Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kumpulkan bukti


__ADS_3

Ibra langsung menarik tangan Yulia dan berjalan dengan cepat meninggalkan kamar Laras. Di dalam! entah kenapa Laras hatinya sedikit sakit, kecewa yang tidak dimengerti olehnya kenapa.


Setelah berada di kamar Yulia. Ibra melepaskan tangan Yulia. "Ada apa?" menatap tajam.


Yulia bergelayut mesra di tangan Ibra. "Sayang! kepala aku pusing dari semalam, mungkin gara-gara kamu menolak ku," dengan nada sangat manja.


Ibra menempelkan punggung tangannya di pelipis Yulia. "Biar aku telepon dokter, sekarang." Ibra mendekati telepon dengan niat menelpon dokter.


Yulia mendekat meraih kedua tangan Ibra, berdiri depan Ibra. "Sayang! jangan dulu panggil dokter hem! siapa tahu sebentar kalau kita sudah melakukannya. Aku akan baikan, mau, kan?" menatap sendu suaminya.


Ibra tidak menjawab, dia menatap lekat kearah Yulia, dia tahu yang dimaksud oleh Yulia. Dia meminta haknya sebagai istri. Yulia melepas tangan Ibra, dia melepas semua yang dia kenakan, menjatuhkannya ke lantai.


Ibra terus menatap tanpa berkedip, istri yang satu ini benar-benar berani di hadapannya. Wanita yang agresif.


Setelah tinggal isinya yang molek tanpa sedikitpun penghalang, kembali meraih tangan Ibra di tuntun nya ke tempat tidur. Di dorongnya hingga Ibra duduk.


Membukakan kancing baju Ibra sampai terlepas semua. Dengan liarnya tangan Yulia menggerayangi tubuh Ibra. Meski ada kecurigaan kalau Yulia ada main dibelakang! Ibra gak bisa berkutik kalau sudah di suguhi macam ini. Ikan yang benar-benar siap santap, apalagi diperlakukan seagresif ini. Siapapun gak akan ada yang mampu menolak.


Sorot mata Yulia yang berkabut birahi tertuju pada sesuatu milik Ibra yang sebentar lagi menyeruak. Yang memang sedari tadi sudah tegang. Minta diperhatikan lebih.


Kini yang berperan penting adalah Yulia bukan Ibra, Setelah keduanya siap bergelut, memacu adrenalin di atas tempat tidur. Akhirnya mereka bergulat di dalam selimut.


Meskipun Ibra memuaskan hasratnya dengan Yulia! namun dia ingat kalau mulai sekarang dia harus menanam benih di satu rahim saja, makanya dia tidak berani menumpahkan nya di dalam melainkan di luar. Agar tidak masuk ke dalam rahim Yulia.


Buru-buru Ibra ke kamar mandi, ingin menumpahkannya di sana. Yulia menggigit bibir bawahnya melihat tubuh Ibra yang polos berlari ke kamar mandi.


****


Hari Libur Ibra manfaatkan di rumah saja. berkumpul bersama keluarga, Mery yang sudah pamit! pergi dengan alasan ada pemotretan. Yulia masih berada di kamarnya.


"Gimana Yulia! Sudah berobatnya? tadi katanya pusing-pusing. Kurang enak badan," tanya bu Rahma pada Ibra yang sedang duduk memangku laptopnya.


"A ... Yulia? sudah sembuh kok! dia baik-baik saja jadi gak perlu mengundang dokter," sahut Ibra.


"Mungkin pusing nya Yulia karena kurang belaian dari putra kita Mah," timpal Marwan sambil mesem.


Ibra menoleh ayahnya, dengan menatap datar. "Mungkin."


Laras menatap Ibra yang kebetulan menoleh kearahnya. pandangan mereka bertemu sebentar lalu detik kemudian Laras menunduk.


"Em ... aku mau ke dapur, apa ada yang ingin aku ambilkan?" tanya Laras menatap semuanya.


"Tidak." Ibra menggeleng.


"Tolong Mama! ingin dibuatkan teh dingin seperti kemarin 2 ya? Ayah juga mau, kan?" menoleh suaminya, Marwan.


"Iya Boleh." Marwan mengangguk.


"Baiklah, akan aku buatkan." Laras berlalu.

__ADS_1


Laras bergumam sendiri. "Kenapa sih hati aku kesal bila--"


"Nyonya ada yang harus aku bantu?" tanya Susi setelah melihat Laras mendekati dapur.


Oh, tidak Sus. Aku cuman mau ngambil minum saja, haus," sahut Laras sambil tersenyum.


"Ooh ... ambil minum!" Susi melanjutkan tugasnya bersama asisten lainnya.


Setelah jadi, minumannya Laras bawa ke ruang keluarga dan menyuguhkan di atas meja.


"Terima kasih sayang?" bu Rahma tersenyum.


