
Sikap Ibra, memang selalu manis terhadap istrinya. Jadi gak heran Tidak perduli di hadapan siapapun selalu begitu manis dan romantis.
"Oya, Nak Jodi. Gimana kalau di rumah lanjut ngobrolnya, anak-anak pasti menunggu Ibu." Bu panti menoleh pada Jodi.
Jodi pun mengangguk, tanda setuju dengan omongan bu panti barusan.
Susi membuka pintu. Dan membawa pesanan Ibra buat makan siang. Kemudian mereka langsung menyantap makan siang dengan lahap, kecuali Laras. Ia belum ingin makan dengan alasan masih kenyang.
Selesai makan bu panti, melirik ke arah Ibra. ''Nak Ibra makasih ya atas jamuan makannya?'' ucap bu panti dengan senyuman ramahnya.
''Sama-sama, Bu.'' Balas Ibra di sela makannya. Kemudian meneguk sisa minumnya.
Bu panti menoleh pada Jodi yang menunduk, membereskan bekas makan di meja. Membantu Susi, kemudian mengajak Jodi untuk pulang. Dan di balas dengan anggukkan, lalu beranjak dari sofa tempatnya duduknya menghampiri Laras.
"Nak, Ibu mau pulang dulu sudah siang nih," bu panti memeluk tubuh Laras sangat erat.
"Kenapa buru-buru Bu, nanti saja," gumam Laras sambil membalas pelukan bu panti.
Tangan bu panti mengusap punggung Laras. "Cepat sembuh ya? biar cepat pulang."
"Iya, Bu. Makasih sudah datang, Bu?" balas Laras, mengukir senyuman manisnya.
"Sama-sama." Bu panti juga berpamitan pada Ibra.
"Nak Ibra, titip Laras ya. Jaga baik-baik jangan sampai kejadian yang sudah terulang lagi," ucap bu panti penuh harap.
"Jangan khawatir Bu, saya akan menjaga Laras sebaik-baiknya." Ibra mengangguk, meyakinkan.
Jodi mendekat pada Laras. "Semoga cepat sehat ya?" menatap Laras sangat lekat.
"Aamiin ya Allah ... makasih ya?" ucap Laras dengan sangat lirih.
Kemudian pandangan Jodi beralih pada Ibra. Dan menghampirinya. "Jaga istrinya baik-baik, kalau tidak. Biar saya yang jaga dia!" ungkap Jodi sambil menyeringai.
Ibra terdiam, mematung tak menyangka kalau Jodi akan bicara seperti itu. Keduanya saling tatap dengan tatapan tajam. "Apa kau ingin mendirikan bendera perang dingin?"
"Hem, bukan begitu maksud saya. Saya hanya mengingatkan saja, kalau nyawa istri mu mungkin dalam bahaya. Walaupun secara tidak langsung." Sinis Jodi. Kemudian ia berlalu dari tempat tersebut.
Ibra menatap kepergian Jodi dengan hati yang bergemuruh. Lalu pandangannya mengedar ke arah Laras yang menatap pada dirinya.
Setelah berjabat tangan. Bu panti pun pergi. ''Assalamu'alaikum ...'' ucap bu panti.
"Wa'alaikumus salam.'' Jawab Laras dan Ibra berbarengan.
Susi mengikuti langkah bu panti. Dan mengantarnya sampai depan kamar inap Laras.
__ADS_1
Sementara Ibra mendekati Laras. ''Sayang, makan dulu ya?'' duduk di depan Laras yang dudu bersandar.
''Nanti ajalah. Mau istirahat dulu," sahut Laras ingin memejamkan matanya yang terasa perih.
"Nyonya, Tuan?" panggil Susi menghampiri majikannya.
"Ada apa?" tanya Ibra heran melihat Susi yang berjalan tergesa-gesa.
"Itu, di luar ada tamu dari kantor. Katanya rekan-rekan kerja, Tuan," sahut Susi menunjuk ke arah luar kamar.
"Oh, suruh masuk aja." titah Ibra pada Susi.
"Baik, Tuan." Susi kembali mengayunkan langkahnya keluar kamar, hendak menjemput tamu yang mau menjenguk Laras.
Tidak lama, Susi kembali bersama rombongan tamu Ibra. Langsung Ibra sambut dengan ramah, ada yang bawa bunga. Ada yang bawa buah buahan.
Laras yang tadinya mau tidur ia urungkan niatnya itu. Dengan kedatangan tamu penting suaminya yang sengaja meluangkan waktu untuk menjenguk sang istri CEO itu.
Semua menghampiri dan menanyakan kabar Laras bergantian. Tamu yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu begitu ramah, tutur sapa yang halus juga. Terasa nyaman di dengar di telinga.
Hingga beberapa waktu mereka berada di ruangan Laras berbincang tentang kejadian yang menimpa Laras. Ada satu orang yang sikapnya agak lain dan nyeletuk tiba-tiba.
"Makanya, istrinya di jaga, bodyguard banyak tinggal nyuruh saja. Apa susahnya?" seakan menyudutkan Ibra
Sebagai istri Laras berusaha membela sang suami. "Saya yang menolak itu, sebab saya tak ingin di istimewa kan. Saya hanya ingin hidup tenang seperti orang biasa aja," suara Laras begitu Lirih dan melirik ke arah sang suami.
