
"Siapa sayang?" tanya Ibra setelah keluar dari kamar mandi.
"Nggak tahu, kata Irfan ada tamu. Aku lagi nanggung nih, memberi asi baby boy," sahut Laras yang sedang memangku si kecil.
Ibra yang sedang menggosok rambutnya. Menoleh ke arah pakaian yang sudah di siapkan oleh sang Istri. Netra matanya bergerak melihat sang istri yang sibuk mengurus baby. "Lapar nih sayang."
Laras mengerutkan keningnya. "Lapar, lapar apa? mau makan!" goda Laras sambil mesem.
"Hem, emang kalau lapar yang itu mau ngasih apa?" tangan Ibra sambil mengenakan kaos nya.
"Mau, mau ngasih--"
"Beneran mau ngasih?" manik mata Ibra berbinar memandang ke arah sang istri sejenak menghentikan geraknya.
"Beneran, tapi Nanti setelah 3 bulan ya? atau 1 tahun mungkin. Ya bisa, kan?" balas Laras sembari menaik turunkan alisnya.
Deg!
"Sayang ... tega amat kaya gitu?" menatap datar pada sang istri.
"Bukan tega, Abang sayang ... tapi kalau masih shock gimana coba? hem ..." hoda lagi Laras serta memainkan matanya.
"Nggak-gak, gak ada. Gak ada tiga bulan apa lagi setahun, mana tahan sayang ... aku mohon sayang, jangan siksa suami mu ini selama itu. Bisa mati berdiri dong." Ibra berdiri di belakang sofa yang di duduki Laras. Ia mencondongkan tubuhnya, memegangi wajah Laras dari belakang. Cuph! kecupan hangat mendarat di kening sang bidadari hatinya.
Laras memejamkan matanya ketika bibir Ibra mendarat di keningnya lama. "Gimana lagi kalau gitu adanya!"
"Pokoknya nggak, awas kalau gitu. Aku paksa nanti. Tak segan-segan aku nyuri--"
"Nyuri dari mana?" tanya Laras heran. Langsung menyela perkataan sang suami.
"Dari kamu lah, masa dari orang lain. Istri aku siapa? kalau bukan dirimu," ucap Ibra dengan masih posisi yang sama.
"Ya ampun lupa, ada tamu sayang, kok bisa lupa sih?" Laras mengingatkan suaminya. Bisa-bisanya lupa.
"Aku senang banget sayang! aku senang mendengar panggilan sayang darimu. Lagi-lagi mendaratkan kecupan di kening dan pipi, sehingga wajah Laras mendongak ke belakang.
"Iih ... sana temui dulu itu siapa? nanti aku nyusul." Laras berdiri mau menidurkan baby boy.
"Iya-iya. Sayang," sahut Ibra sambil berjalan ke depan cermin.
Laras menidurkan si kecil. Menutup kelambunya, kali aja ada nyamuk. Ia berbalik untuk keluar, namun kecupan dari Ibra membuatnya terkesiap.
Hening!
Netra mata Laras menatap punggung Ibra yang melintasi pintu. "Oya. Abang kan belum salat." Laras menepuk jidatnya. "Lupa mulu ah."
Laras mengikuti Ibra, keluar dari kamar. Di rumah sepi, mama mertua dan Susi sedang keluar. Sementara di rumah cuma ada ia dan suami juga Irfan. Langkah Laras langsung ke dapur untuk mengecek buat makan malam.
"Mana sayur buat ku makan?" gumam Laras ketika melihat di meja gak ada sayur untuknya. Membuka lemari pendingin, netra matanya melihat isinya dalam lemari tersebut. Sorot matanya tertuju pada sayuran bayam.
Kemudian ia membuat sayur bening dari bayam. Buatnya makan malam, setelah matang. Laras menuntun langkahnya ke ruang tamu, hatinya penasaran tamu siapa sih?
Terdengar suara sang suami sedang mengobrol dengan tamunya yang entah siapa? sesampainya di ruang tamu. Tampak Ibra dengan tamunya yang Laras tidak kenal sedang berbincang.