"Iya. Mah." Laras duduk dan meneguk minuman dinginnya, kembali menonton acara yang tadi dia tinggalkan.


"Minuman ku mana?" ucap Ibra melirik Laras.


Laras menoleh terkesiap. "Loh ... tadi katanya gak mau?"


"Ya ... walau saya bilang gak mau! apa salahnya dibawakan juga," ujar Ibra sambil meraih gelas Laras lantas meminumnya.


"Tadi, gak mau!" gumam Laras sambil berdiri hendak kembali ke dapur ngambil minum.


"Gak usah! suruh asisten saja." Ibra meminta minuman lewat telepon ke asistennya.


Laras duduk kembali dengan melipat kakinya di sofa. Netra mata Laras tertuju ke layar televisi yang besar itu.


Laras terkejut! menoleh ke orang tua Ibra yang tersenyum melihatnya. Dia menjadi malu, tapi gak berani menghindar.


"Pijit dong kepalaku, pusing nih," pinta Ibra sembari memejamkan mata.


Dengan ragu Laras memegang kening Ibra lantas memijatnya perlahan.


"Kemarin Mama di pijit Laras! enak loh," ujar bu Rahma.


"Hem ...iya kah?" gumam Ibra sambil merem merasakan nikmatnya pijatan Laras.


"Bener sayang! oya hari ini kamu ada acara gak?" tanya sang bunda.


"Nggak kayanya," lirih Ibra.


"Gimana kalau kita jalan ke pantai ancol? biar otak agak fresh gitu, suntuk di rumah terus," bu Rahma kembali.


"Malas ah Mah," Ibra menggeleng.


"Mah! bukannya kita mau ke Depok sore ini?" pak Marwan melirik istrinya.


"Oh, iya. Lupa!" bu Rahma mesem-mesem.


Kemudian bu Rahma dan suami entah kemana, tinggal ibra dan Laras di tempat tersebut.

__ADS_1


Ibra membuka mata, orang tuanya sudah tidak berada di situ. Menatap Laras yang masih memijat kepalanya. "Kapan kau akan menyerahkan padaku lagi?"


Laras diam sebentar mencerna maksud Ibra. "Apanya?" pura-pura gak mengerti.


"Jujur aku sangat penasaran padamu. Kapan aku akan menanam benihku? kalau kamu gak mau melayani saya! apa saya harus paksa kamu dulu seperti itu. Baru kamu mau," ujar Ibra.


"Sudah sebulan, belum juga ada tanda-tanda kamu hamil," ungkap Ibra lagi.


Laras hanya mendengarkan saja. Sambil memainkan kukunya.


Ibra membuka mata dan duduk karena Laras tidak menjawab sedikitpun. "Kamu mendengar gak sih? omongan aku!" menatap tajam.


"Dengar Tuan. Aku gak tau harus jawab apa!" dengan muka polosnya.


Ck ck ck Ibra berdecak kesal. Tiba-tiba ponsel Ibra berdering. "Zayn," gumam Ibra.


"Ya. Ada apa?" Ibra menjawab teleponnya.


"Dia! ada di kamar kok, tidak ke mana-mana." Ibra langsung berdiri dan setengah berlari menuju kamar Yulia.


Laras heran siapa yang bicara dengan Ibra, pasti bukan Dian! sebab nada bicara pun lain. dai memandangi punggung Ibra yang lebar dan langkah yang cepat.


"Kamu yakin kalau itu dia? karena sekitar satu atau dua jam yang lalu! dia bersama ku," langkah Ibra kian cepat, menuruni anak tangga pun sungguh dengan langkah lebar.


"Dia gak ada pamit, gak bilang kalau dia mau pergi," sambung Ibra.


Kini Ibra sudah berdiri depan pintu kamar Yulia. Dengan cepat Ibra membuka dan mendorong pintu itu, namun dia mendapati kamar yang kosong. Ibra masuk mencari keberadaan Yulia. Kamar mandi kosong, di balkon tidak ada juga.


Ibra kembali ke dalam kamar! ngecek tas yang sering dia pake ke luar, tidak ada.


"Benar! dia tidak ada di kamar." Ibra menggeleng dan mematikan ponselnya.


Ting...


Ting...


Ting...


Kiriman gambar lewat WhatsApp masuk. Beberapa gambar Yulia sedang berdua dengan seorang pria. Bahkan bukan cuma berdua saja, namun ada adegan pelukan dan ah layaknya pasangan yang sedang pacaran.


Ibra tertegun melihatnya, menggeleng kepala tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Sial, rupanya dia ada main di belakang ku, oke permainan akan dimulai" gumam Ibra.


"Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Terus ikuti dia," perintah Ibra pada Zayn.


Ibra meninggalkan kamar Yulia tergesa-gesa, mau menemui seseorang. Hatinya sudah mulai yakin bahwa istri keduanya selingkuh darinya ....


,,,,


Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.

__ADS_1


__ADS_2