lalu mendorong kursi roda pak Mulyadi ke belakang kebetulan di belakang halamannya luas dan hijau pula.
****
"Pagi sayang," cuph! kecupan hangat mendarat di keningnya Laras.
"Pagi juga," suara berat Laras khas baru bangun tidur. Sambil memicingkan mata, mengamati penampilan Ibra yang memakai sarung dan peci, terlihat rapi sekali di mata Laras.
"Mentang-mentang baby boy belum bangun, Mammy nya juga masih tiduran." Ibra mencolek hidung sang istri.
Bibir Laras tersenyum manis. "Suruh siapa ganggu aku terus hem?" Laras bangun dan memeluk bahu Ibra dari belakang dengan erat. Menempelkan pipinya di punggung sang suami.
"Siapa yang menggoda? mana ada menggoda! aneh ah." Timpal Laras. "Em ... masih ngantuk." Kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal.
"Sayang ... eh-eh bangun. Suami mu ini gak mau diurusin nih?" tangan Ibra menepuk pipi Laras dengan lembut.
"Ngantuk, masih pengen tidur. Mataku sepet banget nih Abang ... bentar ... lagi masih pagi juga, kan?" gumamnya Laras sambil tetap terpejam.
Kepala Ibra menggeleng pelan, tangannya membelai rambut sang istri. "I love you sayang."
Kemudian Ibra mendekati baby boy yang masih terlelap. Anak itu makin hari makin gembul aja, Ibra menarik bibirnya tersenyum bahagia, akhirnya ia punya keturunan juga. Lalu membawa langkahnya ke sofa menyalakan televisi dengan acara bengkel hati.
Tiba-tiba Laras membawakan kopi di hadapan Ibra. Membuat Ibra terkejut dan celingukan. "Loh, tadi bobo lagi sayang?"
"Kopi nya. Iya tadi," sahut Laras , kemudian mengayunkan kakinya mendekati jendela membuka-buka gorden dan jendelanya agar udara pagi segar masuk ke dalam kamar.
"Kok aku gak lihat ya?" Ibra heran dan menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Mungkin Abang sedang melamun tadi, sampai-sampai aku bangun dan keluar kamar tak kelihatan segala!" ungkap Laras sambil membenahi tempat tidurnya.
Mengambil pakaian formal Ibra dari lemari. Ia simpan di atas tempat tidur yang sudah rapi. "Barang baby Satria belum di siapkan untuk di bawa ke Mension," gumamnya Laras.
"Gampang lah, pakaian aku gak perlu bawa dari sini sayang, ribet. Lagian di sana juga banyak, baju mu juga. Di sana banyak gak ke pakai."
"Tapi, perasaan aku jarang beli pakaian. Tapi kenapa banyak? aku jadi gak ngerti, padahal kalau barang gak ke pakai itu kan mubazir. Pamali." Laras mengungkapkan rasa herannya.
"Nggak usah heran, kalau kebanyakan ya ... dikasihkan saja sama yang membutuhkan. Gampang, kan?" ucapnya sambil nyeruput kopi nya.
"Boleh aku bagikan?" tanya Laras menatap sang suami.
"Boleh sayang," Ibra berdiri dan mengambil pakaiannya.
"Kalau gitu, nanti aku bereskan. aku keluarkan dari lemari." Laras menghampiri membantu sang suami mengenakan pakaiannya.
Dengan terampil tangan Laras memasang dasi di leher Ibra. Memakaikan jas. Sepatu, menyisir rambut, menyemprotkan minyak wangi. "Hem ... baunya wangi." Memejamkan mata sambil mendengus.
"Makasih, sayang!" lagi-lagi mendaratkan kecupan lembut di kening Laras yang memejamkan matanya. Merasakan hangatnya.
"Makasih buat apa?" netra mata Laras menatap lekat.
"Em ... untuk semua yang sudah kamu berikan dan sayang lakukan buat aku dengan tulus. I love you?"
Bibir Laras mengulas senyuman. "I love you too!" keduanya saling berpelukan erat sampai akhirnya terganggu dengan suara baby boy.
"E ... oak ..." suara baby boy memberi kode kalau dirinya sudah bangun.
"I-iya sayang, Mammy datang. Uh ... sudah bangun baby boy Mammy."
"Ups, Papi gak mau dekat-dekat sama baby boy dulu, takut pipis lagi seperti kemarin. Nanti aja kalau sudah ganti popoknya." Ibra berdiri agak jauh ketika baby boy diganti popoknya.
Anak itu matanya terus mengarah pada sang ayah. Kaki dan tangannya terus bergerak seolah memberi tanda kalau dia ingin di gendong sang ayah.
"E ... oak ...."
Terus saja tangan dan kakinya aktif. Terutama matanya terus melihat ke arah Ibra yang berdiri agak jauh ....
__ADS_1
****
Hai-hai ... SKM up lagi nih. Makasih ya masih setian menunggu. Jangan lupa fav juga BSH ya? Bukan Suami Harapan.