Mata Ibra mendapati sang istri yang baru muncul di tempat itu. "Sayang, sini?" melambaikan tangan pada sang istri. Laras pun menghampiri dengan senyuman ramahnya.
"Kenalkan, dia kolega ku namanya tuan Ruswan. Dan ini istri saya, Laras Ibrahim." Ibra memperkenalkan tamunya pada sang istri.
"Ruswan. Senang berkenalan dengan mu." Ruswa mengulurkan tangannya.
Laras hanya menyatukan tangan di depan dagu. "Laras. Kok baru lihat ya? aku sering ikut pertemuan ataupun rapat. Tidak pernah melihat anda sebelumnya."
"Dia taman lama, kolega baru sayang." Ibra menjelaskan.
"Iya, Ibra benar." Pria yang mungkin seusia dengan Ibra mengangguk membenarkan ucapan Ibra. "Kalian baru dikaruniai baby ya, selamat?"
"Oh ... pantas baru lihat sekarang!" tutur Laras. "Iya, kebetulan sedang bobo." Dengan senyuman manisnya.
"Ibra. Boleh dong aku tengok baby boy?" tanya Ruswan pada Ibra.
"Oh, tentu. Sayang bawa sebentar si kecil ke sini?" pinta Ibra melirik sang istri. Rasanya gak enak menyuruh pria masuk ke kamarnya, sekalipun hanya untuk menengok beby boy kecuali ramai atau bersama wanita.
"Sebentar ya? aku ambil dulu baby boy nya." Laras ngeloyor ke kamarnya mau bawa baby boy yang tadi ia tinggal.
Langkah Laras sangat teratur, sebenarnya takut mengganggu tidur si kecil. Tapi bagaimanapun ini perintah suami dan ia mengerti gak enak juga memasukan tamu pria ke kamar meskipun alasannya menengok baby. Mana baru ia kenal lagi orang nya.
Sesaat kemudian Laras sudah kembali dengan baby boy di pangkuan. Ia duduk di tempat semula, baby boy cuma bergerak. Sama sekali pergerakan sang bunda tak membuatnya terbangun.
"Wah ... kasep pisan euy ... alias cakep. Ganteng seperti ayah dan bunda nya." Ruswan tersenyum kagum. Mengelus kepala baby Satria.
"Ganteng, kan? siapa dulu dong bapak dan bunda nya." Ibra mengedipkan matanya.
"Bener. Ganteng, Bibirnya mungil seperti bundanya." Mata Ruswan menoleh ke arah Laras.
Laras menunduk malu, kemudian melirik sang suami yang termangu. Entah kenapa bengong, senyum di bibirnya memudar.
"Duh ... pintar bikinnya." Ruswan menggeleng dengan sorot mata ke baby boy. Merasa terpesona dengan kharisma anak itu. "Sayang sekali gak bisa lihat melek nya. Bobo terus nih."
Setelah itu, baby boy Laras bawa kembali ke kamar, biar tidur lagi di tempatnya.
Kemudian Ibra dan Ruswan meneruskan obrolannya. Sebagai pembisnis. Tentunya mereka lebih banyak berbincang tentang bisnis pula. Setelah beberapa saat, Laras kembali dan mengajak suami serta tamunya untuk makan malam bersama.
Lantas mereka beralih tempat ke meja makan. Laras menyiapkan untuk keduanya. Ruswan menatap kagum, akan kecantikan Laras yang tampak natural. Diam-diam bibirnya mengulas senyuman, menunduk sebentar. Terus menatap kembali tanpa sepengetahuan yang lain.
"Terima kasih?" ucap Ruswan ketika Laras menyimpan piring untuknya dengan beberapa menu.
Laras mengangguk dan senyum tipis. Lalu duduk di samping sang suami, memulai makan dengan lahap.
"Ayo makan? jangan sungkan." Ibra melirik ke arah Ruswan.
"Aku mau panggil Mas Irfan dulu. sudah makan belum ya?" Laras beranjak bergegas mencari Irfan.