Setelah beberapa waktu berkumpul akhirnya para tamu pun pulang. Laras merasa lega akhirnya bisa istirahat juga. matanya kian perih ngantuk dan berair, ia berusaha menahan rasa ingin menguap.
"Bobo lah sayang, semua tamu sudah pulang." Ibra membantu Laras berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Setelah Susi dan para tamu pulang.
"Aku ngantuk banget nih, mata ku dah lelah. Perih juga," ungkap Laras sambil mulai memejamkan mata.
"Iya dayang, istirahatlah." Mengusap pucuk kepala Laras sangat lembut.
Tidak butuh lama, Laras pun terlelap. Dalam belaian jari sang suami, Ibra pandangi wajah cantik itu. Lalu tangan Ibra turun ke perut dan mengusapnya lembut. "Sayang, jaga mommy nya ya. Jangan biarkan ada yang menyakitinya lagi.
****
Setelah dua hari di rawat. Di hari ke tiganya Laras. Ibra bawa pulang ke rumah, pertama agak mendingan dan kedua Laras pun ngebet minta pulang. Dengan alasan tidak nyaman, bau obat lah. Pokoknya minta pulang.
Kini Laras dan Ibra sudah berada dalam sebuah mobil mewah milik Ibra, yang di kemudikan oleh pak Barko. pandangan Laras jauh ke depan, tatapannya pun kosong. pikirannya melayang, hatinya yang di hinggapi rasa was was dan takut. Cemas, khawatir serta rasanya gak berani lagi kalau keluar sendiri, rasa gusar dan gelisah menyelimuti.
Ibra menoleh ke arah sang istri yang melamun, tangan Ibra meraih jemarinya Laras. Di remasnya lembut, namun Laras tak menanggapinya sama sekali.
"Sayang, mikirin apa sih hem?" selidik Ibra pada sang istri yang kali ini langsung merespon.
__ADS_1
Laras menoleh sang suami yang sedang memangku laptop. Netra nya bergerak melihat tangan Ibra yang menggenggam tangannya itu dengan erat, kemudian Laras kembali mengedarkan pandangan yang tembus ke jendela dengan helaan napas yang panjang. Lalu ia hembuskan perlahan-lahan.
"Apa mau membeli sesuatu?" tanya Ibra. Menawari sang istri kali aja mau membeli sesuatu.
Laras menggeleng. Seraya bergumam. "Tidak, tidak mau apa-apa."
Mobil warna biru dongker itu memasuki halaman rumah Laras, segera memarkirkan di samping BMW merah milik Laras. Disambut oleh Bu Rika dan Susi, dengan wajah yang sumringah. Bahagia melihat majikannya pulang juga.
"Sore, Nyonya muda. selamat datang lagi di rumah? semoga sehat selalu dan di lindungi oleh yang maha kuasa." Kedua asisten itu mengangguk hormat. Pada Ibra dan terutama pada Laras yang baru terkena musibah.
Bibir Laras mengembangkan senyumnya, dia bahagia akhirnya bisa pulang juga. "Aamiin ya Allah," gumam Laras.
Ibra dan Laras berjalan bergandengan tangan sangat mesra. "Mau duduk dulu di sini? atau langsung ke kamar?" tanya Ibra sambil menunjuk ke arah sofa di ruang tengah.
"Langsung ke kamar aja," balas Laras yang langsung di pangku oleh sang suami.
Membuat Laras terkesiap. Dengan refleks memeluk leher yang Ibra sangat kuat. Netra nya menatap wajah sang suami yang fokus dengan langkahnya.
"Aku bisa jalan sendiri," suara Laras sambil menatap lekat wajah sang suami.
Namun Ibra tak menanggapi ucapan dari sang istri. Menuju tempat peraduannya ya itu kamar.
Pak Barko mengeluarkan semua barang milik Ibra dan Laras termasuk buketan bunga dari dalam bagasi dan dari dalam. Bu Rika dan Susi membawanya ke dalam rumah. Satu/satu.
Termasuk koper pakaian, mereka antar ke kamar Laras. Dan Susi selonong boys masuk. "Permisi Nyonya, ini koper kalian."
Sementara Laras duduk dengan tegak di atas tempat tidur yang ukuran king size itu. Beralaskan seprai motif bunga-bunga roos merah, Laras membalas dengan anggukkan.
Lantas Ibra menutup pintu itu rapat-rapat. Membuka beberapa kancing di bagian dadanya.
Manik mata Laras bergerak melihat Ibra yang tengah bertelanjang dada, dengan cara membuka beberapa kancing kemejanya itu. Mengekspos dadanya yang sedikit berbulu halus.
"Kenap sayang?" selidik Ibra ketika melihat Laras bengong ke arahnya.
"Ah, n-nggak. gak pa-pa!" ucap Laras setengah gugup. Kemudian Laras menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ibra menyeringai, ia langsung membuka laptop dan mengerjakan tugasnya. Di meja tersebut, yang ada di kamar Laras itu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu begitu jelas dari luar, Laras dan Ibra saling pandang. Seakan bertanya kira-kira siapa yang batang ini ....
__ADS_1
****
Reader semua, mohon doanya untuk ibu ku. Yang kini sedang mengalami sakit pertigo dan lambung.