
Ibra melihat siapa yang nelpon. "Halo, ada apa?"
"Garang nye ... si bos ini?" suara dari sebrang.
"Ada apa? bisanya ganggu saja?"
"Emang lagi apa sih? apa sedang main gulat kah?" Zayn malah balik nanya.
"Ck, buang waktu saja. Sudah, datang saja lah, lagian banyak yang harus kita bicarakan." Tegas Ibra.
"Baiklah ... tapi ganggu gak nanti ... jangan-jangan ganggu lagi?" goda Zayn.
"Datang saja, banyak omong kau ini." Ketus Ibra sambil langsung mematikan teleponnya.
Ibra berdiri setelah meneguk kopinya sedikit. Kemudian menarik tangan Laras. "Ikut aku?"
Laras terkesiap. "Kemana?" sambil mengikuti langkah Ibra.
"Ikut saja, temani aku! oya. Kalau nanti bu Rika datang, bilang saja tolong urus Mery, kali saja butuh sesuatu." Ibra menoleh Susi.
"Baik Tuan." Jawab Susi.
Laras terus mengikuti langkah Ibra yang lebar, dan ternyata Laras di ajak ke kamar pribadinya. Ibra mengajak Laras duduk di sofa yang cukup untuk berdua. "Tunggu." Pinta Ibra.
Laras melihat Ibra yang melangkah, mendekati laci dan mengambil sesuatu dari sana. sebuah kotak kecil, kemudian dia bawa ke hadapannya.
"Aku, sengaja membeli sesuatu untuk mu." Ibra duduk di samping Laras.
"Apa itu?" tanya Laras menatap kotak tersebut.
Ibra membukanya dan terlihat isinya, sebuah cincin berlian yang ia beli dari luar Negeri. Laras sangat terkejut melihatnya, cincin yang indah. Mulut Laras menganga, netra matanya bergerak melihat Ibra dan cincin itu bergantian.
Ibra mengambil cincin berlian itu dan menarik tangan Laras, ia memasukan cincin itu ke jari manis Laras.
Bola mata Laras terus menatap cincin yang kini melingkar di jari manisnya. "Beneran buat aku?" menatap ke arah Ibra.
"Benar lah, ngapain aku berikan sama kamu, kalau untuk orang lain? aneh." Ketus Ibra.
Wajah Laras sumringah sangat bahagia. "Makasih ya?" tanpa sadar Laras mencium pipi Ibra.
Ibra terkejut, tidak menyangka akan menerima ciuman dari Laras. Untuk yang pertama kalinya, Ibra menyentuh pipinya yang bekas bibir Laras. Dan diam-diam Ibra tersenyum.
Namun seketika, wajah Laras yang mulanya sumringah, kini berubah. Jadi murung, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Kenapa? apa kamu tidak bahagia dengan ini," tanya Ibra menatap lekat.
"Bu-bukan, apa cuma aku yang di belikan? sementara yang lain tidak?" lirih Laras.
"Sayang, iya. Aku cuma membelikan mu, Karena Dian. Sudah punya, Mery juga pernah aku belikan, jadi sama saja." Akunya Ibra. Menaikan dagu Laras dan menatap wajahnya sangat lekat.
Ibra, mendekatkan wajahnya ke wajah Laras. Menjadikan Laras mundur namun mentok di bahu sofa dan tidak bisa bergeser sama sekali, Tapi bagi Ibra keadaan itu sangat menguntungkan. Sehingga dengan leluasa menjalankan keinginannya.
Ibra menyatukan bibirnya dengan bibir Laras, yang sedikit memberi penolakan. Namun dengan cepat bisa diatasi oleh Ibra. Bahkan tangan Ibra dengan leluasa pula menjamah apa yang dia suka.
__ADS_1
Karena merasa pengap dan kehabisan napas, tangan Laras memukul dada Ibra. Kemudian Ibra melepaskan untuk memberi jeda dan oksigen pada Laras.
Setelah memberi jeda beberapa saat. Ibra meneruskan lagi aktifitasnya. Kembali ******* dan ******* buah mangga yang tersedia di sana.
Laras hanya diam dan juga sangat menikmati setiap sentuhan dari Ibra. Membuat beberapa kali lolos suara aneh yang menjadikan bulu kuduk meremang.