__ADS_1
Langkah Laras di percepat ke depan. Menarik handle pintu, tampak Irfan tengah asyik bermain game. "Mas, makan dulu. Sudah makan belum?"
Irfan menoleh dengan cepat dan berdiri, mengangguk dengan hormat. "Sudah, saya sudah makan sewaktu masih ada Susi."
"Oh, syukurlah kalau sudah. Mungkin mau makan lagi bareng kami? yu." Laras menunjuk ke dalam.
"Tidak, terima kasih Nona muda. Saya masih kenyang." Irfan duduk kembali di tempat semula.
"Oh, ya udah kalau gitu." Laras memutar badan kembali ke dalam.
"Istrimu cantik sekali. Tapi ... bukan yang dulu ya?" ucap Ruswan setelah Laras keluar.
Ibra menoleh menatap datar. "Bukan. Sudah aku cerai."
"Aku kira, kamu tipe cowok setia. Ternyata bisa juga tergoda dengan yang lain." Ruswan mengangguk dengan bibir sedikit dimajukan ke depan.
"Setia lah. Ini juga karena istri ku yang dulu, yang sekarang sudah jadi mantan. Sudahlah ceritanya gak akan selesai, terlalu panjang." Ibra mengibaskan tangannya.
"Hem ...."
"Oya. Kapan-kapan bawa istri mu ke sini?" saran Ibra. Menatap ke arah Ruswan.
"Lah, istri? gua gak ada istri," sahut Ruswan.
"Ha? waktu itu kau mau menikah. Tapi kok gak undang-undang?" Ibra menatap penuh rasa penasaran.
Ruswan menggeleng. "Nggak jadi."
Ibra terheran-heran. "Nggak jadi, kenapa? Oh. Jadi sampai sekarang kau belum nikah."
Ruswan lagi-lagi menggeleng. Lantas meneguk minumnya.
Derap langkah Laras yang teratur menuju meja makan. Matanya menyapu suami dan tamunya, Duduk kembali dan melanjutkan makan yang terjeda tadi.
"Mana Irfan nya sayang?" tanya Ibra sambil mengelus bahu Laras.
"Em ... sudah makan katanya. Semasih ada Susi." Laras lanjutkan makannya.
"Oh, Abang dah selesai makannya. Abang kembali ke ruang tamu kembali ya." Ibra beranjak.
Ruswan pun berpamitan. "Ya, akau pamit dulu kah. Lain kali bertemu kembali."
"Oh, pulang sekarang?" padahal belum puas berbincang. Tapi baiklah. Sampai jumpa lagi," balas Ibra mengangguk. Dan mengantar Ruswan ke teras, setelah berpamitan pada Laras juga.
Ibra kembali menemui Laras yang kini tengah beberes. Setelah mobil Ruswan pergi. Di tangan Ibra membawa bingkisan besar buat si kecil dari Ruswan.
"Dari siapa tuh sayang?" selidik Laras. Matanya mengarah pada tangan Ibra.
"Ini kado dari Ruswan untuk baby boy," sahut Ibra membawanya ke kamar mereka.
"Oh ... makasih!" Laras mengulas senyumnya.
Kemudian, Laras mengikuti langkah sang suami yang sudah duluan ke kamar.
Bu Rahma dan Susi masuk bersamaan, tangannya penuh dengan belanjaan. Membuat Laras hentikan langkahnya yang berniat ke kamar.
"Wa'alaikum salam, wah ... borong apa tuh? tangannya penuh gitu. Ck ck ck." Laras berdecak sambil menggeleng.
"Banyak, Nya. Nyonya basar membeli mainan buat baby boy," sahut Susi sambil menyimpan yang ia bawa.
"Mainan? baby boy nya juga belum ngerti Mah ... lagian di rumah juga sudah banyak mainan dari kado. Mending nanti saja kalau baby Satria nya sudah agak besar. Sayang Loh Mah." Menatap sang mama mertua yang sama juga menjinjing belanjaan.
"Habis lucu-lucu sayang. bagus-bagus, jadi nafsu untuk membelinya," sahut bu Rahma tampak gemes dengan mainan buat baby Satria.
"Iya, Nya. Bikin kesurupan Nyonya besar, membelinya." Tambah Susi.
Laras menghela napas dalam-dalam sambil menggeleng pelan. "Ya sudah. Besok kita eksekusi ya? sekarang dah malam banget. Mah Laras duluan ya, ngantuk."
"Iya, sayang Mama juga mau langsung tepar. Capek." Bu Rahma mengangguk. "Susi tidur sama saya ya? kita saling pijit. Kaki rasanya begal-pegal banget."
"Iya, Nyonya besar. Susi beres-beres dulu sebentar.
Laras tersenyum melihat mama mertua dan Susi. Kemudian Ia mengayunkan kakinya ke kamar, perlahan mendorong handle pintu. Netra matanya langsung mendapati sang suami. Ibra, sedang berada di atas sejadah.
Bibir Laras tertarik ke samping. Kemudian menuntun langkahnya ke tempat baby boy. Setelah sebelumnya mengunci pintu. Baby boy begitu nyenyak, jari Laras mengelus kulit baby boy yang halus. "Bobo yang nyenyak ya sayang? Mammy sayang banget sama kamu Nak, baby Satria yang saleh ya?"
Berapa kali mulut Laras menguap karena kantuk mulai menyerangnya. Naik ke atas tempat tidur, merangkak berbaring. Tak lupa menarik selimutnya sampai menutupi dada.
Usai membaca doa. Ibra merapikan bekasnya salat. Lalu tanpa melepas sarungnya, Ibra merangkak naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping sang istri, cuph mendaratkan kecupan di kening, pipi kanan dan kiri sang istri. "Met bobo sayang?"
"Hem ... met bobo juga abang!"
"Kok Abang?" tadi panggilannya lain." Ibra mendongak, menatap heran.
"Apa emang?" tanya Laras mengernyitkan keningnya.
"Sayang ... tadi kamu panggil suami mu ini dengan panggilan sayang." menempelkan dagu di atas dada Laras.
"Oh, iya kali. Lupa!" sambung Laras tangannya mengusap pipi Ibra. Namun matanya yang tinggal sekian wat, semakin sulit untuk terbuka.
Ibra tersenyum melihat istrinya yang tampak lelah. Kemudian ia merubah posisi tidurnya. Meletakkan kepala di atas perut Laras, di sambut dengan tangan sang istri membelai lembut rambutnya itu. sehingga ia terhanyut dan memejamkan kedua matanya yang mulai lelah juga.
Keduanya jalan-jalan menuju alam mimpi. Berselimutkan angin malam yang dingin, dalam pelukan suasana hening dan syahdu.
Tengah malam Laras terbangun dikarenakan mendengar suara baby boy.
Oak ... oak ...oak ....
Namun ketika mau bangun, terasa begitu sulit. Berat, ia memicingkan matanya semakin lebar melihat apa yang ada menindih perutnya. Ternyata kepala sang suami yang betah di sana. Ia berusaha memindahkannya. Namun terasa berat.
Akhirnya Laras menepuk pipi sang suami agar bangun dan pindah ke bantal. "Bang ... bangun?"
__ADS_1
"Hem ... apa ngantuk ah." Gumamnya dengan suara berat dan tanpa bangun sedikit pun.
"Bangun, pindah ke bantal. Itu baby boy bangun." Suara Laras serak khas bangun tidur. Tangannya menggeser kepala Ibra.
"Hem? iya sayang iya." Barulah Ibra beralih posisi, meletakkan kepalanya di bantal, namun tangannya malah memeluk pinggang Laras yang mengibaskan selimut.
Setelah menyanggul rambutnya. Tangan Laras memindahkan tangan Ibra, kemudian bergegas menghampiri si kecil. Sepertinya gak nyaman dengan popoknya yang sudah basah. "Apa sayang ... gak nyaman ya? basah ya? iya, bentar Mammy ganti ya, setelah itu batu mimi. Oke!"
Begitulah rutinitas seorang ibu setiap malam, ketika anaknya masih baby atau balita.