Tangan Laras kembali mendorong dada Ibra. Dan Ibra menjauh dari wajah Laras. "Maafkan aku A-abang. Sudah siang, aku belum--"
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Lagi-lagi ada yang mengetuk pintu. Laras menggelinjang dan merasa ada jalan untuk terlepas dari kungkungan Ibra.
Rasa kecewa kini menghinggapi perasaan Ibra. Dengan tatapan Sendu Ibra membantu apa yang harus ia rapikan di diri Laras, seperti kancing yang terbuka lebar, sehingga apa yang ada di dalamnya terekspos dengan jelas. Seakan tidak ingin di lihat siapa pun selain dirinya. Ibra terus merapikannya.
Mata Laras bergerak memandangi tangan Ibra yang kesannya ingin melindungi. Menjadikan bibir Laras melukiskan senyuman bahagia.
Setelah Laras sudah rapi, rambut pun juga rapi. Ibra berusaha mengontrol napasnya yang masih memburu, dengan cara menghela napas dalam-dalam. Usai itu ... barulah membuka pintu, nampak Zayn berdiri dan menyeringai. Matanya celingukan ke dalam.
"Kita bicaranya di ruang kerja ku saja," ucap Ibra sambil memutar badan, menghampiri Laras.
Saat ini Ibra berdiri sangat dekat dengan Laras. "Aku ... akan berbicara dengan Zayn. Di ruang kerja, dan kamu di sini aja dulu, dari pada ke kamar mu nanti capek. Kalau mau salat, sudah aku siapkan di lemari." ujar Ibra. di balas dengan anggukan dari Laras. Tangan Ibra membelai pucuk kepala Laras, kemudian memutar badan, langkahnya meninggalkan kamar tersebut.
Laras memandangi punggung sang suami yang berlalu bersama asisten pribadinya. Laras bangkit mendekati pintu lalu menutupnya.
Langkahnya ia ayunkan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selepas salat, Laras memilih jalan ke balkon. Melihat pemandangan dari sana. Cuaca begitu cerah, langit putih ke biru-biruan. Laras menghela napas panjang ... kepala mendongak ke langit. Dengan tangan di rentangkan.
Zayn memberikan sejumlah berkas dari yang ia bawa di punggungnya. Sementara Ibra bersiap untuk menyalakan cctv, merekap semua yang sudah terpantau dengan alat itu.
"Ini berkas yang sudah aku siapkan, dan semoga ini lengkap selengkap-lengkapnya." Zayn memberikan semuanya pada Ibra.
Mata Ibra bergerak melihat berkas itu dan perlahan membukanya. Foto-foto Mery bersama laki-laki lain termasuk sedang liburan di Bali. Semua gambar yang benar-benar tanpa sensor juga ada.
"Yang ini di mana?" tanya Ibra menunjuk sebuah foto di kamar hotel.
"Itu, yang paling terbaru bos, di salah satu hotel di Jakarta. Malam kemarin, itu ada tanggalnya." Jelas Zayn.
Ibra, mengepalkan tangan dan giginya mengerat kuat membuat rahangnya mengeras. sungguh kecewa dengan dua istrinya, Yulia yang sudah ia talak dan sekarang ini Mery. "Apa sih yang mereka cari, harta, materi? tercukupi. Perhatian juga sebelumnya terpenuhi. Aku berusaha adil sebelumnya."
"Mana ku tahu," ucap Zayn sambil menggoyangkan bahunya. "Mungkin ... mereka cari yang lebih panjang dan besar, mungkin?" sambil menyeringai.
Ibra melotot ke arah Zayn sambil menatap sangat tajam.
"Ngomong-ngomong yang kau punya besar dan panjang gak?" seakan berbisik.
"Apa maksud mu? apa harus aku perlihatkan sama kamu! boleh." Ibra membuka sabuknya.
Zayn mundur beberapa langkah. "Tidak, najis aku, lihat pedang mu itu. Aku juga punya, gak usah."
__ADS_1
"Tapi ... yang kau punya pasti karatan, sebab gak pernah di pake." Sambung Ibra sambil tertawa.
"Enak saja, kau bilang karatan? gini-gini aku urus juga, sembarangan saja kau ngomong." Ketus Zayn.