Laras memberi ASI-nya. Ketika baby boy sudah di ganti popoknya sampai tertidur kembali. Selama ini baby boy masih anteng-anteng saja, kalau malam gak pernah begadang. basah atau sudah tak nyaman dengan popoknya atau juga lapar baru bangun, setelah itu bobo lagi.
Menjelang subuh, Laras sulit bergerak dengan kelakuan sang suami yang minta dimanjakan. Dan Laras pun berpikir keras bagai mana caranya bisa memanjakan sang suami. Ia mengerti, mungkin karena di waktu yang lalu sang suami pernah punya istri lebih dari satu. Dan menuntutnya untuk sering memberi kewajiban sebagai suami, nafkah batin khususnya, maka ketika punya istri satu dan harus berpuasa sementara waktu. Cukup menyiksa bagi Ibra, sebab sudah menjadi kebiasaan. Apalagi sang istri sudah menjadi candu untuknya.
Apapun Laras lakukan demi membuat suaminya bahagia. Apalagi itu bernilai ibadah kalau dilakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Tentunya dengan pasangan halal ya? jangan salah berspekulasi ya!
Suara-suara kecil penuh nikmat lolos keluar dari mulut Ibra. Begitupun Laras tersenyum puas. Ibra merasa teramat bahagia saat ini sang istri berusaha membuatnya senang, dan merasa terbang melayang jauh ke awan. Hingga akhirnya Ibra terkulai lemah, merasakan sisa-sisa kenikmatan yang barusan ia regup.
Laras bergegas bangun, turun setengah berlari ke kamar mandi. Sebelum Ibra masuk ke sana, Laras segera bersih-bersih. Khawatir baby Satria bangun juga, makanya Laras cepat-cepat mandinya.
Setelah selesai. Langsung keluar, mata Laras mendapati Ibra masih berbaring kelelahan. Ia dekati dan mengusap kepalanya. "Abang ... bangun dah subuh loh."
"Hem," gumamnya nyaris tak terdengar suaranya.
Jemari Laras terus mengelus rambut Ibra. "Bangun, mandi. Nanti kesiangan." Lirihnya Laras.
"Em ... jam berapa nih?" tanya Ibra pelan tanpa membuka matanya.
"Sudah pukul 05 tuh, ayo bangun? malu sama matahari." jemari lentik Laras beralih ke dada bidang yang tak terbungkus itu. Menari-nari di sana.
Perlahan kedua mata Ibra terbuka mendapati wajah cantik sang istri yang tampak segar. Sehabis mandi. "Dah mandi kah?" tanya Ibra dengan suara parau nya.
"Sudah. Makanya bangun? dah siang, aku mau siapkan pakaiannya dulu. Mau ngantor bukan?"
Laras turun berjalan, mendekati lemari besar. Mengambil pakaian Formal Ibra.
Dengan malas, Ibra bangun. Mengibaskan selimut, turun dengan tubuh yang polos. Laras melirik dan langsung bersuara.
"Astagfirullah, Abang ... pake dulu napa celana pendek atau sarung. Itu sudah aku bereskan di ujung tempat tidur."
Ibra menoleh sambil nyengir, namun tak mengindahkan ucapan sang istri. Melainkan meneruskan langkahnya untuk memasuki kamar mandi, walau dengan tubuh yang polos tanpa sehelai benang pun. Laras menggeleng melihat tingkah sang suami.
"Iih ... masih mending kalau baby boy, polos juga. Lah ini sudah tua? tubuh polos gitu jalan! ha ha ha ..." akhirnya tergelak sendiri. Kemudian seperti biasa membuka-buka gorden dan jendela agar udara pagi yang segar bisa masuk ke dalam kamar.
Menyapu. Membereskan bantal sofa, mengumpulkan pakaian kotor. Mendekati baby boy masih nyenyak aja bobonya.
Klik! pintu kamar mandi terbuka. Muncul Ibra yang hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah pinggang. Dan tangannya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kemudian ia lempar ke tempat tidur, sekalian mengambil pakaiannya.
Laras mengambil handuk kecil bekas rambut Ibra di tempat tidur. "Jangan disimpan di atas tempat tidur dong Abang ... kan basah ke seprai, kasurnya."
"Sebentar aja sayang. Nggak lama kok. Baby boy belum bangun?"
"Belum tuh, masih nyenyak kayanya," balas Laras sambil mengangguk dan tatap mata ke arah baby boy.
Selepas melaksanakan salat. Ibra meneruskan mengenakan kemejanya, Laras pun turut membantu seperti biasa. Mengenakan jas. Memasangkan dasi, sepatu. Itu kebiasaan-kebiasaan Laras ketika pagi dan Ibra mau ke kantor.
Tatkala mau menyiapkan sarapan buat Ibra, baby boy terbangun. Suaranya yang nyaring dan kebetulan pintu kamar yang terbuka. Membuat suaranya terdengar keluar kamar.
"Biar Mama yang urus baby boy sayang, Kamu urus saja big baby boy ini. Oke?" bu Rahma bergegas ke kamar putranya tuk mengambil baby Satria.
Laras yang sedang mengambil nasi goreng, melihat sang suami yang bengong. Menyeringai. "Big baby boy."
"Hem ... mentang-mentang aku minta di manja! sampai di panggil big baby boy segala?" ucap Ibra sambil merangkul pinggang Laras.
"Makanya, jangan manja, jadinya mama panggi begitu." Timpal Laras sembari senyum-senyum.
"Biar saja ah, minta di manja juga sama istrinya. Bukan sama orang lain," lanjut Ibra. "Oya sayang?"
"Apa?" tanya Laras menatap penasaran.
"Itu, makasih ya? sudah buat aku puas tadi malam, walaupun tidak begitu." Bisik Ibra tepat di telinga Laras. "Sayang hebat. Belajar dari mana?"
Laras tersenyum simpul. "Apaan sih? malu bila di dengar orang," netra mata Laras lirik kanan-kiri Susi agak jauh sedang memasukan cucian. Di luar sana terlihat dari balik jendela, Irfan sedang mengurus tanaman.
"Mana? gak ada siapa-siapa, cuma kita berdua saja sayang." Cuph mencium pipi sang istri dengan singkat.
"Siapa bilang gak ada siapa-siapa? ada Mama nih dangan baby boy. Hayo apa yang kalian lakukan ha?" suara bu Rahma dari arah belakang, sambil menggendong baby Satria.
Suara bu Rahma sungguh membuat Ibra dan Laras terkesiap dan saling bertukar pandangan satu sama lain. Jantung Laras berdegup kencang. Berdebar.
"Hayo, kalian melakukan apa? kamu belum selesai nifas loh sayang ..." menatap datar pada Laras yang sejenak menunduk.
Kemudian mengangkat kepalanya. "Iya, Mah ... gak ada yang serius kok, kami ..." Laras menjeda ucapannya, sesaat melirik sang suami yang menatap dirinya. "Kami tau batasan. Gak akan berbuat macam-macam, Mah."
"Bener Mah ... percaya deh." Tambah Ibra menyempurnakan ucapan sang istri. "Ngerti dong Mah. Keadaan putranya sedikit. Masa di luar aja gak boleh?" rajuk Ibra.
"Abang ... apaan sih?" mata Laras mendelik pada Ibra. Ia merasa malu pada mama mertua.
"Oh ... tak apa lah. kalau cuma itu, iya. Mama mengerti." Bu Rahma merasa lega dan tersenyum sambil berjalan mondar-mandir menggendong baby Satria yang sepertinya kelaparan.
"Nah gitu dong, Mah ..." Lanjut Ibra menunjukkan senyum senangnya. Pada sang ibunda.
Tott!
Tott!
Tott!
Suara klakson mobil yang mengganggu telinga, sampai-sampai baby Satria terkejut mendengarnya ....
****
__ADS_1
Hai ... apa kabar malam ini reader ku? semoga kabar baik ya, jangan lupa fav "Bukan Suami Harapan" semoga Allah membalas kebaikan kalian semua 🤲