"Ha ha ha ... makanya jangan meragukan milik ku!" lanjut Ibra lagi.
Hening!
Berkali-kali Ibra menghela napas dalam-dalam. "Berkas ini serahkan ke pengacara kita, biar dia yang urus. Aku malas turun tangan sendiri."
"Oke," sahut Zayn membereskan isi map itu.
Tangan Ibra kali ini bergerak mengambil remot kontrol cctv. Lagi-lagi ia menghela napas bersiap dengan apa yang akan dia lihat.
Ibra dan Zayn begitu serius mengamati rekaman cctv tersebut, semua yang terjadi di mension itu tergambar jelas di sana. Termasuk apa aja yang Mery lakukan. Terhadap Laras di kolam renang itu, bahkan setiap percakapan Dian dengan Laras. Semua ada, kecuali tempat tidur yang tidak terekspos. Sebab itu benar-benar prifasi. Namun apa yang dilakukan di sofa terpampang jelas, termasuk apa yang tadi ia lakukan dengan Laras. Buru-buru Ibra dilet dan melihat ke arah Zayn yang begitu serius melihatnya.
"Sudah ku lihat walau sedetik," ucap Zayn menyeringai.
"Bodo, yang penting tidak bermenit-menit, tidak seluruhnya kau lihat. Bahaya, Warning! anak kecil dilarang lihat atau menonton." Ibra tertawa.
"Dasar ..." bibir Zayn mencibir.
Ibra mengusap wajahnya berkali-kali. "Ini ... hari terakhir untuk mu di mension ini." Gumam Ibra.
"Kau akan menceraikan dia?" Zayn menatap penasaran.
"Tidak, aku akan menerbangkan nya ke kayangan. Aku jijik melihatnya, apalagi sampai menyentuh lagi. Aset yang sudah atas nama dia, cabut. Misalnya mobil. Alih nama jadi nama mu."
"Apa? alih nama jadi nama ku, aku tidak salah dengar?" Zayn memasang telinga tajam-tajam. Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Ibra menoleh. "Zayn Mahabrata, aku hibahkan mobil yang sekarang atas nama Mery dan akan menjadi milik mu. Setelah ini mau kamu jual atau mau kamu buang, terserah."
"Ya, Tuhan ... mimpi apa ... aku semalam ya? dan apa yang sudah merasuki bos ku ini, sehingga dia menghibahkan sebuah mobil pada ku, Tuhan ..." kepala Zayn mendongak.
Ibra memukul kepala Zayn dengan ujung map. "Jangan lebai, sejak kapan kamu ingat tuhan?"
"Aku, setiap waktu juga ingat." Jawab Zayn sambil mengusap wajahnya.
Ibra kembali terdiam. "Pantas saja, Laras ingin pindah dari rumah ini? mungkin dia tidak nyaman di sini. Kalau harus satu atap sama madunya, biarpun berjauhan tetap saja bertemu juga kali. Kalau masih tinggal di sini." Batin Ibra sambil menyandarkan bahunya ke belang.
"Aku akan berusaha membuat bahagia keduanya. Tapi bukan berarti memisahkan anak dan ibunya, terkecuali!" Ibra mengangguk-anggukan kepalanya. "Malam ini juga aku harus selesaikan masalah ku dengan Mery."
Zayn menatap ke arah Ibra yang anteng melamun. "Terus gimana?"
Manik mata Ibra bergerak melihat Zayn. "Kerjakan saja tugas mu, aku akan urus masalah di rumah ini. Oya, carikan sebuah rumah yang sederhana, nyaman dan cukuplah untuk di huni orang bertiga, kalau bisa letaknya ... seperti ... di pinggir kota. Biar tidak terlalu gersang udaranya, namun tetap strategis lah."
"Rumah, buat siapa lagi? mension luas. Bisa menampung ratusan orang pula, kini mau di carikan rumah yang sangat sederhana." Zayn menggelengkan kepalanya.
"Jangan banyak bicara, kerjakan saja," ucap Ibra sambil mengerakkan kursi yang sedang ia duduki.
Terdengar derap langkah kaki seseorang mendekati ruang kerja Ibra ....
****
__ADS_1
Terima kasih reader ku, yang masih setia menunggu up nya novel ini 🙏 dan terus dukung aku ya?